Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
108. Butuh Kesabaran Ektra


__ADS_3

“Devin!!!” teriakan Rapa begitu membahana ke penjuru ruangan, membuat semua yang tengah berkumpul dan bercengkrama di halaman belakang berlarian menghampiri asal suara. Penasaran dengan apa yang terjadi.


Levin yang lebih dulu tiba di ruang tengah hanya tertawa puas melihat kekesalan Rapa, dan memberikan dukungan penuh pada anaknya. Tidak peduli bahwa sang istri sudah melayangkan tatapan tajam, karena ia menganggap bahwa ini adalah hiburannya yang sudah lama tak ia dapati selama berada jauh dari keluarganya yang lain. Dan tingkah menyebalkan anaknya terhadap Rapa adalah kepuasaannya.


“Bocah, lepasin istri gue!” berkacak pinggang, Rapa memperingati. Sementara Devin hanya mengabaikan dan masih mempertahankan posisinya.


Sebagaimana seorang suami, Devin melingkarkan satu tangannya di pundak Cleona posesif dan satu tangannya di gunakan untuk mengelus perut buncit ibu hamil itu seraya mengajak ngobrol si jabang bayi. Rapa tentu saja tidak rela istrinya di sentuh laki-laki lain, walaupun itu sepupunya sendiri. Maka dari itu lah teriakan membahana tercipta hingga mengejutkan semua orang.


Sejak kedatangannya beberapa jam lalu, Devin memang tidak juga kapok mengganggu sepupunya yang memang sejak dulu sudah posesif terhadap Cleona. Laki-laki remaja itu malah justru semakin semangat saat Rapa meneriakinya dengan raut kesal, sementara Cleona yang geraknya sudah tak sebebas dulu sudah bosan dan lelah untuk memberikan pengertian pada kedua laki-laki beda usia itu, yang sayangnya sama-sama bocah.


“Abang cari istri baru aja deh mendingan, kak Queen biar buat Devin aja. Janji nanti anak-anaknya, Devin jaga dengan baik,” ujar Devin tanpa sama sekali merasa bersalah.


“So-soan lo mau jaga anak-anak gue, jajan aja masih minta orang tua!” dengus Rapa, kembali menyingkirkan tangan sepupunya itu dari perut sang istri. Namun Devin selalu kembali meletakan tangannya di atas perut buncit itu, membuat Rapa geram dan berkeinginan untuk mematahkan tangan sepupu menyebalkannya itu, jika saja ia tidak takut dengan amukan sang uncle.


“Meskipun masih minta orang tua, papa gak akan mungkin nolak kok biayain kak Queen sama bayinya nanti setelah jadi istri Devin. Ya gak, Pa?” Devin menoleh pada sang papa yang berada tak jauh darinya, dan acungan jempol yang di berikan sebagai persetujuan membuat Devin tersenyum kemenangan, mengejek sang sepupu yang wajahnya semakin memerah karena kesal.


“Ck, mimpi lo gak usah ketinggian bocah! Siapa juga yang mau nyerahin istri gue sama lo?” delikan kembali Rapa layangkan, dan tangan Devin kembali di singkirkannya.


“Kalau kak Queennya mau, abang bisa apa?”


Menghela napasnya lelah, Cleona menoleh pada penghuni rumah yang berdatangan, menatap dengan memohon, meminta bantuan untuk di jauhkan dari kedua laki-laki yang membuatnya pusing itu. Cleona merasa tak kuat lagi menghadapai Rapa yang posesifnya menyebalkan, dan Devin yang keras kepalanya menjengkelkan melebihi Leo. Ia ingin terbebaas dari kedua laki-laki itu sebelum tensinya naik dan anaknya lahir lebih awal.


“Cewek masih banyak di sini, Si Devin suka banget kayaknya godain Kak Queen,” Leon menggelengkan kepala tak habis pikir.

__ADS_1


“Devin bukan suka godain Queennya, Dad, tapi suka benget godaian abangnya. Daddy tahu sendiri posesifnya si abang kayak apa.” Lyra menyahuti. Leon kemudian mengangguk dan membenarkan apa yang di katakan sang putri. Melihat tingkah Rapa yang seperti ini membuatnya teringat akan masa muda, yang tentu saja tidak beda jauh dari sang cucu.


“Vin, udah lah, kasihan itu kak Queennya.” Tegur Leon, tak tega melihat cucu menantunya yang sudah tak nyaman berada di antara dua laki-laki itu.


“Devin gak salah, grandpa. Tuh bang Rapanya aja yang pelit. Devin pengen ngobrol sama dede bayinya masa gak di izinin,” adunya dengan wajah yang di buat pura-pura sedih.


