
Begitu Laura pergi untuk kuliah, Cleona segera bersiap begitu pun dengan suami serta kedua anaknya, karena saat ini dirinya akan mengunjungi toko kue yang dulu sempat menjadi langganan Cleona dan Laura untuk memesan kue ulang tahun Laura yang akan berlangsung lusa. Ketidak beradaan anggota keluarganya yang lain cukup membuat Cleona dan Rapa kesulitan mengurus kedua buah hatinya yang sudah tidak lagi bisa diam, apa lagi saat di mandikan.
Berebut mainan yang di pegang salah satunya sudah bukan sesuatu yang aneh lagi, bahkan saling memukul dan mencoba menyingkirkan salah satunya sering kali terjadi, membuat Cleona tepuk jidat dan mendesah lelah. Berbeda dengan Rapa yang malah justru memberikan semangat dari pada harus memisahkan. Kecuali jika salah satunya sudah menangis, baru lah sang papa kedua bocah itu akan mengomel dan memberikan nasihat pada keduanya agar tidak bertengkar.
Teng nong…
Bertepatan dengan selesainya si kembar di dandani, bel pintu berbunyi menerbitkan senyum Cleona yang dengan segera melangkah untuk membukakan pintu, menyambut kedatangan Edrik yang hari ini akan menjadi sopir mereka untuk jalan-jalan keliling Singapura.
“Udah siap?”
“Siap dong, tuh anak-anak aja udah gak sabar pengen segera pergi.” Jawab Cleona seraya menujuk ke arah kamar dimana kedua buah hatinya berada bersama Rapa.
“Ya udah cus deh kita berangkat sekarang, keburu siang nanti.” Cleona mengangguk dan segera mengambil tas slempang cukup besar, dan dua gendongan si kembar. Tak lupa dot berisi ASI persediaan untuk dimana anak-anaknya haus. Setelah itu mereka melangkah keluar dari aparteman menuju parkiran di mana mobil Edrick berada.
“Toko kue dulu, ya?”
“Oke,” Edrick mengacungkan ibu jarinya tanpa menoleh sedikit pun pada Cleona yang duduk di jok belakang bersama Nathan. Sementara Rapa berada di jok penumpang depan menunjuk apa saja yang dilihatnya sepanjang jalan untuk memberitahukan pada anak dalam pangkuannya, seperti Nathael adalah bocah yang sudah mengerti akan apa yang di tunjuk Rapa dan si jelasakan oleh laki-laki itu. Cleona hanya menggelengkan kepala, membiarkan suaminya itu mengoceh, selagi tidak mengajari anak-anaknya hal-hal yang tidak seharusnya.
“Istri, dulu selama tiggal di sini pernah kencan gak?” tanya Rapa tiba-tiba.
“Pernah. Aku sama Freya yang selalu comblangin Cleo,” Edrick yang menyahut, melirik sekilas pada Cleona yang mendengus kesal. Rapa pun menoleh dan menaikan sebelah alisnya seolah bertanya dan meminta penjelasan.
Cleona menghela napasnya lebih dulu sebelum kemudian menceritakan bagaimana kisah asmaranya dulu di Negara ini. Memang tidak bisa di bilang kisah asmara juga, karena Cleona sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan salah satu teman kencannya yang selalu di atur Freya dan Edrick.
__ADS_1
Begitu tahu bahwa kepindahan Cleona adalah ajang untuk melarikan diri dari rasa kecewa atas cinta, Freya dan Edrick mulai mengatur berbagi kencan untuk Cleona. Meskipun Cleona adalah sosok dingin dan tak tersentuh oleh siapapun kecuali Freya dan Edrick, nyatanya tidak sedikit laki-laki yang mengagumi dan penasaran akan Cleona.
Tidak sedikit laki-laki yang terang-terangan mengutarakan rasa cintanya, meskipun selalu berakhir pada sebuah penolakan singakat yang cukup membuat mereka patah hati. Tidak jarang juga kiriman bunga, coklat dan boneka tiba-tiba berada di meja atau loker wanita cantik itu. Bahkan segala cara di lakukan untuk setidaknya mendapat perhatian Cleona. Namun tidak penah ada respon sedikit pun dari Cleona yang kemudian membuat semua laki-laki itu mundur dengan teratur.
Tidak tahan dengan sikap cuek dan tertutup Cleona, Freya dan Edrick akhirnya merencanakan sebuah kencan buta untuk sahabatnya itu yang hidup monoton dan tidak bersemangat.
“Apa! Kencan? Kalian serius?” Cleona menggeleng tak habis pikir pada kedua temannya. “Gak, aku gak setuju!”
“Ayolah, Cle, lo harus bangkit. Jangan terlalu terbelenggu dalam masa lalu, dia juga belum tentu menjaga hatinya untuk lo. Apa lagi di saat lo gak ada di sisinya. Bukankah di depan lo aja dia bera…”
“Stop!” Cleona menghentikan ucapan Freya yang kembali mengingatkannya pada Rapa dan Mirna. “Oke gue setuju,” putus Cleona pada akhirnya menyerah. “Tapi kalau gue gak suka, tolong jangan paksa gue.”
