
Tinggalkan acara haru mengharu biru, kini saatnya menerima ucapan selamat serta menerima doa-doa dari tamu undangan yang mulai berdatangan. Meskipun lebih banyak yang tidak Clara kenal, namun senyum tidak pernah surut dari bibir kedua pasangan baru yang sudah di sahkan oleh hukum dan agama itu.
“Pegel aku, Bir, boleh duduk dulu gak?” bisik Clara entah untuk yang ke berapa kalinya, karena sejak tadi nyatanya keinginan itu selalu tidak kesampaian akibat tamu yang terus berdatangan tak ada habisnya.
“Ya udah kamu duduk aja, aku ambilin minum dulu,” kata Birma yang membantu sang istri untuk duduk di kursi yang ada di belakang mereka sebelum kemudian melenggang pergi turun dari pelaminan meninggalkan Clara seorang diri.
Mata Clara bergerak menatap sekeliling yang di penuhi tamu undangan tengah bercengkrama dengan sahabat, kerabat yang kebetulan bertemu atau mengobrol dengan pasangan. Tidak sedikit juga orang yang berfoto di stand yang terdapat banyak foto Clara dengan Birma dari masa mereka pacaran dulu hingga prewedding kemarin dengan banyak hiasan lainnya menjadikan tempat itu sebagai tempat paling indah untuk membidikkan kamera.
__ADS_1
Di depan sana pun, Clara melihat orang tuanya tengah menikmati hidangan sambil mengobrol dan tertawa, membuat Clara mendengus kesal karena di biarkan duduk seorang diri di atas pelaminan, bagai pengantin tanpa mempelai. Bukankah ini cukup terlihat miris? Di tambah dengan Birma yang katanya akan mengambilkan minum belum juga kembali hingga sepuluh menit berlalu. Bukankah semua orang tega? Bagaimana coba jika ada yang menculiknya?!
“Selamat siang menjelang sore semua,” sapa Birma di atas panggung dengan mic yang berada di depan bibir laki-laki itu. Clara yang semula tengah kesal pada sang suami, langsung menoleh dan mengernyitkan keningnya bingung, mengenai apa yang pria itu lakukan di atas sana. Menyanyi? Please, itu tidak mungkin. Clara jelas tahu bagaimana ancurnya laki-laki itu ketika menyanyi. Jadi apa yang akan di lakukan suaminya di atas sana? Tidak mungkin bukan jika Birma akan membuat malu diri sendiri?
“Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih pada tamu undangan yang sudah berkenan hadir di acara pernikahan kami. Banyak-banyak maaf kami ucapkan atas kekurangan kami dalam menjamu tamu sekalian. Untuk papa, mama, bunda, ayah dan orang-orang terdekat Birma, terima kasih Birma ucapkan atas restu yang kalian berikan untuk melangsungkan pernikahan ini, dan untuk Clara Ratu Yeima, terima kasih sudah bersedia menjadi pengantinku, menjadi istriku dan terima kasih sudah bersedia menjadi pelengkap hidupku.”
Bukankah menggemaskan sekali istrinya Birma ini? Pernikahan mereka belum juga berlangsung satu hari, tapi hinaan itu sudah di dapatkannya di depan banyak orang. Mungkin jika hanya dirinya yeng mendengar Birma tidak akan semalu ini, tapi tolong bayangkan, ini di depan banyak tamu undangan. Benar-benar menyesal kenapa mic tidak lebih dulu ia matikan.
__ADS_1
“Untung aku cinta kamu, jadi hinaannya aku anggap sebagai pujian. Terima kasih sayang, aku juga mencintai kamu,” ucap Birma membubuhkan kecupan di kening sang istri yang saat ini berada dalam pitingan tangannya.
“Lepas, Bir, aku mau nyanyi. Meskipun harusnya aku yang di nyayiin, tapi gak apa biar aku aja. Kamu temani aku aja, ya?” pinta Clara yang kemudian diangguki laki-laki tampan itu.
Lebih dulu Clara berdiskusi bersama pengiring musik sebelum kemudian kembali menatap ke depan dengan tangan Birma yang terasa pas menggenggam tangannya.
Setelah berbasa-basi menyapa tamu undangan juga sahabat dan keluarganya, Clara mulai melantunkan suara merdunya masih menggandeng tangan suaminya. Menatap suaminya dengan penuh cinta dan berharap, yang di balas dengan tatapan meyakinkan dari manik hitam Birma. Karena bagaimana pun memang seperti itu juga yang ia inginkan. Birma ingin perempuan itu berada di sampingnya hingga dunia berakhir.
__ADS_1
Andai saja suaranya bagus, sudah dapat di pastikan bahwa ia akan menyanyikan lagu-lagu romantis untuk istri tercintanya itu setiap hari. Namun sayang, seperti yang istrinya bilang suaranya yang seperti panci rombeng ini tidak bisa mewujudkan itu, jika tetap memaksakan pun yang ada istrinya kejang-kejang dari pada terharu. Tapi tak apa, untuk urusan ini biarkan Birma merendahkan diri, toh tidak ada larangannya juga kan laki-laki yang di nyanyikan? Biarlah Birma menjadi penikmat suara indah sang istri.