
Cleona tidak mengira bahwa ternyata Rapa tidak langsung mengajaknya pulang, melainkan membawanya ke café milik Chiko terlebih dulu untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Memesan segala macam makanan kesukaan Cleona, bahkan Rapa sendiri yang terjun langsung ke dapur untuk membuatkan makanan untuk kekasihnya itu.
Rapa meskipun laki-laki, tapi kemampuan memasaknya tidak perlu di ragukan, meskipun tidak sehebat seorang Chef sesungguhnya. Cleona selalu suka dimana laki-laki itu memasak. Terlihat semakin ganteng dan membuatnya terpesona.
Namun sepertinya kebahagiaan Cleona tidak berlangsung lama, karena wanita rubah itu juga berada di tempat yang sama, bahkan tidak tahu malunya perempuan licik itu menghampiri meja mereka dan duduk di kursi samping Rapa. Mengajak Rapa mengobrol sampai membuat Cleona merasa di abaikan. Sikap friendly Rapa memang kadang membuat Cleona sebal.
Meskipun yang kedua orang itu bicarakan tidak jauh mengenai kegiatan OSIS, tapi jelas, Cleona tahu bahwa Nia Mariani itu hanya modus untuk mengacaukan kencannya dengan Rapa, karena sejak tadi sesekali Cleona melihat tatapan mengejek juga senyum kemenangan karena sudah mengalihkan Rapa darinya.
Cukup saat tamparan itu saja Cleona mengalah dan membiarkan perempuan rubah itu menang, tapi tidak untuk sekarang dan seterusnya. Wanita iblis itu harus tahu siapa dirinya, dan seberarti apa ia di hati Rapa.
“Makan dulu, Rap, ngobrol gak akan buat kamu kenyang.” Cleona mendekatkan sendok berisi nasi dan laukya itu ke depan mulut Rapa, menghentikannya membalas ocehan wanita rubah itu yang saat ini tengah melayangkan tatapan tajam kearahnya.
Rapa yang senang karena di suapi sang kekasih tentu saja mengabaikan Nia, dan memilih menatap wajah Cleona yang mengukir senyum sambil terus menyuapinya dengan telaten. Dunia Rapa teralihkan hanya dengan senyum bidadari di depannya, sampai Nia mendengus karena merasa di abaikan, wajahnya pun berubah kesal, sedangkan Cleona tersenyum penuh kemenangan. Tidak perduli meski wanita di depannya itu melayangkan tatapan penuh ancaman.
Cleona tidak pernah takut akan ancaman wanita iblis itu, kemarin-kemarin ia hanya berusaha mengalah, tapi tidak untuk saat ini. Rapa adalah kekasihnya, jadi, ia berhak menyingkirkan hama semacam Nia Mariani ini.
Selesai menyuapi Rapa dan menghabiskan makanannya sendiri, Cleona mengajak Rapa untuk segera pergi dari tempat itu, dan melanjutkan kembali kencan mereka ke tempat yang sudah sebelumnya Rapa janjikan. Lebih dulu Rapa mengusak rambut kekasihnya sebelum bangkit dari duduknya untuk menuju kasir, mengabaikan Nia yang kembali berusaha mencari perhatian Rapa.
“Lo gak malu masih diam disini, meskipun udah di cuekin?” kata Cleona menaikan sebelah alisnya.
__ADS_1
“Dasar cewek gak tahu diri! Jadi gini cara lo nyari perhatian Rapa? So manis!” deliknya Nia tak suka. “Gue gak nyangka, ternyata lo cukup berani juga buat deketin cowok orang,” lanjutnya dengan sinis. Cleona yang semula duduk bersandar pada sandaran kursi mencondongkan tubuhnya ke arah wanita di kursi seberangnya.
“Emang ada alasan untuk gue gak berani? Dan barusan apa lo bilang, cowok orang? Siapa? Rapa? Dia emang cowok orang. Lebih tepatnya cowok gue.” Seringai kemenangan Cleona berikan, begitu dirinya lihat bahwa Nia cukup terkejut.
“Lo gak malu cari perhatian sama cowok gue? Atau memang karena lo gak mampu cari cowok lain?”
