
"Birma jangan ikutan nyanyi!”
Ini bukanlah teguran yang pertama dari sang istri yang sudah sejak tadi menutup telinga. Namun Birma tetaplah keras kepala dan mengabaikan teguran itu, ia suka melihat wajah istrinya kesal, terlihat lebih menggemaskan dan lebih cantik dari biasanya.
Rapa dan Cleona yang duduk di jok depan hanya menertawakan keduanya sepanjang perjalanan menuju bukit moko, tempat yang adik dan iparnya pilih sebagai tempat bulan madu mereka.
“Kakak ipar, berhenti di minimarket depan ya, cemilan kita habis.” Rapa mendengus dan memberikan delikan tak sukanya lewat spion tengah.
“Makanya jangan lo makanin mulu. Heran gue, itu mulut lo gak pegal apa ngunyah mulu?!” Birma hanya membalas dengan cengengesan.
Rapa meskipun mengomel tapi tetap saja menghentikan mobilnya begitu bertemu dengan minimarket, membiarkan adik dan iparnya yang turun dan membeli cemilan yang mereka inginkan, sementara dirinya dan sang istri menunggu di mobil.
Namun jika di pikir-pikir sekarang kenapa Rapa jadi merasa seperti seorang supir yang mengantarkan majikannya liburan? Bukankah seharusnya adik iparnya itu yang menyetirinya dengan sang istri? Tapi, ya sudah lah, lagi pula mereka sudah hampir tiba di tempat tujuan, dan mengeluh sudah tak ada gunanya.
Beberapa menit kemudian, Birma kembali dengan sekantong besar belanjaan berisi cemilan dan soda kaleng di susul oleh Clara di belakang yang sudah memegang entah berapa bungkus coklat, membuat Rapa menggelengkan kepala beberapa kali.
“Gak sekalian aja kalian borong minimarketnya?!” dengus Rapa yang sudah bersiap kembali melajukan mobilnya.
“Lo mau bayarin, Bang?” tanya Clara mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
“Dih ogah! Lo yang makan kenapa mesti gue yang bayar,”
“Kan lo yang nyuruh,” balas Clara membungkam Rapa yang berdecih dan memilih kembali fokus pada jalanan di depannya. Beradu argumen dengan sang adik memang tidak pernah membuatnya menang.
Begitu sampai di hotel yang akan mereka tinggali untuk beberapa hari ini, Clara-Birma dan Cleona-Rapa masuk ke kamar masing-masing yang besebrangan. Hari ini mereka memutuskan untuk istrirahat di hotel mengingat waktu sudah cukup sore dan tubuh yang cukup lelah akibat perjalanan yang cukup panjang.
Birma menyusul istrinya yang sudah lebih dulu naik ke tempat tidur tanpa mengganti pakaian lebih dulu. Kebiasaan yang baru Birma ketahui setelah menikah adalah Clara yang malas berganti pakaian ketika akan tidur. Waktu awal-awal, Birma kira istrinya terlalu lelah, tapi ternyata Clara memang malas.
Mengetahui itu tentu saja tidak membuat Birma menyesal telah menikahi wanita itu, karena bagaimana pun sejak pertama memutuskan untuk menikahi Clara, Birma sudah mempertimbangkan semuanya, jadi kemalasan Clara tidak sama sekali membuatnya mundur apa lagi mengurangi rasa cintanya terhadap sang istri.
Tanpa mau mengusik istrinya yang sudah memejamkan mata, Birma melangkah menuju koper yang di bawanya, kemudian mengeluarkan semua isinya sebelum ia susun di lemari yang tersedia di kamar hotel yang akan menjadi tempatnya istirahat beberapa hari ke depan.
Tangan Birma terulur hendak meraih kancing kemeja yang di kenakan istrinya, namun baru saja tangannya menyentuh kancing teratas sebuah tepisan kasar Birma dapatkan dan tatapan tajam yang istrinya berikan membuat laki-laki itu menggaruk tengkuknya salah tingkah.
