Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
104. Penonton Tanpa Bayaran


__ADS_3

Setelah para lelaki pergi untuk mengais rezeki, Lyra, Cleona dan Laura yang saat ini kebetulan tengah libur sekolah sudah berkumpul di dapur menatap layar ponsel yang menampilkan tayangan tata cara membuat kue nastar coklat, yang selanjutnya akan mereka praktekan bersama.


Dua kali siaran itu sang bunda ulang sebelum kemudian mulai menyiapkan bahan-bahan yang di perlukannya. Setelah itu barulah mulai membuat adonan, dan Laura yang bertuga untuk memasukan satu-persatu bahan, sementara sang bunda mengaduk serta Cleona hanya bertugas memperhatikan dan membaca ulang apa yang berada di dalam tayangan ponselnya. Tugas yang ringan untuk di lakukan si ibu hamil.


“Ella tolong panasin ovennya dong,” pinta sang bunda yang langsung di kerjakan oleh gadis remaja itu.


Tak lama kembali, dan adonan yang sudah jadi segera mereka bentuk sebelum di panggang nanti. Sementara mata Cleona sudah berbinar lapar melihat kue yang berjejer rapi atas loyang siap untuk masuk ke panggangan.


Laura maupun Lyra hanya menggelengkan kepala, sudah biasa melihat wanita hamil itu begitu antusias dengan berbagai jenis makanan, apalagi yang berbau coklat yang menjadi favoritnya.


“Masih lama gak sih, Bun?” tanya Cleona tak sabar.


“Sebentar lagi kok kak,” Laura yang justru menjawab, memutar bola mata jengah melihat kakaknya yang duduk seolah tak nyaman. "Bantuin dulu aja kenapa sih, kak!”


“Bukannya gak mau, La, tapi kak Queen suka malas makan kalau ikut buat.” Alibi Cleona yang mendapat dengusan adiknya, sementara Lyra hanya terkekeh pelan.


Tak lama suara dentingan oven terdengar, membuat Cleona dengan cepat menghampiri oven dan hendak mengambil loyang berisi nastar coklat yang baru saja matang. Namun ...


“Aahh, panas-panas-panas ...” Cleona dengan cepat menarik kembali tangannya yang langsung memerah karena menyentuh loyang di dalam oven tanpa mengenakan sarung tangan anti panas.


“Baru aja bunda mau ngingetin!” menggelengkan kepala, Lyra kemudian meraih tangan sang menantu dan membawanya menuju wastafel untuk di cuci terlebih dulu sebelum kemudian di olesi dengan salep yang di bawakan Laura.


“Kakak masih aja ceroboh, walau udah mau jadi ibu!” cibir Laura menggelengkan kepalanya sebelum mendekat untuk mengambil loyang yang masih berada di dalam oven. Sebelum kue tersebut gosong dan tak dapat di makan.


Sedikit banyaknya ucapan adiknya tersebut menyentil Cleona. Bukan, Cleona bukan marah, bukan pula tersinggung, karena bagaimana pun dirinya menyadari kecerobohannya. Cleona hanya berpikir, mungkinkah dirinya mampu menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya nanti?


“Jangan ngelamun, kak. Percayalah bahwa kakak pasti akan menjadi ibu yang hebat untuk anak-anak kakak. Maaf kalau kata-kata Ella tadi menyinggung kakak,” Laura yang baru saja meletakan loyang di atas meja segera memeluk leher kakaknya dan memberikan satu kecupan di pipi wanita hamil itu.

__ADS_1


“Benar kata adik kamu, Queen. Dulu waktu hamil abang, bunda juga pernah berpikir seperti kamu sekarang ini, merasa cemas dan takut. Tapi kalau kita mau belajar dan sayang pada anak kita, percayalah semua akan terasa lebih mudah. Bunda yakin kamu akan bisa menjadi ibu yang baik dan hebat.”


Senyum Cleona akhirnya terukir dan kata terima kasih tidak lupa di ucapkannya. Meskipun belum sepenuhnya merasakan lega, tapi setidaknya berkat dukungan kedua wanita kesayangannya Cleona menghilangkan sedikit ke khawatirannya. Dan berharap bahwa apa yang di katakan sang bunda juga adiknya benar, bahwa ia bisa menjadi ibu yang hebat untuk anaknya kelak.


***


Rapa tersenyum begitu mendapati sang istri juga sang bunda yang baru saja sampai di lobi rumah sakit tempatnya menunggu selama lima menit lalu. Ya, hari ini adalah jadwal Cleona cek kehamilan, dan Rapa memang selalu meluangkan waktu untuk itu.


Setalah memberikan pelukan juga kecupan singkat pada kedua wanita kesayangannya itu, Rapa menggandeng istrinya berjalan menuju ruangan aunty Amel, dokter yang memang sejak awal sudah turun tangan sendiri untuk kehamilan Cleona, di bantu dengan satu orang dokter kandungan kepercayaan aunty-nya.


Sang bunda yang lebih dulu masuk tanpa mau repot-repot mengetuk pintu. Tidak sopan memang, tapi semua yang ada di sana seolah sudah memakluminya termasuk asisten aunty Amel yang sudah biasa dengan kehadiran sahabat dari bosnya itu, bahkan mungkin hampir semua pekerja di rumah sakit ini tahu hubungan mereka.


