
Siang ini teman-teman Rapa dan teman Cleona datang mengunjungi kedua orang tua baru itu, membuat rumah yang biasa di tinggal penghuninya, karena lebih sering berada di rumah pandu, membuat rumah Leo seketika menjadi ramai oleh mereka bertiga belas di tambah dengan keberadaan Nathan dan Nathael.
Meskipun di rumah Leo tidak memiliki banyak makanan seperti di kediaman Pandu-Lyra, namun berkat si pemilik café, yang tak lain adalah Chiko beserta sang istri yang baru menikah beberapa bulan ini membawa begitu banyak makanan, membuat semua orang tidak sampai kekurangan makanan, apa lagi sampai kelaparan. Karena selain mereka, Clara pun tidak lupa membawa berbagai macam cemilan yang di belinya sebelum tiba di kediaman kakak iparnya.
Keberadaan Nathan dan Nathael lah yang membuat suasana semakin ramai dengan tawa dan tangis, membuat kadang, Rapa juga Cleona kesal sendiri karena anaknya selalu saja menjadi bahan kejailan mereka semua terutama Daniel dan Dava.
“Buat gue aja boleh gak, Cle anak lo. Mau gue pelihara buat hiburan di rumah.” Perkataan Daniel barusan membuat kaleng minuman yang untungnya sudah kosong meluncur mengenai kepala laki-laki jomblo itu.
“Lo kira anak gue kelinci, di pelihara!” dengus Rapa, memberikan delikan tajam pada sahabat satunya itu.
“Lah, manusia juga kan di pelihara, Rap.” Satu alis Daniel terangkat menatap sahabatnya.
“Lo emang di pelihara, Niel sama emak bapak lo, soalnya kan lo buaya.” Celetuk Clara yang tengah memangku Nathan.
“Gue bilangin loh, Cle sama ayah ibu gue, kalau lo ngatain mereka buaya.”
“Emang kapan gue ngatain emak, bapak lo?” tanya Clara dengan kening berkerut.
“Barusan lo yang bilang, kalau gue buaya, berarti lo ngatain ayah sama ibu gue juga buaya doang?”
“Lo ngerasa diri lo buaya emang?” Cleona yang kini angkat suara.
“Ya- ya enggak sih,” terbata Daniel menjawab.
“Ya terus salahnya dimana?”
Daniel menggaruk kepalanya yang entah kenapa menjadi gatal, wajah tampannya berubah seperti orang bodoh yang membuat Dava tidak sabar untuk segera melemparnya dengan sendal jepit milik Rapa.
Bugh.
“Sakit, Dava!” teriak Daniel yang mendapat lemparan sendal karet. “Lo apa-apaan sih, Dav main lempar aja! Salah gue apa, sampai lo setega ini sama gue?”
“Salah muka lo yang menjijikan itu,” balas Dava dengan santainya.
__ADS_1
“Iya gue emang ganteng, makanya lo sirik.” Ujarnya dengan begitu percaya diri.
Ekspresi seolah ingin muntah di berikan oleh semua orang yang ada di sana, terutama Rapa yang bahkan sampai memberikan pukulan keras pada kepala bagian belakang Daniel.
“KDRT lo, Rap. Gue laporin Pak polisi di penjara lo!” dengus Daniel dengan wajah tersiksa yang di buat-buat.
“Gue nyesel temenan sama lo, Kak.” Sahafa buka suara saat tawanya sudah berhenti.
“Kenapa emang?” kening Daniel mengerut, menatap teman perempuan sekaligus mantan adik kelasnya itu.
“Tawa gue jadi murah begitu berhadapan sama lo,”
“Ya bagus dong, Fa. Itu artinya gue emang lucu dan menggemaskan, sampai mampu buat perempuan dingin dan minim ekspresi kayak lo aja sanggup tertawa.” Lagi-lagi dengan gayanya yang terlalu percaya diri itu, Daniel memuji diri sendiri.
Wajah Shafa kembali dalam mode datar. “Nyesel gue muji!” dan tawa kembali terdengar saat melihat Daniel yang cemberut.
“Eh, gue mau tanya deh sama kalian.” Suara Akbar terdengar tengah serius mengalihkan semua orang yang baru saja menghentikan tawanya.
“Lo kenapa ngeliatin gue gitu banget, Bar?” tanya Daniel yang baru sadar bahwa mata sahabat pendeknya itu menatap kearahnya.
