
“Istri, bangun dong,” Rapa menepuk-nepuk pipi istrinya pelan hingga wanita hamil itu mendengus terganggu.
“Ada apa sih, Bang?” tanya Cleona yang masih enggan membuka matanya.
“Abang pengen makan burger, Queen. Temenin yuk,”
“Emang ini jam berapa?”
“Dua pagi,” kata Rapa pelan, karena tahu bahwa sang istri tercinta akan mengomel begitu dirinya mengucapkan dua kata itu, karena ketahuilah, ini bukan sekali dua kalinya Rapa membangunkan Cleona hanya untuk di temani keluar dan mencari apapun yang diinginkannya.
“Abang, bisa gak makan burger-nya besok aja? Queen masih ngantuk, Bang. Jam dua! Please, orang-orang tidur abang malah minta makan,” Cleona mendengus kesal, bangun dari tidurnya yang terganggu dan menggelung rambutnya yang sedikit berantakan. “Mending kalau masuk perut! Ini baru satu kali kunyahan aja udah abang muntahin, selain sayang uang juga sayang waktu tidur yang terbuang, Bang.”
“Ya abis gimana dong, baby-nya yang pengen dan abang gak bisa tidur gara-gara ini,”
“Ck, abang juga sih yang minta baby-nya rewel, udah gini kita sendiri kan yang repot. Minta itu yang sewajarnya aja bang. Yang gak di minta aja udah keropotan apa lagi yang di minta!”
Dengan bibir cemberut, Rapa mendengar omelan yang selalu sama di setiap malamnya. Rapa tidak bisa juga mengelak dengan apa yang di katakan istrinya, karena bagaimana pun itu memang kenyataannya, dan lagi tidak juga bisa melakukan seperti apa yang istrinya katakan karena keinginannya ini tidak Rapa sengaja buat-buat. Toh, siapa juga yang ingin terganggu dalam tidur yang lagi nyenyak-nyenyaknya? Rapa juga menginginkan tidur, tapi urusan dengan si jabang bayi tidak dapat Rapa abaikan, karena ia terlanjur berjanji akan meneuruti apapun yang bayinya inginkan.
“Cepetan pakai jaketnya!” teriak Cleona dari ambang pintu saat melihat sang suami yang masih juga belum turun dari ranjangnya.
__ADS_1
“Iy- iya bentar, Yang.” Dengan cepat Rapa melompat dari kasur dan membuka lemari, mengambil asal jaketnya, setelah itu berlari menyusul sang istri yang sudah lebih dulu turun. Dan ternyata yang menunggu bukan hanya Cleona, melainkan bersama ketiga orang tua yang sudah siap dengan jaket masing-masing. Mengharukan sekali bukan? Betapa beruntungnya Rapa memiliki mereka semua yang rela terganggu hanya demi memenuhi ngidam Rapa yang menyebakan ini.
“Anak papa Rapa yang baik dan menggemaskan, please sudahi ini semua. Kasihan kakek, nenek sama mama kamu, harus selalu papa repotkan di tengah malam seperti ini. Janji sama papa ya, Nak, bahwa ini yang terakhir kalinya. Maafin papa karena pernah memintamu menjadi anak nakal.” Rapa kali ini benar-benar berharap bahwa sang bayi mau mendengarkan permintaannya. Ini bukan semata-mata karena dirinya sudah tak sanggup, hanya saja Rapa juga jadi merasa tidak enak hati pada keluarganya yang selalu ikut di repotkan apalagi di malam seperti ini.
Mobil yang di kendarai sang ayah melaju di menyusuri jalanan sepi di malam menjelang pagi ini, beruntung makanan yang di inginkan Rapa tidaklah sulit di cari, mengingat burger adalah makanan yang selalu ada di restoran cepat saji yang buka dua puluh empat jam jadi, tujuan mereka pada malam hari ini jelas, dan hanya membutuhkan waktu lima belas menit mereka akhirnya sampai di tempat tujuan.
“Kalian tunggu di mobil aja, biar ayah sama bunda yang beli,” kata Pandu yang kemudian turun di ikuti istri tercinta, meninggalkan Leo yang tertidur di jok paling belakang bersama Cleona yang juga sudah beberapa kali nguap, dan Rapa yang sudah tidak sabar menunggu makanan yang di inginkannya.
