Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
40. Terlambat


__ADS_3

Kemah yang di adakan khusus untuk kelas XII ini menjadi kebahagiaan Rapa yang tengah di rundung kerinduan juga kekesalan pada kekasih yang telah tega menghianatinya. Setiap kali Cleona datang di depan matanya, emosi itu meluap dan rasa sakit kembali memberikan denyutan di hati.


Kekecewaannya membuat ia benci akan gadis yang sejak kecil dirinya cintai, tapi untuk melepaskan pun tentu saja tidak mampu Rapa lakukan. Cintanya terlalu besar untuk Cleona. Namun memaafkan bukanlah yang saat ini ingin dirinya lakukan. Sekarang yang dirinya inginkan adalah menenangkan hati dan pikirannya. Mengesampingkan dulu Cleona yang telah menorehkan luka tak kasat mata ini.


Ponsel dengan sengaja ia matikan sejak beberapa hari lalu, karena ia takut akan luluh dengan panggilan juga pesan yang selalu di kirimkan Cleona. Ia hanya ingin bersenang-senang dulu selama berada di bumi perkemahan ini, melupakan sejenak masalahnya, juga mendinginkan pikirannya yang belakangan ini terlalu panas dan mengepul.


Chiko, Dava, Daniel, Akbar dan Nino serta Mirna seolah mengerti bahwa hatinya tengah kacau. Mereka paham untuk tidak membahas bahkan menyebut nama gadis itu di depannya, membuat Rapa setidaknya lega dan bisa melewati hari dengan baik seperti biasa. Meskipun setitik dalam hatinya tidak bisa di bohongi bahwa ia resah, entah karena apa.


Mendaki ke sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi menjadi aktivitas mereka di pagi menjelang siang ini, mereka bahagia meskipun rasa lelah tetap di rasakan. Namun itu semua tidak membuat mereka mengalah untuk menaklukan langkah hingga kembali ke perkemahan dan siap untuk menunggu malam dimana acara api unggun akan di adakan sebagai penutupan malam puncak perkemahannya.


Di alam bebas seperti ini memang cocok untuk tempat menenangkan diri, udaranya yang sejuk, hamparan yang hijau mengampar sepanjang mata memandang juga pepohonan yang berdiri menjulang membuat Rapa betah berlama-lama berada di sana, duduk di sebuah batu dengan kaki sengaja ia rendam di dalam dinginnya air sungai yang jernih. Kelima temannya tengah mandi sekaligus mencari ikan untuk mereka bakar di api unggun nanti.


Sejak kemarin tertawa dan bercanda bersama teman-temannya membuat Rapa sedikit lebih baik, setidaknya ia bisa mengenyahkan pikiran yang tertuju pada masalahnya dengan gadis cantik yang entah sedang apa saat ini. Melihat kesedihan yang terpatri di kedua mata indah itu selalu membuatnya merasa tidak tega, namun saat ingatan penghianatan yang di lakukan Cleona melintas, rasa bencinya kemudian kembali meluap, mengalahkan rasa ibanya.


“Lo berlima kampungan banget asli, kayak baru lihat air!” cibir Rapa.


“Makanya turun sini, Rap. Biar lo juga merasakan serunya main air." Nino menyahuti.


“Iya Rap, mendingan sini deh, dari pada duduk mulu di sana kayak anak perawan galau,” kata Daniel yang kemudian langsung di dorong jatuh ke dalam air oleh Chiko dan Akbar.


“Lo udah tahu dia lagi galau …!” geram Dava menatap tajam sabahatnya, yang malah di balas dengan cengengesan.


“Pulang deh, yuk, udah sore juga. Nanti lo pada malah di culik putri duyung,” kata Rapa ngaco. Bangkit dari duduknya dan berjalan lebih dulu, meninggalkan kelima temannya yang tengah saling menyalahkan.


Enaknya berkemah itu seperti ini, karena jaringan yang susah di dapat membuat semua orang lebih fokus pada kebersamaan dari pada ponsel yang hanya menyibukan diri sendiri dengan dunia maya yang lebih banyak kepalsuan.


Duduk di tikar yang tergelar menghadap tungku api unggun, Rapa memangku gitarnya dan mulai memetik senar itu hingga mengeluarkan alunan nada yang lembut. Satu per satu temannya datang dan duduk mengisi tikar yang masih kosong itu. Apa lagi saat Rapa mulai bernyayi, mengeluarkan suara merdunya yang membuat tempat yang semula kosong kini terisi penuh dan hampir semua orang ikut bernyanyi.


Kau yang selalu ku banggakan

__ADS_1


Kau yang selalu ku kangumkan


Di depan mereka


Kini ku tahu kau sebenarnya


Kau tak sebaik yang ku kira


Dan aku kecewa…


Lupakan…


Lupakan lah semua


“Rapa,” panggilan dari guru kesiswaannya itu meghentikan petikan gitar dan nyayian Rapa, bahkan semua orang yang tengah duduk melingkar itu menatap gurunya yang terlihat panik.


“Eum, ini Bapak baru cek ponsel dan ternyata ada pesan masuk dari orang tua kamu, beliau mengatakan bahwa Mami kamu meninggal.”


Apa yang di dengarnya barusan sukses membuat Rapa menjatuhkan gitar yang di pegangnya, membuat beberapa orang terkejut dan menatap penasaran.


