Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
59. Bulan Depan


__ADS_3

Seminggu berlalu, dan Birma benar-benar membuktikan keseriusannya membawa orang tua serta eyang-nya dari Yogya, yang sengaja datang untuk mengenal calon cucu mantunya. Clara tentu saja tidak menyangka bahwa ini akan terjadi secepat ini.


Clara sempat protes saat dua hari lalu kekasihnya itu memberitahukan bahwa malam minggu ini dia akan datang bersama keluarganya untuk meminang Clara. Dan itu tentu saja membuat Lyra dan Pandu terkejut, karena bagaimana pun dua hari bukanlah waktu yang cukup untuk mempersiapkan segalanya.


Hingga pada akhirnya acara pinangan itu di laksanakan secara sederhana, hanya keluarga dan teman-teman dekatlah yang hadir. Namun meskipun begitu Clara tetap bahagia, karena sejatinya kebahagiaan tidak dapat di ukur dari seberapa mewah dan meriahnya acara, tapi dengan siapa kita bersanding.


“Berhubung acara pertunangan sudah selesai dilaksanakan, apa boleh kami langsung membahas soal pernikahan?” Dirgantara, yang tidak lain adalah Eyang Birma bertanya pada pihak keluarga Clara.


Leon menoleh lebih dulu pada anak dan menantunya, setelah mendapat anggukan dari keduanya, laki-laki tua itu beralih menoleh ke arah Clara, sang cucu yang juga memberikan sebuah anggukan, baru lah Leon mengutarakan persetujuannya.


“Berhubung kami sudah tua, dan hanya memiliki satu cucu, apa keluarga besar Clara setuju jika pernikahan mereka di langsungkan satu bulan lagi?”


“What! Satu bulan? No, abang gak setuju!” seru Rapa dengan hebohnya, sampai Lyra yang duduk di sebelah anak lelakinya itu memberikan cubitan panas di pinggang Rapa.


“Abang yang sopan!” Lyra memperingati.


“Hehe, maaf semuanya. Saya refleks.” Kata Rapa menggaruk tengkuknya salah tingkah.


Tatapan tajam sang kakek berikan, begitu juga dengan calon mertuanya, bahkan Leo melayangkan tinjuan udara untuk Rapa, berbeda dengan keluarga Birma yang hanya mengangguk maklum.


“Sebelumnya maafkan saya Om, Tante, Eyang. Maaf sudah berlaku tidak sopan. Sejujurnya saya selaku Kakak dari Clara tidak keberatan kapan pun adik saya menikah, tapi bolehkah jika saya meminta izin untuk lebih dulu menikah?” tanya Rapa sesopan mungkin. “Abang gak mau di langkahin,” lanjutnya pelan dan manja, membuat semua yang ada di sana tertawa geli.

__ADS_1


“Gimana kalau barengan aja, Bang?” Leon mengusulkan, yang langsung mendapat gelengan kepala dari laki-laki beranjak dewasa itu.


“Gak mau, Grandpa. Nanti kado sama amplopnya rebutan!” lagi-lagi perkataan Rapa membuat semua orang yang berada di ruang tamu itu tertawa.


“Jangan kayak orang susah deh kamu, Bang, astaga!” Wisnu selaku kakek dari Cleona menggelengkan kepalanya.


“Kalau seperti itu maunya, kami juga tidak keberatan. Jadi, kapan Nak Rapa menikah?” Pertanyaan kembali pihak Birma lontarkan.


Di tanya seperti itu membuat Rapa menoleh ke arah Leo yang sepertinya sengaja memalingkan wajah dan sibuk mengobrol dengan Melinda. “Pi, madep sini napa? Abang mau minta izin ini."


Leo berlaku seolah tidak mendengar, dan itu membuat Rapa kesal. “Jangan pura-pura budeg deh, Pi,” ujar Rapa malas. “Papi mau Queen, abang ajak nikah lari?” lanjut Rapa mengancam, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Leo.


“Sembarangan aja lo ngajak anak papi nikah lari, kalau Queen kecapean gimana coba? Lo mau tanggung jawab!”


Leo menarik dan menghembuskan napasnya berat sebelum kemudian menatap Rapa dengan sorot serius. “Emang kapan kamu siap menikahi Queen?”


