
Rapa berkali-kali pengecek ponsel dan jam yang melingkar di pergelangan tangannya, menunggu dengan cemas istrinya yang belum juga terlihat kedatangannya. Memilih menghubungi sang istri, rasa khawatir mulai menguasai dirinya begitu panggilannya tak juga di angkat oleh Cleona bahkan untuk panggilan kedua dan ketiganya, tidak juga ada sahutan.
“Apa mungkin ponselnya ketinggalan di rumah?” Rapa bicara pada dirinya sendiri, setelah itu beralih menghubungi sang bunda di rumah, menghela napas lega, Rapa kemudian menanyakan keberadaan sang istri yang nyatanya sudah berangkat dari satu jam yang lalu. Jelas saja itu membuat Rapa semakin cemas, pasalnya jarak rumah dan kantor tidak terlalu jauh, paling-paling hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit sampai satu jam, itu pun kalau keadaan jalanan macet.
Tok… tok… tok.
“Permisi pak, Rapat akan segera di mulai.” Kata sang sekertaris yang kemudian di angguki Rapa singkat. Dalam hati Rapa berharap bahwa istrinya akan segera datang dengan keadaan baik-baik saja, agar rasa khawatirnya yang berlebihan ini dapat segera sirna.
Memasuki ruangan meeting yang sudah di isi oleh beberapa petinggi termasuk Pandu, Rapa di sambut dengan tatapan tajam ayah-nya yang memang tidak menyukai keterlambatan, apa lagi di saat penting seperti ini, Rapa hanya bisa meminta maaf, setelah itu duduk di kursi bersebelahan dengan sang ayah. Namun sepanjang meeting berlangsung, pikiran Rapa benar-benar tertuju pada Cleona yang juga belum menunjukan kedatangannya, dan kecemasan itu semakin dirinya rasakan.
Suara nyaring yang berasal dari ponsel Rapa, membuat orang yang tengah menjelaskan di depan berhenti, dan tatapan penghuni ruangan itu menoleh pada Rapa karena merasa terganggu.
“Kenapa gak matiin ponsel kamu dulu?!” geram Pandu berbisik pada anak semata wayangnya itu.
“Maaf, Yah, abang lupa.”
Begitu melihat bahwa nama istrinya lah yang menghubunginya, Rapa menerbitkan senyum kecil dan menggeser tombol hijau di layar, seraya bangkit dari duduknya dan pamit. Namun baru saja beberapa langkah, tiba-tiba Rapa terdiam, membuat Pandu yang memperhatikan anaknya sejak tadi mengerutkan kening penasaran
“Bapak gak salah informasi kan?” tanya Rapa dengan suara yang sedikit berbisik. “Gak mungkin! Bapak mungkin salah orang,” menggelengkan kepala, Rapa tidak ingin mempercayai apa yang di katakan si penelpon yang mengaku dari pihak kepolisian. Namun penjelasan yang di berikan menjurus pada apa yang tidak ingin Rapa dengar. Itu tentu saja semakin membuat Pandu penasaran dan bangkit dari duduknya menghampiri sang putra.
__ADS_1
“Gak mungkin! Istri saya pasti baik-baik aja, Bapak jangan becanda sama saya, Pak!” sentak Rapa keras membuat semua orang di ruangan itu terkejut. Pandu yang sudah berada di belakang putra, menepuk pundak Rapa dan bertanya mengenai apa yang terjadi. “Brengsek, istri saya gak mungkin mengalami kecelakaan!” teriak Rapa marah, tapi tak urung laki-laki itu lari cepat keluar dari ruang meeting, meninggalkan tatapan bertanya semua orang yang berada di sana, termasuk Pandu yang beberapa detik kemudian tersadar.
“Meeting kita tunda untuk sementara waktu, nanti saya kabari untuk kelanjutannya, mermisi.” Pandu berjalan cepat meninggalkan ruangan, menyusul Rapa yang sudah tidak terlihat keberadaannya.
Bingung harus ke rumah sakit mana dirinya pergi, Pandu kemudian menghubungi Rapa, tapi panggilan masuk dari Leo lebih dulu dirinya dapatkan. Kepanikan sahabatnya jelas terdengar, juga isak tangis Leo yang membuat Pandu segera melajukan mobilnya begitu Leo menyebutkan rumah sakit yang menampung para korban kecelakaan termasuk Cleona.
