
Sinar matahari masuk dengan malu-malu melalui celah gorden yang sedikit terbuka, mengganggu tidur kedua insan yang saling memeluk satu sama lain tanpa selimut yang menutupi.
“Selamat pagi, suami.” Sapa Cleona masih dalam posisi berbaring dalam pelukan Rapa.
“Selamat pagi juga, istri,” balas Rapa dengan senyum tampan andalannya. Kemudian melayangkan kecupan singkat di seluruh wajah istrinya. “Morning kiss.”
“Mau langsung mandi sekarang gak? Biar abang siapin air hangatnya,” tanya Rapa, bangkit dari tidurnya.
“Boleh kalau emang abang gak merasa keberatan,” Cleona mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.
“Abang gak pernah merasa keberatan jika itu untuk kamu.” Kata Rapa seraya mencolek hidung mungil istrinya.
“Ck, pagi-pagi udah gombal aja,” decak Cleona pelan, tapi tak urung bibirnya mengukir senyum.
“Abang gak pernah gombal sayang, karena apapun yang abang lakukan selalu dari hati.”
“Iya- iya Queen percaya. Abang suami Queen yang tampan dan pengertian, baik hati tidak sombong. Pokonya suami Queen ter-the best!” mengacungkan kedua ibu jarinya Cleona memuji sang suami. Kemudian keduanya tertawa bersama sebelum, Rapa melangkah menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk istri juga kedua buah hatinya yang kemungkinan belum bangun karena suara tangisan dua bocah serupa itu belum juga terdengar.
Selesai dengan air hangatnya, Rapa kembali keluar dan masuk ke dalam kamar si kembar untuk mengecek kedua bayinya itu, yang ternyata masih anteng dalam tidurnya.
“Berhubung bayi kita masih pada tidur, sekarang biar aku mandiin mama-nya duluan deh,” kata Rapa begitu kembali menghampiri istrinya dan langsung memangku Cleona dengan hati-hati, membawanya ke kamar mandi dan mendudukkan istrinya di closed yang sudah lebih dulu di tutup.
Seperti ini lah kesibukan baru Rapa setiap pagi dan sore hari, karena Cleona hanya bersedia di mandikan oleh suaminya. Bukan tanpa alasan, selain malu, Cleona pun tidak ingin membuat yang lainnya kerepotan, karena cukup dengan kedua anaknya saja, mertua sampai sodara-sodaranya direpotkan. Cleona tidak ingin menambahnya lagi. Jadi, biarlah suaminya yang melakukan tugas itu, meskipun pada awalnya Cleona pun merasa malu pada suaminya sendiri.
“Masih aja, ya, itu pipinya merona setiap kali abang mandiin,”
“Queen malu tahu, Bang!”
“Gak perlu malu sayang, lagi pula abang udah sering lihat bahkan abang jelajahi semuanya, sampai abang hapal di man… aww!” ringisan begitu kencang Rapa keluarkan begitu cubitan istrinya berikan di pinggangnya. Bukan hanya cubitan, tapi itu di tambah dengan pelintiran, semakin membuat pinggangnya panas dan berdenyut nyeri.
__ADS_1
“Ucapannya di jaga, please!”
“Abang kan gak bicara sembarangan, istri. Cuma mengatakan yang sejujurnya.” Cleona memutar bola matanya.
“Iya, tapi jangan vulgar juga, Queen malu.” Menunduk, Cleona berusaha menyembunyikan wajah malunya.
“Astaga, kenapa kamu lucu banget sih kalau wajahnya merona malu-malu gitu, bikin abang gemas aja!” menjawil hidung istrinya, Rapa kemudian melanjutkan membilas tubuh istrinya. Lama-lama menggoda Cleona pun tidak baik untuk dirinya, teringat akan kondisi istrinya yang tidak memungkinkan untuk dirinya gauli.
Begitu memandikan dan mengenakan pakaian pada istri cantiknya, Rapa kemudian membawa istrinya keluar dari kamar dan menyerahkan Cleona pada sang bunda untuk di ajak berjemur, sementara dirinya kembali ke kamar untuk mengurus kedua buah hatinya juga dirinya sendiri.
