Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
105. Quality Time With Friend


__ADS_3

Meskipun kehamilan Cleona semakin hari semakain membesar, tapi tidak membuat wanita itu menghabiskan hari di rumah saat sang suami dengan asyiknya nongkrong di cafe bersama teman-temannya yang masih belum berkeluarga. Begitu pun dengan Clara yang juga ikut berkumpul, mengajak serta suami yang harinya di sibukan dengan bekerja.


Tidak ada acara yang spesial memang, tapi sesekali mereka memang selalu meyempatkan untuk berkumpul di tengah kesibukan yang menyita. Apa lagi sebentar lagi salah satu dari mereka akan ada yang kembali melepas masa lajang, menyusul Clara dan Cleona serta Rapa. Tentu saja itu harus dirayakan, terlebih si pemilik tempat yang akan menjadi calon pengantin nanti.


Cleona yang memang sampai lebih dulu bersama sang suami, sudah sibuk dengan cemilan yang di sediakan Chiko, laki-laki itu begitu senang menjamu Cleona, meski tidak pernah menerima bayaran. Karena bagi Chiko anak Rapa berarti anaknya juga, meskipun sahabatnya itu menolak keras, tapi Chiko tak peduli selama tidak ada penolakan dari wanita cantik berbadan dua itu.


Tak lama Shafa dan Nirmala datang bersamaan dengan Akbar, Nino dan Dava. Kelima orang itu tidak ada yang melewatkan untuk mengelus perut besar Cleona, yang membuat Rapa cemberut karena tak rela istrinya di sentuh laki-laki lain. Namun itu justru menjadi hiburan tersendiri untuk sahabat-sahabatnya.


Begitu semua sudah berkumpul, dan Clara serta Birma yang menjadi tamu terakhir. Chiko segera menutup cafenya agar tak ada pengunjung yang masuk di saat mereka hanya ingin berkumpul, bercada gurau dengan para sahabat.


“Lo kenapa Niel? Gak semangat gitu kayaknya,” tanya Rapa saat menyadari bahwa sahabat satunya itu terlihat lesu.


“Kak Daniel mah paling juga baru di putusin lagi,” celetuk Clara yang langsung mendapat delikan dari si empunya nama.


“Bukan karena itu, Cla. Itu mah gue udah kebal. Yang sekarang jadi masalahnya emak gue di rumah minta cucu. Gue bingung mau nyari cucu di mana. Ngambil anak orang nanti malah di tanya mantunya,” Daniel yang terlihat frustasi itu tidak membuat semua yang ada di sana mengiba, tapi malah justru menertawakan. Memang beginilah sahabat sejati, tidak peduli sahabatnya semenderita apapun, tertawa adalah yang paling utama. Menyebalkan bukan?


“Nikah aja sih kak Niel, ribet amat deh.” Shafa yang sejak tadi hanya memperhatikan mulai buka suara. Dan buka suaranya orang pendiam itu benar-benar selalu membekas di hati. Seperti saat ini, Daniel malah semakin menekuk wajahnya cemberut dari pada tersenyum.


“Lo mau gue nikahin, Fa?” tanya Daniel begitu saja. Sukses membuat semua orang di sana menoleh sementara Shafa masih tenang sambil menyemili puding di piring Cleona.


“Gue tahu lo kehabisan akal dan frustasi karena di suruh cepat-cepat nikah sama orang tua lo, tapi maaf, gue gak sefrustasi lo. Jadi, gue menolak.” Jawab Shafa sedikit berbelit.

__ADS_1


Daniel mencebikan bibirnya. “Tinggal bilang gak mau aja sampai sepanjang itu!”


Shafa hanya membalas dengan kedikan bahu setelah itu kembali diam menikmati makanan yang tersedia di meja bersama ibu hamil kesayanganya.


“Terus siapa dong yang harus gue nikahin?” Daniel menatap satu persatu sahabatnya dengan raut meminta bantuan. “Kay, nikah sama gue yuk?”


Bugh.


Satu pukulan yang tak begitu keras mampir di tangan Daniel. “Kalau mau ngajak ribut ayo deh, Niel. Gue siap nih,” Chiko melipat tangan kemejanya seraya menatap Daniel tajam.


