
Di tengah kekesalan Rapa pada keluarganya yang sudah bersekongkol untuk menyembunyikannya, pintu ruangan rawat Cleona di ketuk beberapa kali sebelum kemudian dua orang suster masuk ke dalam dengan seorang bayi dalam gendongan masing-masing.
Mata Rapa bergerak mengkuti kedua suster itu, lebih tepatnya pada bayi yang mereka bawa, dan begitu salah satu bayi di berikan pada sang istri air mata Rapa tiba-tiba menetas begitu saja menyaksikan malaikat kecilnya yang begitu menggemaskan.
“Abang mau gendong?” tanya Cleona, yang segera di jawab anggukan oleh Rapa.
Begitu sang bayi mungil itu Cleona pindahkan pada tangan Rapa, air mata semakin deras mengalir walau tidak ada isakan yang keluar, tapi Rapa begitu sulit untuk menghentikannya. Tentu saja ini bukan air mata kesedihan, bukan pula air mata akan luka dan rasa sakit, melainkan air mata bahagia yang tidak mampu Rapa rangkai dengan kata-kata.
Semua yang ada di ruangan tersebut terharu, terlebih para ibu yang juga meneteskan air mata, dan seolah paham, satu per satu dari mereka memutuskan untuk keluar dari kamar rawat Cleona dan meninggalkan orang tua baru itu bersama anak-anaknya.
“Ini hasil produksi kita kan, istri?” tanya Rapa tanpa sama sekali mengalihkan tatapannya dari sosok mungil di tangan.
Cleona mengangguk dengan senyum yang terus terukir walau setitik air mata ikut hadir. “Bibit yang abang tanam sepuluh bulan lalu dan abang siram hampir setiap hari.”
“Bibit abang emang unggul istri, nanti abang pasti akan tanam lagi.” Kata Rapa yang kemudian di akhiri dengan kedipan genit ke arah istrinya itu.
“Ini aja sakitnya masih kerasa loh, Bang!” dengus Cleona mencubit keras tangan Rapa yang sama sekali tidak meringis atau pun mengaduh. Laki-laki itu malah terkekeh sebelum kemudian melihat satu lagi anaknya yang berada di pangkuan sang istri.
“Anak kita kok sama?” Rapa bertanya dengan kening mengerut.
__ADS_1
Pletak.
Satu jitakkan mendarat dengan mulus di pelipis Rapa. “Namanya juga anak kembar, papa Rapa sayang!”
“Iya abang tahu, tapi mereka gak bisa di bedain sama sekali. Nanti kalau ke tuker atau salah sebut nama gimana?” tanya Rapa khawatir. Memiliki dua anak sekaligus dengan wajah yang serupa membuatnya bimbang, Rapa takut salah menyebut dan membuat anak yang satunya cemburu karena di anggap pilih kasih.
“Abang gak perlu khawatir, perbedaan itu akan ada, meskipun anak kita serupa,” Cleona mengelus pipi suaminya yang terdapat jejak sisa air mata. “Ngomong-ngomong ganda putra kita belum di kasih nama loh, Bang?”
“Bukannya para tetua udah diskusikan untuk nama anak-anak kita?” Rapa balik bertanya dengan satu alis terangkat.
“Emang, tapi waktu abang belum datang mereka sepekat untuk membiarkan abang kasih nama untuk anak-anak kita. Karena mau pun granpa, nenek, kakek, ayah, bunda juga uncle gak ada yang mau ngalah, jadilah keputusan tetap di berikan sama abang.” Jelas Cleona yang mendapat anggukan mengerti dari sang suami.
“Yang ini,” tunjuk Cleona pada bayi dalam pangkuannya. “ Cuma berselang lima menit mereka lahir. Ingat bang, jangan sampai lupa!”
Rapa kemudian mengangguk. “Yang abangnya Nathan Putra Pratadhikra,” kata Rapa seraya memberikan usapan lembut pada tubuh mungil yang terbungkus kain khusus bayi. “Adiknya Nathael Putra Pratadhikra. Gimana?” tanya Rapa menoleh pada sang istri.
