Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
68. Sahabat Lucknut


__ADS_3

"Bang, ingat belum bisa kamu apa-apain Queennya!” Devi berucap begitu Rapa menggandeng tangan Cleona hendak membawa istrinya itu menuju kamar.


“Tidurnya di sofa dulu aja deh mendingan Rap, takut-takut nanti pas tidur tangan lo malah salah pegang. Kalau ada yang bangun kan bahaya.” Daniel ikut menambahi, meledek Rapa jika bukan saat ini ya kapan lagi?


“Atau gak pisah kamar aja, biar lo gak khilaf.”


Wajah Rapa merah padam, kesal dengan setiap ledekan sahabat juga keluarganya, sedangkan wajah Cleona memerah karena malu, dan semua orang yang berada di ruang utama villa, tertawa begitu puas melihat kesengsaraan Rapa.


Leo, Pandu dan Lyra begitu juga dengan om tantenya tidak sama sekali ada yang menolong, mereka malah ikutan puas, dan itu membuat Rapa kesal. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Rapa berjalan cepat menggandeng serta istrinya menuju villa sebelah yang memang di khususkan untuk pengantin baru itu, mengabaikan teriakan juga tawa semua orang yang berada di dalam sana.


Sial memang mempunyai keluarga dan sahabat yang menyebalkan seperti mereka, bukannya mengasihani malah puas menertawakan. Jika saja tidak sayang, sudah dapat di pastikan bahwa Rapa akan membuang mereka semua ke tempat pembuangan.


Cleona membiarkan Rapa mandi terlebih dulu, sementara dirinya membersihkan lebih dulu wajah dari make up dan melepaskan aksesoris rambut yang mempercantiknya sepanjang hari.


“Queen, air hangatnya udah abang siapin di bathtub. Mandi dulu gih, jangan lama-lama tapi, nanti masuk angin,” ujar Rapa begitu dirinya keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang menutupi bagian pinggang bawah.


Melihat pemandangan itu tentu saja membuat Cleona menelan salivanya susah payah, wajahnya tiba-tiba menghangat dan dengan cepat, Cleona memalingkan wajahnya seraya bangkit dari duduk dan melangkah menuju lemari untuk mengambil satu setel pakaian tidur untuk Rapa yang kemudian ia letakan di sofa, tidak lupa juga dirinya mengambil handuk serta pakaian ganti untuknya sendiri sebelum melangkah masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Rapa tanpa sepatah kata pun.


Rapa tidak terlalu ambil pusing dengan tingkah aneh perempuan yang baru sah menjadi istrinya itu, karena selain lelah dirinya pun sudah ingin segera istirahat, dan sepertinya perdebatan harus di hindari untuk saat ini.


Tak lama Cleona keluar sudah lengkap dengan pakaian tidurnya, kemudian menyusul sang suami naik ke atas tempat tidur.


Sejak sekeluarnya Cleona, Rapa tidak hentinya memandangi perempuan cantik dalam balutan piyama hello kitty yang ia belikan beberapa waktu lalu, terlihat cantik dan imut di kenakan oleh sang istri.

__ADS_1


“Bang!” Cleona memanggil untuk kedua kalinya sambil menepuk pundak sang suami yang terbengong.


“Eh, kenapa Queen?” tanya Rapa gelagapan.


“Ngelamunin apa?”


“Ngelamunin kamu.” Jawab singkat Rapa diiringi dengan senyum tampannya yang selalu membuat siapa saja terpesona termasuk Cleona.


Rapa terkekeh kecil melihat semburat merah di pipi istrinya, kemudian menarik tubuh mungil itu untuk lebih dekat dengannya dan melayangkan kecupan di puncak kepala Cleona. “Selama tidur sayang,” bisik Rapa tepat di depan wajah sang istri, yang membuat Cleona menengang. Padahal ucapan, pelukan juga kecupan laki-laki itu sudah sering dirinya dapatkan sejak kecil. Namun entah kenapa kini terasa berbeda.