“Bapak yakin? Gak bohong kan?” Rapa yang menolak percaya kembali bertanya, tapi setelah membaca isi pesan yang berada di ponsel gurunya itu mau tidak mau tubuhnya menegang, dan kepalanya menggeleng beberapa kali.


“Mami ... Queen!” teriak Rapa berlari menuju tenda, membawa ranselnya sebelum kemudian berlari meninggalkan perkemahan. Tidak peduli bahwa hari sudah gelap dan teman-temannya memanggil menanyakan kepergiaannya.


“Lo mau ke mana Rap, ini udah malam!” kata Chiko menarik tangan Rapa, mencegah kepergian laki-laki itu.


“Gue harus pulang, Queen butuh gue, Chiko. Lo gak perlu halangin jalan gue!” Bentak Rapa mendorong tubuh sahabatnya itu menjauh.


“Rapa …!” panggilan itu kembali Rapa abaikan, karena saat ini pikirannya melayang jauh pada Queen yang pasti sedang bersedih di rumahnya.

__ADS_1


Kematian Luna pasti menjadi pukulan berat untuk kekasihnya itu, sebab ia pun merasakannya saat ini. Mami adalah ibu keduanya setelah bunda Lyra jadi, sudah jelas bahwa kesedihan itu ia rasakan.


Air mata tidak hentinya mengalir menemani perjalanan pulang dengan di antar salah satu pengendara motor yang berada di kampung bumi perkemahan.


Jantung Rapa berdetak sangat cepat saat dilihatnya bendera kuning dan rangkaian bunga berisi ucapan bela sungkawa terlihat berjejer rapi di sepanjang gerbang hingga tangga menuju pintu utama kediaman Leo-Luna. Keadaan sudah sepi, mengingat malam yang memang cukup larut ini.


Begitu kakinya menginjak ambang pintu, suara tangis sendu terdengar menyakitkan di telinga, dan begitu langkahnya membawa masuk semakin dalam ke arah suara tangis kesedihan itu, Rapa terpaku akan sosok cantik yang kini tengah menangis penuh kepiluan memeluk pigura berisikan foto Luna.


Hati Rapa tidak kuat dan air matanya ikut menetes, menangis di ambang pintu menyaksikan kerapuhan sang kekasih yang sayangnya berada di pelukan laki-laki lain. Tangan Rapa yang sejak tadi mengepal, ingin sekali segera ia layangkan pada sosok tampan di samping Cleona. Namun niatnya terpaksa ia tahan, karena sadar bahwa keributan bukanlah sesuatu yang di harapkan semua orang di tengah suasana duka ini.


Rapa juga tidak luput memperhatikan Leo, laki-laki tua yang selalu mengajaknya adu mulut dan emosi itu seakan tak memiliki semangat, tatapannya kosong dan kesedihan jelas terlihat meskipun tidak ada air mata yang menetes.


“Abang baru sampai?”


Rapa menoleh ke arah suara. Beberapa langkah di belakangnya sang bunda berdiri dengan senyum kecil yang terlihat sangat di paksakan.


“Abang telat, ya, Bun?” kata Rapa menunduk sedih sarat akan sebuah penyesalan.


Lyra hanya membalas dengan senyum tipis seperti sebelumnya. “Queen tadi pingsan beberapa kali. Sempat manggil-manggil Abang juga, sebelum kembali histeris dan tidak sadarkan diri,” Lyra berucap dengan sesekali menatap kelangit-langit, mencegah air mata yang memaksa untuk keluar. “Bunda tahu, dia membutuhkan abang di saat itu, apalagi saat jenazah Mami di kebumikan. Ayah, bunda, bahkan nenek dan kakeknya tidak bisa menenangkan dia, Bang. Queen begitu terpukul. Hingga Alvin datang, yang akhirnya bisa membuat Queen sedikit tenang meskipun tangisnya tidak berhenti hingga saat ini.”


Rapa dan Lyra sama-sama melihat Cleona yang duduk di tepi ranjang, bersandar di pundak Alvin yang sejak tadi menepuk-nepuk kepala gadis itu dengan lembut, sesekali tangannya bergerak, menyeka air mata yang turun dari mata Cleona yang tergambar akan kesedihannya, meskipun apa yang di lakukannya itu percuma karena bulir bening itu tidak juga surut.


“Bunda gak tahu, apa yang sedang terjadi diantara kalian berempat, Bang, tapi bunda tahu bahwa apa yang sedang kalian hadapi cukup serius. Cerita sama bunda kalau memang kalian tidak bisa menyelesaikannya.”


“Abang akan menyelesaikan ini sendiri, Bun. Secepatnya.”


Lyra tersenyum, kemudian mengangguk. Ia berharap bahwa masalah yang di hadapi anak-anaknya akan menuntun mereka pada kedewasaan. Bukan karena tidak ingin mendamaikan kembali ketiga orang tersayangnya itu, tapi mungkin ini memang sudah saatnya memberikan kepercayaan pada Rapa, Clara dan Cleona. Dan semoga kedepannya hubungan ketiga remaja itu akan kembali seperti semula, karena bagaimana pun mendiang Luna sudah mempercayakan Cleona pada keluarganya.


“Tenang di sana, Lun. Gak perlu khawatir akan Cleona dan Priela, karena gue janji untuk menjaga dan menyayangi mereka sebagaimana anak gue sendiri. Leo biar nanti gue yang marahin kalau berani nangisin lo lagi.”

__ADS_1


__ADS_2