
Meskipun dengan wajah yang jelas terlihat kurang tidur, Rapa tak sekali pun mengeluh lelah, bahkan laki-laki itu masih mampu melantunkan tawanya, mengasuh anak-anaknya yang kini berusia dua minggu, juga sigap bangun saat sang buah hati merengek di tengah malam, padahal esoknya Rapa sudah harus pergi kerja. Rapa benar-benar menjadi ayah siaga untuk si kembar.
Jika biasanya si suami yang di tinggalkan, Rapa justru terbalik, dan tak jarang membuat Cleona cemburu karena laki-laki itu selalu memilih tidur di kamar si kembar dari pada menemaninya, sepulang kerja pun kedua buah hatinya lah yang lebih dulu laki-laki itu cari. Bukankah itu mengesalkan?
“Suami udah gak sayang istri lagi,” ujar Cleona, berdiri di ambang pintu kamar kedua anaknya, memperhatikan interaksi sang suami bersama si kembar yang bahkan belum bisa banyak merespon setiap celotehan ayahnya.
Rapa yang tengah mengajak ngobrol anak-anaknya, menoleh dan menghampiri sang istri yang saat ini berwajah sedih. “Kata siapa abang gak sayang istri?” tanya Rapa meraih tangan Cleona dan ia tuntun untuk duduk di sofa yang ada di kamar anaknya.
“Emang iya kok, abang sekarang larinya ke si kembar. Queen di lewatin gitu aja, di lupakan, dan di tinggalkan tidur sendirian. Sedih istri tuh,” tangan Cleona bergerak menyeka sudut matanya yang sama sekali tidak berair.
Rapa memutar bola mata, kemudian menggelengkan kepalanya tak habis pikir. “Dramanya si bunda nular deh kayaknya,” gumam hati Rapa. Namun tak ayal ia membawa kekasih hatinya itu ke dalam pelukan juga melayangkan kecupan di puncak kepala Cleona. “Abisnya si kembar lebih menggemaskan, istri.”
Mendorong tubuh suaminya menjauh, Cleona kemudian melayangkan tatapan tajamnya seraya berdiri dan berkacak pinggang. “Jadi maksud abang, Queen gak menarik lagi, gitu?”
Terkikik geli, Rapa kembali menarik istrinya untuk kembali duduk, dan ia peluk dengan erat. “Istri selalu menarik, makanya abang selalu tidur di kamar si kembar dan hindarin istri, takut gak tahan abisnya. Empat puluh hari, abang harus puasa. Mana tahan kalau dekat-dekat kamu terus,” bisik Rapa di belakang leher istrinya, dan perbuatannya itu mampu membuat bulu kuduk Cleona meremang geli.
Cleona dengan cepat bangkit, begitu kecupan-kecupan kecil ia rasakan. “Ingat ya bang, ini baru dua minggu. Anak-anak kita masih kecil-kecil, dan Queen belum siap hamil lagi.”
Rapa tertawa puas melihat kepergiaan Cleona yang wajahnya sudah memerah, kemudian melangkah kembali menghampiri anak-anaknya yang anteng dalam box bayi yang sengaja tidak di pisahkan.
__ADS_1
“Mama kalian lucu,” kata Rapa kembali terkekeh geli. “Masa cemburu sama anak sendiri, lagi pula kalian kan laki-laki. Emang deh mama kalian itu cemburunya aneh, tapi menggemaskan, makanya papa cinta.”
Begitu melirik jam yang ada di dinding, Rapa mengembangkan senyumnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi, mengisi baskom kecil dengan air hangat kemudian menggelar karpet kecil anti air, setelah itu membawa anak-anaknya untuk ia mandikan. Rapa memang paling suka melakukan hal ini, maka dari itu setiap pagi dan sore hari selalu ia lakukan seorang diri, dan melarang siapa saja membantunya termasuk sang istri.