😿😿😿
Rapa sebenarnya enggan mempercayai apa yang di katakan si penelpon yang menghubunginya menggunakan ponsel Cleona. Namun apa yang di lihatnya saat ini adalah kenyataan yang benar-benar sulit Rapa terima, istri cantiknya berada di ruang operasi, karena polisi mengatakan bahwa Cleona adalah salah satu korban yang memiliki luka sangat parah.
“Beruntung, istri bapak masih bi…”
Bugh…
“Tenang bang, tenang …”
“Abang gak bisa tenang, Pi! Istri abang di dalam terluka parah, bagaimana mungkin abang bisa tenang! Istri abang, Pi …” teriakkan Rapa melemah begitu pun dengan tubuhnya yang merosot ke lantai dengan air mata yang mengiringi kesedihannya.
😭😭😭
__ADS_1
Pandu kembali menghampiri anak serta besannya yang masih berada di kursi tunggu ruang operasi begitu dirinya sudah mendengan kronologis kecelakaan yang menimpa menantunya. Kesedihan jelas Pandu rasakan, tapi ia mencoba untuk lebih tegar karena saat ini bukan hanya satu orang yang butuh semangat dan dukungannya melainkan banyak orang, yang terdiri dari sahabatnya, anaknya serta istrinya yang ternyata sudah menonton kabar di berita yang di tayangkan di televisi, dan baru saja menanyakan kebenarannya pada sang suami.
Jika saja tanggung jawabnya di rumah dapat ia tinggalkan, Lyra ingin sekali langsung pergi ke rumah sakit untuk memastikan langsung kondisi menantunya. Namun kedua cucunya tak dapat begitu saja dirinya tinggalkan, apa lagi saat ini si kembar yang tak ingin berhenti menangis seolah tahu apa yang terjadi pada ibunya sedikit membuat Lyra kewalahan.
Clara tak lama datang bersama Birma di susul dengan kadatangan Devi juga Amel serta semua keluarga lainnya termasuk para tetua yang saat ini memenuhi rumah Lyra dengan raut yang sama-sama cemas.
“Kamu yang sabar, Nak. Percayakan semuanya pada Tuhan.” Leon memeluk tubuh rapuh anak perempuannya yang saat ini sudah menangis.
“Kenapa cobaan selalu hadir dalam keluarga kita, Dadd?” tanya Lyra di tengah isak tangisnya.
“Itu karena Tuhan sayang pada keluarga kita. Tuhan ingin kita selalu dekat dengannya, jadi banyak-banyak lah berdoa untuk keselamatan Queen.” Bukan hanya Lyra yang mengangguk, tapi juga semua orang yang ada di sana, dan doa terpanjat di hati masing-masing untuk keselamatan Cleona. Sahabat-sahabat Cleona yang baru datang pun turut ikut mendoakan.
Nathan yang berada di gendongan Clara sudah mulai tenang, dan sudah berpindah pada pangkuan Melinda, sementara Nathael masih saja menangis tiada hentinya, membuat mereka cukup kewalahan di tengah rasa khawatir akan kabar yang mereka tunggu dari para pria yang ada di rumah sakit mengenai perkembangan Cleona.
Tiga jam menunggu, pada akirnya Pandu menghubungi Lyra yang baru saja berhenti dari tangisnya. “Hallo, Yah, gimana kabar Queen sekarang?” tanya Lyra langsung.
“Queen baru selesai di operasi, ini ayah sama yang lainnya lagi nunggu penjelasan dokter,” sahut Pandu di seberang telepon sana.
“Jangan tutup telponnya, bunda mau dengar penjelasan dokter!” pinta Lyra tegas, dan terdengar helaan napas Pandu yang sepertinya memilih untuk menuruti keinginan istrinya.
__ADS_1
Semua yang berkumpul di rumah itu menunggu dengan harap-harap cemas sampai suara pintu terbuka dari ponsel yang sengaja Lyra nyalakan speakernya menambah kecemasan mereka. Sampai pada akhirnya penjelasan doker dapat mereka dengar dengan jelas dan raungan histeris Rapa terdengar membuat beberapa orang yang tengah mendengarkan lewat sambungan telpon meneteskan air matanya, terutama Lyra yang kini menutup mulutnya menolak untuk percaya dengan penjelasan dokter yang menyatakan bahwa Cleona dalam keadaan kritis.
“Astaga, Queen kenapa semua musibah ini harus terjadi pada kamu, Nak…”