Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
145. Kenapa Harus Malu?


__ADS_3

Cleona mulai mencukur rambut-rambut halus yang tumbuh di wajah tampan suaminya, dengan hati-hati, Cleona menggerakan pisau cukur itu agar tidak sampai melukai suaminya. Dan laki-laki itu hanya diam memperhatikan wajah serius istrinya. Wajah cantik yang selama empat bulan tidak di tatapnya sedekat ini, membuat Rapa ingin memuaskan matanya dengan pemandangan indah di depannya kini.


“Istri,” panggil Rapa yang hanya wanita itu jawab dengan deheman kecil. “Pengen cium boleh gak?” tanya Rapa tanpa mengalihkan matanya dari wajah cantik Cleona.


“Nanti ya bang, sekarang Queen selesaikan dulu cukurannya. Abang diam jangan banyak bicara, nanti kalau pisaunya ngelukain wajah abang gimana coba?”


“Gak apa-apa asal bukan perasaan abang aja yang terluka.” Kata Rapa mengedipkan sebelah matanya genit.


“Jangan dulu ngegombal, Bang, nantin Queen gak fokus cukurnya.”


“Abang kangen loh, udah lama gak gombalin kamu, gak lihat wajah merona kamu secara langsung apa lagi cium kamu. Empat bulan abang puasa dari semua itu, istri!”


“Iya abang, iya, Queen tahu. Nanti ya, sebenatar lagi selesai kok. Queen pengen abang balik ganteng kayak semula lagi, biar tambah cinta, jadi diam ya suamiku sayang.” Kata Cleona di akhirnya dengan kecupan singkat di bibir laki-laki itu, sebelum kemudian melanjutkan pekerjaannya mengurusi wajah sang suami.


Rapa akhirnya terdiam dengan senyum yang terukir, membiarkan istrinya itu menyelesaikan tugasnya, setelah itu Rapa pastikan tidak akan melepaskan Cleona dari pelukannya.


Tersenyum puas, Cleona mengelus lembut wajah tampan suaminya yang kini sudah bersih dari bulu-bulu harus yang semula menghalangi dan membuatnya geli begitu Rapa memberikan kecupan. Dan selesai dengan itu, Rapa yang semula duduk di atas closet yang tertutup, berdiri dan dengan tiba-tiba menggendong istrinya memindahkan wanita cantik itu untuk pindah dari kursi rodanya. Dan melanjutkan aktivitasnya dengan mandi sebelum kemudian keluar dari kamar dengan wajah keduanya yang sudah segar. Sementara perut mulai berdemo minta di isi mengingat mereka melewatkan sarapan demi menyalurkan kerinduan, bergelung di atas tempat tidur dengan saling memeluk dan bercerita.


“Selamat siang bunda sayang.” Rapa melayangkan kecupan pada pipi wanita yang sudah melahirkannya itu sebelum kemudian duduk di kursi meja makan yang saat ini terhidang berbagai macam makanan kesukaannya.


“Makan yang banyak, Bang, bunda gak tega lihat kamu sekurus itu,” kata Lyra begitu menyimpan sup ayam yang baru saja matang.


“Salahin ayah tuh, abang di sana jangankan untuk makan, kebelet pipis aja harus abang tahan.” Rapa mendengus, menyalahkan ayahnya, karena bagaimana pun hingga hari ini Rapa masih merasakan kesal pada laki-laki tua itu yang sudah berani memisahkannya dengan sang istri juga kedua putranya.

__ADS_1


“Separah itu kesibukan kamu?” dengan wajah yang sudah di buat semenyedihkan mungkin Rapa mengangguk, membuat Lyra geram dan menggebrak meja. “Biar bunda marahin nanti ayah kamu itu!”


“Terima kasih bunda sayang.” Rapa yang merasa di bela tersenyum penuh kemenangan, lalu kembali melanjutkan makannya bersama sang istri. Membiarkan ibunda tercinta mengumpulkan kemarahannya.


❄❄❄


Saat sore datang dan Pandu kembali dari kantor lebih awal dari biasanya, Rapa sudah meminta ayahnya itu untuk duduk di ruang tengah bersamanya, tidak lupa sang istri juga sang bunda berada di kanan kiri Rapa, sebelum Pandu berhasil merebut Lyra dari sisi Rapa dan meminta wanita cantik di usianya yang tak lagi muda itu berpindah ke sampingnya.


“Ada apa?” tanya Pandu langsung tanpa lebih dulu berbasa-basi menanyakan kabar putranya, membuat Rapa mendengus dan Lyra melayangkan tatapan tak suka.


