
Sejak hari itu, Rapa tak pernah lagi melihat kekonyolan sang mertua, bahkan kehadirannya pun sudah jarang terlihat di kediaman Pandu-Lyra yang sejak Cleona melahirkan menjadi kediamannya untuk sementara. Leo seolah menghindar di setiap saat Rapa ingin mengutarakan permintaan maafnya. Rapa tidak tahu harus bagaimana membujuk mertuanya agar tidak marah lagi.
Rapa tentu saja bersedih dengan ini, begitupun Cleona yang tak jarang menangis begitu melihat pengabaian papinya terhadap Rapa. Namun ia pun tidak tahu harus bagaimana bicara dan menjelaskan maksud dari yang Rapa sampaikan. Cleona takut papinya akan semakin marah dan berakhir dengan memisahkannya dengan sang suami. Sungguh Cleona tidak ingin seperti ini, ia menginginkan keluarganya yang seperti semula. Cleona ingin suami dan papinya akur seperti dulu walaupun lebih banyak di isi dengan kekonyolan dan perdebatan, setidaknya itu lebih baik.
“Bang,” panggilan bernada lirih, Cleona mengalihkan Rapa yang tengah menatap kepergian sang mertua yang lagi-lagi enggan berbicara dengannya.
“Kenapa istri?” menghampiri istrinya, Rapa kini sudah menyembunyikan kesedihan yang tadi di rasakan, kemudian melayangkan kecupan singkat di kening Cleona, setelah itu melingkarkan tangannya di pinggang dan membimbing istrinya itu untuk duduk di sofa.
“Maafin sikap papinya Queen ya Bang,” Cleona memeluk suaminya, sedih juga merasa bersalah.
Rapa menangkup wajah istri tercintanya, kemudian mengecup mata sendu itu secara bergantian. “Gak ada yang perlu di maafin, istri. Wajar kok papi seperti itu, papi pasti kecewa sama abang yang tiba-tiba mau bawa kamu pindah dari rumah ini juga rumah papi, padahal sebelumnya kan memang abang yang udah janji gak akan pisahin kamu sama papi. Abang udah janji gak akan bawa kamu pergi dari sisi papi. Maafin abang udah kecewain papi kamu, ya sayang. Dan maaf karena rencana untuk membangun istana kita harus terpaksa kita simpan.”
“Gak apa-apa, Bang, Queen mau tinggal dimana aja, asal masih ada abang di dalamnya. Queen juga bahagia tinggal di sini, sama bunda, ayah, terutama papi. Kebahagiaan papi juga penting, Bang. Apa lagi mami udah gak ada, Queen gak mau telantarin papi. Terima kasih karena abang masih bisa mengesampingkan keinginan abang. Terima kasih sudah mau mengalah sama papi, dan terima kasih atas pengertiannya.”
Rapa mengangguk seraya tersenyum, kemudian memeluk istrinya itu dengan begitu erat. “Queen mau kan bantu abang untuk minta maaf sama papi? Abang gak nyaman marahan sama papi, dunia seakan hilang warna dan keindahannya kalau seperti ini terus. Abang kangen kekonyolan papi, kangen memperdebatkan hal yang gak penting dan abang kangen makian juga kejahilannya.” Rapa sungguh-sungguh mengatakan itu, karena memang itu lah yang di rasakannya beberapa hari ini tanpa adanya sosok Leo yang mengesalkan dan menyebalkan.
“Queen pasti bantu abang kok, karena Queen juga kengan berantemnya kalian.” Senyum Cleona terukir lebar.
__ADS_1
“Ck, kayaknya kamu emang bahagia banget kalau abang di siksa sama papi,”
“Iya lah, Queen senang banget.”
“Dasar istri!” dengan gemas Rapa menekan kedua pipi Cleona dengan telapak tangannya, hingga membuat mulut Cleona mengerucut lucu kemudian ia layangkan kecupan berkali-kali.
