Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
33. Kesialan yang Menimpa


__ADS_3

Tidak terasa pelepasan kelas XII berlalu, hari libur pun tidak terasa cepat sekali terlewati dan masuk kembali ke sekolah tentu saja membuat sebagian dari mereka merasakan malas karena sudah terbiasa bangun siang dan leha-leha tanpa repot memikirkan pelajaran atau tugas yang tidak pernah absen setiap harinya.


Karena kelas kembali di acak, di kelas XI ini Cleona berpisah dengan Nirmala, Shafa dan Alisya yang sudah menemani di tahun pertama masa SMA-nya. Namun ketiga temannya itu di gantikan oleh Clara, yang saat ini menjadi teman sekelas bahkan sebangkunya di kelas XI IPS A, sementara teman-temannya yang lain berada di kelas yang berbeda, semuanya berpencar, Shafa dan Kayla di IPS B, Alisya di kelas paling jauh, yaitu di IPS E dan Nirmala di IPS C.


Pihak sekolah melakukan pengacakan ini karena agar murid-muridnya bisa lebih mengenal lagi satu sama lain dengan mereka yang belum sempat di kenal. Cleona dan teman-temannya sendiri tidak keberatan, karena bagi mereka jarak bukanlah suatu masalah, meskipun berada di kelas yang berbeda, tapi mereka berenam sepakat untuk menghabiskan waktu istirahat bersama dan pulang bersama pula. Toh persahabat tidak harus selalu dalam lingkaran yang sama, karena yang terpenting adalah tidak saling melupakan.


Cleona selalu berharap bahwa persahabat mereka akan sama seperti persahabatan kedua orang tuanya, yang masih terjaling hingga sekarang sudah memiliki keluarga masing-masing.


═════


Mungkin ini adalah hari tersial di sepanjang hidup Cleona, karena harus bangun kesiangan dan terpaksa berangkat ke sekolah seorang diri menggunakan ojek yang di pesankan sang mami. Jalanan macet menambah keterlambatannya, dan berakhir harus menjalankan hukuman membersihkan taman di dekat lapangan upacara.


Sejak masuk ke kelas tentu saja dirinya sudah kelelahan terlebih dulu di tambah dengan omelan dari gurunya menambah kesialannya. Dan ternyata penderitaannya tidak juga selesai, baru saja akan berbahagia karena jam selanjutnya kosong, tidak lama kelasnya langsung di masuki oleh beberapa OSIS termasuk Rapa. Dan disinilah kesialannya bertambah.


“Cleona Queenisa, maju ke depan sini, sayang,” kata Rapa dengan nada manis seperti biasa, tapi tidak dengan raut wajahnya.


Cleona dengan langkah pelan maju ke depan, bergabung dengan teman-temannya yang juga terkena razia. Dapat ia lihat dari depan sini, semua teman-teman sekelasnya tengah menahan tawa dan menatapnya mengejek. Cleona menunduk, melihat sepatunya dengan tatapan nanar, kemudian beralih menatap Rapa yang berdiri di depannya, menatapnya dengan memohon. Cleona menyadari kesalahannya, tapi akankah kekasih tercintanya itu membebaskannya untuk kali ini. Lagi pula baru pertama kali ini Cleona melanggar peraturan sekolah.


“Mentang-mentang udah kelas XI, mulai nakal ya, kamu Queen!”


“Queen gak nakal, Bang." Bantah Cleona.


“Terus itu apa? Kenapa sepatunya warna merah? Roknya juga kenapa sependek itu?”


“Queen bangun kesiangan Bang, asal ambil rok sekolah dan sepatu juga, maaf.” Meskipun tahu ini percuma, tapi tetap saja Cleona ingin mengutarakan alasannya, ia tidak ingin di sangka mulai nakal, apalagi oleh kekasihnya sendiri.


“Melki, ambilin bangku satu,” titah Rapa pada teman sesama OSISnya.


Laki-laki bernama Melki itu mengangguk dan menurut apa yang di katakan kakak kelasnya, mengambil satu bangku yang tidak di huni pemiliknya kemudian memberikannya pada Rapa.

__ADS_1


“Stabilo, Nes,” pinta Rapa pada rekannya yang perempuan.


Semua murid yang masih duduk di bangkunya masing-masing menunggu, penasaran apa yang akan di lakukan Rapa, begitu juga dengan sekitar sepuluh murid yang berdiri di depan, karena sama-sama kena razia seperti Cleona. Ada yang kena gunting rambutnya, sepatu yang melanggar aturan, celana ketat, rok pendek, kaos kaki dan masih banyak lagi yang lainnya.


“Duduk Queen,” perintah Rapa. Cleona hanya mengangguk dan mengikuti intruksi Rapa.


Rapa berjongkok, lebih dulu membuka sepatu yang di kenakan Cleona, dan aksi Rapa tersebut membuat perempuan di kelas itu menggila, sorakan-sorakan terdengar memenuhi ruangan, membuat Cleona malu, sementara Rapa seolah tidak peduli.


“Baru kali ini gue, lihat razia se-sweet ini. Jir, pengen!"


“Kenapa bukan gue yang jadi pacarnya kak Rapa?”


“Manis banget, Ya Tuhan!”


