
Perdebatan selalu saja kedua calon pengantin itu lakukan di segela kesempatan, apa lagi ketika memilih undangan. Rapa yang tidak mau mengalah dan Cleona yang keras kepala tentu saja membuat dua jam habis sia-sia. Apa yang Cleona pilih tidak di setujui Rapa, begitu juga sebaliknya. Pemilik percetakan dan pegawainya mungkin sudah kesal dengan tingkah keduanya.
“Kamu ngalah deh, Queen, lagi pula ini cuma undangan. Orang-orang gak akan terlalu peduli, selain melihat tanggal dan tempat, benda ini akan berakhir di tempat sampah. Jadi, pakai pilihan aku aja oke?” Rapa masih mempertahankan pilihannya pada undangan simple berwarna hitam putih, membentuk jas dengan lipatan yang menyerupai gaun pengantin.
Cleona menggelengkan kepala. “Meskipun hanya di lihat tanggal dan tempat, tapi kesan pertama itu desainnya, Bang. Orang juga gak akan berani buang kalau desainnya cantik."
"Queen..."
“Abang, *pl*ease deh, ngalah aja kenapa sih sama calon istri! Ingat ya, abang udah pilih lokasi pernikahan, Queen setuju. Masa cuma pilih undangan aja abang gak mau ngalah?!”
Rapa menghela napasnya berat. “Kamu lagi PMS ya?” tanya Rapa yang saat ini benar-benar sudah lelah.
“Kalau iya, emang kenapa?”
“Pantesan keras kepala.”
“Gak usah ngatain Queen keras kepala kalau abang sendiri sama aja!” Cleona mencebikan bibirnya.
“Ekhem!” deheman itu mengalihkan calon pengantin yang sejak tadi sibuk berseteru.
“Ya udah deh Mas, kami milih yang ini aja.” Cleona dan Rapa sama-sama menunjukan satu undangan cantik yang tidak menjadi perdebatan mereka sejak tadi.
Terdengar helaan napas lega dari pemilik percetakan. Setelah itu di pilih, barulah Cleona mencatat keterangan untuk isi dalam undangan tersebut. “Di cetak 500 ya, Mas.”
Selesai memberikan uang muka, Rapa dan Cleona keluar dari tempat percetakan dengan wajah lelah yang tidak dapat di sembunyikan bahkan perut Rapa sampai berbunyi dengan nyaring saking laparnya.
“Gak nyangka kalau debat sama kamu, bisa ngabisin energi sebanyak ini,” ucap Rapa seraya membuka kan pintu mobil untuk sang tunangan.
“Lebay deh abang,” Cleona memutar bola matanya malas. “Itu mah cacing di perut abang aja yang doyan makan,” lanjut Cleona mencibir.
__ADS_1
Rapa tak lagi membalas, memilih masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya itu meninggalkan parkiran. Perutnya begitu penting untuk Rapa isi. Sebelum cacing-cacing peliharaannya semakin berontak dan membuatnya lemas.
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai di cafe milik Chiko. Rapa menghentikan mobilnya dan dengan segera keluar, begitu juga dengan Cleona.
Begitu masuk, keduanya berpas-pasan dengan Akbar dan Alisya yang sepertinya akan keluar, melihat kedua sabahatnya itu bersama tentu saja membuat Rapa dan Cleona curiga dan berniat untuk mengintrogasi sebelum di gagalkan oleh ponsel Akbar yang berdering dan mengharuskan sahabatnya itu pergi.
“Ca, gue pesan nasi goreng spesial 3, lemon tea dingin dua, enoki goreng 1, sama crispy chiken 2, ya,” Rapa menyebutkan pesanannya dengan lancar. “Jangan lama-lama gue udah lapar banget,” lanjut Rapa sebelum kemudian melangkah menuju meja kosong yang berada di pojok ruangan.
Kenapa harus pojok? Karena menurut Rapa di pojok lebih enak, bebas juga dari perhatian orang-orang. Entah lah, Cleona tidak paham dengan penjelasan Rapa soal itu. Yang penting adalah makan, dimana pun tempatnya yang penting bersih dan makanannya enak.
Tak lama, apa yang Rapa pesan tadi di antar oleh karyawan Chiko. Perut Rapa semakin berbunyi dan itu membuat Cleona terkekeh geli, begitu juga dengan gadis manis yang mengantar pesanan mereka.
