Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
138. Bukan Sekedar Ancaman


__ADS_3

“Bang, ayah mau bicara,” suara Pandu yang menyiratkan akan keseriusan menghentikan tawa semua orang yang tengah mengobrol dan bercanda selepas makan malam.


Rapa menoleh pada sang ayah, perasaannya mulai tak enak, dan ia yakin apa yang akan di sampaikan ayahnya bukanlah kabar yang baik. Hatinya pun bertanya-tanya mengenai apa yang akan ayahnya bahas.


“Cabang perusahaan kita di Nali sedang mengalami guncangan. Masalah yang harus di tangani langsung, maka dari itu, ayah mau minta kamu untuk menangani urusan di sana …”


“Tapi, Yah …” Rapa segera memotong dan menoleh pada Cleona, kemudian beralih pada kedua putranya. “Abang gak mungkin ninggalin Queen dalam kondisi seperti ini. Abang udah janji mau rawat Queen sampai sembuh, abang udah janji akan selalu ada di samping Queen. Kalau abang pergi, sama aja dengan abang mengingkari janji abang sendiri.”


Rapa menggelengkan kepala, keberatan dengan maksud sang ayah yang akan mengirimnya ke Bali, jauh dari anak dan istrinya. Menangani masalah yang serius tentu saja akan menghabiskan waktu yang tidak sebentar. Dan meninggalkan istri juga anaknya bukanlah sesuatu yang mudah, apa lagi mengingat keadaan Cleona yang sekarang ini.


Tidak, Rapa tidak ingin mengingkari janjinya pada sang istri juga adik iparnya, Rapa sudah berjanji akan selalu berada di samping wanita itu, Rapa tak ingin meninggalkan Cleona dalam keadaan seperti ini, meskipun sekedar untuk urusan pekerjaan.


“Ayah sudah lebih dulu izin sama istri kamu, Bang, dan Queen sudah setuju.”


Menoleh pada istrinya, Rapa mengerutkan kening seolah bertanya mengenai kebenaran yang di katakan ayahnya. Dan sebuah anggukan dari wanita itu membuat Rapa menghela napas kecewa.


“Abang gak perlu khawatir, ada papi, bunda, dan juga yang lainnya yang akan rawat Queen,” kata Cleona melayangkan senyum lembutnya.


“Tapi man…”


“Ada bunda sama Clara, abang gak perlu khawatir. Di sini banyak yang sayang Queen, mereka pasti bersedia bantu dan rawat Queen.”


“Nanti gak ada yang gendong kamu lagi kalau mau naik tempat tidur. Gak ada yang gendong kamu kalau mau ke kamar mandi, dan gak ada ya…”

__ADS_1


“Gue masih sanggup gendong anak gue, Bang.” Membuka suara, Leo memberikan delikan pada menantunya yang sejak tadi terus saja memberikan alasan. Sementara Cleona memberikan anggukan membenarkan apa yang di katakan papinya. Kini dirinya tidak memiliki alasan apapun lagi untuk tetap tinggal, jika sang istri sudah mengutarakan persetujuannya.


“Kapan abang berangkat?” tanyanya dengan lesu.


“Besok, jam 05. 15 pagi.”


“Besok!” teriak Rapa mengejutkan Nathan dan Nathael, hingga membuat kedua bocah itu menangis. Menggelengkan kepala, Rapa menatap ayahnya dengan tatapan protes. “Yah, lusa Queen terapi, loh?”


“Kamu tenang aja, papi kamu yang akan antar Queen terapi.”


“Aish, kenapa ayah gak kirim papi aja sih ke Bali, biar papi sekalian liburan, cari istri baru di sana.” Dengus Rapa kesal, dan itu sukses dua jitakan melayang di kepala Rapa, yang di berikan oleh Leo juga Cleona.


“Alihin dulu asetnya atas nama gue, baru gue bersedia pergi dan urus masalah di sana,” ujar Leo dengan santainya, membuat Rapa dan Lyra sama-sama melayangkan delikan.


“Udah, sekarang mending kamu berkemas, Bang, jangan sampai bangun kesiangan.”


