Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
45. Kepulangan


__ADS_3

Senyum terukir begitu lebar di bibir Cleona saat baru saja turun dari pesawat yang menjadi transportasinya menuju tanah air. Hampir enam tahun tinggal di Negara orang membuatnya merindukan Negara kelahirannya sendiri. Negara yang penuh dengan kenangan bersama orang-orang tersayangnya.


“Selamat pulang, sayang!” seru seorang laki-laki tampan dengan senyum manis terukir menyambutnya.


Cleona langsung berhambur memeluk laki-laki yang selama ini selalu ada untuknya, laki-laki yang selalu mendorongnya untuk hidup lebih baik, membangkitkan semangatnya dan selalu setia mendengar keluh kesahnya. Laki-laki berharga yang ia sayangi setelah papinya.


“Langsung pulang?”


“Ke makam Mami dulu boleh?”


“Apa sih yang nggak buat Princess-nya gue. Yuk, kita berangkat sekarang. Mami juga pasti rindu sama lo." Laki-laki itu mengambil alih koper di tangan Cleona dan membawanya menuju parkiran di mana mobilnya ia simpan. Tidak lupa juga membukakan pintu untuk Cleona sebelum kemudian melajukan mobilnya meninggalkan bandara.


“Kak Alvin lagi gak sibuk 'kan hari ini?” tanya Cleona untuk memastikan.


“Tenang, hari ini gue free khusus buat lo,” katanya dengan senyum yang terukir tampan. Tangannya terulur mengusak rambut Cleona yang tergerai indah, membuat gadis cantik itu tersenyum dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


Sesampainya di pemakaman, Cleona menghampiri tempat peristirahatan mendiang sang mami, tidak lupa juga membawa bunga kesukaan wanita tercintanya itu dan ia letakan di batu nisan yang terukir nama Luna di atasnya.


Cleona benar-benar menumpahkan air mata kerinduannya pada makam sang mami, yang ia pendam selama hampir enam tahun ini. Banyak yang ia ceritakan, tangis, tawa dirinya limpahkan meskipun tahu bahwa tidak akan ada respons dari wanita tercintanya yang sudah berada dekat dengan tuhan.


Selama jauh dari tanah air, Cleona terus berusaha untuk merelakan kepergian maminya, menyembuhkan kesedihannya dan merelakan semua kenangan tentang dia yang ia tinggal pergi. Kehidupan baru yang ia jalani di Negera orang awalnya tidaklah mudah, apalagi dirinya harus kembali beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru di sekitarnya yang tentu saja tidak pernah ia kenal sebelumnya kecuali aunty Devi dan keluarganya yang sesekali datang untuk menjenguknya di saat Leo pulang dengan urusan pekerjaan.


Singapura memang berjarak tidak terlalu jauh dengan Indonesia, tapi setidaknya di sana ia bisa menenangkan diri dan hatinya dari pikiran yang menjadi bebannya. Di sana juga ia memutuskan tinggal di apartemen yang dulu ayahnya beli begitu tinggal dengan sang mami menghabiskan sisa hidupnya. Ia hanya ingin mengenang maminya, dan di apartemen itu ia merasa dekat dengan wanita kesayangan yang telah melahirkannya. Apa lagi banyak foto-foto tertempel yang Leo ambil selama Luna masih bernapas.

__ADS_1


Kepergian sang mami memang masih membekas, tapi setidaknya saat ini ia sudah lebih merasa ikhlas meskipun terkadang air mata selalu menetes di saat rindu itu kembali datang.


Lebih sering menghabiskan waktu berdua bersama Laura membuat Cleona mau tidak mau untuk belajar lebih dewasa, sebagai kakak tentu saja ia harus melindungi adiknya meskipun ia tahu bahwa Laura lebih bisa mandiri di bandingkan dengannya, tapi bagaimanapun Laura adalah adiknya, gadis kecil yang masih butuh perhatian lebih dari keluarganya, apalagi di saat masa pertumbuhannya.


\=\=\=\=\=


Pukul tujuh malam, Cleona baru saja sampai di rumah dengan di antar oleh Alvin. Masuk ke dalam rumah yang begitu dirinya rindukan dengan tak sabar sampai meninggalkan Alvin yang lebih dulu mengeluarkan koper dari dalam bagasi.


“Papi, Queen pulang!" teriak Cleona berlari menuju ruang makan, dimana suara Leo terdengar sedang mengobrol entah dengan siapa.


