Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
96. Seumur Hidup Bersamamu


__ADS_3

Melihat suaminya makan dengan begitu lahap, Cleona geli sendiri karena seperti melihat anak jalanan yang sudah tak makan berminggu-minggu, tapi bukankah suaminya memang tak makan berbulan-bulan?


Cleona jadi geli sendiri mengingat bagaimana Rapa memelas meminta di kasihani oleh anak dalam perutnya, seperti meminta mainan pada orang tuanya, dan itu benar-benar tidak menggemaskan, yang ada Cleona malah tak ingin mengakui laki-laki itu sebagai suami jika saja tidak membutuhkan tanggung jawabnya karena sudah membuat perutnya sebesar sekarang ini.


“Hati-hati makannya, Bang,” tegur Cleona untuk yang kesekian kalinya, dan Rapa lagi-lagi tidak menghiraukan istrinya itu, memilih sibuk dengan makanan yang terhidang memenuhi meja.


Di hari sibuk seperti ini, Rapa memilih membolos kerja demi bisa makan sepuasnya. Laki-laki itu benar-benar menebus minggu-minggu penyiksaannya tanpa makan enak yang mengandung banyak penyedap rasa, dan kini segala macam makanan tersaji mulai dari soto, ayam bakar, cumi goreng, enoki krispi, siomay, pempek, bakso dan masih banyak lagi lainnya yang entah dapat Rapa habiskan atau tidak. Sementara sang bunda yang sejak tadi menyaksikan beberapa kali menelan ludahnya susah payah, perutnya terasa penuh dan kenyang walau tidak ikut makan.


Tiga puluh menit saja waktu yang Rapa habiskan untuk melahap semua makanan yang ada di meja, di tambah dengan satu teko jus jeruk yang di buatkan sang istri benar-benar membuat perut Rapa kekenyangan dan berkali-kali bersendawa, sampai untuk bangkit dari duduknya saja pria itu kesusahan.


“Abang pengen makan apa lagi sekarang?” tanya Cleona yang sebenarnya hanya memberika sindiran pada suami tercintanya itu.


“Untuk sekarang udah cukup, abang udah kenyang banget. Nih perut abang mau nyaingin buncitnya perut kamu,” Rapa menyingkap kaos yang di kenakannya dan mengusap-usap perutnya yang kehilangan kotak-kotak kebanggaan pria itu. “Abang kayaknya harus rajin olahraga lagi setelah ini.”


Cleona memberikan cubitan-cubitan kecil di perut suaminya yang tidak sekeras dulu. “Gak apa-apa, meskipun perut abang gak ada roti sobeknya lagi, Quen tetap cinta kok,” kedipan genit yang Cleona berikan sukses membuat Rapa yang saat ini tiduran dengan berbantalkan paha istrinya tertawa dan memberikan kecupan singkat di perut Cleona yang menonjol itu.

__ADS_1


“Meskipun begitu, abang gak mau istri cantik abang ini mengagumi roti sobek pria lain, apa lagi sampai di simpan di galeri ponselnya,” Cleona tertawa mendapat delikan dari suaminya itu, dan Cleona cukup sadar bahwa calon ayah dari anaknya itu tengah menyindirnya yang memang memiliki beberapa foto artis favorit-nya yang tengah bertelanjang dada, memamerkan otot-otot perut yang selalu membuat Rapa mencak-mencak tak terima istrinya menikmati keindahan pria lain.


“Itu kan cuma foto, Bang,”


“Tapi abang tetap cemburu!”


“Gemesin banget sih papa-nya si adek kalau lagi cemburu!” Cleona menjawil gemas hidung bangir suaminya, dan kemudian melayangkan kecupan singkat di sana. Rapa yang tidak puas dengan itu langsung mengangkat tubuhnya setengah duduk agar sampai pada bibir istrinya yang sejak tadi bergerak-gerak seolah menggoda, walau pada kenyataanya Cleona tidak melakukan itu. Menciumnya dalam dan rakus sampai … “Ekhhem!” sebuah deheman terdengar dan mengacaukan kenikmatannya.