“Lo ganteng-ganteng malu-maluin, Kak,” katanya di sisa-sisa kekehannya.
“Berisik lo, Ca!” dengus Rapa yang langsung melahap nasi gorengnya.
“Ini nasi gorengnya kok tiga, Bang?” heran Cleona.
“Ganteng-ganteng rakus, untung masih ada cewek cantik yang mau sama lo!” ujar Caca sebelum melenggang pergi meninggalkan sahabat dari bosnya itu.
🍒🍒🍒
Cleona tengah fokus mencatat nama-nama yang akan mendapatkan undangannya sebelum kemudian Leo datang menghampiri dan duduk di ranjang anaknya.
“Kak, kunjungin Mami yuk, sebelum kamu berangkat ke Bali besok.”
“Oke, Queen siap-siap dulu kalau gitu,” Cleona segera bangkit dari duduknya dan berlari menuju kamar mandi.
Leo mengangguk, walau anaknya sudah tidak terlihat lagi. Menatap sekeliling, senyum sedih Leo terbit begitu melihat pigura berisikan foto istri juga anaknya yang terpajang di atas nakas, menampilkan kedua senyum wanita kesayangan yang hingga saat ini masih sulit Leo ikhlaskan.
Meraih benda tersebut, jari tangan Leo bergerak mengusap permukaan terlindung kaca bening itu. “Aku kangen kamu, Lun.”
__ADS_1
Cleona yang tidak sengaja menyaksikan itu bersembunyi di balik pintu kamar mandi, ikut sedih melihat papinya yang terlihat kesepian dan terluka seperti ini. Ia tahu betul bagaimana cintanya laki-laki itu pada sang mami. Namun Cleona sadar bahwa mereka tidak boleh kembali larut dalam kesedihan. Dengan segera ia menyeka air matanya yang ikut menetes, mencuci kembali wajahnya dan menampilkan senyum terbaiknya sebelum kemudian menampakkan diri di depan sang papi.
“Ayo, Pi kita berangkat sekarang.”
Dengan cepat Leo menyeka sudut matanya dan meletakan kembali pigura yang semula di peluknya ke atas nakas, sebelum kemudian mendongak dan menerima uluran tangan sang putri.
“Calon suami kamu mau ikut gak?” tanya Leo begitu mereka menuruni tangga menuju lantai bawah.
“Kita ke rumah bunda dulu aja, siapa tahu mereka juga mau ikut,” usul Cleona yang kemudian di angguki Leo.
“Lama banget sih!” cemberut Laura. “Keburu malam tahu, pemakaman seram.”
Cleona memberikan sentilan kecil di kening adiknya itu. “Makanya jangan kebanyakan nonton horor, Dek.”
Laura mencebikan bibirnya, kemudian meraih tangan sang papi untuk di gandengnya dan melangkah lebih dulu, meninggalkan sang kakak yang lebih dulu mengunci pintu.
Setelah menunggu keluarga Rapa bersiap selama beberapa menit, semua masuk ke dalam mobil. Dan seperti biasa Rapa selalu di jadikan supir oleh Leo, membuat Lyra cemberut dan sempat terjadi percekcokan kecil antara bunda Lyra dan papi Leo, yang memang sudah biasa mereka saksikan.
“Udah, Bun biarin Rapa sama papinya sekarang. Nanti setelah Queen menikah dengan Rapa, anaknya akan keluarga kita kuasai.” Perkataan Pandu itu membuat Leo mendengus kesal dan mencebikan bibirnya tak suka.
“Setelah menikah, mereka tetap tinggal di rumah gue, sesuai apa yang di janjikan anak lo.”
“Gak bisa gitu dong! Mereka harus ting...”
“Gak usah protes lo! Itu udah jadi perjanjian Rapa sama gue saat anak lo minta restu nikahin Queen.” Leo dengan cepat memotong protesan Lyra.
“Aish, abang kok gitu sih. Bunda juga kan mau tinggal sama mantu bunda,” ucap Lyra cemberut.
“Bun...”
“Ck, sebenarnya kita mau berangkat kapan sih?” tanya Laura menghentikan perdebatan konyol ini. Laura heran kenapa selalu ada saja perdebatan di kala mereka akan pergi.
__ADS_1