
"Happy Birthday Rapa sayang,” ucap sosok cantik di depan Rapa.
Berkali-kali Rapa mengucek matanya untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya memang benar-benar nyata. Queen-nya berada di hadapannya dengan kue ulang tahun di tangannya. Cahaya dari lilin tersebut membuat senyum cantik gadis itu terlihat semakin luar biasa dan Rapa benar-benar tidak bisa mempercayai ini semua.
“Jangan bangunkan gue dari mimpi indah ini Tuhan.” Gumam Rapa seraya menampar-nampar pipinya beberapa kali. Membuat Cleona yang berada di depannya tersenyum geli.
“Ini bukan mimpi, Abang sayang,” kata Cleona lembut, bersamaan dengan semua lampu yang menyala dan satu persatu orang masuk sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Sang bunda, ayah dan papinya berjalan mendekat dengan senyum bahagia terukir di sudut bibir masing-masing, di belakannya di susul oleh Clara dan Laura membawa buket bunga yang begitu indah, kemudian sahabat-sahabatnya dan Alvin bersama Freya ikut serta di dalamnya, mengelilingi Rapa dan Cleona yang masih mempertahankan senyumnya, masih memegang kue ulang tahun dengan lilin angka 23 yang menyala.
Tiup lilinnya
Tiup lilinnya sekarang juga
Sekarang juga...
Sekarang juga...
Dengan senyum yang tidak dapat lagi di tahannya, Rapa memejamkan matanya beberapa saat sebelum kemudian meniup lilin tersebut, yang sayangnya tidak juga ingin padam. Membuat Rapa kesal dan akhirnya mencabut lilin angka tersebut dan menjatuhkannya di lantai lalu ia injak dengan kekesalan yang begitu amat sangat, membuat semua orang yang berada di sana, menyaksikan tertawa karenanya.
“Siapa itu yang berani pilihin lilin kayak gitu? Niat banget kayaknya ngerjain gue!” dengus Rapa kesal.
“Gue, kenapa? Berani lo?” Leo maju selangkah dengan wajah songongnya. Rapa tidak membalas, dan hanya memberikan delikan tajam malasnya.
“Bukannya hari ini pernikahan Queen?” tanya Rapa pada perempuan cantik di depannya, keningnya berkerut, menandakan bahwa dirinya kebingungan saat ini.
Cleona lebih dulu menyerahkan kue di tangannya pada Lyra, sebelum kemudian menjawab, “Queen belum ada yang lamar, jadi belum tahu kapan nikahnya.”
“Bukannya...”
“Kak Alvin memang mau nikah, tapi bukan sama Queen. Dia mempelainya,” kata Cleona, menunjuk wanita cantik di samping Alvin.
“Terus undangan yang abang terima?” tanyanya lagi masih dalam kebingungan.
__ADS_1
Cleona tersenyum, lalu menoleh pada Lyra. “Itu sengaja bunda bikin khusus untuk abang.”
“Jadi ... sial gue di kerjain!” seru Rapa seraya melayangkan tinjuan ke udara.
Semua yang ada di sana tertawa dan itu membuat Rapa semakin kesal. Namun tidak dapat dirinya pungkiri bahwa ia benar-benar bahagia, karena Queennya masih dapat ia miliki.
“Gimana perasaannya sekarang, Bang?" tanya Clara menaik turunkan alisnya.
“Kesal! Tapi ... gue bahagia,” katanya tersenyum lebar dan langsung menarik Cleona masuk ke dalam pelukannya, juga melayangkan kecupan di puncak kepala gadis itu yang membuat Leo bereaksi heboh layaknya kakek-kakek kebakaran jenggot. Dan lagi-lagi semua yang ada di ruangan luas itu tertawa, meriuhkan suasana.
“Ekhem!” mendengar suara deheman dari pengeras suara itu membuat semua orang menoleh ke arah panggung, dimana Pandu sudah berdiri dengan tampannya di temani sang istri yang siang menjelang sore ini tampil dengan anggun, juga Leo yang tampan dengan binar bahagia di sepasang matanya datang menyusul.
