Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
140. Tanpa Rapa


__ADS_3

Setelah kepergian Rapa dan sang ayah, Cleona masih setia duduk di tepi ranjangnya, bingung bagaimana cara dirinya pindah ke kursi roda dan menghampiri kamar si kembar yang sudah terdengar suara tangisnya. Sampai akhirnya bergeser sedikit demi sedikit untuk meraih kursi rodanya, Cleona hampir saja putus asa dan menjatuhkan diri ke lantai jika saja Lyra tidak segera datang.


“Kenapa gak teriak aja sih sayang, panggil bunda,” omel Lyra dengan nada cemas seraya membantu menantunya itu duduk di kursi rodanya.


“Queen takut ngerepotin bunda,” cicit Cleona pelan. Rasa bersalah kembali menyeruak saat melihat gurat cemas mertuanya.


“Bunda gak pernah meresa di repotin, Queen. Bunda malah akan merasa menyesal kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu. Jangan pernah sungkan minta bantuan bunda, ya?” raut memohon yang di berikan Lyra membuat Cleona pada akhirnya mengangguk dan memeluk sang bunda seraya mengucapkan kata maaf.


“Kamu tunggu di sini, bunda ambil dan mandiin si kembar dulu,” mengangguk adalah jawaban yang Cleona berikan, sebelum Lyra melangkah menuju kamar kedua cucunya.


Tidak terasa air mata yang sejak kepergian Rapa, ia tahan pada akhirnya jatuh juga, merasa bahwa dirinya tak berguna membuat Cleona seolah ingin menyudahi semua ini, tapi dengan cepat pikiran warasnya kembali, bersamaan dengan bisikan semangat yang entah datangnya dari mana.


Mencoba dan terus mencoba dengan hati-hati, Cleona berusaha untuk bangkit dari kursi rodanya berniat untuk berpindah duduk ke atas ranjang. Ia bertekad untuk sembuh dan akan berusaha untuk kembali berdiri tanpa sepengetahuan siapa pun, karena Cleona tahu mereka semua malah akan khawatir jika ia terlalu memaksakan diri demi bisa berjalan.


Berkali-kali mencoba dan masih gagal, Cleona segera mengakhiri usahanya itu begitu suara langkah terdengar mendekat dan ia dapat melihat sang bunda datang bersama Nathan.


“Queen gendong Nathan gak apa-apa ‘kan?” tanya Lyra begitu berada di hadapan menantunya. Bocah yang sudah segar karena baru saja selesai di mandikan itu tertawa girang begitu melihat Cleona.


“Gak apa-apa bunda, biar Queen yang gendong,” Cleona mengulurkan tangannya mengambil alih sang putra dari gendongan mertuanya.


Lyra tersenyum dan kembali melangkah menuju kamar cucunya untuk mengambil satu lagi bayi gendut yang tengah menangis karena di pisahkan dari sang kakak di saat keduanya tengah berebut mainan sambil Lyra mengenakan pakaian pada kedua bocah itu.


“Selamat pagi putri papi tercinta,” sapa Leo yang baru saja datang dengan senyum cerahnya.


“Pagi juga papi, sayang,” jawab Cleona membalas sapaan sang papi yang baru saja melepaskan kecupan dari kening Cleona. Jika Rapa ada, maka laki-laki itu akan mengomel dan menarik Leo agar menjauh.

__ADS_1


“Bahagia banget papi gak ada suami kamu yang nyebelin itu,” kata Leo dengan bahagia dan diakhiri dengan kecupan di pipi gembul Nathan, sementara Cleona hanya terkekeh geli melihat papinya yang seperti baru saja mendapatkan hadiah ratusan juta.


“Sebahagia itu?” mengerutkan meningnya Cleona bertanya.


“O jelas, bisa dekat sama kamu itu adalah kebahagiaan papi, dan ketidak adaan suami kamu yang protektifnya kebangetan membuat kebahagiaan papi makin-makin, gak ada yang teriak-teriak ngajak ribut, gak ada yang bikin papi naik darah dan yang penting gak ada yang nyebelin.”


Cleona tertawa mendengar penuturan sang papi, sedangkan Leo mendengus begitu satu jitakan keras Lyra berikan secara tiba-tiba. “Liat aja, gue laporin lo sama anak gue!”


“Laporin sana, bisa apa emang anak lo di sana?” tantang Leo, kemudian menjulurkan lidahnya, setelah itu mendorong kursi roda Cleona keluar dari kamar, meninggalkan Lyra yang mendengus jengkel.


“Twins aunty yang cantik datang!” teriakan yang sudah dapat di tebak oleh semua orang di rumah ini datang dari arah depan dan tak lama kemudian sosok Clara datang bersama dengan suaminya yang terus mengekor.


“Berisik lo cempreng!” celetuk Leo melayangkan tatapa protes pada anak dari sahabat baik sekaligus besannya itu.


