
Pukul 19.30 Cleona dan Rapa baru saja sampai di rumah, dan itu tentu saja membuat Leo dan Pandu mengintrogasi keduanya, karena tidak mengabari terlebih dulu. Memang saking asyiknya menghabiskan waktu berdua di taman bermain yang ada di pusat kota, membuat Rapa maupun Cleona lupa untuk mengecek ponsel masing-masing dan mengirim pesan pada orang tua mereka.
“Jangan mentang-mentang kalian sudah kami jodohkan ya, bisa seenaknya pergi-pergi seperti ini tanpa memberi tahu kami. Kalian gak tahu seberapa khawatirnya orang tua di rumah? Kami tidak pernah melarang kalian main, tapi setidaknya beri kabar pada orang di rumah agar Bunda dan Mami kalian tidak mesti cemas seperti tadi!”
“Kamu juga, Bang, jangan mentang-mentang Papi ngasih kebebasan pacaran sama Queen sampai berani bawa-bawa anak gadis Papi tanpa izin. Kita sebagai orang tua khawatir. Jika terjadi apa-apa di jalan bagaimana? Siapa yang akan tanggung jawab, siapa yang harus di salahkan?”
Leo dan Pandu bergantian mengomeli kedua remaja itu yang diam menunduk. Cleona jelas mengakui bahwa dirinya memang salah, dan ini bisa di katakan untuk pertama kalinya mendapatkan omelan dari kedua ayahnya. Memang kedua laki-laki tua itu tidak mengomelinya dengan nada keras dan marah, tapi dengan nada khawatir nyatanya lebih mengena di hati, dan rasa menyesal itu timbul tak bisa di elakkan.
“Maafin Abang, Yah, Pi."
“Queen juga minta maaf. Kita janji gak akan mengulanginya lagi,” sesal Cleona.
“Lain kali Abang gak akan lupa lagi untuk izin pada kalian, maaf udah buat Mami sama Bunda khawatir. Maafin Abang,” Rapa berkata dengan seungguh-sungguh, menatap pada Lyra dan Luna bergantian.
“Apa perlu lo berdua gue nikahin biar gak bikin orang tua khawatir?!”
“Gak boleh!” Lyra dengan cepat menolak usulan yang di lontarkan Leo. “Mereka masih sekolah Le, yang benar aja lo mau nikahin mere…”
“Apa bedanya? Lo sama Pandu juga dulu nikah saat SMA,”
“Itu masalahnya kenapa gue nolak nikahin mereka di usia sedini ini. Lo pikir nikah di usia muda, enak?!” dengus Lyra yang tetap kekeh menolak anak-anaknya dinikahkan semuda ini.
“Bukannya lo dulu malah mau nikah muda? Waktu itu gue gak lupa kalau lo bahagia banget saat tahu di jodohin."
“Ish, Leo, lo gak ngerti! Gue ini cewek strong, tegar, dan tahan banting. Emang lo rela, anak lo…”
__ADS_1
“Amit-amit! Sebelum anak lo nyakitin anak gue, udah gue gantung duluan Si Rapa di tiang bendera.”
“Ya udah, makanya jangan nikahin mereka sekarang. Tunggu mereka dewasa dulu aja, Le.”
Perdebatan Lyra dan Leo menjadi tontonan Rapa dan Cleona, kedua remaja itu menatap orang tuanya dengan kening berkerut bingung, sementara Pandu yang duduk di samping istrinya hanya mampu mengusap kasar wajahnya dan menghela napas panjang.
“Maaf, dulu sudah menjadi laki-laki berengsek untuk kamu,” kata Pandu yang meraih istrinya ke dalam pelukan yang membuat Lyra terkejut dan merasa bersalah.
“Semoga keberengsekan aku dulu gak nurun sama anak kita. Tapi, aku setuju sama kamu untuk tidak menikahkan Rapa dan Queen sekarang. Usia mereka masih terlalu dini, emosinya masih begitu labil dan sulit di kontrol. Lagi pula kita sudah pernah merasakan bahwa tidak mudah menjalani sebuah pernikahan. Biarkan anak-anak kita menjalani masa remaja dengan semana mestinya, untuk kedepannya biar Tuhan yang mentukan, lagi pula, kita hanya bisa berencana, keputusan akhir tetap berada di tangan Tuhan.”
Pandu berucap panjang lebar, kemudian menatap tepat di mata istrinya, memberikan kecupan singkat di kedua mata indah itu dan mengucapkan kata maaf sekali lagi sebelum menoleh pada Leo dan Luna untuk meminta persetujuan mereka menunda pernikahan antara Cleona dan Rapa.
