
Satu minggu berlalu dan Cleona sudah di pindahkan ke ruang perawatan, berhubung rumah sakit yang di tempatinya kini bukan milik Amel, jadilah mereka tidak bisa seenaknya tinggal, tidak bisa juga menunggu secara bergerombol, membuat semua anggota keluarga bergantian mengunjungi Cleona di rumah sakit, dan bergantian pula menjaga si kembar yang belakangan ini rewel.
Rapa sudah seperti mayat hidup yang setiap harinya menangis di depan sang istri yang berbaring tak sadarkan diri. Meskipun sudah melewati masa kritisnya, tetap saja wanita cantik itu masih belum juga membuka matanya, bahkan tidak ada sedikit pun pergerakan sebagai respon dari setiap ucapan Rapa yang tak berhenti meminta istrinya untuk bangun.
Leo yang penampakkannya tidak jauh berbeda dengan Rapa, selalu diam, duduk di sofa menatap ranjang yang berisikan anaknya. “Tuhan, cukup dengan istriku saja, tolong jangan kau ambil anakku juga.” Doa Leo yang tak pernah hentinya terucap dalam hati.
“Le, makan dulu,” Lyra yang baru saja datang menghampiri besan sekaligus sahabatnya sejak kecil itu. Leo hanya mengangguk singkat sebelum kemudian menerima kotak makan yang di berikan Lyra, setalah itu bangkit dari duduknya, sekilas ia menoleh ke arah Cleona berbaring, “Papi makan dulu, ya, Nak. Kamu cepat bangun, papi kangen.” Setelah mengucapkan itu dalam hati, Leo kemudian keluar dari kamar rawat Cleona meninggalkan Lyra serta Rapa yang tidak pernah ingin beranjak dari kursi di samping brangkar Cleona.
Setelah kepergian Leo, Lyra menatap anaknya untuk beberapa saat dengan tatapan sedih, kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri sang putra dengan wajah yang sudah mengukir senyum, agar tidak menambah kesedihan sang putra satu-satunya.
“Abang makan dulu yuk, biak bunda suapin.” Menggeleng adalah jawaban yang Rapa berikan, tapi Lyra tidak sama sekali menyerah. “Aaa… bukan mulutnya, Bang,” pinta Lyra menyodorkan sendok berisi nasi dan lauknya ke depan mulut Rapa. Namun laki-laki yang hilang keceriaannya itu malah justru kembali menggelengkan kepala, menolak suapan yang di berikan bundanya.
“Kalau kamu gak makan, siapa yang akan jagain Queen kedepannya? Siapa yang akan nunggu Queen bangun, dan siapa yang akan ngajak Queen ngobrol setiap harinya?” Rapa menoleh pada Lyra yang memberikan senyum menenangkannya.
“Bunda …”
“Makan dulu ya, sayang. Istri kamu juga gak akan suka kalau lihat kamu seperti ini,” kata Lyra, dan di angguki Rapa yang setelah itu menerima suapan dari bundanya. “Setelah ini kamu mau kan pulang dulu, anak-anak kalian rewel terus kangen papa mamanya,” Lyra berbicara lembut. Rapa menghentikan kunyahannya untuk beberapa saat, menoleh pada sang istri yang matanya masih terpejam, kemudian menatap bundanya dengan tatapan bersalah.
“Ini semua gara-gara abang, bun. Kalau aja abang gak minta Queen anterin berkas ke kantor, mungkin saat ini Queen masih dalam keadaan sehat dan main sama anak-anak,” ucap lesu Rapa yang benar-benar menyesal.
“Semua ini sudah Tuhan atur, bang, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Lebih baik sekarang abang habiskan makannya biar selalu kuat jagain Queen, tapi ingat, anak-anak juga butuh perhatian kamu.” Rapa mengangguk dan berterima kasih pada wanita cantik di depannya yang sudah bersedia menjaga kedua putranya.
__ADS_1
Begitu selesai menghabiskan makannya, Rapa segera mencuci muka agar wajahnya terlihat lebih segar. Begitu selesai melayangkan kecupan pada kening Cleona yang terdapat perban, Rapa pamit dan menitipkan istrinya itu pada sang bunda sebelum kemudian keluar dari kamar rawat Cleona dengan langkah berat.
“Aw!” ringis seseorang yang Rapa tabrak di lorong koridor rumah sakit.
“Maaf- maaf saya tidak sengaja,” ucap Rapa merasa bersalah.
“Nia! / Rapa!” seru keduanya bersamaan.