Begitu melihat sang bunda yang berdiri beberapa langkah di depannya sambil bersedekap dada itu membuat Rapa mendengus palan dan memutar bola matanya. “Bunda ganggu aja deh!”


“Abang maunya di sini, gimana dong?” Cleona yang sudah malu karena ke pergok sang mertua mencubit pinggang suaminya cukup kuat, sampai laki-laki itu melayangkan tatapan protes.


“Biar apa sih hah?!” dengus Lya memutar bola matanya malas.


“Biar bunda iri, apa lagi di saat ayah berada jauh di seberang pulau sana,” jawab Rapa yang kemudian tertawa puas melihat wajah kesal sang bunda yang langsung pergi meninggalkan ruang tengah dengan kaki yang di hentak.

__ADS_1


Cleona melayangkan kembali cubitan di pinggang suaminya yang sudah tega menjahili ibunya sendiri, tapi tak urung cleona pun ikut terkekeh begitu mendengar teriakan sang mertua, seolah mengadu pada suaminya yang sudah jelas tidak berada di rumah.


Setalah puas menertawakan kekesalan sang bunda, Rapa kembali meletakan kepalanya di pangkuan sang istri, meraih tangan perempuan tercintanya itu lalu ia arahkan pada kepalanya sebagai isyarat meminta dielus, karena setelah perutnya kekenyangan kini Rapa merasakan kantuk. Dan elusan dari tangan mungil itu selalu mampu mengantarkannya pada mimpi indah yang selalu membuat Rapa bangun dalam keadaan segar.


“Kalau pegal bangunin aja, ya?” kata Rapa dengan mata terpejam menyamping menghadap perut Cleona yang buncit dan beberapa kali melayangkan kecupan di sana sebelum benar-benar tertidur.


Mendengar dengkuran halus suaminya, Cleona tersenyum tipis, menatap lekat-lekat wajah terelelap suaminya yang begitu damai seperti bayi. Cleona jadi teringat akan masa kecil mereka yang penuh warna, cinta dan kasih sayang. Rapa yang perhatian, penyanyang dan kadang jahil, selalu sukses membuat Cleona tertawa bahkan menangis karena sebal. Hingga beranjak remaja, dan Cleona mulai di hadapkan dengan perasaan bimbang akan hatinya yang mulai tahu apa arti perjodohan yang selalu orang tuanya ucapkan.


Rapa yang mulai banyak di idolakan oleh teman-teman perempuannya semasa SMP, membuat Cleona sangsi dan tidak percaya diri akan perasaan laki-laki itu terhadapnya, yang bahkan belum pernah terucap secara jelas dari mulut laki-laki itu bahwa dia mencintainya.


Ungkapan yang Cleona harapkan akan meluncur untuk meyakinkan bahwa memang laki-laki itu menerima perjodohan yang di lakukan kedua orang tua mereka, juga perasaan yang sama dengan yang di rasakannya. Cleona mulai ragu begitu tahu bahwa Rapanya tengah dekat dengan perempuan lain, Cleona cemburu, dan pada akhirnya menjauh dari laki-laki itu menjadi keputusan yang ia ambil untuk menyelamatan hatinya dari rasa sakit yang bisa kapan saja Cleona terima.


Namun semua itu terasa sia-sia, keputusannya malah semakin membuatnya sakit. Menjauh bukan lah jalan yang terbaik, dan Cleona menyesalinya. Sampai pada akhirnya pernyataan cinta itu datang dan kejujuran ia ungkapkan. Dan kini Cleona tidak menyangka bahwa cintanya akan berjalan hingga saat ini, terlebih dengan masalah mereka yang sempat terjadi beberapa tahun lalu. Siapa yang sangka bahwa hati ini akan tetap terjaga.


“I love you, Rapa Pratama Dhikra. Aku berharap bisa menghabisakan waktu seumur hidupku bersama kamu.”

__ADS_1


__ADS_2