Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
113. Berencana


__ADS_3

Begitu sang mentari menerobos masuk ke celah jenjela, Cleona bangun dari tidur nyenyaknya, dan seperti biasa yang dilakukan adalah menoleh kesamping, dan seperti biasa pula dirinya tak lagi menemukan sang suami di sana.


Mendengus kesal, Cleona kemudian turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka serta menggosok gigi, setelah itu melangkah menuju kamar buah hatinya yang juga sudah tidak berpenghuni.


Kening Cloena mengerut, bertanya-tanya dalam hati mengenai keberadaan suami serta anak-anaknya, tapi begitu langkah kakinya mencapai tangga paling bawah suara tawa heboh tertangkap indra pendengarannya membuat langkah Cleona mengikuti asal suara tersebut hingga tiba di halaman belakang, dan ia benar-benar terkejut melihat mertua, suami, ayah serta adiknya berada di pinggiran kolam renang. Lebih terkejut lagi saat melihat kedua anaknya yang sudah tidak mengenakan pakaian berada di bak mandi kecil yang memang biasa di gunakan untuk memandikan si kembar.


“Papi, ayah, kalian apain anak Queen?” panik Cleona berlari menghampiri kumpulan keluarganya.


“Lagi di mandiin, Queen.”


“Ini masih pagi banget please, nanti Nathan sama Nathael kedinginan, Papi! Astaga jahat banget deh kalian itu.”


“Ini udah siang, sayang. Matahari udah bersinar terang. Makanya kalau tidur jangan kayak orang mati,” Rapa memberikan sentilan kecil di kening istrinya.


“Ya maaf, Queen kan ngantuk, Bang gara-gara si kembar ngajakin begadang.”


Rapa mendelik dan memiting teher istrinya, kemudian kembali memberikan sentilan di kening sang istri. “Abang juga begadang loh, sayang, tapi bangunnya subuh-subuh.”


“Itu ‘kan abang, bukan Queen.” Cleona melingkarkan tangannya di pinggang sang suami, dan Rapa melayangkan kecupan di seluruh wajah istrinya, setelah itu melepaskan pitingannya di leher sang istri, membiarkan Cleona pergi dengan wajah cemberutnya menghampiri anak-anaknya yang baru saja selesai di mandikan kedua kakek.


“Si kembarnya pakai baju dulu kali, Pi, Yah, kasian kedinginan,” ujar Cleona yang tak tega melihat anak-anaknya di jemur dengan keadaan yang masih telanjang.


“Lebih bagus kayak gini Queen, sinar mataharinya langsung menembus kulit jadi hangat.”


“Ta…”


“Kamu percaya aja, papi sama ayah kamu lebih berpengalaman,” Lyra angkat suara, untuk menenangkan ke khawatiran menantunya. “Lebih baik sekarang kamu makan dulu deh, sebelum kamu beri ASI si kembar.”


Cleona akhirnya menurut kembali masuk ke dalam rumah. Kehadiran si kembar tidak serta merta membuat Cleona sibuk dan kewalahan di waktu pagi dan malam, karena keluarganya selalu memonopoli anak-anaknya itu, terutama kedua kakek yang sepertinya merindukan masa-masa muda mereka saat baru memiliki anak. Saat malam pun, Rapa selalu membiarkan Cleona tertidur, kecuali jika stock ASI si kembar habis.

__ADS_1


Tidak banyak yang berubah dalam hidupnya juga rumah tangganya. Namun Cleona tidak pernah lupa untuk bersyukur hadir dalam keluarga yang begitu amat harmonis dan menyayanginya dengan sangat, suami yang baik juga perhatian serta anak-anak yang menggemaskan menjadi penyempurna kebahagiaannya.


“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Rapa dengan kening mengerut heran.


Cleona menarik pelan tangan suaminya agar duduk di kursi sebelahnya kemudian melayangkan kecupan singkat pada pipi sang suami yang semakin menatapnya dengan bingung, setelah itu menyuapkan nasi gorengnya tanpa mau repot-repot menjelaskan alasannya tersenyum.


“Setelah melahirkan istri makin aneh,” kata Rapa masih dengan tatapan herannya.


“Queen bukan makin aneh, tapi semakin bahagia.” Jawab Cleona yang kembali melayangkan senyum lebarnya dan melanjutkan makan hingga piring di depannya kosong, sementara Rapa setia menyaksikan istrinya dalam kebisuan.


Setelah mencuci piring bekasnya makan, Cleona kembali duduk di kursi semula yang kini di geser lebih dekat dengan kursi yang suaminya duduki, memeluk pinggang Rapa dengan erat. “Abang, terima kasih sudah memilih Queen menjadi ibu dari anak-anak abang, dan terima kasih pula sudah menjadi suami yang begitu baik dan pengertian untuk Queen.


“Harusnya abang yang berterima kasih, karena berkat kamu hidup abang menjadi lebih sempurna. Terima kasih sayang. Abang mencintai kamu sejak dulu, sekarang dan hingga maut memisahkan.”


Satu ciuman Rapa berikan pada kening Cleona yang langsung memejamkan matanya untuk lebih meresapi kecupan hangat yang di berikan suaminya.