“Lo yang nyebelin, pake segala peluk-peluk bini gue. Ya iya gue gak izinin. Sana pergi cari pacar lo makanya, biar gak gangguin bini gue!” entah untuk ke berapa kalinya Rapa menyingkirkan tangan sepupu meyebalkannya itu dari perut Cleona. “Lo belum juga sehari balik ke sini udah buat gue naik darah aja. Awas lo kalau berani main-main ke rumah gue!” ancam Rapa tajam.


“Abang ngalah aja kenapa sih!” jengah Cleona memutar bola mata seraya mengarahkan kipas angin kecil ke arah wajahnya. Ia benar-benar gerah berada di antara dua laki-laki beda usia itu.


“Bukan abang yang harusnya ngalah, tapi dia!” tunjuk Rapa pada Devin yang tidak sama sekali terusik.


“Astaga, kalian bisa stop gak sih!” desah Cleona lelah. Berusaha bangkit dan menjauh tidak bisa dirinya lakukan karena geraknya benar-benar terlahang oleh Rapa yang duduk di depannya, sementara Devin di samping kirinya dan di kanannya terhalang tangan kursi.


“Ck, gak ada kangen-kangenan. Jauh-jauh lo dari bini gue!” kali ini kepala Devin yang Rapa singkirkan sebelum sepupunya itu berhasil melayangkan kecupan di perut Cleona.


“Abang, aja yang jauh-jauh sana,” kata Devin sebelum membawa Cleona ke dalam pelukannya. Dan itu sukses membuat Rapa bagai kebakaran jenggot.


“DEVIN!!!” teriak Rapa tak terima, menarik sepupunya dengan paksa sampai pelukan itu terlepas. Levin satu-satunya orang yang tertawa paling kencang, sementara yang lain hanya menggelengkan kepala, dan Leo yang sudah kesal segera menghampiri, kemudian menjewer Rapa serta Devin sampai membuat keduanya meringis meminta di lepaskan.


Sayang, Leo seolah tak peduli dan terus menyeret kedua laki-laki itu menuju belakang, sampai suara sesuatu jatuh ke air di susul dengan teriakan Rapa dan Devin, membuat semua orang di dalam yakin bahwa Leo mengirim kedua mahkluk itu ke dalam kolam renang.


“Kejam amat mertunya Si Rapa.” Levin menggelengkan kepala sebelum melangkah menuju kolam renang.

__ADS_1


“Ma ambilin anduk. Adek kedinginan!” suara teriakan Devin terdengar, membuat Devi menepuk keningnya, lupa bahwa sang putra baru saja bangun dari sakitnya.


“Aaa, Leo sialan. Awas aja lo kalau anak gue sakit lagi!” gerutu Devi, sebelum kemudian lari menuju kamar untuk mengambil apa yang di minta sang putra.


“Apa salah gue dulu punya keluarga model beginian.” Leon menggelengkan kepala pelan, kemudian melangkah dan duduk di sofa begitu rasa pusing mampir di kepalanya.


“Ya jelas salah, karena kegilaan lo dulu, lo turunin sama anak da cucu.” Wisnu yang baru saja bergabung di sofa menimpali.


“Cih, gak sadar diri,” delik Leon pada sahabat seperjuangannya itu.


“Semoga kegilaan uyut, kakek sama bapaknya, gak turun ke anak-anak Queen nanti.” Harap Cleona seraya mengelus perut buncitnya.


“Tenang Queen, nanti anak kamu nurun kakeknya yang ini, kalem.” Kata Pandu dengan nada tenang seperti biasanya.


“Asal berengseknya gak lo turunin juga, Pan.” Dimas menyahuti sebelum kemudian pergi menyusul Leo dan Levin yang terdengar asyik di kolam renang.


Dengusan pelan yang Pandu berikan, setelah itu duduk bergabung bersama para tetua yang tengah saling memperdebatkan mengenai nama anak Cleona nanti. Di tambah dengan perdebatan mengenai konsep dekorasi kamar si kembar yang akan segera di kerjakan oleh ahlinya.


Sementara Cleona sendiri memilih diam, dan menikmati cemilan di pangkuannya. Membiarkan para orang tua yang menentukan, karena ia sudah merasa lelah menghadapi suaminya yang posesif itu. Cleona masih sayang kesehatannya apa lagi tinggal menghitung minggu ia akan melahirkan. Dan keinginan untuk melahirkan secara normal masih dirinya pegang teguh.


Berada di tengah-tengah keluarga konyol yang hampir mendekati gila ini memang menyenangkan, tapi juga menjengkelkan, apa lagi di tambah dengan suami yang posesif-nya mengalahkan panjangnya sungai amazon, membuat Cleona harus memiliki kesabaran yang ektra agar tidak mudah stres dan terkena serangan jantung mendadak.


“Nak, nanti kalau udah lahir dan beranjak besar, mama mohon, kamu harus jadi anak yang kalem dan penurut, ya, karena yang menjengkelkan udah banyak di keluarga kita.”

__ADS_1


__ADS_2