“Pertama-tama saya mempersilahkan untuk para tamu undangan duduk di tempat yang sudah kami sediakan, maaf karena membuat semua menunggu terlalu lama, dan terima kasih untuk kalian yang sudah berkenan hadir memenuhi undangan kami selaku pemilik acara ....”
Pandu sejenak menghentikan ucapannya sampai semua tamu undangan duduk di tempatnya masing-masing begitu pun dengan Rapa yang tidak sedikit pun melepaskan Cleona dari rangkulan posesifnya.
“Untuk anak kami, Rapa Pratama Dhikra. Selamat ulang tahun, Bang, semoga menjadi pribadi yang lebih baik lagi, menjadi laki-laki yang tangguh dan bertanggung jawab, dewasa dan sukses lagi untuk kedepannya," kata Pandu tersenyum bangga ke arah Rapa. "Hari ini selain acara ulang tahun putra kami yang ke 23, juga menjadi hari pertunangan antara Rapa dan Queen, putri kesayangan kami. Untuk kalian berdua, Ayah persilahkan untuk menaiki panggung.”
Dengan perasaan yang masih sulit untuk di percaya, Rapa bangkit dari duduknya. Meraih tangan Cleona dan membawa gadis itu menaiki panggung untuk bergabung dengan orang tua mereka. Suara tepuk tangan terdengar, dan suitan dari arah meja yang di isi teman-temannya pun terdengar riuh, membuat senyum Rapa terukir semaki lebar.
Lyra menyerahkan kotak beludru merah berisikan sepasang cincin mas putih dengan desain sederhana, namun cantik. Dan setelah mendapat intruksi untuknya menyematkan benda bulat itu di jari manis Cleona, Rapa dengan sedikit gemetar melakukannya, bergantian dengan Cleona yang menyematkan cincin berukuran lebih besar dari miliknya di jari manis Rapa, kemudian keduanya saling menatap melemar senyum.
Rapa meraih kedua tangan Cleona memberikan remasan pelan di jari-jari lentik itu, lalu membawanya mendekat ke arah bibirnya dan memberikan kecupan lembut tepat dimana cincin yang baru di sematkannya itu berada, kemudian membawa gadis itu ke dalam pelukan hangatnya.
Rasa bahagia itu tidak dapat Rapa sembunyikan dan kata terima kasih terus dirinya lontarkan di dalam hati untuk Yang Maha Kuasa. Rapa benar-benar bahagia saat ini, dan saking bahagianya ia sampai tak mampu berkata-kata, hanya air mata dan senyum yang mewakili semua rasa bahagianya kini.
Tanpa mengatakan apa-apa Rapa mengambil alih mic dari tangan ayahnya, dan membawa Cleona untuk duduk di kursi yang berada di atas panggung, mengambil gitar yang berdiri di samping sound system kemudian duduk disamping parempuan yang baru saja menjadi tunangannya. Rapa mulai memetik senar gitar di pangkuannya yang mengeluarkan melodi lembut dan mulai mengalunkan suara indahnya, dengan tatapan mata yang tertuju pada Cleona yang kebetulan hari ini menggunakan gaun putih selutut yang membuat kecantikan Cleona bertambah berkali-kali lipat.
Not sureif you know this but when we first met
I got so nervouse, I couldn’t speak
In that very moment, I found the one and
__ADS_1
My life hed found its missing piece
So as long as I live I’ll love you, will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now ‘til my very last breath, this day I’ll cherish
You look so beautiful in white today
What we have is timeless my love is endless
and with this ring I say to the world
You’re my every reason, you’re all that I believein
With all my heart I mean every word
Rapa tidak hentinya menatap wajah cantik Cleona yang saat ini bersemu merah dengan tatapan cinta dan penuh kekaguman, serta raut bahagia yang tidak dapat dirinya sembunyikan. Lagu ini mungkin memang cocok untuk mengutarakan perasaan Rapa untuk Cleona.
So as long as I live I’ll love you, will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now ‘til my very last breath, this day I’ll cherish
You look so beautiful in white today
Ohh ohh... You look so beautiful in white
Na na na na... So beautiful in white today
Rapa mengakhiri lagunya dengan senyum manis dan satu kecupan cukup lama di kening sang tunangan yang sudah meneteskan air mata.
__ADS_1