“Lo …!” Nia menggeram marah, tangannya mengepal erat di atas meja, membuktikan bahwa dirinya begitu kesal dengan apa yang di katakan Cleona. Namun Cleona tidak sama sekali takut, bahkan ia menampilkan wajah menantangnya, memberitahu pada wanita rubah itu bahwa dirinya sama sekali tidak takut.
“Lo terlalu ngeremehin gue, Kak. Tamparan lo waktu itu sebenarnya bisa gue balikin, tapi gue milih diam, karena ada saatnya gue balas semua perbuatan lo itu.”
“Awas lo, Cle …”
“Fans Abang nyeremin, deh, Queen takut di terkam.” Cleona berucap sambil bergidik ngeri.
Rapa tertawa dan mengusak rambut Cleona, kebiasaan Rapa jika merasa gemas pada kekasihnya itu, meskipun memang sejak kecil mengusak rambut Cleona selalu dirinya lakukan. Rapa suka saat Cleona cemberut karena rambutnya kembali berantakan akibat ulahnya.
“Tapi selama Abang kenal Nia, dia orangnya baik, manis dan sopan juga,”
Cleona mendelik sebal begitu mendengar Rapa yang terkesan memuji wanita rubah itu. “Itu karena dia suka Abang, makanya so manis. Jangan tertipu sama muka polosnya itu Bang, karena biasanya yang seperti itu lebih licik.”
__ADS_1
Kembali Rapa tertawa mendengar Cleona bicara dengan berapi-api, raut tak suka jelas nampak di wajah cantik kekasihnya itu. Menjawil hidung mancungnya, kemudian Rapa meraih tangan kanan Cleona, membawanya ke bibir kemudian ia kecup singkat punggung tangan mungil itu membuat Cleona merona dan salah tingkah dengan perlakuan Rapa barusan.
“Abang gak akan ketipu kok sama dia, bahkan sama perempuan lain. Abang cintanya kan cuma sama Queen jadi, biar kamu aja yang tipu Abang hingga buat Abang semakin terjerat ke dalam cintanya kamu.”
Cleona benar-benar ingin berteriak saat ini, mengungkapkan rasa bahagianya yang amat sangat, hanya karena ucapan sederhana Rapa yang mampu melambungakannya hingga ke langit tertinggi.
“Queen makin cantik kalau pipinya merona gitu, bikin Abang gemas dan pengen cium!” kata Rapa kemudian memberikan kedipan genit.
“Ish, Abang mesum!” teriak Cleona seraya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Tawa Rapa terdengar puas. Menggoda Cleona memang sangat menyenangkan, dan Rapa suka akan hal itu. Queennya memang selalu menggemaskan dimatanya.
Sejak kecil selalu bersama membuatnya terbiasa dengan segala tingkah Cleona. Rapa sama sekali tidak pernah protes dan keras kepala jika bersangkutan dengan Cleona, manjanya Cleona tidak pernah membuatnya terganggu, rengekannya tidak pernah membuat dirinya kesal dan sikap posesifnya tentu saja Rapa sukai sejak kecil, bahkan saat mereka masih berada di bangku sekolah kanak-kanak.
Cleona adalah cinta pertamanya, cinta pada pandangan pertama, bahkan sejak gadis itu baru saja lahir ke dunia Rapa sudah mencintainya. Meskipun saat itu dirinya masih anak-anak, tapi hatinya cukup merasakan bahwa rasa itu begitu besar untuk Cleona.
Tidak bisa Rapa bayangkan bagaimana nasibnya nanti jika wanita itu pergi meninggalkannya. Hanya membayangkannya saja membuat Rapa takut, apa lagi jika sampai itu terjadi. Menoleh pada gadis di sampingnya, Rapa mengarahkan tangannya yang menganggur untuk mengusap pipi berisi kekasihnya yang saat ini menatap heran kearahnya.
“Abang kenapa, kok aneh?” Cleona bertanya penasaran.
__ADS_1
Dengan cepat Rapa menggelengkan kepala dan menjauhkan kembali tangannya, tersenyum tipis kemudian berucap, “Jangan pernah tinggalin Abang, Queen.”