Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
74. Untuk Pertama Kali


__ADS_3

“Lo ngapain masih berdiri di situ? Pergi!” sentak Clara dengan tatapan tajamnya, mengusir Cella yang sejak tadi tak bergerak dari tempatnya bagai manekin yang berada di butik-butik, tak akan berpindah jika tidak di pindahkan.


Cella melayangkan tatapan tak sukanya pada Clara, sebelum kemudian pergi meninggalkan pasangan calon suami istri itu dengan perasaan dongkol dan tak terima karena sudah di permalukan di hadapan sang pujaan hati. Cella berjanji untuk membalas rasa malu ini suatu saat nanti.


Begitu pintu tertutup kembali dengan cara sedikit di banting oleh sekertaris menyebalkan itu, Clara bearalih menatap sang tunangan. “Sekali aja lo jadi cowok berengsek, jangan harap ada kata maaf dari gue!” ancam Clara dengan sungguh-sungguh, membuat bulu kuduk Birma merinding.


“Apa pernah selama ini aku berengsek? Pernah aku goda-goda perempuan lain? Pernah ku main-main sama kamu?”


Clara mengedikan bahunya seraya berjalan menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya disana. “Mana gue tahu kalau di belakang.”


“Kamu gak percaya sama aku?” tanya Birma mengernyitkan kening. “Emang aku pernah nyakitin kamu? Bukannya kamu yang nyakitin aku, meninggalkan di saat aku lagi sayang-sayangnya.”


Clara meringis kecil, dan tak lagi berani menatap sang tunangan. Berpura-pura tak mendengar mungkin lebih baik dari pada bersitatap yang malah membuat rasa bersalahnya kembali naik ke permukaan.


Tak mendapat respon apa-apa dari sang tunangan, Birma berjalan mendekat dan duduk di samping Clara yang berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang tengah perempuan cantik itu pikirkan, karena yang dapat Birma tangkap adalah gurat kesedihan.


Birma meraih pundak Clara, memposisikan agar menghadapnya. “Aku minta maaf. Bukan maksud ingin mengungkit itu, hanya saja aku ingin kamu tahu bahwa selama ini aku terus menjaga hati ini cuma untuk kamu, karena memang cuma kamu yang aku cintai, cuma kamu yang aku sayangi dan hanya kamu yang aku inginkan. Jadi, please percaya. Aku akan berusaha untuk tidak menghianati kamu, namun bila suatu saat nanti aku mulai goyah tolong tegur dan ingatkan aku. Kamu mau kan?”


Dengan mata berkaca-kaca Clara mengangguk pelan, dan begitu Birma menariknya ke dalam pelukan air mata itu pecah dengan derasnya. Clara cukup sadar akan perasaan Birma yang memang benar-benar tulus padanya, hanya saja ia tidak ingin terlalu jatuh yang malah akan membuatnya lemah. Clara tidak ingin di tindas oleh perasaan yang di namakan cinta. Ia tidak ingin di manfaatkan, dan ia tidak ingin disia-siakan oleh seseorang yang dicintainya.


Birma mengurai pelukannya, membantu Clara menghapus air matanya seraya berkata, “udah jangan nangis, kamu jelek tahu gak.” Dan di balas dengan pukulan pelan di dada bidang Birma yang membuatnya selalu nyaman itu.

__ADS_1


“Kalau aku jelek kamu gak mungkin pilih aku buat jadi istri kamu,” kata Clara mencebik.


“Aku tidak melihat dari seberapa cantiknya paras kamu, melainkan dari pribadi baik dan hati tulus kamu. Jika pun ada perempuan yang lebih cantik dari kamu, aku belum tentu akan memilih mereka.”


Coba sini siapa yang tidak baper dengan ucapan laki-laki tampan seperti Birma? Mendekat dan kasih tahu Clara bagaimana caranya. Mekipun tak ada senyum malu-malu dan wajah merah merona, tapi percayalah bahwa dalam hati, Clara jumpalitan karena baper.