“Kayak yang kuat aja kamu gantiin aku pakaian,” delik Clara yang mengubah posisinya jadi duduk, rambut yang semula tergerai ia gelungkan dan itu tentu saja tidak lepas dari tatapan Birma, yang jujur saja sudah tidak bisa menahan gejolak jiwa laki-lakinya yang normal dan baru mendapatkan pelepasan setelah beberapa hari lalu menikah dengan perempuan cantik di depannya kini.
“Kamu ngeremehin aku, apa nantangin aku?” tanya Birma yang saat ini sudah ikut duduk berhadapan dengan sang istri yang tersenyum manis dan beberapa detik kemudian menyerangnya dengan kecupan singkat yang tentu saja membuat Birma terkejut dan semakin membangkitkan keinginannya yang sudah ia tahan sejak tadi untuk menyentuh sang istri.
Namun belum sempat ia berhasil menggulingkan Clara ke atas tempat tidur, wanita tercintanya itu lebih dulu berlari masuk ke dalam kamar mandi dengan tawa berderai yang terdengar puas, tapi sangat menyebalkan di pendengaran Birma yang merasa di permainkan.
__ADS_1
“Awas kamu, Yang!” teriak Birma dengan wajah merah karena sebal juga gairah yang harus ia tahan mati-matian.
Melangkah menuju balkon kamar hotelnya, Birma sengaja melepaskan pakaian atasnya agar angin berhembus langsung menyentuh permukaan kulitnya, meredakan rasa panas yang menjalar di tubuhnya.
Tak lama terdengar pintu terbuka dan Birma yakin bahwa istrinya sudah keluar dari kamar mandi. Pura-pura tak mendengar, Birma memilih tetap diam menikmati pemandangan malam yang di suguhkan hotel tempatnya menginap ini. Hari memang belum terlalu malam, tapi rasa dingin begitu menusuk kulitnya, membuat Birma seketika menyesal kenapa harus melepaskan pakaian atasnya.
“Kenapa gak pakai baju sih, Bir, di sini dingin tahu gak! Kalau kamu masuk angin gimana coba?” dengus Clara yang sarat akan rasa khawatir.
Kedatangan sang istri dan kekhawatirannya itu tentu saja menerbitkan senyum Birma, dan kali ini mensyukuri tindakannya yang melepaskan baju atasnya. Meskipun menyebalkan dan terlihat cuek, Clara tetap lah istri yang pengertian, perhatian dan penuh kasih sayang dan Birma begitu mencintai istrinya yang gengsian ini.
“Lihat deh, Yang,” Birma menarik istrinya untuk mendekat. “Besok kita kesana,” lanjutnya seraya menunjuk pemandangan hijau yang saat ini terlihat hitam karena memang hari yang sudah malam, hanya dari sorot lampu dan cahaya bulan Birma dapat melihat keindahan itu, selebihnya akan ia buktikan esok hari.
Clara yang ikut menikmati keindahan itu pun mengangguk setuju. Birma berdiri di belakang sang istri memeluk tubuh ramping itu dan meletakan dagunya di pundak sang istri menikmati dinginnya angin yang berhembus dan pemandangan kerlap kerlip lampu dari kendaraan yang berlalu lalang juga dari rumah serta gedung-gedung di sekitar, membuat pemandangan malam ini semakin terlihat indah apa lagi di temani orang tercinta.
“I love you, Clara Ratu Yeima.” Bisik Birma tepat di depan telinga istrinya.
Clara menoleh tanpa melepaskan pelukan suaminya, satu kecupan di berikannya pada bibir sang suami yang berada sangat dekat di depan wajahnya. “I love you too, Birma.”
Setelah kata cinta terlontar, keduanya saling memberikan kehangatkan di malam yang semula dingin itu, dan menjadikannya malam panjang yang tidak akan pernah Birma maupun Clara lupakan.
__ADS_1