Jika di tanya lelah atau tidak, Rapa akan menjawab lelah, tentu saja, tapi rasa bahagia ikut menyertai dalam mengurus istri dan anaknya dan itu sebagai bayaran yang tidak dapat di berikan dari pekerjaannya di kantor. Meskipun pekerjaan di kantor mendapatkan gaji yang besar, tapi di sana tidak sama sekali mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Karena kebahagiaan yang di ukur dari sebuah materi dan kepuasan hanya akan bertahan untuk beberapa saat, sementara kebahagiaan yang di dapat bersama istri dan anaknya akan terkenang sepanjang masa, selain itu pahalanya juga di dapat. Bukankah itu semakin sempurna?
“Wake up twins!” Rapa menepuk pelan pantat Nathael yang tidur dengan menungging, sementara Nathan menutup wajah dengan tangannya. “Kalian bedua masih bocah, tidur udah banyak tingkah. Ngikutin siapa sih, hah?” tanya Rapa gemas, dan terus mengganggu anak-anaknya agar terbangun.
“Tumben susah banget di bangunin. Biasanya sebelum ayam berkokok juga kalian berdua udah nangis bangunin semua orang di rumah.”
Rapa menghela napas, dan berhenti membangunkan anak-anaknya, meninggalkan satu kecupan di masing-masing pipi anaknya, Rapa kemudian bangkit dan hendak keluar dari kamar si kembar jika saja kedua anaknya itu tidak menangis, membuatnya harus kembali menghampiri tempat tidur anaknya.
Selesai dengan aktivitas mandinya, Rapa lebih dulu mengurus Nathan dan Nathael untuk berpakaian setelah itu membawa anaknya keluar dari kamar dan menyerahkan dua bocah itu pada kedua laki-laki tua yang baru saja hendak sarapan.
“Astaga, abang kenapa gak pakai baju dulu!” teriak seorang perempuan mengejutkan Rapa.
“Ck, lo ternyata,” decak Rapa begitu meliht siapa yang bereaksi lebay melihat dirinya hanya mengenakan handuk.
“Mata Ela yang suci ternodai, abang! Pakai baju dulu sana,” usir Laura menutup matanya menggunakan telapak tangan.
“Mata lo udah banyak di nodai setan, La.”
“Setan gak ada yang mamerin dadanya, Bang. Kalau yang belakangnya bolong-bolong sama matanya keluar, Ella sering lihat, tuh di pohon mangganya tetangga.” Laura menunjuk arah luar.
__ADS_1
“Benar lo, Dek?” tanya Rapa penasaran, lalu duduk di kursi samping adik iparnya.
“Abang gak percaya?” gelengan menjadi jawaban Rapa. “Mau lihat gak?” Laura menawarkan.
Rapa terdiam untuk beberapa saat. “Seram gak?”
“Nanti abang bisa nilai sendiri. Gimana?” Laura menaik turunkan alisnya, tahu bahwa sang kakak ipar akan menolak tawarannya, karena Laura tahu bagaimana penakutnya laki-laki dua anak itu. Gayanya aja yang sok berani, nonton film horor aja, paling kencang teriaknya.
“Boleh deh.”
Jawaban Rapa tersebut membuat Laura melongo tak percaya, termasuk Lyra dan Cleona yang sejak tadi menyimak. “Abang yakin?” tanya Cleona memastikan, pasalanya semua juga tahu bahwa Rapa adalah si penakut.
Menggaruk tengkuknya, Rapa kemudian menggelengkan kepala, dan itu sukses membuat Leo juga Pandu melayangkan getokan di kening Rapa menggunakan sendok, serta dengusan kedua kakek itu berikan. Sementara kedua bocah hanya menertawakan seolah paham apa yang tengah menjadi pembahasan.
“Abang takut gak bisa tidur,” ucapnya cengengesan.
“Masih aja penakut, padahal udah punya dua anak.” Cibir Laura.
“Biarin, yang penting abang ganteng.” Ujar Rapa tidak nyambung.
“Lah apa hubungannya?”
“Gak ada.” Cuek Rapa kemudian membalik piring yang semula menangkup dan tangannya terulur untuk mengambil nasi, tapi pukulan dari sang istri menghentikannya.
“Pakai baju dulu!” titah Cleona tajam.
“Nanti aja istri, abang keburu lap-”
“Gak ada! Cepat pakai baju dulu. Kalau enggak, abang gak boleh makan!”
__ADS_1
“Ta-”
“Abang!!!” tatapan tajam sarat akan ancaman itu Cleona berikan, membuat Rapa ciut dan akhirnya bangkit dari duduknya, melangkah menuju kamar dengan gerutuan-gerutuan kecil. Sementara semua yang ada di meja makan tertawa termasuk dua bocah kembar yang makan saja belum di berikan selain ASI.