“Ekhhem! Bisa kali mesra-mesraannya di kamar aja, ada anak di bawar umur nih,” suara deheman keres juga cibiran itu membuat Rapa mendengus kesal. Tanpa menoleh pun Rapa tahu siapa pengganggu yang datang.
“Ngapaian sih ke sini? Ganggu aja tahu gak!” Rapa mendelik pada kedua laki-laki beda usia yang baru saja mengganggu kemesraannya dengan sang istri.
“Devin sialan. Lepasin istri gue!”
“Gak mau.”
“Argghhh, Devin itu istri gue, jangan lo cium-cium juga!” kekesalan Rapa semakin menjadi begitu bibir sepupunya mendarat di pipi kiri Cleona.
Namun Devin seolah tak peduli dan kembali mendaratkan kecupan di pipi Cleona sebelahnya lagi, membuat Rapa semakin mengeraskan rahangnya dan wajahnya pun sudah memerah, menyingkirkan dengan paksa tangan Devin yang ada di leher Cleona, tapi Devin tetaplah Devin, anak Levin yang pantang menyerah dan keras kepala seperti Devi sang mama. Meski sudah terlepas, bocah remaja itu kembali melingkarkan tangannya dan malah semakin erat.
__ADS_1
Cleona yang semula tengah bersedih karena ke tidak akuran papi dan suaminya, kini tawanya kembali berderai tak kala melihat kekesalan Rapa yang terus berusaha melepaskan tangan Devin yang memeluknya. Tingkah Devin yang tak jauh berbeda dengan sang papi yang suka menggoda, dan tingkah Rapa yang cemburnya kebangetan membuat Cleona terhibur. Menurutnya, wajah cemburu Rapa itu menggemaskan, dan Cleona suka saat suaminya cemburu seperti itu.
“Ganggu terus abang kamu, Vin. Papa dukung pokoknya.” Levin yang duduk di sofa depannya memberikan dukungan juga semangat pada sang putra yang saat ini semakin gencar menggoda sang abang.
Puas menertawakan kekesalan keponakannya itu, Levin kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah untuk mencari adik dan iparnya, tapi sebelum itu, tujuan utamanya adalah dapur, mencari makanan untuknya mengemil.
“Emang deh dari dulu ini rumah gak pernah kehabisan makanan,” gumam Levin begitu membuka lemari yang biasanya di gunakan untuk menyimpan stok makanan.
Mengambil beberpa bungkus snack, Levin kemudian membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa buah apel juga minuman soda untuk dirinya sendiri, setelah itu barulah ia kembali menjalankan tujuan utamanya; mencari keberadaan adik dan iparnya yang sejak kedatangannya beberapa menit lalu tidak juga menampakan batang hidungnya.
Levin menggelengkan kepala begitu membuka pintu kamar si kembar dan melihat Lyra, Pandu juga kedua bocah serupa itu tengah tertidur nyaman di lantai yang hanya di alasi karpet berbulu tebal. Tanpa bantal juga selimut.
“Udah mirip orang susah lo pada,” Levin menggeleng-gelengkan kepala sebelum masuk dan duduk di sofa yang ada di kamar tersebut tanpa berniat membangunkan mereka.
Namun kegiatannya membuka bungkusan snack dan cara makan isinya yang entah di sengaja atau memang itu kebiasaannya membuat sedikit kegaduhan terjadi dan sukses membangunkan Nathan dengan tangis yang begitu nyaring. Jika sudah seperti itu, bukan hanya Nathan yang bangun, melainkan juga saudara satu perutnya dengan tangis yang sama nyaringnya. Mau tak mau Lyra dan Pandu pun ikut terbangun untuk menenangkan kedua cucunya itu.
Begitu sadar akan keberadaan orang lain di kamar itu, Lyra kemudian mendengus dan memberikan delikan tajamnya pada sang kakak yang saat ini anteng dengan cemilan di tangannya, tanpa sama sekali merasa bersalah. “Nyebelin emang lo, Bang!”
__ADS_1