Masih banyak lagi suara-suara saling bersahutan karena kelakuan Rapa ini, semakin menambah rasa malu Cleona.


Menggaruk tengkuknya, Cleona cengengesan. “Queen lupa simpan dimana kaus kakinya, Bang.”


Satu sentilan Rapa berikan di kening kekasihnya itu. “Makanya jadi perempuan itu yang Rapi,” kata Rapa yang juga melepas kaus kaki yang di pakai Cleona.


“Kaus kakinya jangan di buka juga dong Bang, nanti Queen pakai apa? Lantai kan dingin, kotor juga, masa tega sih?” rengek Cleona cemberut.


“Tuh yang lain juga pada nyeker,” kata Rapa sambil menunjuk beberapa orang yang kena razia sepatunya.


Cleona mendengus, kemudian cemberut juga merengek manja pada kekasihnya itu, tapi percuma saja, karena Rapa seolah tidak peduli, dan memasukan sepatu serta kaus kaki milik Cleona ke dalam kardus yang di bawa Melki.


“Aih, tega banget sih Bang,” kembali Cleona merengek begitu Rapa mencoretkan stabilo warna warni di roknya, bahkan rok yang di kenakan Cleona saat ini coretannya lebih banyak dari pada rok teman-temannya yang kena razia seperti Cleona.


“Biar gak Queen pakai lagi,” kata Rapa dengan nada datar.

__ADS_1


“Atu, sini!” panggil Rapa pada adiknya yang sejak tadi tertawa melihat penderitaan Cleona. “Coretin nih rok dia bagian belakangnya sekalian sampai atas,” lanjut Rapa menyerahkan Stabilo yang di pegangnya pada Clara.


Tentu saja Clara dengan senang hati bersedia dan mulai menyoreti rok yang di kenakan sahabatnya itu.


“Ish, Atu jangan banyak-banyak!” protes Cleona dengan segera menghindari Clara begitu gadis itu tidak hentinya membuat karya di roknya.


“Biar lo kapok, Queen,” kata Clara diakhiri dengan tawa.


“Kenapa harus ada razia hari ini sih, ah. Gara-gara Abang nih, Queen harus rela malu gini, nyebelin!” dengus Cleona menghentakan kakinya.


“Yang sering lo, Cle langgar aturan, biar razia jadi menyenangkan kayak hari ini,” celetuk salah satu teman sekelas Cleona.


“Lo aja, Rin, gue mah ogah. Malu asal lo tahu!” balas Cleona mendengus kesal, dan itu sukses membuat semua orang di kelas kembali tertawa puas.


“Aish, gara-gara Abang ini. Ih, kesel! Awas aja yang Bang, gak akan Queen kasih jatah malam pertama setelah kita menikah nanti, bodo amat!” dengusan Cleona itu kembali mengundang tawa, Rapa pun ikut tertawa dan menyentil kening kekasihnya dengan gemas.


“Ancaman lo udah seseram itu ternyata Cle, haha,” ucap salah satu teman sekelas Cleona yang di akhiri dengan tawa.


“Diam deh kalian, gue lagi kesel, nih. Au ah, kalian mah nyebelin!” Cleona kembali menghentakan kakinya dan berjalan untuk kembali ke bangkunya di samping Clara.


“Lo lucu banget sih, Cle, andai belum punya pawang, udah gue gaet lo bawa langsung ke KUA." Kata salah satu teman laki-laki sekelas Cleona, dan mendengar itu membuat Rapa langsung melayangkan tatapan membunuhnya.


Semenjak semua orang tahu perihal hubungannya dengan Rapa, Cleona memang tidak segan-segan lagi memperlihatkan sisi manjanya, tapi hanya pada teman-teman sekelasnya yang sudah biasa dengan kebersamaan mereka. Jika di luar kelas dan pada orang yang baru di kenal, Cleona yang kalem dan judes itu masih melekat. Cleona tidak pernah banyak bicara jika tidak di pancing terlebih dulu, begitu juga dengan sikap manja dan kekanakannya.


Awalnya, teman sekelasnya juga menganggap bahwa Cleona sosok yang tidak ramah, dilihat dari wajahnya, tapi setelah mengenal dekat dan terbiasa bersama, mereka semua mulai tahu sosok asli gadis itu. Cleona menyenangkan, manja dan semua sikapnya itu membuat orang-orang gemas, terlebih kaum laki-laki.


“Ingat, untuk kalian yang melanggar, jangan lagi di ulangi. Nama kalian semua sudah Nessa catat dan akan di serahkan pada guru kesiswaan, jika selanjutnya kembali melanggar, maka siap-siap saja untuk menerima hukuman.” Rapa memperingat pada mereka yang melanggar, termasuk pada Cleona yang semakin cemberut.


Setelah kembali mempersilahkan sepuluh orang itu kembali ketempat duduk masing-masing, Rapa dan dua rekan OSIS-nya berpamitan karena razia sudah selesai. Namun, Rapa lebih dulu menghampiri Cleona, mengusak rambutnya dan berkata, “Abang udah chat Mami untuk bawakan rok sama sepatu ganti untuk Queen. Awas, jangan coba-coba melanggar aturan lagi!”

__ADS_1


__ADS_2