“Abang berhasil membuat anak perusahaan ayah, kembali pada keadaan semula, bahkan saat ini lebih baik dari sebelumnya,” Rapa menghentikan sejenak ucapannya menunggu respon sang ayah yang dirinya harapkan akan peka. Tapi nyatanya Rapa harus menahan geram dan lebih memperjelas maksudnya. “Empat bulan abang kerja tanpa henti sampai meninggalkan anak dan istri … Yah, abang sekarang mau minta libur,”


“Oke, ayah kasih kamu libur satu minggu.” Kata Pandu dengan tenang, tanpa mengalihkan tatapannya dari televisi yang menayangkan sebuah berita.


Menoleh, Pandu melayangkan delikan pada anaknya itu. “Satu minggi, atau tidak sama sekali.”


“Gak, pokoknya satu bulan.” Kekeh Rapa, berusaha keras kepala.


“Lima hari,” seperti biasa, Pandu akan menurunkan penawarannya di saat Rapa mulai membantah. Tapi kali ini, Rapa nyatanya tak ingin mengalah dan tetap pada pendiriannya yang meminta jatah libur selama satu bulan.


“Ayah gak kasihan anak kita udah sekurus itu? Si abang udah kerja keras loh di Bali demi perusahaan kembali berdiri dengan kokoh. Ayah teg…”


“Oke satu bulan!” putus Pandu dengan amat terpaksa, ia selalu kalah jika istrinya itu sudah mulai membuka pembelaan pada putranya.

__ADS_1


“Ayah jangan coba-coba ganggu liburan abang ya, awas aja kalau sampai nanti telpon dan minta abang ke kantor!” ancam Rapa tanpa menghiraukan delikan tajam ayahnya. Baginya sekarang adalah menghabiskan waktu libur bersama sang istri juga anak-anaknya, meskipun hanya di rumah yang penting ia puas melepas rindu dengan orang tercintanya, menebus 4 bulan yang dirinya lewatkan tanpa mereka.


“Istri, nanti malam abang mau ajak kamu dinner, mau ya?”


Menoleh, Cleona menatap suaminya itu dengan kening mengerut. “Dinner dimana?”


“Nanti kamu akan tahu. Abang pastikan kamu suka suasananya.” Kata Rapa dengan senyum misterius, membuat Cleona benar-benar penasaran. Pasalnya sang suami baru saja pulang, tidak mungkin laki-laki itu sempat menyiapkan acara dinner romantis apalagi di tempat yang menakjubkan.


“Abang gak malu emang ngajak Queen dinner dengan keadaan yang seperti ini?” Cleona menatap kearah kakinya.


“Kenapa abang mesti malu?” mengernyitkan keningnya, Rapa menatap sang istri dengan bingung.


“Queen lum…”


Dengan segera Rapa membungkam mulut istrinya dengan kecupan singkat, kemudian menatap isrinya itu dengan tatapan tak suka. Pandu dan Lyra yang masih berada di sana, menyaksikan anak juga menantunya, dan mendengar ucapan Cleona yang beru saja terlontar membuat keduanya sedih.


“Apa alasan kamu bicara seperti itu?”


“Queen gak mau buat abang malu,” cicit Cleona begitu pelan.


Rapa yang semula duduk di samping istrinya, kini mengubah posisinya, berlutut di depan Cleona, memegang tangan wanitanya itu dengan erat. “Dengerin abang!” sedikit mengayun tangan istrinya agar perempuan itu menatapnya, Rapa kemudian melayangkan kecupan cukup lama pada jari Cleona yang terdapat cincin nikah mereka.


“Kamu harus ingat istri, bagaimana pun kondisi kamu, abang tidak peduli apa yang akan di katakan orang. Lagi pula kamu tidak lumpuh, kamu hanya sakit, dan pasti akan sembuh. Jadi, abang mohon jangan pernah kamu merendahkan diri kamu sendiri. Hati abang sakit mendengar kamu berkata seperti itu! Lagi pula abang gak sepicik itu, sampai harus merasa malu dengan keadaan kamu sekarang,” Rapa menyeka air mata istrinya yang sudah menetes.

__ADS_1


“Queen tahu sendiri kan kalau abang sejak kecil cinta sama Queen?” satu anggukan kecil Cleona berikan pada suaminya. “Masa iya gara-gara kamu gak bisa jalan, cinta abang luntur begitu aja. Ck! Bukan abang banget itu. Sampai kapan pun abang tetap akan mencintai kamu, dan hanya kamu yang abang mau, secacat apapun kamu. Jadi jangan pernah kamu anggap perkataan orang lain, karena bagi abang, kamulah yang sempurna. Ingat itu!"


__ADS_2