“Deal!” serempak Freya dan Edrick menjawab.
“Freya, Edrick termasuk gue hanya ingin lo menemukan kebahagiaan lain, Cle, terlebih papi lo. Please cowok bukan cuma Rapa, dan lo harus yakin bahwa jodoh tak akan pernah kemana. Jika lo sama Rapa memang jodoh, sebanyak apa pun laki-laki baik di sekeliling lo, sejauh apapun jarak yang memisahkan, kalian pasti akan kembali di persatukan.”
Cleona pada akhirnya menurut dan menemui laki-laki yang di pilihkan Freya dan Edrick menjadi teman kencannya. Tidak perlu diragukan bagaimana rupa mereka yang menjadi teman kencannya selama satu bulan berturut-turut, tapi di antara mereka semua tak ada satu pun yang menarik perhatian Cleona. Semewah apapun mereka memilih tempat kencan, seromantis apapun laki-laki itu memperlakukan Cleona tidak ada satu pun yang berkesan.
Cleona malah merasa bersalah, bukan pada laki-laki yang menjadi teman kencannya, melainkan rasa bersalah itu tertuju pada Rapa, ia merasa seolah dirinya telah menghianati cintanya, menghianati Rapa yang tidak sama sekali dirinya ketahui kabarnya itu, karena sang papi yang memang menutup semua akses agar Cleona tidak menghubungi siapa pun di Indonesia termasuk ayah dan bundanya.
Setiap pulang dari kencannya, Cleona pasti akan menangis sambil terus mengucapkan kata maaf pada Rapa, membuat Edrik, Freya maupun Leo serta Alvin akhirnya menyerah dan tidak lagi memaksa Cleona untuk dekat dengan laki-laki mana pun. Leo, sebagai ayah merasa tak tega melihat setiap air mata yang keluar dari mata sendu anak pertamanya. Dan tak jarang merutuki Rapa dalam hati karena telah membuat anaknya begitu mencintai laki-laki itu.
“Secinta itukah kamu pada laki-laki itu?” tanya Edrick begitu mereka sampai di apartemen dan tangis Cleona berhenti. “Boleh aku hajar dia karena sudah menyakitimu?” lanjutnya dengan wajah marah dan tangan mengepal, memukul udara.
__ADS_1
“Sebelum berhasil kamu mukul Rapa, yang ada jatuh cinta duluan kamu, Drick.” Leo yang berada di tengah-tengah antara Cleona dan Laura memberikan cebikan saat melihat teman aneh anaknya itu cengengesan.
“Sama papi aja Edrick udah jatuh cinta,” kedipan yang di berikan laki-laki kemayu itu membuat Leo bergidik ngeri. Namun berusaha untuk tidak melukai perasaan Edrick yang menyimpang. Karena bagaimana pun semua manusia patut di hargai, termasuk sebangsa Edrick yang mungkin masih banyak di luaran sana.
“Kalau kamu gak suka batangan, papi ikhlas deh jodohin Queen sama kamu, Drick.” Kata Leo yang dengan cepat mendapat cubitan tanda protes dari Cleona.
“Tapi sama Alvin juga papi setuju, Queen, gimana? Kamu mau kan sama Alvin?”
“Alvin punya Freya, om!” protes Freya dengan cepat dan memeluk erat tangan kekasihnya itu, sementara Leo tertawa begitu pun dengan Cleona dan Laura.
“Alvin udah sering di tolak Cleo, om. Jadi, dari pada sakit hati terus, mending berpaling sama Freya …”
“Jadi lo jadiin gue pelarian?” melepaskan pelukannya, Freya menatap marah pada Alvin.
“Lah kan emang iya,” santai Alvin menjawab, kemudian kembali membawa kekasihnya itu ke dalam pelukan.
“Jahat!” memukul keras dada bidang Alvin, Freya malah semakin memeluk erat kekasihnya itu, dari pada harus melepaskan. “Gimana dong, abis gue cinta. Bodo amat di jadiin pelarian toh, lo-nya juga cinta gue. Kecantikan gue emang terlalu sayang untuk di tolak laki-laki,” ucapnya dengan percaya diri, membuat Alvin gemas sendiri.
“Dih kata siapa? Buktinya aku laki-laki gak tertarik sama sekali sama kamu,” Edrick menyahut.
“Iya karena lo ‘kan sukanya sama yang maco!”
Melihat sahabat-sahabatnya itu lah tawa Cleona kembali terukir, sedihnya pun berkurang. Hanya saja, setiap kali melihat Alvin dan Freya, Cleona selalu teringat akan Rapa, rindunya yang sudah menggunung ingin segera ia ledakan. Dan dalam hati Cleona selalu berdoa agar Rapa bisa menjaga hatinya, juga menjaga cintanya sebagaimana yang di lakukannya.
__ADS_1
Cleona tidak ingin kepulangannya nanti di hadapkan dengan sesal juga kekecewaannya. Ia tidak ingin pulang yang membawa sejuta harapan malah di hadapkan dengan kebahagian Rapa bersama perempuan lain. Cleona tidak akan pernah siap jika itu benar-bena terjadi.