Perempuan kenapa sih harus di beri perasaan yang lemah? Untung Clara memiliki ketahanan ekpresi yang kuat, jadi tidak terlalu memperlihatkan bahwa dirinya meleleh. Namun jika keseringan, ia tentu tak yakin bisa mempertahankannya.


“Jangan kebanyakan ngomong manis, Bir. Nanti aku mual. Lebih baik sekarang kita makan siang,” kata Clara yang langsung berdiri dari duduknya, membuat tangan Birma yang menangkup wajah Clara terlepas begitu saja.


“Kenapa gak sekalian bawa makanan kesini coba, jadi kita bisa langsung makan tanpa harus keluar dulu.”


“Aku belum punya kewajiban untuk bawain kamu makanan, apa lagi masakin. Toh di sekitar sini banyak tempat makan.”


“Ck alasan, bilang aja emang gak bisa masak!” cibir Birma. “Kalau pun beli, nanti juga aku ganti uangnya.”


Clara mendelik tajam. “Ganti ya?! Gak ingat waktu beli bakso di taman kota aku yang bayar dan kamu gak ada ganti sampai sekarang.


“Jadi kamu mau perhitungan? Gak ingat waktu beli sate, pizza, siomay, bakmie, soto, bubur ayam semua aku yang bayarin, dan gak ada aku minta ganti!”


“Kamu gak ihklas?!” dengan berkacak pinggang dan tatapan tajamnya Clara bertanya.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apa-apa, Birma menarik kuat Clara hingga tubuh prempuan cantik itu limbung dan jatuh ke dalam pelukannya, lebih parahnya lagi bibir mereka saling bersentuhan, membuat Clara maupun Birma terkejut dan membelalakan matanya. Namun tak ada yang mau saling menjauh, jadi, apa mau di kata, bibir sudah terlandur bertabrakan dan rasa lembut itu membuat jiwa laki-laki Birma menyala.


Bagaimana pun juga Birma adalah laki-laki normal yang selama ini belum pernah merasakan bagaimana manisnya bibir seorang perempuan, apa lagi di hadapannya adalah Clara, yang tak lain adalah perempuan tercintanya, cinta pertamanya dan calon istrinya. Melumatnya sedikit tidak apa bukan? Jika pun tindakannya salah, Birma bersedia untuk bertanggung jawab.


“Manis,” ujar Birma begitu selesai membubuhkan kecupan singkat terakhirnya dan mengusap bekas ciuman mereka yang berlangsung entah berapa menit.


“Lo- kamu nyium aku?” tanya Clara tak percaya sambil menyentuh bibirnya yang sedikit terasa kebas.


“Maaf udah lancang, aku …”


“Kok enak,”


Rahang Birma rasanya benar-benar ingin terjatuh begitu mendengar ucapan polos sang tunangan. Jika tahu akan seperti itu responsnya Birma tak segan-segan melanjutkan pergulatan bibirnya lebih lama lagi. Jadi apa gunanya rasa bersalahnya beberapa detik lalu?


“Mau di ulangi lagi gak?” Birma menaik turunkan alisnya menggoda.


Pletak.


“Belum murhim, sialan!” tamparan di bibirnya, Birma dapat dari sang kekasih yang kembali dengan mode galaknya. Calon istrinya ini memang aneh, sebentar menjadi kelinci yang menggemaskan kemudian berubah jadi singa yang menyeramkan.


“Belum muhrim tapi di nikmatin,” cibir Birma menurunkan tubuh ramping Clara dari pangkuannya, bukan karena kesal atau pun posisi itu membuatnya tak nyaman, hanya saja Birma tak ingin khilaf dan berakhir dengan pergulatan. Bisa-bisa ayah Pandu memanggangnya di atas bara api. Menyeramkan.

__ADS_1


__ADS_2