
Selesai mengecek pembangunan rumah yang syukurnya sudah hampir delapan puluh persen selesai, Clara mengembangkan senyum, dan bersyukur karena sebentar lagi akan segera pindah ke rumah mereka berdua, yang mungkin akan lebih memberinya kenyamanan dari pada tinggal di rumah mertua yang mengharap kehadiran cucu dengan segera.
Resiko menikah dengan anak tunggal ya seperti ini, Clara harus tahan banting dalam mengurus perasaanya agar tidak membuatnya tertekan dengan pertanyaan ‘kapan hamil’. Di pikir dia yang menciptakan seorang anak!
“Bir, aku gak ikut kamu ke kantor lagi, ya, mau nemuin Queen di Resto Bintang,” kata Clara meminta izin sang suami saat mereka baru saja keluar dari rumah makan padang yang tidak jauh dari daerah rumah baru mereka.
“Ya udah, tapi biar aku anterin, ya?” anggukan yang kemudian menjadi jawaban Clara sebelum keduanya menaiki mobil.
“Itu nasi yang di bungkus buat, Queen?” tanya Birma menunjuk kantong putih yang istrinya simpan di dashboard mobilnya.
Clara menggelengkan kepala. “Ini buat musuh aku di kantor kamu,”
Setelah beberapa detik mencerna, Birma kemudian tertawa begitu tahu siapa yang di maksud istrinya. “Baik banget kamu sama musuh sendiri,” ujar Birma mengacak gemas rambut Clara yang tergerai indah.
“Bilangin, aku udah kasih racun tikus di dalamnya,”kata Clara yang juga ikut tertawa.
“Kalau di kasih tahu gitu, mana mau dia makan. Nanti yang ada langsung di buang sama Cella.”
“Kalau di buang, itu berarti dia gak menghargai aku sebagai istri kamu,”
__ADS_1
“Ada-ada aja kamu itu,” Birma melayangkan sentilan kecil di kening istrinya. “Turun sana,” titahnya begitu mobil yang Birma kendarai berhenti di depan restoran yang sang istri katakan tadi.
“Kamu ngusir aku?” dengan wajah yang seolah tersakiti Clara bertanya.
“Turun! Aku gak butuh air mata kamu,” wajah datar Birma perlihatkan.
“Kamu jahat!” pukulan Clara berikan pada tangan suaminya yang kini bersedekap dada dan membuang muka. “Apa salah aku, sampai kamu tega ngusir aku kayak gini? Tidak tahu kah kamu kalau hati ini sakit, kamu perlakukan seperti ini?” tangan yang semula di gunakan untuk memukul lengan Birma kini memegang dada yang seolah sakit itu benar-benar Clara rasakan.
“Ck, udah ah jangan main drama mulu, aku malah jadi gak mau balik kantor kalau kamu kayak gitu,”
“Lah apa hubungannya?”
“Karena kamu terlalu menggemaskan kalau lagi kambuh drama Queen-nya. Aku suka gak kuat lihat muka kamu yang di imut-imutin, jadi pengan narik kamu ke kamar dan aku ikat di ranjang.”
Sementara Clara yang menjadi pelaku hanya tertawa seraya kembali menutup pintu mobil bagian kemudi, meninggalkan Birma yang wajahnya mulai memerah, dan yakin bahwa sumpah serapah dan makian akan laki-laki itu layangkan. Entah lah kenapa dirinya suka sekali menjahili suaminya itu.
“Ratu,” panggilan juga lambaian tangan sang kakak ipar, Clara lihat dan dengan segera menghampiri perempuan hamil itu dengan wajah berbinar.
Seperti tidak bertemu lama, keduanya berpelukan dan saling mencium pipi satu sama lain. Jika biasanya itu akan di lakukan sambil berputar dan melompat-lompat, kini tidak lagi, mengingat Cleona yang tengah hamil. Bisa-bisa Clara kehilangan nyawa di tangan sang kakak yang protektifnya kebangetan pada di jabang bayi serta ibunya.
__ADS_1
“Lo ke sini di antar siapa?” tanya Clara yang kini sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Cleona.