Laura yang memang sudah lebih dulu pulang sejak satu minggu yang lalu berlari memeluk kakaknya itu sebelum kemudian di singkirkan oleh Leo.


“Astaga, gadis Papi kenapa pulang gak bilang-bilang dulu sebelumnya? Kamu bikin papi khawatir, gara-gara susah di hubungi!” omel Leo berkacak pinggang.


“Ya, siapa suruh pulang gak ngabarin coba!" delik Leo pura-pura marah.


“Queen 'kan pengen buat kejutan untuk papi,”


“Iya dan kamu sukses buat papi jantungan gara-gara khawatir!”


“Maafin Queen ya, papi sayang,” kata Cleona seraya memberikan satu kecupan di pipi Leo.


“Ekhemm!”

__ADS_1


Deheman cukup keras itu mengalihkan Cleona, yang saat ini membeku di tempatnya melihat Lyra, Pandu dan Clara duduk di meja makan, menatapnya dengan penuh kerinduan. Wanita cantik yang sudah tidak muda lagi itu, yang lebih dulu bangkit dan berjalan cepat berhambur memeluk Cleona dan melayangkan kecupan demi kecupan di seluruh wajahnya. Cleona yang memang merindukan pelukan hangat seorang ibu ini tentu saja menangis penuh haru dan membalas pelukan itu dengan erat.


“Anak gadis ayah sudah dewasa ternyata, makin cantik. Kamu sehat kan, Nak?” tanya Pandu begitu pelukan Cleona dan Lyra sudah terlepas.


“Queen sehat, Yah. Kenapa Ayah makin ganteng aja di usianya yang makin tua ini? Queen naksir 'kan bahaya nanti,” candanya memeluk erat tubuh gagah ayah keduanya.


“Bisa aja sih anaknya ayah!" ujar Pandu mencubit gemas kedua pipi Cleona yang kini sedikit tirus. Keduanya kemudian tertawa sebelum Leo menyuruh anaknya itu untuk makan.


“O iya, Queen sampai lupa,” katanya menepuk jidatnya cukup keras begitu menyadari bahwa Alvin ia tinggal di depan.


Tanpa menghiraukan Leo yang memanggilnya, Cleona berlari meninggalkan ruang makan untuk menghampiri Alvin dan mengajak laki-laki itu untuk makan bersama dengan keluarganya. Tentu saja, Alvin tidak keberatan karena bagaimanapun dirinya juga lapar setelah seharian menemani Cleona di pemakaman.


Kehadiran Alvin tentu saja menjadi pertanyaan dan kebingungan bagi Lyra, Pandu dan Clara. Namun tidak untuk Leo dan Laura, kedua orang itu justru menyambut suka cita kedatangan Alvin, bahkan Laura menyempatkan diri untuk memeluk laki-laki tampan itu, dan mengutarakan rasa rindunya.


Sepanjang makan malam berlangsung hanya di isi dengan celotehan Laura dan Alvin, sementara Cleona mengobrol dengan bunda dan ayahnya yang menanyakan soal kehidupannya di Singapura selama ini, dan sesekali Cleona pun melirik Clara yang duduk diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Ia bukannya tidak merindukan sahabat kecilnya itu, tapi melihat Clara yang seperti enggan menatapnya membuat Cleona berasumsi bahwa mungkin sahabatnya itu masih marah kepadanya mengenai kejadian dulu, apalagi dengan adanya Alvin saat ini.


Namun yang menjadi pertanyaannya saat ini adalah, dimana Rapa? Kenapa dirinya tidak melihat laki-laki itu di tengah-tengah keluarganya?


Cleona ingin sekali menanyakan keberadaan mantan kekasihnya itu, tapi ia tidak cukup berani. Ia hanya takut jawaban semua orang malah justru akan membuat hatinya sakit. Ia belum siap mendengar kenyataan bahwa Rapa sudah menikah, meskipun itu sebenarnya tidak mungkin, tapi bisa saja 'kan semua orang sengaja tidak memberi tahunya?


Jujur saja perasaannya terhadap Rapa tidak pernah bisa ia hilangkan meskipun hampir enam tahu tidak sama sekali mendengar kabar pria itu. Dan jika kenyataan Rapa telah memiliki pendamping hidupnya, lalu apa yang harus ia lakukan?

__ADS_1


__ADS_2