Tak lama, kedua orang taunya kembali dengan beberapa bungkus burger, untuk Rapa, selebihnya ayam goreng tepung juga pie apel dan kentang goreng memang Lyra beli untuk dirinya juga sang suami yang juga merasakan lapar.
“Jangan dulu di makan bang, nanti kita cari tempat aman dulu biar kalau kamu muntah gak malu-maluin di lihat orang.” Kata Lyra dengan cepat menghentikan Rapa yang hendak melakukan gigitan pertama.
“Sebentar bang, ayah gak mau mobil ayah bau dan kotor gara-gara muntahan kamu, jadi, please tahan sebenatar.”
Rapa mendengus pelan meski pada akhirnya menuruti ucapan sang ayah, hingga pada akhirnya mereka kembali ke rumah dan Rapa benar-benar langsung melahap makanan tersebut. Satu gigitan, dan itu berhasil kembali keluar, gigitan selanjutnya pun masih sama hingga pada akhirnya Lyra meminta anak lelakinya itu berhenti, karena merasa tak tega jika Rapa terus-terusan seperti ini yang justru malah akan semakin membuat Rapa lemas. Namun Rapa yang memang benar-benar menginginkan makanan itu terus mencoba, di tambah dengan tidak inginnya ia mengecewakan keluarganya yang sudah rela bangun malam demi memenuhi ngidamnya. Jadi, untuk kali ini Rapa tidak akan menyerah agar bisa menelan makanan itu hingga habis.
“Queen sini,” panggil Rapa meminta istrinya mendekat. “Abang mau ngegosiasi sama baby kita.”
Cleona yang masih tidak bisa mencerna ucapan Rapa memilih mendekat dan berdiri di depan suaminya yang duduk di kursi makan di dapur, menyaksikan Rapa yang tengah berbicara dengan perut buncitnya, memohon pada sang anak agar menyudahi hukumannya. Wajah memelas laki-laki itu lah yang membuat Cleona geli begitu juga dengan ayah dan bunda yang memang ada di sana kecuali Leo yang ditinggalkan di mobil karena tidak juga bangun.
__ADS_1
“Papa minta maaf, Nak, janji tidak akan bicara sembarangan lagi,” Rapa mengacungkan jari tengah dan telunjuknya membentuk hurup ‘V’. “Kan kamu sendiri yang pengen burger. Jadi, please izinin papa habisin makanan ini, ya? Papa juga lapar bengat, Nak, udah lama gak makan. Masa kamu tega? Please, sudahi ini, Nak!”
Tawa Cleona pecah begitu saja, yang kemudian di susul dengan ringisan akibat satu tendangan yang di berikan dari bayi dalam perutnya sukses membuat ketiga orang lain di dekatnya khawatir dan segera membantu Cleona untuk duduk.
“Kamu kenapa sayang?” panik Rapa mengusap lembut kening istrinya yang sedikit mengerut.
“Perut Queen sakit banget, Bang. Baby kita nendangnya keras banget,” ungkap Cleona mengatakan apa yang dirasakannya.
“Sesakit itu ya?” ringis Rapa melihat keringat yang mulai keluar dari pelipis istrinya dan satu anggukan menjadi jawaban perempuan cantik itu.
“Kamu elus perutnya coba, Bang.” Titah sang bunda yang langsung Rapa lakukan.
“Baby yang tenang ya, Nak. Kasian itu mama kamu kesakitan gitu,” satu tendangan Rapa rasakan di telapak tangannya di tengah kegiatan mengelus perut buncit sang istri. Dan itu refleks membuat Rapa mendongak melihat wajah istrinya yang semakin terlihat kesakitan.
“Tanang ya, ini papa, sayang. Baby pengen apa? Bilang sama papa.” Kali ini bukan lagi tendangan yang dirasakan telapak tangannya, melainkan sebuah toyoran yang di berikan sang ayah di keningnya.
“Dikira perut istri kamu bisa bicara apa?!” dengus Pandu, yang hanya di balas dengan cengiran oleh Rapa. Setelah itu kembali menenangkan anak dalam perut itrinya hingga sepuluh menit kemudian, Cleona berakhir tidur dan Rapa bisa bernapas lega.
Mengalami ini semua, Rapa berjanji tidak akan pernah berkata sembarangan lagi jika nanti istrinya kembali mengandung.
__ADS_1