“Selamat siang aunty, om.” Sapa Rapa dan Cleona bersamaan begitu masuk menyusul sang bunda yang sudah duduk anteng di sofa, yang di jawab dengan anggukan dan senyuman oleh kedua penghuni ruangan itu.


“Apa kabar om? Kemana aja nih baru kelihatan?” Rapa bertanya begitu duduk di sofa yang tersedia. Berhadapan dengan Dimas yang memang sudah lama tak terlihat.


“Ya gimana gak cemberut kalau aku berasa janda, setiap hari di tinggal cuma sama anak-anak.” Amel menyahuti, tidak lupa dengan delikan yang ikut serta di layangkan membuat Dimas terkekeh pelan.


“Ra, ayo deh gue bersedia tukeran laki,” kata Amel yang dengan cepat menerima sentilan dari Lyra.


“Sayangnya laki gue udah gak doyan lo lagi sekarang. Telat lo, Mel.” Ujar Lyra di susul dengan tawa begitu melihat sahabatnya cemberut.


Dimas ikut tertawa dan membawa Amel ke dalam pelukan, melayangkan beberapa kecupan di kening dan puncak kepala istrinya itu. “Maafin aku ya, sayang. Aku kerja juga buat penuhin kebutuhan kamu, juga masa depan anak-anak kita. Jangan cemberut gitu dong,” Dimas berusaha membujuk. Namun sayang istrinya itu malah menepis tangan Dimas yang mengelus pipinya dan menarik diri dari pelukan laki-laki itu.


“Ck, uang kita udah gak berseri, Dim. Kamu gak kerja aja kita udah bisa makan enak kok.”


“Ck, songong.” Delik Lyra yang tidak di pedulikan sepasang suami istri itu. Cleon dan Rapa hanya menjadi penonton tanpa bayaran menyaksikan pertengkaran kecil sahabat dari sang bunda.

__ADS_1


“Ya udah kamu juga berhenti kerja kalau gitu,” kata Dimas dengan santainya.


“Kalau aku gak kerja rumah sakit ini nanti gimana? Gak ada yang ngurus.”


“Kalau gitu aku juga malas diam di rumah. Mendingan ngabisin waktu di kantor.”


“Ya tapi gak usah di habisin semua di kantor juga dong. Kamu pikir aku sama anak-anak gak butuh kamu apa?!”


“Ya abis kamu sendiri aku suruh berenti kerja masih aja gak nurut,” Dimas tetap tak mau mengalah.


Dari sini, Lyra mulai paham dengan apa yang terjadi dalam rumah tangga sahabatnya. Beruntung ia memiliki suami yang tidak gila kerja, masih selalu menyempatkan waktu untuk keluarga dan yang penting, Lyra beruntung karena sejak dulu tidak menginginkan menjadi wanita karir, jadi hal seperti ini tidak pernah di alaminya.


“Janji deh habis lahiran Queen nanti aku berhenti kerja,”


“Waktu itu juga janji, tapi kamu gak tepatin.”


“Kali ini beneran deh janji, aku mau tangani Queen lahiran dulu, ngeluarin cucu pertama keluarga besar persahabatan kita, setelah itu gak akan kerja lagi. Paling cuma kontrol rumah sakit aja sesekali. Janji!” Amel menautkan jari telunjuk dan jari tengahnya, menatap sang suami dengan memohon, hingga beberapa detik kemudian Dimas mengangguk meski terlihat terpaksa.


“Awas aja kalau bohong lagi. Aku rubuhin ini rumah sakit!” ancam Dimas membuat semua orang yang ada di ruangan luas itu bergidik ngeri, begitu juga dengan dokter Meri yang beberapa detik lalu datang dan terdiam ambang pintu menyaksikan pertengkaran kecil si pemilik rumah sakit yang di akhiri dengan kecupan manis yang Amel berikan pada pipi sang suami.


Setelah perdebatan itu berakhir dan Amel menyadari kehadiran dokter Meri baru lah pemeriksaan pada Cleona di lakukan, dan Rapa adalah orang yang paling excited melihat bagaimana perkembangan anak-anaknya di dalam layar USG yang di jelaskan oleh Dokter Meri dan Amel.


“Abang gak nyangka mereka sebar-bar itu di dalam perut. Gak kebayang gimana bar-barnya mereka begitu keluar nanti.” Rapa menggeleng-gelengkan kepala melihat layar di depannya.


“Gak usah kamu bayangin, Bang. Cukup lihat diri kamu sendiri aja, gak beda jauh kok.” Kata Lyra seraya ikut memperhatikan ke-aktif-an gerak cucunya di dalam sana.


“Abang mah kalem, Bun ...”

__ADS_1


“Kalem banget emang kamu, Bang. Kayak papi kamu.” Cibir Dimas, dan di setujui oleh Cleona yang juga tengah menyaksikan bagaimana anaknya di dalam layar itu. Terharu dan benar-benar tak sabar menunggu kehadiran sang buah hati.


__ADS_2