“Besok juga abang siap, Pi. Tinggal nunggu Papi bilang ‘iya’ abang langsung ajak Queen ke KUA saat ini juga.” Ujar Rapa dengan yakin dan semangat.


“Kamu ngebet nikah, Bang?” tanya Leon menaikan sebelah alisnya. Sementara Leo memberikan delikan tajamnya.


“Bukan ngebet juga, Grandpa, hanya saja ini memang sudah waktunya. Abang ingin membuktikan keseriusan abang terhadap Queen pada kalian semua. Gak mungkin bukan, jika hubungan kami terus seperti ini? Bagaimana pun juga niat abang sejak dulu ingin menjadikan Queen istri abang, dan tujuan abang adalah menikahinya, juga membahagiakannya." Tutur Rapa serius.

__ADS_1


Cleona yang mendengar itu tentu saja terharu, bahkan bulir bening menampakan diri di sudut matanya. Sebagai orang tua Lyra bangga, karena anaknya benar-benar berani mengambil keputusan sebesar ini. Menikah bukanlah perkara kecil, tidak mudah pula seorang laki-laki untuk memutuskan hal seserius ini.


Leo yang melihat kesungguhan Rapa akhirnya mengangguk. “Kalau memang seperti itu, oke, Papi izinkan. Bawa orang tua kamu minggu depan ke rumah papi untuk membahas pernikahan kalian.”


Bukan hanya Rapa yang memeberikan delikan kesalnya, tapi juga Pandu, Leon dan Wisnu pun sama, sementara Lyra sudah melayangkan toyoran pada sahabatnya itu.


“Kenapa harus minggu depan, kalau malam ini aja bisa sekalian kita bicarakan?” heran Pandu, mendelik tak habis pikir ada calon besannya yang memang tidak pernah hilang sikap menyebalkannya.


“Suka-suka gue dong! Lagi pula gak baik kita bicarakan sekarang, karena malam ini adalah pembahasan Ratu sama Birma, beda urusannya dengan anak gue sama anak lo.”


“Ck, papi itu selalu banyak alasan!" delik Rapa. "Bilang aja kalau Papi gak siap di pisahin dari Queen." Cibir Rapa.


Leo hanya mendengus, tak lagi bisa berkata, karena bagaimana pun itu memang benar. Berpikir saja, orang tua mana yang siap ditinggalkan anaknya? Leo baru saja di tinggal sang istri untuk selama-lamanya, dan itu masih sulit dirinya terima. Maka dari itu Leo masih sedikit berat melepaskan anaknya menikah meskipun Rapa sudah berulang kali bilang, bahwa setelah menikah mereka akan tetap tinggal bersama di rumah besar miliknya.


“Jangan sedih, Pi nanti abang kasih Papi cucu yang banyak biar gak kesepian lagi. Atau mau abang cariin istri baru?” Rapa menaik turunkan alisnya menggoda calon mertuanya yang saat ini cemberut. Kadang Rapa geli sendiri melihat laki-laki tua kesepian itu merajuk. Kesannya membuat Leo terlihat lebih menjijikan, dari pada menggemaskan.


“Sekali lagi bahas-bahas istri untuk papi, awas aja lo, Rap! Papi cabut restu untuk lo nikahin Queen.” Ancam Leo membuat Rapa pucat seketika.


“Bulan depan kita laksanakan pernikahan antara Rapa dan Queen. Ingat lo, Pan, Ra pernikahan anak gue harus mewah, sesuai perjanjian kita waktu Queen lahir,” Leo menoleh dan memberi tatapan tajam sekaligus mengingatkan kedua sahabatnya itu. “Dan untuk pernikahan Ratu sama Birma kita laksanakan di bulan berikutnya. Bagaimana?” tanya Leo kepada keluarga Birma.


“Kenapa nikahan Ratu sama Birma jadi lo yang putusin?” protes Lyra.

__ADS_1


“Biar sekalian.” Kata Leo dengan santainya.


Lyra mendengus kesal, sedangkan semua yang ada di sana tertawa sebelum kemudian obrolan kembali berlangsung mengenai acara pernikahan yang akan berlangsung dalam waktu dekat.


__ADS_2