“Papi gak salah ngatain Atu cempreng? Lupa dengan suara indah Atu yang bikin siapa aja jatuh cinta?”


“Susah amat kayaknya papi mengakui suara Atu emang sebagus itu.” Cibir Clara menghampiri bundanya yang baru saja keluar dari kamar Cleona, kemudian mengambil alih bocah menggemaskan di pangkuannya. Sementara Birma yang mengikuti di belakang hanya menggelengkan kepala, sudah biasa mendapati situasi di rumah pertuanya itu.


“Abang kemana, Bun?” tanya Birma begitu tak mendapati kakak iparnya.


“Di kirim ke Bali sama ayah,” jawab Lyra seraya menggiring anak juga menantunya menuju ruang makan.


“Ngapain bun, liburan? Kok Atu gak di ajak?” tanya Clara dengan cemberut, hingga satu sentilan mendarat di keningnya itu.


“Kakak kamu kerja, bukan liburan.”

__ADS_1


Clara dan Birma mengangguk paham, kemudian duduk di kursi meja makan bergabung dengan Cleona dan Leo. Sementara Lyra membantu asisten rumah tangganya menyiapkan sarapan untuk mereka.


“Ayah ikut ke Bali juga?” Clara bertanya begitu tidak mendapati keberadaan laki-laki tersayangnya. Leo yang baru saja hendak menjawab urung begitu mendengar …


“Ayah disini,” sahut Pandu yang baru saja datang dan langsung menghampiri istrinya hanya untuk melayangkan sebuah kecupan.


“Abang udah naik pesawat,Yah?” tanya Cleona begitu ayah mertuanya sudah duduk di kursi meja makan bersebelahan dengan istrinya.


“Udah, sengaja ayah tunggu sampai pesawat berangkat, takut tuh bocah melarikan diri dan pulang kerumah,”


“Emang abang kenapa, Yah?” Clara yang tidak tahu bagaimana Rapa sebelum berangkat mengertukan keningnya, penasaran.


“Sepanjang perjalanan ngerengek minta pulang. Kalau aja dia bukan anak ayah, udah ayah lempar dia di tengah macetnya jalanan.” Pandu mengakhiri ucapannya dengan dengusan pelan. Teringat bagaimana Rapa yang menyebalkannya melebihi anak kecil yang kukuh menginginkan mainan yang di sukainya.


“Wajar kali anak lo kayak gitu, lo juga kalau di paksa pisah sama Si Lily reaksinya gak beda jauh,” Leo menyahuti dengan santainya.


“Sorry ya, gue gak selebay itu,” delik Pandu.


“Masa?” Leo yang hendak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya urung, dan menoleh pada sahabatnya itu. “Ly, lo ingat gak waktu lo mau di ajak bang Levin ke Singapura untuk pindahan dia?” satu anggukan Lyra berikan, kemudian tertawa begitu mengingat bagaimana Pandu yang merengek seperti anak kecil yang tidak ingin di tinggalkan ibunya berangkat kerja. Bahkan laki-laki itu sampai meneteskan air mata saking tidak relanya sang istri akan di ajak pergi oleh abang iparnya.


Pandu bisa saja pergi bersama istrinya, tapi pekerjaan yang tidak bisa dirinya abaikan membuat Pandu harus tetap tinggal, dan di tinggalkan sang istri bukanlah sesuatu yang dirinya bisa bayangkan. Sebagai pria yang segitu mencintai wanitanya, dan sudah ketergantungan, tentu saja Pandu enggak jauh dari Lyra.


Dasarnya keturunan Leon adalah si family drama, jadilah mereka semua mengerjai Pandu dengan begitu suksesnya, sampai Pandu tidak melepaskan sedikitpun istrinya itu, karena tidak ingin sampai siapa pun membawa Lyra secara diam-diam pergi jauh darinya, bahkan hingga kerja pun Pandu bawa dan membiarkan ruang kerjanya seperti tempat tamasya karena Lyra menggelar tikar di tengah ruangan demi mengajak anak-anaknya bermain.


“Bunda jangan ketawa, lo juga Le!” delik tajam Pandu yang wajahnya kini sudah memerah, entah karena malu atau kesal.

__ADS_1


“Lo sama anak lo emang gak beda jauh.” Leo kembali tertawa begitu puas, hingga akhirnya Pandu yang kesal segera saja menjejali mulut sahabatnya itu dengan tahu goreng yang lebih dulu dirinya lumuri banyak saus, membuat Leo yang kepedasan segera bangkit dan berlari menuju wastafel untuk mencuci mulutnya. Dan tawa kembali berderai dari semua penghuni meja makan. Sayang kini tidak ada Rapa yang selalu menjadi paling bahagia melihat papi mertuanya tertindas.


__ADS_2