“Emak bapaknya malah mesra-mesraan di sini, gak dengar apa ya kalau anaknya nangis pengen mimi,” Pandu menggelengkan kepala melihat anak serta menantunya, sementara Leo langsung mendaratkan geplakan yang cukup keras pada kepala bagian belakang Rapa, membuat ayah dua anak itu hampir saja terbentur meja makan. Mertua sadis memang, Leo itu. Jika saja memaki mertua tidak akan terkena azab, maka dengan senang hati Rapa akan melakukan itu setiap saat.


Rapa mengambil alih anak pertamanya dari tangan sang papi, kemudian menyusul istrinya menuju kamar. Moment yang selalu membuat Rapa iri di saat Nathan dan Nathael bergantian menyusu, sementara Rapa hanya bisa menyaksikan dan selalu tak di izinkan walau hanya sekedar menyentuh. Menyebalkan memang. Tidak mengerti bagaimana tersiksanya ia harus menahan gejolak dalam tubuh yang ingin segera di saluarkan pada tempatnya. Tiga minggu lagi Rapa harus kuat menahan, sedangkan keinginan menyentuh sang istri setiap saat di rasakannya. Benar-benar siksaan terberat seorang suami.


“Istri, 40 harinya bisa di percepat gak?” tanya Rapa dengan raut wajah memelas.


“Kalau di perlama boleh, Bang.”


“Ck, dua minggu aja udah kelamaan,” dengus Rapa, kemudian mengajak ngobrol Nathan yang belum kebagian giliran mendapatkan asupan ASI dari sang mama.


“Nathan nanti di panggilnya abang atau kakak?” tanya Rapa tanpa mengalihkan tatapan dari sang putra yang terbaring di ranjangnya.


“Abang lah, biar ada penerusnya suami.” Rapa mengangguk-anggukan kepala setelah itu mengambil Nathael dari tangan Cleona yang sudah tertidur, kemudian ia letakan di ranjang tempat Nathan semula berbaring.

__ADS_1


Menyaksikan tidur anaknya yag begitu damai dan menggemaskan membuat Rapa mengembangkan senyumnya, mengelus permukaan lembut wajah sang putra sebelum kemudian ikut berbaring di samping anaknya itu.


“Enak banget kamu, Dek, bangun tidur, mandi, mimi, terus tidur lagi.”


“Namannya juga bayi, dulu juga abang gitu,”


“Dih, kayak yang tahu aja. Kamu sama abang lahirnya duluan abang kalau-kalau lupa.” Cleona hanya menjawab dengan cebikan bibir setelah itu fokus pada anak pertamanya yang begitu rakus menyusu.


“Nathan harus jadi abang yang baik, melindungi dan tentu saja menyayangi adik-adik kamu nanti, ya,” ucap Cleona pada anak pertamanya itu.


“Iya, Ma.” Jawab Rapa dengan suara yang di buat seperti anak kecil. Cleona mendelik, sementara Rapa hanya terkekeh pelan karena tidak ingin sampai menggangu tidur anaknya.


“Istri, mau punya rumah kita sendiri gak?” tanya Rapa yang kini mulai serius.


“Pengen banget, tapi apa papi akan ngizinin?”


Rapa terdiam untuk beberapa saat, kemudian menghela napasnya panjang. Rencana untuk memiliki tempat tinggal sendiri sudah di pikirkannya sejak lama, namun Rapa baru kali ini berani membahasnya dengan sang istri. “Nanti abang coba bicarain sama papi dan yang lainnya. Kalau istri, apa mau abang bawa tinggal dimana aja?”


“Selama itu bersama suami, istri mau,” jawabnya tersenyum tulus.


“Sekali pun itu di kolong jembatan?” sebelah alis Rapa naik.


“Istri yakin, suami gak akan pernah mungkin tega ngajak Queen tinggal di sana,”


Rapa tertawa dan bangkit dari berbaringnya hanya untuk memberikan kecupan di pipi sang istri. Setelah itu kembali membaringkan tubuhnya di samping sang putra. “Meskipun suatu saat nanti abang jatuh miskin, Abang akan terus berusaha untuk memberikan tempat tinggal yang layak untuk kamu dan anak-anak kita.”


“Iya, Queen percaya kok, Bang,” Cleona memberikan senyumnya. “Queen juga pengen mandiri, Bang. Kalau seperti ini terus mana mungkin kita tahu artinya rumah tangga yang sesungguhnya,”


“Nanti abang coba bicara sama papi, ayah dan bunda. Kalau mereka ngizinin kita langsung cari tempat untuk bangun rumah, atau mau beli yang udah jadi?”

__ADS_1


“Cari tempatnya aja, Bang. Queen pengen Kak Alvin yang desain rumah kita,”


Delikan cemburu langsung Rapa berikan begitu nama itu di sebut oleh istrinya, entahlah Rapa masih saja cemburu pada mantan kakak kelasnya itu, padahal tahu sendiri bahwa Alvin sudah menikah dan memiliki anak. Rapa masih tak terima karena laki-laki itu yang ada di sisi Cleona saat wanita itu melarikan diri darinya. Rapa benci mengingat kenyataan itu, walau pun Cleona tetap menjaga hati untuknya.


__ADS_2