“Anak papa mandi dulu, biar ganteng dan wangi. Nanti cewek-cewek pada naksir,”
Tangan Rapa sudah mulai bergerak membuka satu persatu pakaian yang di kenakan si kembar secara bergantian setelah itu mulai membasuh wajah putranya juga seluruh badan bayi mungil itu hingga selesai. Tangisan bocah dua minggu itu tidak sama sekali mengganggu ayah dua anak itu dan membuatnya menyerah, Rapa justru senang juga merasa tertantang untuk menaklukan kedua jagoannya.
Setelah memakaikan pakaian yang baru dan bersih kepada anaknya, baru lah Rapa membawa kedua bocah itu keluar dari kamar, menghampiri keluarganya, yang biasanya di jam-jam sore seperti ini sibuk menyiapkan makan malam atau mengombrol santai sambil menonton televisi.
“Cucu ku sudah tampan rupanya,” Lyra yang melihat Rapa turun dari tangga dengan memangku kedua anaknya, segera menghampiri dan mengambil salah satu dari mereka.
“Jangan tiru papa kamu, ya El. Dia terlalu banyak goyangan waktu di adon, makanya sedikit mendekati gila.”
“Bunda jangan lupa, abang kayak gini juga gara-gara bunda sama ayah yang buatnya gak pake doa dulu.” Lyra mencebik mendengar perkataan putranya itu, melangkah menuju ruang tengah menghampiri suami serta besannya yang menonton siaran berita di televisi. Di ikuti Rapa dan Nathan dalam pangkuannya.
Kedua kakek yang semula fokus pada layar di depan kini beralih pada sosok mungil yang baru saja bergabung, mengambil alih dari pangkuan Rapa dan Lyra setelah itu keduanya sibuk dengan bayi dalam pangkuan masing-masing. Membuat Rapa dan Lyra mendengus bersamaan, karena diabaikan.
Malas berada di sana, Rapa memilih bangkit dan meninggalkan orang tua serta anaknya untuk menghampiri Cleona yang sudah di pastikan berada di dapur.
__ADS_1
Berjalan sepelan mungkin, Rapa kemudian melingkarkan tangannya di perut sang istri, membuat Cleona terkejut hingga menjatuhkan semua tempe goreng yang baru saja di angkat dari penggorengan .
“ABANG!!!”
Suara menggelegar Cleona berhasil mengundang semua penghuni rumah berdatangan dengan wajah panik, sementara Rapa yang saat ini menutup kedua telinganya hanya cengengesan melihat wajah kesal istrinya.
“Kalau minyaknya tumpak kena kaki Queen gimana?!” jengkel Cleona menatap tajam Rapa yang memang senang sekali mengacaukan aktivitas memasaknya.
“Jangan main-main dekat kopor yang lagi nyala, Bang, bahaya!” peringat sang bunda.
“Iya bunda, maaf.” Menggaruk tengkuknya yang tak gatal kemudian Rapa beralih pada istrinya dan meminta maaf.
“Awas kalau di ulangi lagi!” kini Cleona pun memberikan peringatan, dan melanjutkan masaknya, sedangkan yang lain kembali ke tempat masing-masing.
“Tadinya abang pengen kayak cowok di novel-novel gitu, Queen meluk istrinya yang lagi masak, biar sweet.”
“Ck, gak perlu niru cowok di novel deh, mereka itu fiksi. Kalau abang kan nyata untuk Queen.”
“Kok manis banget sih istrinya abang?” gemas, Rapa menangkup wajah istrinya dan melayangkan kecupan singkat di kening Cleona.
__ADS_1
“Diam bang jangan ganggu,” tepis Cleona cepat, tidak ingin terkecoh dengan gangguan sang suami yang malah akan mengantarkan masakannya ke tong sampah karena gosong. Namun Rapa mana peduli, dan terus menggoda istrinya yang sudah kesal dengan gangguannya. Sampai akhirnya Cleona memilih memanggil bala bantuan, yang tak lain adalah sang bunda untuk menyeret Rapa menjauh.