Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
139. Tak Ingin Berpisah


__ADS_3

“Bang bangun,” Cleona menepuk-nepuk pipi suaminya dengan pelan. “Udah pukul empat loh bang, nanti ketinggalan pesawat.”


“Biarin aja, istri, supaya abang gak jadi berangkatnya.” Masih dalam keadaan mata tertutup Rapa berucap, semakin erat memeluk tubuh mungil istrinya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Cleona.


“Gak boleh gitu, ah, abang kan udah janji semalam mau berangkat. Jangan bikin ayah kecewa, Bang.”


“Tapi abang gak mau minggalin kamu, istri. Abang gak mau ninggalin anak-anak juga,”


“Abang di sana kerja, cari uang untuk nafkahin Queen sama anak-anak. Lagi pula kita masih bisa saling bertatap muka meskipun hanya sekedar lewat video call. Abang bisa kapan aja telpon Queen, komunikasi saat ini sudah canggih loh bang.”


“Kamu kayaknya pengen banget ya abang pergi?”


Pletak. Satu jitakan Cleona berikan pada kening suaminya cukup keras, membuat Rapa bangun dan mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Dengan wajah cemberut dan tangan yang mengusap-usap keningnya Rapa berkata dengan manja, “sakit istri.”


“Makanya kalau bicara jangan sembarangan! Queen juga gak mau pisah sama abang, tapi kan pekerjaan juga tanggung jawab abang. Queen pasti bakalan kangen banget sama abang,” ucap Cleona memeluk pinggang suaminya, sama beratnya untuk melepaskan suaminya pergi. Mengelus lembut kepala istrinya, Rapa melayangkan kecupan di puncak kepala wanita tercintanya itu.


“Kamu mandi sekarang aja ya, barengan sama abang.”


“Tapi ini masih pagi banget, dingin tahu bang,” mendongak Cleona menatap suaminya.


“Besok abang udah gak bisa mandiin kamu lagi, mau ya?” pinta Rapa dengan sorot mata memohon. Cleona akhirnya mengangguk, dan mengulurkan tangannya meminta di gendong, yang dengan senang hati di sambut oleh Rapa.


Meskipun air hangat yang mereka gunakan untuk mandi, tetap saja tidak menghilangkan rasa dinginnya pagi yang matahari saja belum menunjukan sinarnya, demi sang suami, yang setengah jam lagi akan pergi, Cleoan rela menggigil demi menuruti keinginan Rapa untuk mandi bersama.


“Kamu duduk dulu sebentar di sini, abang mau pamit dulu sama si kembar.”


Cleona mengangguk dan membiarkan suaminya masuk ke dalam kamar buah hatinya. Air mata Cleona tak sengaja terjatuh, masih saja berat berpisah dengan Rapa, padahal dirinya sendiri yang mengizinkan pria itu pergi. Terbiasa selalu bersama, membuat Cleona tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya menjalani hari tanpa laki-laki itu di sampingnya.


“Kamu nangis?” tanya Rapa begitu kembali dari kamar ke dua anaknya.


Dengan cepat Cleona menyeka sudut matanya, dan memberikan senyum semanis mungkin untuk suaminya itu. “Mana berani Queen nangis.”

__ADS_1


Sentilan kecil Rapa berikan, kemudian duduk di samping istrinya, membawa wanita itu ke dalam pelukan lalu mengecup puncak kepala Cleona beberapa kali. “Abang gak akan pergi kalau kamu nangis.”


“Queen gak nangis abang.”


“Iya, cuma netesin air mata aja,” mengurai pelukannya, Rapa menjawil hidung mungil istrinya itu. “Kamu sedih ya karena kita mau pisah?” mengangguk adalah jawaban yang Cleona berikan. “Sama abang juga sedih, pengennya bawa kamu aja ke sana, tapi abang takut nelantarin kamu karena terlalu sibuk dengan kerjaan. Atau malah kerjaan yang abang telantarin gara-gara pengen selalu kekat sama kamu.” Rapa terkekeh pelan, kembali membawa istrinya ke dalam pelukan.


“Abang baik-baik ya selama di Bali, jangan lupa istirahat dan tidur, makannya juga di jaga, kesehatannya juga harus di perhatikan, jangan begadang terus meskipun kerjaan abang banyak,” mendongak Cleona menatap suaminya yang juga menatapnya sedikit menunduk. “Di sana abang untuk kerja bukan senang-senang, Ingat! Jangan main mata sama perempuan-perempuan di sana, apa lagi sampai ke pincut bule berbikini.”


Rapa terkekeh mendengar peringatan-peringatan dari istrinya. “Abang sudah cukup memiliki kamu, dan abang hanya tertarik sama istri cantik abang ini,” dengan gemas, Rapa melayangkan kecupan di hidung istrinya. “Kamu percaya kan sama abang?”


“Queen percaya. Tapi abang juga ingat perkataan Queen kan? Ingat loh itu bukan sekedar ancaman. Kalau abang gak percaya, abang bisa buktikan sendiri keseriusan Queen. Tapi setelah itu jangan menyesal.”


