
Cleona begitu cantik dengan dress hamil warna biru laut, sangat kontras dengan kulit putihnya. Dress yang panjangnya hanya sebatas lutut itu, membuat Cleona terlihat imut dengan perut buncitnya, dan Rapa yang berada di belakangnya segera melingkarkan tangan di perut bawah Cleona seolah menyangga anak-anaknya agar tidak terjatuh. Kecupan tak lupa Rapa layangkan pada pipi wanita tercintanya itu, kemudian keduanya saling bertatapan lewat cermin besar yang ada di depannya, saling melempar senyum sebelum kemudian keduanya tertawa.
“Kamu cantik,” pelan Rapa berbicara, tatapannya masih tertuju pada bayangan Cleona yang ada di cermin. “Dan aku cinta,” lanjutnya seraya kembali melayangkan kecupan pada pipi yang sama.
“Mau berangkat gak?” Rapa yang masih merasa nyaman dalam posisinya menganggukan kepala. Namun tidak juga bergerak, membuat Cleona terkekeh pelan dan memberikan cubitan gemas pada tangan suaminya yang masih melingkari perutnya.
“Berangkatnya bisa sambil gini aja gak? Aku udah nyaman soalnya.”
“Mana bisa sih, Bang! Udah ah ayo, nanti malah gak jadi lagi kayak kemarin.” Cleona dengan paksa melepaskan pelukan suaminya, dan melangkah menuju tepi ranjang untuk mengambil sling bag, ponsel, juga kunci mobil dan tak lupa dompet Rapa yang paling penting, karena Cleona tidak ingin berbaik hati membayar belanjaannya nanti, yang pasti tidak akan mengeluarkan uang sedikit.
Rapa menghampiri sang istri, dan melingkarkan satu tangannya di pinggang perempuan cantik itu, kemudian berjalan bersama keluar dari kamar. Berhubung hari ini rumah begitu sepi karena hanya mereka berdua yang tinggal jadilah, Rapa harus bersusah payah lebih dulu untuk mengecek semua pintu dan jendela, memastikan bahwa semuanya terkunci. Setelah itu masuk ke dalam mobil menyusul istrinya yang sudah duduk nyaman dengan toples kue kering coklat di pangkuannya.
“Perut udah melebihi besarnya bola basket, masih aja ngemil.” Cibir Rapa begitu pelan. Namun itu tetap dapat Cleona dengar, dan sebelum Rapa berhasil menghidupkan mobilnya, satu tinjuan melayang di tangan kiri laki-laki itu, cukup kuat sampai Rapa mengaduh dan mengusap tangannya yang sakit.
“Anak-anak kamu butuh makanan, Bang. Kalau aku gak ngemil, abang mau anaknya kelaparan di dalam sana?!” Rapa dengan cepat menggelengkan kepala. “Makanya jangan protes! Aku kayak gini juga ulah abang, gak ada aku ngeluh-ngeluh kehilangan badan ramping aku.”
“Iya-iya, abang minta maaf ya istri. Kamu boleh deh makan apa aja sepuas kamu, yang penting bayi kita sehat di dalam sana, dan istri abangnya pun sehat. Jadi, sekarang kita berangkat ya? Jangan cemberut. Abang tetap cinta kok walau kamu gak seramping dulu.” Rapa tersenyum tulus, kemudian memberikan kecupan di kening, pipi juga bibir sang istri tidak lupa mengecup buah hatinya yang masih di dalam perut, setelah itu barulah Rapa melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.
*
__ADS_1
“Bang, makan dulu ya, Queen lapar.” Pinta Cleona begitu mereka memasuki lobi mal.
Rapa menggelengkan kepalnya pelan, tidak paham dengan ibu hamil yang sepertinya selalu saja meminta makan, padahal baru saja menghabiskan satu toples kue kering selama dalam perjalanan. Oke perutnya besar, ada dua makhluk juga yang hidup di sana, tapi tidak ada kah rasa kenyang untuk sebentar saja?