“Hehe, gue becanda, Ko. Serius amat lo nanggepinnya.” Daniel cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal mendapat pelototan tajam Chiko yang akan melepas masa lajangnya tiga bulan lagi bersama Kayla, yang tak lain sahabat Cleona dan Clara yang entah kenapa bisa kepincut pada laki-laki sekelas Chiko yang tidak ada tampan-tampannya itu. Menurut Daniel tentu saja.


“Cle, mau jadi istri gue gak? Rela deh gue jadi laki muda.” Kini giliran Rapa yang melayangkan tatapan tajam, bahkan calon ayah itu langsung menarik kerah baju Daniel hingga berdiri dari duduknya.


“Gue mau ngajak akur, Rap. Bagaimana pun sebagai madu kita harus damai biar rumah tentaram dan istri bahagia. Apa lagi bentar lagi anak kita akan lahir,”


Pletak.


Jitakan panas itu Rapa layangkan dengan tidak manusiawi, membuat Daniel mengaduh begitu kencang dan memanyunkan bibirnya. “Kenapa hari ini gue di jahatin mulu sih!”


“Gue gak nyangka lo sefrustasi ini Niel,” Rapa menepuk pundak sahabatnya itu beberapa kali dengan wajah mengiba yang di buat-buat.

__ADS_1


“Iya saking frustasinya gue jadi pengen banget nikahin Si Dava.”


Merasa di sebut namanya, Dava yang semula sibuk dengan ponsel segera bangkit dari duduknya dengan ekpresi jijik yang tidak sama sekali di buat-buat, kemudian berlari saat sadar bahwa sahabatnya itu mulai mendekat memanggil-manggil nama Dava dengan gaya seperti banci yang sesungguhnya.


Rapa dan Cleona dengan segera mengucapkan amit-amit berkali-kali meski di barengi dengan tawa yang begitu lepas, melihat tontonan yang menjijikan sekaligus menghibur di depannya. Tentu saja semua tahu bahwa apa yang di lakukan Daniel hanya semata-mata becandaan untuk mengurangi beban pikiran yang sepertinya tidak jauh berbeda dengan Clara dan Birma yang masih di tuntut mengenai anak meskipun tidak sesering beberapa waktu lalu.


“Kak, Daniel udahan gilanya, please, kasihan anak gue!” mohon Cleona di sisa-sisa tawanya yang belum juga ingin mereda.


Daniel dan Dava akhirnya menurut dan kembali duduk ketempat masing-masing dengan napas naik turun tak beraturan. “Lari segitu aja gue cape, gimana kalau lari dari kenyataan, mati kali gue!” ujar Dava begitu selesai meneguk cola di dalam gelasnya.


“Ngapain juga lo lari dari kenyataan kalau yang ngejar aja gak ada,” cibir Akbar yang begitu menusuk di hati Dava, dan membuat laki-laki itu mendengus sementara yang lain sibuk menertawakan.


“Kejar Mirna lagi aja Dav,”


Dengan cepat Dava menggelengkan kepala mendengar usulan Nino. “Gue udah gak mau maksa seseorang yang gak menginginkan gue.” Kata Dava dengan bijaknya dan itu mendapat acungan jempol dari semua yang ada di sana kecuali Rapa karena menurutnya, cinta memang harus di kejar dan di perjuangkan.


Gagal itu untuk bangkit, seperti dirinya dengan Cleona yang saat itu di pisahkan oleh jarak dan waktu, hingga pada akhirnya mereka di persatukan kembali.


“Tapi kita beda kasus. Lo sama Cleo emang saling cinta, gak seperti gue sama Mirna, dari dulu cuma gue yang ngejar dia, sementara dia ngejar lo. Meskipun tujuh tahun lalu dia berhenti ngejar lo, tapi tetap aja dia gak mau berpaling ke gue.” Raut kesedihan tertangkap jelas oleh semua orang di meja itu, tapi tak ada siapapun yang menatap Dava iba kerena memang laki-laki itu tidak pernah menyukainya.


“Karena jodoh lo bukan dia, kak.”Alisya menanggapi.

__ADS_1


Dava hanya mengangguk sebelum kemudian kembali melebarkan senyumnya, dan keseruan mereka kembali berlangsung dengan berbagai kegilaan, mengenang masa remaja dan membandingkannya dengan kehidupan yang kini di jalani dengan lebih tertata, serta memiliki tujuan masing-masing.


__ADS_2