“Gak apa-apa 'kan kalian gak nikah di usia muda?” tanya Pandu pada kedua remaja yang masih berdiri di samping sofa yang di duduki Luna-Leo.
“Tapi Abang masih di izinin pacaran sama Queen ‘kan?” tanya Rapa untuk memastikan.
“Tapi pacarannya yang sehat, ya? Abang jangan kecewain Mami sama yang lainnya. Tolong jaga Queen dengan baik,” ucap Luna menatap lembut Rapa.
“Abang pasti jaga Queen, Mi, bahkan bila perlu dengan nyawa Abang sendiri.” Rapa berkata dengan raut wajah serius, tapi lemparan sendal jepit tepat mengenai kening Rapa, membuat laki-laki remaja itu meringis kesakitan dan menatap tajam Leo yang sudah berani menimpuknya.
“So-soan lo jaga anak gue dengan nyawa lo, cih, tangan keiris pisau aja lebaynya minta ampun!” cibir Leo yang membuat Queen dan yang lainnya tertawa, sementara Rapa mendengus kesal.
“Itu kan pribahasanya, Pi. Aku akan menjagamu, walau nyawaku sebagai taruhannya,”
“Gak ada yang kayak gitu, Bang. Kamu bukan romeo yang rela mati bersama julietnya. Bunda cukup tahu siapa kamu, nyebur kolam renang aja kamu gak berani!” cibir Lyra, yang kembali membuat remaja laki-laki itu mendengus kesal.
__ADS_1
Memang apa yang di katakan Bundanya tidak salah, dulu waktu kecil mungkin Rapa memang suka bereng, tapi setelah dirinya terpeleset dan nyebur ke kolam renang yang cukup dalam dan saking terkejutnya sampai membuat Rapa sulit menyeimbangkan tubuhnya di atas air, juga kakinya yang cukup sakit karena keseleo dan sulit di gerakan, membuat Rapa akhirnya tenggelam dan hampir kehabisan napas jika saja Ayahnya tidak segera mengangkatnya kepermukaan.
Sejak saat itu lah, Rapa tidak ingin lagi berenang, bahkan di sekolah saat praktek renang, Rapa tidak pernah sekalipun ikut. Jangankan berenang, berdiri di pinggiran kolam saja dirinya enggan. Rapa selalu menjaga jarak dengan yang namanya kolam, sedangkal apapun kolam tersebut.
“Abang emang takut untuk nyebur ke kolam, Bun, tapi Abang akan dengan berani menarik Queen untuk menjauh dari kenadaraan yang hendak menabraknya,” kata Rapa dengan nada bangganya.
Satu lagi sandal jepit melayang, mengenai kepala Rapa, dan pelakunya masih orang yang sama. Leo menatap tajam remaja laki-laki itu yang mengusap-usap kepalanya yang terkena lemparan sandal jepitnya, kemudian berkata, “Sembarangan aja lo kalau ngomong! Lo doain anak gue celaka?!”
“Itu perumpamaan, Papi!” kesal Rapa.
“Ngasih perumpamaan itu yang baik-baik, bukan malah yang kayak gitu. Lo tahu, ucapan itu doa? Gimana kalau sampai Tuhan kabulkan ucapan gak baik lo itu?”
Rapa mendengus kesal. Papinya itu selalu saja bisa membuatnya tidak berkata-kata. Berdebat dengan Leo memang melelahkan, dan sejauh ini hanya Lyra lah yang sanggup mengimbangi.
“Terserah Papi aja, lah, Abang cape, pengen tidur.” Pasrah lebih baik, dari pada harus terus meladeni. Percuma, karena Leo tidak akan pernah mau megalah.
“Queen, Abang pulang, ya? Kamu jangan lupa mandi dulu sebelum tidur,” kata Rapa pada kekasihnya yang masih setia di sampingnya.
“Selamat malam, Queen.”
Cup. Satu kecupan singkat Rapa daratkan di kening Cleona dan kemudian berlari keluar dari rumah Leo sebelum guci koleksi sang Mami melayang dan membuat kepalanya bocor.
“Rapa sialan! Berani-beraninya lo nodain anak gue!”
Teriakan murka itu lah yang terakhir Rapa dengar sebelum dirinya benar-benar pergi dari rumah orang tua kekasihnya dengan tawa berderai menemani langkahnya. Bahagia membuat laki-laki tua itu kesal.
__ADS_1