“Sama abang lo lah, yakali gue berangkat sendiri!” Cleona memutar bola matanya. “Tahu sendiri gimana lebaynya dia semenjak gue hamil.”
Clara mengangguk mengerti, dan tersenyum tipis nyaris tak terlihat. “Birma juga pasti akan melakukan hal yang sama jika dirinya mengandung. Tapi sayang…” dengan cepat Clara menggelengkan kepala. Menyudahi pemikiran itu yang hanya akan semakin melukai perasaannya.
Sadar akan perubahan sang adik ipar, Cleona kemudian mengikuti tatapan mata Clara yang tertuju pada perutnya yang buncit. Tatapan itu terlihat sendu, dan Cleona tahu bahwa adik dari suaminya itu tidak baik-baik saja, karena setiap melirik perutnya pasti tatapan itu yang selalu di lihatnya, begitu pun saat orang-orang membahas mengenai kehamilannya.
Cleona paham akan apa yang di rasakan adik iparnya, meskipun tidak sepenuhnya tahu apa yang di alami Clara. Sebagai sahabat yang tumbuh bersama sejak bayi, tentu saja Cleona kenal perempuan itu luar dalam, jadi apapun yang Clara rasakan akan dirinya ketahui termasuk kesedihan perempuan cantik itu.
Mengobrolkan yang lain sepertinya lebih menyenangkan dari pada membahas apapun yang berhubungan dengan kehamilan. Cleona tidak ingin menambah kesedihan Clara dan ia tidak ingin adik iparnya itu merasa tidak nyaman.
“Boleh ikut duduk?”
Cleona mengernyitkan kening melihat perempuan cantik yang sepertinya di kenal itu berdiri di depan meja yang di tempatinya. Menoleh pada Clara dan seolah bertanya lewat tatapan mata, hingga pada akhirnya Cleona menganggukan kepala. Dalam hati ia terus bertanya-tanya tentang siapa perempuan cantik itu, pasalnya Cleona merasa tidak asing dengan wajah itu, hanya saja tidak ada satu pun nama yang melintas dalam kepalanya.
“Gue Mirna.” Katanya seolah tahu apa yang ada di pikiran Cleona. “Ini restoran milik gue. Rapa ngasih tahu kalau lo ada di sini, jadi gue turun. Maaf kalau kedatangan gue tiba-tiba,” lanjutnya tersenyum tipis. “Gue cuma mau minta maaf, untuk kejadian dulu yang mungkin secara segaja gak sengaja nyakitin lo, dan mengusik hubungan lo sama Rapa. Maaf karena gue gak menjaga batasan gue sebagai teman Rapa, yang saat itu jelas-jelas sudah milik lo. Maaf, Cle gara-gara gue lo harus berpisah selama itu sama Rapa, gu…”
“Gue udah maafin lo sejak lama, Kak. Lagi pula itu sudah berlalu, dan gue gak mau membahas itu lagi.” Dengan cepat Cleona memotong ucapan mantan kakak kelasnya dulu, karena menurutnya masalah itu sudah selesai sejak kembalinya ia ke Indonesia dan menikah dengan Rapa. Apalagi dengan kabar yang terdengar bahwa Mirna menjadi perbincangan warga SMA Kebaperan saat itu, sebagai dalang dari kandasnya hubungan antara Cleona dan Rapa.
__ADS_1
Rapa yang saat itu tengah berada dalam kesedihan yang mendalam akibat di tinggal pergi yang kekasih hati tidak sama sekali bisa membantu Mirna memberikan pembelaan. Sampai pada akhirnya kabar itu di anggap benar oleh siswa Kebaperan. Dan Mirna di sudutkan sebagai peganggu hubungan orang.
Kini sebagai manusia yang baik dan bukan pedendam, Cleona tidak ada alasan untuk tidak menerima permintaan maaf Mirna yang sudah menyesali perbuatannya. Dan Cleona juga memang berhak memintaan maaf, karena kepergiannya dulu memang sedikit ada sangkut pautnya mengenai kecemburuannya pada mantan kakak kelasnya itu.