“Kenapa Pratadhikra?” kening Cleona berkerut heran.
“Karena Pratama Dhikra terlalu kepanjangan, jadi abang singkat aja.” Cleona akhirnya mengangguk dan menyetujui nama yang di berikan suaminya itu.
__ADS_1
“Welcome to the world Nathan, Nathael.” Rapa berucap seraya memberikan kecupan pada kedua buah hatinya secara bergantian, setelah itu melayangkan kecupan pada istrinya. “Terima kasih sayang, terima kasih karena sudah bersedia melahirkan anak-anakku dengan mempertaruhkan nyawa kamu, dan maaf jika setelah ini aku harus kembali merepotkan kamu untuk mengurus kedua buah hatiku.”
“Mereka anak-anak ku juga, Bang. Darah daging yang selama sembilan bulan aku kandung, sudah seharusnya aku mengurusi mereka. Tapi bolehkah aku meminta tolong? Tolong ingatkan aku jika aku mulai lupa akan tugasku dalam mengurus buah hati kita juga kamu. Tolong tegur aku saat aku mulai melakukan kesalahan dan tolong bantu aku di saat aku mulai kesulitan mendidik mereka,” Cleona tak lepas memandang suaminya.
“Abang, Queen wanita biasa yang baru saja menyandang gelar seorang ibu dengan pengetahuan yang minim juga ilmu yang sama sekali belum aku kuasai dalam mengurus, mendidik dan mengasuh mereka. Tolong bimbing aku untuk menjadi orang tua yang baik, orang tua yang adil dan orang tua yang layak untuk anak-anak kita.”
Rapa meraih tubuh istrinya ke dalam pelukan, memberikan kecupan demi kecupan di puncak kepala dan bagian wajah istrinya dengan air mata yang menetes penuh keharuan. “Kita belajar sama-sama sayang, kita didik dan rawat anak kita sama-sama. Memberikan kasih sayang dengan sama rata dan berusaha menjadi wadah untuk keluh kesah mereka. Abang percaya, kamu mampu menjadi ibu yang hebat untuk anak-anak kita.”
Suara tangisan yang begitu nyaring memecahkan suasana haru yang tercipta, membuat kedua orang tua baru itu tertawa dan menoleh pada bayi dalam gendongan masing-masing yang sama-sama menangis.
“Kecil-kecil udah kompak,” ujar Rapa melayangkan kecupan singkat di kening bayi dalam gendongannya kemudian menukarnya dengan bayi dalam gendongan sang istri. “Cepat besar ya, Nak. Papa udah dak sabar pengen ajak kalian main bola, main basket, main …”
“Jangan ajarin mereka main perempuan loh, Bang. Awas aja kalau berani!” ancam Cleona yang dengan cepat memotong ucapan suaminya. Rapa tertawa kemudian mengusak rambut istrinya dengan gemas.
“Mereka masih kecil istri, mana mungkin abang ajarin mereka main perempuan,” ucapnya terkekeh kecil.
“Ya siapa tahu aja kan? Anak-anak Queen harus jadi pria-pria hebat, pria yang bertanggung jawab, pria yang bijaksana, lembut namun penuh ketegasan. Dan yang jelas Queen gak akan biarin mereka ikut kegilaan kalian semua,” ujar Cleona dengan di akhiri delikan tajamnya. “Anak Queen biar jadi pria kalem kayak ayah Pandu, karena yang pecicilan udah kebanyakkan, kalau nambah Queen gak tahu lagi deh harus gimana nanggepinnya. Pusing!” Cleona meletakan telapak tangannya di atas kening kemudian menggeleng. Sementara Rapa hanya tertawa melihat itu. Paham dengan apa yang di maksud istrinya, karena bagaimana pun ia meresakan sendiri bagaimana kegilaan keluarganya.
__ADS_1