Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
115. Terkontraminasi


__ADS_3

Untuk pertama kalinya selama satu bulan terakhir ini, Rapa pulang di saat malam sudah benar-benar larut dalam keadaan tubuh lelah juga kantuk yang benar-banar menyiksa, sampai Rapa tidak sempat menyapa anak-anaknya yang sudah tertidur, tidak sempat memberikan kecupan selamat malam pada istrinya yang juga sudah berbaring nyenyak. Pekerjaannya benar-benar banyak dan sialnya harus selesai hari itu juga, padahal hari-hari sebelumnya Rapa selalu pulang lebih awal.


Ayahnya memang kejam dalam memberikan pekerjaan, dan Pandu yang kalem juga sosok ayah penyayang di rumah akan berubah menjadi iblis kejam jika itu bersangkutan dengan pekerjaan walau pada anak sendiri. Meskipun Rapa tidak bisa menampik kalau ayahnya kadang baik dalam memberikannya jatah cuti.


Tanpa membersihkan lebih dulu tubuhnya, Rapa langsung menjatuhkan diri di atas ranjang bersebelahan dengan sang istri. Bahkan untuk sekedar mengganti pakaian saja Rapa rasanya sudah tidak memiliki tenaga dan membiarkan saja tidur dalam balutan kemeja serta celana kerjanya, walau pun tak nyaman.


*


Cleona di bangunkan oleh suara tangisan sang putra di pukul dua malam, dan terkejut melihat suaminya yang tertidur nyenyak salam balutan kemeja kerja yang kemarin pagi suaminya itu kenakan, di tambah wajah lelah Rapa yang membuat Cleona dengan cepat melangkah menuju kamar kedua putranya dan menutup pintu tersebut agar suara tangis anaknya tidak mengganggu tidur Rapa.


Namun nyatanya tanpa Rapa, Cleona cukup kerepotan menenangkan kedua bayinya yang terbangun dan sama-sama menangis sampai pada akhirnya Cleona memilih mengetuk kamar sebelah milik Clara yang di isi oleh adiknya, meminta Laura untuk membantunya menggendong salah satu bayinya. Beruntung Laura tak sulit di bangunkan dan tidak juga keberatan di repotkan, membuat Cleona menghela napas lega.


“Ajak ke bawah aja, yuk, La, kasihan nanti abang ke ganggu tidurnya.” Ajak Cleona, dan Laura hanya menganguki saja, mengikuti kakaknya itu keluar dari kamar si kembar membawa serta Nathan dan Nathael yang masih saja menangis.


“Si kembar kenapa?” tanya Pandu yang baru saja kembali dari dapur dengan teko kaca berisi air mineral di tangannya.


“Biasa, Yah, popoknya basah.” Kata Cleona, yang di angguki paham oleh Pandu.

__ADS_1


“Suami kamu belum pulang?”


“Udah. Abang lagi tidur, kecapean banget kayaknya sampai gak sempat ganti baju juga. Makanya si kembar Queen ajak ke bawah, kasihan nanti abang keganggu.”


“Pulang jam berapa emang dia?” lagi-lagi Pandu melayangkan tanya.


“Gak tahu, Queen tidur jam sebelas aja abang belum pulang. Emang sesibuk itu, yah, kerjaan abang di kantor?” Cleona menatap mertuanya bertanya.


Pandu hanya memberikan anggukan seadanya, meskipun dalam hati tersenyum karena berhasil mengerjai anaknya dengan pekerjaan yang segunung. Memang Pandu sengaja meminta anaknya itu lembur dengan alasan semua berkas harus selesai hari itu juga. Tentu saja itu bukan di rencanakan oleh dirinya sendiri melainkan bersekongkol dengan Leo agar Rapa lupa akan masa nipasnya Cleona yang baru saja selesai, yang tentu saja masa puasa Rapa pun berakhir.