“Gak ada! Ayah kamu di larang pergi jauh, apa lagi untuk waktu lama.” Dengan cepat Lyra menyahut.


“Kenapa?” tanya heran Rapa juga Cleona yang saat ini sudah mengerutkan keningnya.


“Penyakit berengseknya takut kambuh lagi,” jawab Lyra yang langsung mendapat delikan dari suaminya, sementara Leo tertawa dan memukul-mukul pundak sahabatnya itu.


“Gak nyangka gue, bini lo masih aja trauma akan masa lalu. Salah lo sih, jadi cowok kok brengsek, haha.” Pandu melayangkan tatapan membunuhnya pada Leo yang tertawa puas di sampingnya.

__ADS_1


“Selama ini ayah gak berani macam-macam lagi loh, bun semenjak kejadian itu,”


“Iya, karena selalu ada bunda di samping ayah. Kalau di Bali ‘kan ayah sendiri, mana tahu butuh kehangatan. Secara di sana banyak cewek-cewek cantik dan seksi, sorry ya bunda gak sepercaya itu sama ayah.” Kata Lyra di akhiri dengan delikannya.


“Ya udah kalau gitu ayah perginya sama bunda aja, biar gak lirik sana sini, biar bunda juga percaya kalau ayah udah gak kayak dulu lagi.” Menangkup wajah cantk istrinya, Pandu kemudian memberikan kecupan singkat di kening Lyra.


“Ogah! Di sana gak ada teman, bunda gak mau kesepian, apa lagi kalau ayah sibuk kerja. Mending di sini aja ada sahabat ada cucu, bikin awet muda karena ketawa mulu.”


Pandu melepaskan kembali tangannya yang menangkup wajah istrinya, menghela napas dengan hati yang menggerutu. Memang wanita itu sulit di mengerti, dan Pandu hingga saat ini pun masih sulit mengerti istrinya yang selalu berubah-ubah mood-nya.


“Nah istri, emang kamu gak khawatir abang gak akan macam-macan di sana?” kini giliran Rapa yang bertanya pada istrinya, hatinya kini behagia karena mendengar perdebatan kecil ayah dan bundnya membuat Rapa seolah di beri jalan untuk tidak jadi pergi dan berpisah dengan anak istrinya.


“Emang abang niat untuk macam-macam disana?” tanya balik Cleona.


“Ya enggak lah!” tegas Rapa menjawab dengan cepat. “Punya kamu sama anak-anak aja abang udah cukup. Gak butuh lagi yang lain.”


“Nah, terus kenapa Queen mesti takut abang macam-macam? Jika pun memang itu terjadi, palingan juga abang yang akan menyesal karena begitu pulang gak akan lagi ketemu Queen sama anak-anak.”


“Loh kok gitu?”


“Kan Queen pernah bilang, sekali abang menghianati Queen, maka pertemuan terakhir kita adalah di pengadilan. Abang harus tahu, bahwa itu bukan sekedar ancaman!”


Bergidik ngeri, wajah Rapa kini berubah pucat, sementara Pandu, Lyra dan Leo tertawa puas anak nasib Rapa, dan Cleona masih setia melayangkan tatapan tajam pada suaminya.

__ADS_1


“Queen izinin abang pergi, karena Queen percaya abang bisa menjaga hati. Buktinya enam tahun Queen tinggal, abang masih setia nunggu Queen padahal saat itu kesempatan abang mencari perempuan lain begitu luas. Tapi abang tetap tinggal meskipun Queen udah mengakhiri hubungan kita. Sekarang juga Queen percaya, abang akan kembali menjaga hati meskipun ada jarak di antara kita, karena kini diantara abang dan Queen ada dua putra yang masih membutuhkan kedua orang tuanya. Queen percaya abang gak akan macam-macam.” Cleona mengakhiri ucapannya dengan tatapan yang menyiratkan akan kepercayaan dan senyum lembut yang selalu membuat Rapa jatuh hati juga menenangkan.


“Ya udah kalau begitu, Ayah, abang siap berangkat.” Putus Rapa masih dengan berat hati.


__ADS_2