
Di tengah asyiknya mengobrolnya dengan sang bunda dan Clara, ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja berbunyi dengan nyaringnya, membuat Cleona segera meraih benda itu, karena dengan mendengar nada deringnya saja, Cleona sudah tahu bahwa yang menghubunginya adalah sang suami tercinta yang sejak tadi pagi dirinya tunggu-tunggu.
“Istri, abang rindu!” teriak Rapa dari seberang sana, begitu Cleona menggeser tombol terima untuk panggilan dari suaminya.
Menjauhkan ponselnya dari telinga, Cleona kemudian menyalakan speaker agar sang bunda dan iparnya mendengar suara Rapa, di tambah karena Cleona tak ingin pendengarannya jadi bermasalah akibat teriakan Rapa yang lebay itu.
“Abang baru sampai?” tanya Cleona tanpa menanggapi perkataan Rapa sebelumnya.
“Istri gak kengen sama abang?” balik Rapa bertanya, tanpa menghiraukan pertanyaan Cleona, terdengar nada lesu dari suara suaminya itu.
“Kangen kok, tapi Queen lebih khawatir, karena abang baru nelpon sekarang. Padahal kan udh Queen bilang segera hubungin Queen begitu abang sampai,” melirik jam di pergelangan tangannya Cleona menghela napas pelan.
“Maaf istri, abang gak sempat hubungin kamu begitu sampai. Ayah mertua kamu nyebelin emang! Begitu sampai di bandara abang langsung di bawa ke kantor sama supir, dan langsung menghadiri meeting. Ini aja abang masih di jalan pulang ke kantor baru selesai meetingnya.”
Helaan napas lelah suaminya dapat Cleona dengar dengan jelas, dan itu membuat Cleona sedih, juga kasihan. Andai dirinya sehat dan dapat berjalan, sudah di pastikan bahwa ia akan ikut kemana pun suaminya itu pergi, meski harus membawa serta anak-anaknya.
“Kalau begitu abang belum makan dong?”
“Belum, tapi abang lebih kengan kamu dari pada lapar.”
Clara dan Lyra yang mendengarkan hanya berekpresi seolah ingin muntah, sementara Cleona hanya tersenyum kecil. “Queen juga kangen abang.” Bisinya dalam hati.
“Tapi abang harus makan, sekarang mampir ke resto atau café deh, gunakan waktunya untuk makan. Queen gak mau abang sakit, apa lagi di saat jauh dari Queen dan yang lainnya.”
“Ya udah abang makan, tapi telponnya jangan di matiin ya? Biar abang makan sambil dengerin suara kamu, karena begitu sampai di kantor, belum tentu abang bisa ngobrol sama kamu lagi.”
Cleona mengangguk dengan senyum manis yang terukir, meskipun dirinya tahu bahwa yang di lakukannya itu tidak dapat sang suami lihat. Suara Rapa yang meminta supirnya berhenti di sebuah tempat makan, menerbitkan senyum lega di bibir Cleona.
“Istri udah makan?” tanya Rapa dari seberang sana, bersamaan dengan derit kursi yang di geser.
“Udah tadi sama Bunda sama Atu juga. Abang makan yang banyak ya,”
__ADS_1
“Iya, demi kamu abang akan makan banyak,”
Lagi ekpresi ingin muntah Clara dan sang bunda berikan, membuat Cleona terkekeh pelan. “Makan banyak demi perut lo kenyang bang, gak ada hubungannya sama bini lo,” sahut Clara di depan layar ponsel kakak iparnya.
“Nyaut aja lo, Tu, kayak ikan.” Cibir Rapa, diiringi dengan suara kunyahan yang membuktikan bahwa Rapa tengah menikmati makanannya.
“Lah suka-suka gue dong, mulut juga mulut gue.”
“Terserah gue juga dong makan banyak demi siapa, mulut juga mulut gue,” balas Rapa tak ingin kalah. Mendengus Clara akhirnya menjauh dari ponsel Cleona, tak ingin lagi meladeni kakaknya yang menyebalkan itu. Meskipun berada jauh di sana, Rapa yang menyebalkan tetap saja tidak hilang.
“Istri, jagoan kita kemana, kok gak kedengeran suaranya?”
“Si kembar lagi tidur, Bang.”
“Yah, padahal abang pengen ngobrol sama mereka,” helaan kecewa terdengar, membuat Cleona tersenyum kecil dan menoleh pada anaknya yang tertidur di bawah sofa dengan beralaskan kasur lipat.