“Kamu gak perlu khawatir, Abang akan menjaga hati abang untuk kamu, cinta abang sepenuhnya milik kamu dan diri abang akan selalu menjadi milik kamu. Abang di sana serius sama pekerjaan, biar bisa scepatnya pulang. Tapi sebelumnya abang mau minta maaf kalau nanti abang harus mengganggu tidur kamu di malam hari,”


“Kenapa memangnya?” Cleona mengernyitkan kening.


“Abang pasti rindu sama kamu sama anak-anak juga, dan abang pasti hanya saat malam saja memiliki waktu untuk menghubungi kamu. Meskipun sekarang abang gak tahu akan sesibuk apa kerjaan di sana, tapi akan selalu abang sempatkan untuk mengabari kamu, karena dengan senyum kamu lah semangat abang akan tumbuh …”


“Ayah, gak usah ingetin please, biarin aja abang kesiangan supaya gak jadi berangkat.”


“Abang!!!”


“Iya- iya abang berangkat. Ayah bawain deh tuh koper abang, masukin bagasi sekalian, nanti abang nyusul.”


Mata Pandu melotot galak mendengar titah sang putra yang tidak sopan itu, sementara si pelaku hanya memberikan cengirannya begitu cubitan, istri cantiknya berikan. Mengabaikan ayahnya yang masih setia berdiri di ambang pintu, Rapa memilih fokus pada istrinya, yang sekali lagi ia bawa ke dalam pelukan.


“Kamu baik-baik di rumah ya, sayang. Maaf abang harus pergi. Kamu tahu kan, perpisahan ini bukan yang abang inginkan, karena keinginan abang adalah selalu ada di samping kamu, tapi salahkan ayah yang tidak becus ngurusin perusahaan sampai masalah ini ada dan di limpahkan sama abang,”


Pandu yang mendengar penuturan anaknya segera melemparkan sendal jepit yang di kenakannya ke arah Rapa, dan berhasil mengenai punggung anaknya. Rapa memang selalu menyebalkan, membuat Pandu selalu bertanya-tanya sifat siapakah yang menurun pada anaknya itu.


“Kamu jangan lupa buat orang rumah kerepotan, ya, kalau bisa kamu buat mereka serepot mungkin biar pada menyerah, dan panggil abang untuk segera pulang,” Cleona yang mendengar penuturan suaminya itu terekeh pelan, sementara Rapa sendiri masih saja menampilkan wajah lesunya, karena tak rela jika harus meninggalkan sang istri. Berbeda dengan Pandu yang saat ini ingin sekali menimpuk anak laki-lakinya yang semakin meyebalkan.

__ADS_1


“Rapa Pratama Dhikra!”


“Sabar dong, Yah, ini abang lagi pamitan dulu sama istri abang. Tunggu sebentar, please! Sulit untuk berpisah dengan wanita yang begitu kita cintai, Yah. Jadi, tolong sabar!”


Menghela napas, Pandu berusaha meredakan emosinya. “Ya udah cepetan, 5 menit.”


“Mana cukup …”


“Lima menit atau tidak sama sekali!” tegas Pandu, yang kemudian mendapatkan dengusan dari Rapa.


Hendak kembali memberikan protesan, Rapa kembali mendengus saat ayahnya menurunkan waktu yang di berikannya.


“Oke, lima menit!” putus Rapa pada akhirnya.


“Sisanya tinggal empat menit lagi,” ucap Pandu menatap jam di pergelangan tangannya. Rapa yang mendengar itu menggeram kesal, sementara Cleona tak hentinya terkekeh geli.


“Mertua kamu emang nyebelin!” kata Rapa mencibir sang ayah.


“Tiga menit lagi …”


Kesal karena waktu semakin mepet, Rapa langsung menyambar bibir istrinya tanpa aba-aba, membuat Cleona terkejut karena mendapat serangan tiba-tiba, tapi setelahnya ikut menikmati ciuman suami tampannya itu.


Pandu yang mengalihkan tatapannya dari jam di pergelangan tangannya, melebarkan mata, terkejut melihat apa yang di lakukan anaknya. Melangkah dengan lebar, Pandu menarik Rapa hingga ciuman yang tengah berlangsung terlepas dengan paksa.


“Ayah, lepasin …”


“Gak ada! Waktunya sudah habis.” Pandu menarik paksa anaknya keluar dari kamar, tidak lupa koper milik Rapa ikut diseretnya.


“Hati-hati di jalan abang sayang, selamat sampai tujuan. Jangan lupa kabarin Queen kalu udah sampai di Bali.” Teriak Cleona dengan sisa-sisa tawanya, melihat bagaimana sang mertua menyeret Rapa seperti tengah menyeret seekor sapi yang akan di kurbankan. Wajah tidak rela Rapa itu lah yang membuat Cleona tertawa, saking menggemaskannya.


“Baik-baik selama di sana abang, Queen percaya abang akan setia.” Gumam Cleona mengukir senyumnya.

__ADS_1


__ADS_2