“Lo ngapain disini?” tanya perempuan yang tak sengaja bertabrakan dengan Rapa.
“Istri gue di rawat disini,” jawab Rapa tidak sama sekali berniat bertanya balik mengenai teman sekolahnya dulu.
“Kecelakaan.” Singkat Rapa menjawab, wajahnya kembali lesu.
“Kecelakaan seminggu lalu itu?” tanyanya yang kemudian Rapa angguki. “Keadaannya sekarang gimana?”
“Kritis,”
“Ck, kenapa juga gak mati sekalian!” dengus Nia yang terdengar begitu jelas di pendengaran Rapa yang saat ini wajahnya sudah berubah merah karena emosi.
“Lo bilang apa barusan?” geram Rapa emosi.
__ADS_1
Tak menyadari raut marah Rapa, Nia malah justru mengulang katanya dengan begitu santai membuat emosi Rapa semakin bertambah. “Orang kritis itu nyusahin. Jadi lebih baik langsung mati kan?”
Plak.
Suara tamparan yang begitu keras mengalihkan beberapa orang yang kebetulan melintas, di tambah dengan Nia yang mendapat tamparan tiba-tiba itu jatuh terduduk di lantai. “Jaga ucapan sampah lo itu, sialan!” murka Rapa dengan menunjuk Nia yang kini menangis akibat tamparan Rapa yang begitu keras sampai membuat lebam di pipinya juga sudut bibirnya yang robek mengeluarkan darah.
“Gue cuma becanda, Rap…”
“Becanda! Lo pikir mengenai nyawa bisa di buat becandaan?” Rapa menggelengkan kepala tak habis pikir. “Lo manusia apa bukan?!”
Beberapa orang yang berada di sana menyaksikan sudah mulai berbisik-bisik, tapi Rapa tidak sama sekali menghiraukan semua itu, karena kini fokusnya hanya pada Nia yang sudah menyinggung dan memancing emosinya. “Gue gak pernah suka main kekerasan, apa lagi sama perempuan. Tapi lo udah keterlaluan, Ni…”
Nia yang juga sudah terpancing emosi kembali berdiri, dan melayangkan tatapan tajam pada laki-laki di depannya itu. “Siapa yang keterlaluan? Istri lo yang justru keterlaluan rebut lo dari gue, istri lo yang udah hancurin mimpi-mimpi indah gue sejak dulu! Dia yang keterlaluan, buakan gue!” teriak Niat di depan wajah Rapa, seolah tidak peduli pada rasa perih di bibirnya, karena baginya saat ini adalah meluapkan emosi akan rasa marah dan kesalnya yang sudah lama ia pendam. “Harusnya lo tahu bahwa gue suka sama lo, gue yang lebih dulu mencintai lo dan harusnya gue yang bisa mendapatkan lo, nikah sama lo, bukan dia!”
Emosi Rapa semakin memuncak, menatap penuh kebencian perempuan di depannya. “Dan harusnya lo tahu, bahwa gue gak pernah memiliki perasaan itu untuk lo, sejak dulu, bahkan sejak kecil perasaan gue sudah tertuju untuk istri gue. Dan satu lagi, lo juga harus tahu bahwa istri gue yang lebih dulu mencintai gue dari pada lo.” Setelah mengucapkan itu Rapa berlalu pergi meninggalkan Nia karena dirinya pun merasa tak enak jika semakin membuat keributan yang akan berakhir dengan mengganggu pasien lain di rumah sakit.
Rapa tidak ingin terlalu menghabiskan tenaga untuk meledeni perempuan rubah itu, karena anaknya sudah menunggu di rumah dan dirinya pun masih harus menjaga istrinya di rumah sakit. Rapa juga tak ingin semakin lepas kontrol dan tak lagi bisa menahan keinginannya untuk melemparkan Nia dari atas gedung rumah sakit ini.
“Gue gak akan menyerah Rap, cukup selama ini gue diam. Untuk kedepannya gue pastikan akan rebut lo dari perempuan sialan itu!” teriak Nia yang tidak sama sekali di hiraukan Rapa.
“Apapun caranya gue akan bikin lo berpaling sama gue, Rap. Cukup bertahun-tahun ini gue diam melihat kebahagiaan kalian, cukup beberapa tahun ini gue biarin perempuan sialan itu menang. Tapi untuk kedepannya gue gak akan biarin itu terjadi lagi, karena cuma gue yang pantas berada di samping lo.” Tekad Nia penuh dendam.
__ADS_1