“Gak usah tegang sayang, abang gak akan apa-apain kamu kok. Lebih baik sekarang kita tidur, udah malam!” ujar Rapa dengan mata tertutup akibat rasa kantuk yang sudah benar-benar tidak bisa lagi dirinya tahan.


Cleona yang berada di dalam pelukan Rapa akhirnya mengangguk pelan, lalu mencari posisi yang nyaman, sebelum kemudian ikut memejamkan matanya. “Selamat malam abang.”


Sinar matahari menerobos dengan malu-malu melalui celah-celah gorden yang masih tertutup, membuat si empu kamar yang masih bergelung nyaman terganggu dengan sinar hangat itu.


Netra Cleona terbuka dengan perlahan, dan tatapan pertama yang menjadi pemandangan paginya adalah wajah tampan Rapa yang masih terlelap. Seulas senyum terbit di kedua sudut bibirnya, kemudian tangannya terulur mengusap wajah tampan itu dengan lembut.


“Bangun, Bang udah siang.”


Rapa tak sedikit pun terganggu, meski Cleona sudah menepuk-nepuk pipi tirusnya. Laki-laki itu malah semakin mempererat pelukannya pada perut Cleona, dan menyembunyikan wajahnya di lipatan leher sang istri yang tiba-tiba menegang kaku.


“Kebiasaan deh susah bengat di bangunin.”

__ADS_1


Cleona berusaha melepaskan diri dari pelukan Rapa lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk memebersihkan diri sebelum kemudian melangkah keluar dari kamar menuju dapur untuk menyiapkan beberapa makanan yang akan menjadi menu sarapan mereka berdua, setelah itu baru lah Cleona kembali ke kamar dan membangunkan suaminya yang tidur seperti orang mati suri.


Begitu berhasil membangunkannya, tugas Cleona saat ini adalah membereskan tempat tidur dan menyiapkan pakaian untuk suaminya. Hari pertama menjadi seorang istri memang tidak membuat aktivitasnya sibuk dan asing, karena kegiatan seperti ini memang sudah sering dirinya lakukan, hanya bedanya dulu tidak tidur bersama seperti semalam.


“Pagi istri,” ucap Rapa tiba-tiba seraya melingkarkan tangannya di perut Cleona, juga kecupan singkat di pipi yang membuat perempuan ikut terperanjat kaget dan refleks memukul tangan Rapa yang berada di perutnya.


“Ngagetin deh!”


Rapa terkekeh kecil. “Makanya jangan ngelamun. Mikirin apa sih hm?”


“…”


“Dasar pengantin baru, pagi-pagi udah mesum aja, di dapur lagi, ck!” satu suara dan di ikuti dengan beberapa orang yang cekikikan memotong Cleona yang hendak berucap.


Rapa yang melihat kehadiran sahabat-sahabatnya itu tentu saja berdecak kesal, karena sudah dapat di pastikan bahwa dengan adanya mereka, maka niat yang ingin bermesraan dengan sang istri tidak akan pernah terjadi. Menyebalkan memang.


“Lo pada ngapain ke sini sih, hah?!”


“Ngunjungin pengantin baru,” jawab Dava dengan wajah tanpa dosanya duduk di kursi makan diikuti oleh yang lainnya, dan itu sukses membuat Rapa semakin dongkol. Sedangkan Cleona melangkah menuju lemari pendingin dan mengeluarkan buah serta roti yang tersedia.


“Kenapa sih gue harus temenan sama kalian semua? Gak ngerti banget lo pada kalau gue pengan banget mesra-mesraan sama bini!” dengus Rapa, kemudian ikut duduk di kursi yang masih kosong.


“Lagian bini lo belum bisa lo apa-apain Rap, dari pada harus berhenti pas lagi tegang-tegangnya mending kita jalan-jalan di pantai rame-rame. Gue saranin jangan berduaan, nanti ada setannya,” celetuk Daniel dengan begitu santainya, tidak peduli bahwa wajah Cleona sudah memerah karena malu.

__ADS_1


“Ck, lo semua emang gak pernah ridho kayaknya lihat gue bahagia. Sahabat lucknut emang lo pada!”


__ADS_2