
Rapa membuang napasnya lelah seraya duduk di sofa ruang tengah, sementara Cleona langsung melangkah menuju dapur mengambil minuman untuk dirinya juga sang suami. Mereka baru saja kembali dari bandara, mengantarkan keluarga juga sahabatnya yang memang memilih pulang lebih dulu, meninggalkan pengantin baru itu hanya berdua.
Baru kali ini sepertinya semua orang mengerti akan perasaan Rapa setelah dua hari kemarin merecoki, bahkan sang bunda juga aunty-aunty-nya memonopoli Cleona sepanjang hari menjelajahi pusat perbelanjaan untuk membeli oleh-oleh, dan membiarkan Rapa merana seorang diri. Keluarganya memang kadang sekejam itu.
“Bang, nanti sore jalan-jalan ya, Queen pengen lihat sunset,” ucap Cleona begitu kembali dari dapur dengan segelas jus jeruk dingin di tangannya yang langsung Rapa raih dan di teguknya hingga tandas.
“Iya, sekarang sini istirahat dulu.” Rapa menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
Cleona menurut dan langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami yang menjadi tempat favorit barunya. Dada keras ini yang tiga malam ini selalu membuatnya tidurnya nyenyak dan tangan kekar yang baru saja melingkari perutnya itu yang selalu membuatnya nyaman dan bermimpi indah sepanjang malam.
“Queen,” panggil Rapa setelah beberapa saat keduanya larut dalam keheningan. Hanya dengan deheman singkat Cleona menjawab tanpa mengalihkan fokusnya dari ponsel yang menampilkan laman instagramnya, membaca setiap komentar di foto pernikahannya yang baru saja ia uplod.
“Lebih menarik ponsel kayaknya dari pada suami sendiri,” cetus Rapa cemberut.
Terkekeh kecil, Cleona kemudian melatakan ponselnya di atas meja dan kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Tangannya terulur mengusap lembut wajah tampan yang sudah mulai di tumbuhi bulu tipis itu kemudian mengecupnya singkat. “Ada apa abang sayang?”
“Makasih ya udah bersedia jadi istrinya abang. Terima kasih sudah bersedia kembali dan menjaga hatinya untuk abang, dan maaf karena waktu itu sempat mengecewakan Queen,” ujarnya dengan raut wajah menyesal.
“Gak perlu bahas itu lagi, Bang, Queen udah maafin abang sepenuhnya kok, jadi abang gak usah merasa bersalah. Udah ya kita lupain masalah itu, karena yang terpenting saat ini adalah rumah tangga kita.” Tukas Cleona dengan senyum lembut yang memancar tulus.
Rapa melayangkan kecupan di puncak kepala istrinya. “Sejak dulu cuma kamu tahu gak, yang selalu buat abang jatuh cinta.”
“Pura-pura percaya aja deh, bair abang senang,” kata Cleona memutar bola matanya malas.
__ADS_1
“Kok gitu sih, kamu gak percaya?” Rapa menjauhkan tubuhnya, matanya memicing menatap sang istri.
“Dih, siapa bilang gak percaya, Queen percaya kok bang.”
“Bohong!”
“Ck, mana pernah sih Queen bohong sama abang.” Cleona menjawil gemas hidung mancung suaminya cukup kuat membuat si empunya mengaduh sementara Cleona tertawa puas.
Namun tiba-tiba tawanya terhenti begitu bibir Rapa mampir dengan tiba-tiba membungkam mulutnya. Aksi suaminya itu tentu saja membuat Cleona terkejut dan membelalakan matanya.
“Merem sayang,” bisik Rapa di depan bibir Cleona, setelah itu kembali mengelum bibir beraroma stroberry yang menjadi candunya.
Entah setan mana yang merasuki Cleona hingga membuatnya mengikuti titah Rapa untuk memejamkan mata, dan menikmati permainan suaminya yang saat ini sudah menjelajahi rongga mulutnya.
Seperti ciuman pertama yang beberapa tahun lalu mereka lakukan, Cleona sama tidak berdayanya saat ini. Otaknya meminta untuk berhenti, sementara hatinya bersorak karena kembali mendapatkan euforia yang sejak lama di dambakan.