“Biar nanti Queen kirimin foto sama videonya mereka aja, ya?”
“Ya udah lah, sekarang biar melepas rindu sama mamanya dulu aja,”
“Makannya kurang nikmat, istri gara-gara gak ada kamu di samping abang,”
“Tapi kan suaranya masih bisa abang dengar,”
“Iya, tapi tetap aja kurang. Abang kan pengennya di suapin kamu,”
“Lebay lo bang! Mules nih perut gue,” Clara menyahuti sambil mengelus-elus perutnya berpura-pura mulas.
“Lo mules kenapa, Tu? Mau lahiran? Lah kapan hamilnya?”
“Lo pikir orang mules mau lahiran doang?!” dengus Clara melipat kedua tangannya di dada.
__ADS_1
“Lah terus apa? Kebelet? Ya ke WC dong, Tu, masa bilang ke gue,”
“Abang, kenapa lo makin nyebelin aja sih?” jengkel Clara yang kini sudah meremas-remas mainan karet milik si kembar, seolah mainan itu adalah kakaknya. Rapa yang berada jauh di seberang sana tertawa paus sudah membuat kesal adiknya.
“Lo tahu itu nama tengah gue,” ucapnya dengan bangga. “Udah ah, Tu lo jangan ikutan nyaut mulu gue pengen ngobrol sama istri tercinta, jangan ganggu lo!”
“Oh jadi gitu, abang kangennya cuma sama Queen aja? Ngobrolnya cuma pengen sama Queen aja, sama bunda enggak? Oke bang, fix kamu gak sayang bunda lagi.” Lyra yang sejak tadi diam menyimak, mulai mengeluarkan suara, dengan nada yang di buat seolah terluka.
“Nah-nah, drama queen mode on.”
“Gitu ya kamu, Bang, gak ingat siapa yang lahirin kamu, yang kasih kamu ASI selama dua tahun, yang jagain kamu setiap malam, yang gantiin popok kamu, yang obatin luka kamu saat terjatuh dari sepedah, ya…”
“Iya-iya semuanya bunda yang lakuian. Maafin abang yang ganteng ini ya bunda, maaf udah menjadi anak yang baik untuk bunda, anak yang pengertian dan anak yang berbakti sama bunda, maafin abang yang selalu bikin bunda bahagia. Abang sayang bunda selamanya,”
“Kamu emang anak yang paling tahu diri deh, Bang. Saking bangganya bunda memiliki kamu, sampai pengen banget buang kamu ke sungai amazon, biar kamu jadi santapan ikan piranha disana!”
“Terima kasih bunda sayang, tapi ini abang juga udah di buang ayah ke Bali, bunda gak perlu repot-repot lagi buang abang.”
Mendengar perdebatan kecil antara ibu dan anak itu membuat Cleona terhibur dan tak hentinya terkekeh sejak tadi. Sudah berada jauh pun tetap saja kedua orang itu beradu argumen.
“Bang, boleh gak sih bunda jodohin Queen sama laki-laki lain?”
“Bunda, jangan berani-beraninya loh!” ancam Rapa dari seberang sana dengan suara panik yang begitu jelas terdengar.
“Bunda mau pungut anak laki-laki yang lain, yang lebih ganteng dari kamu, lebih baik, lebih sayang sama bunda dan yang jelas gak nyebelin kayak kamu, biar nanti bunda nikahin sama Queen buat gantiin kamu,”
“Percuma juga bunda mau nyari anak seperti yang bunda sebutin barusan, karena sampai kapan pun bunda gak akan pernah dapat, tuhan sudah menakdirkan abang lebih segalanya dari anak mana pun di dunia ini."
“Gini amat anaknya Si Pandu, Tuhan.” Desah Lyra, pura-pura mengeluh.
“Udah ah, bunda mah banyak drama. Abang mau ngobrol lagi sama istrinya abang, bunda diam aja jangan recokin,”
__ADS_1
“Queen gak ada, baru aja di bawa pergi sama Alvin, bye abang.”
Langsung Lyra mematikan sambungan telpon anaknya itu, kemudian tertawa karena tahu bahwa Rapa pasti sedang menggerutu di sana, mengomel tak jelas dan menyumpah serapahi semua orang. Membuat Rapa kesal memang sebuah hiburan untuk siapapun, termasuk Cleona sendiri yang menjabat sebagai istrinya.