“Oke, Queen mau makan di mana?” menuruti lebih aman dari pada membuat istrinya itu cemberut dan berakhir dengan tidur di sofa nanti malam.
“Sambil jalan aja kita nyari,” katanya yang di jawab anggukan oleh Rapa.
Sepanjang perjalanan menyusuri mal, Cleona celingukan mencari tempat makan, tapi sudah lima café mereka lewati, dan Cleona masih saja menggeleng begitu Rapa mengajak untuk masuk. Rapa tidak mengerti apa maunya si ibu hami, yang katanya lapar itu.
“Queen pengen makan hokben aja deh, Bang.”
“Hokben kan tadi udah kelewat sayang, kamu bilang tadi gak mau makan di sana,” berusaha lembut Rapa berkata agar tidak menyakiti hati istrinya walau sebenarnya ia ingin sekali berteriak karena kesal. Muter-muter sejauh ini hanya menghabiskan waktu, dan pada akhirnya makanan yang berada di belakang sana yang menjadi putusan ibu hamil cantik itu.
Berkali-kali Rapa mengusap dadanya sambil mengucapkan kata sabar, balik badan dan mempertahankan senyumnya walau keinginan memaki itu ada, tapi sebisa mungkin Rapa tahan, karena sadar bahwa yang di hadapinya adalah sang istri yang tengah mengandung buah hatinya.
“Istri gak cape kalau kita balik ke hokben? Gak mau di café yang dekat aja?” tanya Rapa yang memang khawatir dengan istrinya yang membawa perut besar itu ke mana-mana.
Gelengan kepala, Cleona berikan. “Queen masih kuat. Abang gak usah khawatir, nanti kalau lelah pasti Queen minta abang gendong.”
__ADS_1
Mendengar kata terakhir itu, Rapa refleks menelan ludahnya susah payah, membayangkan bagaimana beratnya sang istri sekarang ini, karena dua bulan yang lalu, terakhir kali Rapa menggendong istrinya yang ketiduran di sofa akibat menunggunya pulang kerja, beratnya sudah membuat Rapa encok. Jadi, bisa di bayangkan sekarang akan seberat apa istrinya itu? Bisakah Rapa membawanya?
“Oh Tuhan, semoga istriku memiliki kekuatan ekstra hari ini.” Doa Rapa dalam hati.
Begitu sampai di tempat makan yang di inginkan, dan duduk dengan nyaman Cleona menyebutkan pesanannya saat si pelayan menghampiri. Rapa hanya bisa menelan ludahnya kembali, sebelum menyebutkan satu pesanannya.
“Abang yakin cuma pesan jus melon doang?” Cleona bertanya dengan kening mengerut, sedikit tidak percaya.
“Iya abang itu aja cukup kok, masih kenyang.”
“Masa sih, biasanya kan abang makannya banyak,”
“Mungkin napsu makan abang pindah ke kamu,” kata Rapa dengan senyum lembutnya, agar tidak membuat istrinya itu tersinggung.
“Iya, deh kayaknya. Queen belakangan ini jadi doyan banget makan. Maaf ya, Bang,” Cleona menunduk menatap perut buncitnya.
“Gak apa-apa kok sayang, lagi pula kan ada si kembar di perut kamu, jadi wajar aja kalau makan kamu banyak. Anak kita butuh asupan, tapi jangan makan junk food terus ya, gak baik.” Ujar Rapa memperingati dengan lembut Cleona mengangguk dan melebarkan senyumnya.
Tak lama makanan yang di pesan Cleona datang dan di susun satu per satu di meja yang tidak seberapa besar itu. Mata Cleona berbinar lapar begitu makan enak itu memenuhi meja, dan tanpa menunggu lama Cleona langsung melapnya.
__ADS_1
“Pelan-pelan aja makannya, nanti kamu tersedak,” peringat Rapa seraya menyeka sudut bibir istrinya yang terdapat saus.
“Abis gimana dong, anak kita di dalam sana berebut, aku jadi gak bisa pelan-pelan.” Rapa tertawa mendengar alibi istrinya itu. Selalu saja anak dalam kandungan yang di jadikan alasan.