Satu anggukan yang di berikan Cleona membuat Rapa melebarkan senyum lalu kembali mendaratkan ciuman di bibir sang istri, kemudian menggendong tubuh mungil itu menuju kamar, melanjutkan malam panas penuh gairah yang menjadi pengalaman pertama bagi keduanya.
❤❤❤
Jam masih menunjukan pukul 04.54 masih cukup pagi untuk bangun, namun di waktu sepagi ini Rapa susah membuka matanya, menatap sang istri yang masih terlelap nyaman dalam pelukannya dengan tubuh yang masih sama-sama polos di bawah selimut tebal berwarna putih.
Senyum Rapa mengembang begitu ingatan pertempuran dengan sang istri semalam melintas di benaknya. Tangan Rapa yang berada di pinggang Cleona, refleks menyentuh perut rata istrinya dan mengelusnya perlahan seraya menggumamkan doa agar hasil jerih payahnya semalam dapat segera berbuah manis.
__ADS_1
Rapa benar-benar sudah tidak sabar menunggu kehadiran seorang bayi, menjadi seorang ayah dan memberikan keluarganya mainan baru. Apalagi teringat akan sang papi yang belakangan kembali murung, membuat Rapa iba juga tidak tega.
Rapa dan kedua orang tuanya sebenarnya sudah pernah menawarkan seseorang yang mungkin akan menemani sisa usia laki-laki tua itu. Namun Leo yang terlalu mencintai Luna jelas saja menolak keras dan mengatkan dengan tegas bahwa dia tidak akan pernah menghianati cintanya pada sang istri.
Bagaimana tidak salut akan sosok tampan yang selalu menyebalkan itu. Rapa langsung menjadikan mertunya sebagai panutan akan kebesaran cinta yang di miliki sang papi.
“Abang udah bangun?” Cleona bertanya dengan suara serak khas bangun tidur, menyadarkan Rapa yang tersenyum-senyum sendiri dengan tatapan kosong langit-langi kamar.
“Kok kamu bangun? Ini masih pagi sayang,” ucap Rapa seraya memberikan satu kecupan singkat di kening sang istri.
“Salah abang kenapa elus-elus perut Queen, jadinya kebangun deh,” balas Cleona dengan cemberut.
Rapa meringis bersalah. “Maafin abang sayang. Ya udah sekarang Queen tidur lagi ya,” ujarnya mengelus lembut wajah sang istri yang tetap terlihat cantik walau baru bangun tidur, pemandangan indah yang sesungguhnya mengalahkan indahnya matahari terbit di upuk timur.
“Queen udah gak ngantuk. Jalan-jalan aja yuk, Bang, sekalian kita lihat sunrise.” Ajak Cleona dengan wajah yang berbinar.
“Kalau hanya untuk melihat itu gak perlu jalan-jalan keluar, ini di hadapan abang sunrise-nya lebih indah,” kata Rapa menampilkan senyum lembutnya, menatap Cleona dengan penuh cinta yang membuat perempuan itu merona dan membuang pandangannya salah tingkah.
“Kamu makin cantik tahu gak, kalau merona gitu, Queen, bikin abang tambah cinta dan ingin kurung kamu di kamar selama seminggu ini."
“Abang!” teriak Cleona, terkejut, begitu dirasanya tangan Rapa mulai bergerak nakal.
“Lanjutin yang semalam ya, Queen, kita buat ganda putra untuk proyek perdana kita,” bisik Rapa terdengar berat dan sensual.
__ADS_1
Cleona ingin menolak, karena bagaimana pun kegiatan semalam masih membuatnya ngilu. Tapi jika suaminya sudah seperti ini, menolak pun percuma. Rapa akan tetap melanjutkan aktivitasnya dan mau tak mau dirinya harus pasrah. Cleona benar-benar tak menyangka bahwa suaminya bisa dengan cepat berubah menjadi begitu mesum sejak semalam.
“Kita harus kasih papi cucu secepatnya Queen, biar gak kesepian lagi. kasihan.” Selalu itu yang di ucapkan suaminya sepanjang kegiatan panas yang mereka lakukan.