“Ayah ke kamar dulu simpa ini, nanti balik lagi temenin kamu jaga si kembar.” Pandu menunjuk teko kaca yang masih di pegangnya, setelah itu melangkah menuju kamarnya.


“Priela tidur lagi aja gih, masih malam. Biar bunda sama ayah aja yang temenin kakak kamu jaga si kembar.”


Tanpa membantah Laura mengangguk dan bangkit dari duduknya, tidak lupa untuk memberikan kecupan pada kedua keponakannya sebelum melenggang menuju kamar, karena tidak dapat di pungkiri bahwa dirinya memang mengantuk.


“Bunda, ayah maaf, Queen jadi ganggu tidur kalian,”

__ADS_1


“Gak apa-apa sayang, lagi pula mana tega bunda biarin kamu sendirian ngurusin si kembar.” Tersenyum lembut, Lyra kemudian mengusap rambut Cleona dan mengambil alih Nathael yang baru saja selesai di beri ASI.


Kedua bocah itu biasanya akan kembali tidur begitu popok sudah di ganti dan Cleona beri ASI, tapi untuk malam ini, keduanya malah anteng dengan celotehan Pandu yang sesekali membuat si kembar mengukir tawanya yang sama sekali tidak memiliki suara.


Cleona sudah berkali-kali menguap, dan Lyra pun sudah meminta menantunya itu untuk tidur, tapi tentu saja Cleona menolak karena meskipun tahu bahwa mertuanya baik hati, Cleona tidak mungkin membiarkan bunda dan ayahnya menjaga si kembar sementara dirinya enak-enakan tidur. Tidak, Cleona tidak setega itu, ia juga tidak suka memanfaatkan kebaikan orang tua penggantinya.


Hingga jam menunjukan pukul lima pagi, barulah kedua anaknya itu tertidur di pangkuan Pandu yang juga kekelahan mengajak cucunya bermain selama tiga jam. Dengan di bantu sang bunda, Cleona memindahkan kedua anaknya menuju kamar, membiarkan sang ayah untuk pindah kekamarnya juga agar tidur laki-laki itu lebih nyaman. Tidak lupa Cleona pun mengucapkan kata terima kasih, juga meminta maaf karena sudah menyita waktu tidur mertuanya itu.


Sebenarnya Cleona pun sungguh mengantuk, matanya berat apa lagi saat melihat ranjang yang hanya di isi oleh Rapa yang masih bergelung nyaman di atas tempat tidur. Ingin sekali rasanya ia pun tertidur dalam pelukan sang suami yang tentunya pasti nyaman. Tapi Cleona memilih untuk mandi agar tubuhnya segar, dan turun ke dapur menyiapkan sarapan untuk keluarganya, membiarkan Rapa tertidur hingga puas agar nanti bisa menggantikannya menjaga kedua anaknya selama Cleona tertidur, membayar kantuk yang semalam terenggut hingga pagi.


“Tumben nih rumah sepi?” tanya Leo yang baru saja datang, celingukan menjelajahi penjuru dapur.


“Masih pada tidur, Pi. Semalam begadang nemenin Queen sama si kembar.” Jawab Cleona, tanpa mengalihkan tatapan dari penggorengan.


“Kenapa papi gak di ajak juga?”


“Suruh siapa papi gak nginep di sini juga,”

__ADS_1


Leo mencebikkan bibirnya mendengar jawaban putri pertamanya itu, kemudian duduk dan melahap makanan yang sudah tersedia di meja makan. “Kamu kenapa gak tidur juga?”


“Kalau Queen tidur, yang siapin sarapan siapa? Papi?” lagi-lagi Leo mencebikkan bibirnya mendengar jawaban sang putri. Setelah menikah dengan Rapa, Leo merasa bahwa anaknya yang sejak dulu manis, manja dan menggemaskan kini sudah terkontaraminasi dan ikut menyebalkan, juga menjengkelkan seperti Rapa.


__ADS_2