“Kenapa emang? Lo salting?” bergidik ngeri Daniel kemudian bersembunyi di balik punggung Chiko, dan mengintip pada Akbar yang teryata masih saja menatap ke arahnya.
“Lo kenapa liatin gue mulu sih, Bar? Naksir?”
“Niel,” panggil Akbar tanpa menghiraukan ucapan Daniel sebelumnya.
“Apaan!” ketus Danie yang semakin merinding karena tatapan Akbar.
“Lo ganteng…”
“Iya gue tahu, tapi maaf gue gak suka batangan.” Jawab Daniel yang masih saja belum pergi walau Chiko sudah berusaha menyingkirkan sahabatnya itu.
“Kerjaan mapan…”
__ADS_1
“Gue kan rajin kerja.” Lagi-lagi Daniel memotong ucapan Akbar yang belum siapa pun pahami akan mengarah kemana.
“Orang tua lo juga kaya…”
“O, jelas turunan orang sukses.”
“Tapi kok lo gak laku-laku?” heran Akbar. Daniel yang mendengar itu segera menyingkirkan Chiko hinga laki-laki itu tersungkur ke lantai.
“Lo ngajak gue ribut, Bar? Lo kecil-kecil nyalinya besar juga lo ngejek gue! Belum rasain kerasnya pukulan gue lo, hah!” Daniel berjalan mendekati sahabatnya itu, melipat lengan pendek kaus hitam yang di kenakannya, membuat otot-otot tangannya semakin memperlihatkan keberadaannya , sementara Akbar hanya menyengir dan berusaha melarikan diri. Namun sayang Daniel lebih dulu meraihnya dan segera memberikan gelitikan di pinggang dan telapak kaki Akbar membuat laki-laki imut itu tertawa kegelian.
Nirma menganga tak percaya melihat itu, lalu kemudian tertawa, merasa geli dengan cara berantem mereka yang bukan melalui adu tinju, melainkan gelitikan yang memang sepertinya lebih menyiksa, dari pada sebuah pukulan. Baru kali ini Nirmala tahu gaya teman-teman lelakinya saat berantem.
“Berenti, Daniel sialan!” teriak Akbar di tengah tawa kegeliannya. Ia benar-benar sudah lelah, tapi Daniel seolah belum puas menyiksanya. “Kudaniel! Gue pengen kencing, sialan berenti!"
Menghentikan gelitikannya, Daniel menyeka keringat yang turun dari pelipisnya sementara Akbar dengan cepat berlari menuju toilet, dan teman-temannya yang lain hanya menertawakan, bahkan Nathan dan Nathael pun ikut tertawa dalam pangkuan Clara dan Kayla.
“Ponakan aunty jangan gila kayak mereka ya? Harus kalem pokoknya kayak aunty.” Kata Clara pada bocah di pangkuannya.
“Lo dari orok udah bar-bar, Tu!” kata Rapa memberikan sentilan kecil di kening adik semata wayangnya itu.
“Gue kalem, Bang, kayak ayah Pandu.” Bantah Clara.
“Gue saksi hidup lo dari orok asal lo tahu. Lagi tidur aja lo gak ada kalem-kalemnya, apa lagi saat hidup!”
“Setuju gue bang,” Birma mengacungkan jempolnya tanda setuju pada ucapan sang kakak ipar, dan itu sukses membuat Clara melayangkan delikan tajamnya.
“Gue jadi penasaran tidurnya lo, Fa. Sekalem sikap lo apa enggak?” Nino beralih menatap Shafa yang asik dengan ponselnya.
“Mana gue tahu. Guenya kan tidur, Kak.”
“Ya udah, lo mau gak nikah sama gue? Biar gue tahu gimana tidur lo,” Dava angkat suara, dan perkataannya itu membuat semua orang menatap Dava tak percaya.
Menghela napasnya pendek, Shafa mengalihkan tatapannya pada Dava. “Lo ngelamar gue?” satu anggukan Dava berikan, membuat yang berada di sana semakin di buat tak percaya termasuk Akbar yang baru saja kembali dari toilet. “Cuma untuk lihat bagaimana gue tidur?” tanya Shafa dengan kening mengerut. Namun tak ada jawaban apapun dari Dava, membuat Shafa menarik dan menghembuskan napasnya kembali. “Sorry, tapi pernikahan tidak sebecanda itu.”
__ADS_1