
Mulut memang tidak seharusnya asal bicara, karena bisa saja itu adalah doa yang kemudian melintas tepat saat Tuhan berbaik hati untuk mengabulkan. Untung jika doa-nya yang baik-baik, coba jika seperti Rapa yang meminta anak dalam kandungan istrinya untuk tidak terlalu baik dan kalem? Bukankah dia sendiri yang kerepotan dan kesusahan! Cleona sebagai istri hanya bisa menertawakan begitu pun dengan semua keluarganya.
Memang keinginan Rapa itu tidak langsung terkabul saat itu juga, hanya saja begitu usia kandungan Cleona menginjak usia 9 minggu, morning sicknees mulai di alami Cleona meskipun tidak separah morning sickness yang terjadi pada Rapa. Jika Cleona hanya merasakan mual-mual biasa, Rapa justru sampai harus bolak-balik toilet untuk mengeluarkan isi perutnya. Dan di saat Cleona sensitif pada bau-bau yang menyengat, Rapa malah sensitif pada makanan apapun kecuali buah dan es krim. Benar-benar perpaduan yang cocok bukan? Keinginan Rapa untuk di repotkan sang calon bayi tercapai.
Awalnya Rapa memang menyambut itu dengan bahagia, tapi seiring berjalannya waktu dan Rapa sudah merasa lemah karena tidak ada makanan lain yang masuk selain buah-buahan atau es krim, laki-laki itu mulai mengeluh dan menyesali ucapannya. Namun sayang, sang bayi tidak ingin menuruti permintaan sang ayah kali ini, maka dengan terpaksa Rapa harus menanggung penderitaan membahagiakan itu entah sampai kapan, karena begitu usia kandungan Cleona memasuki usia 25 minggu masa ngidamnya belum juga membaik dan malah semakin menjadi, di tambah dengan sang istri yang tidak ingin dirinya peluk-peluk.
“Makanya, Bang, jangan suka bicara sembarangan. Udah gini kamu sendiri kan yang repot? Udah jangan ngeluh, karena ini juga kamu sendiri yang minta.” Itu yang di ucapkan sang bunda saat Rapa mengeluh lemas karena bolak-balik mengeluarkan isi perutnya setiap bangun tidur, bahkan setiap kali mencoba memasukan makanan.
Rapa membaringkan tubuh lemasnya di sofa panjang ruang tengah, menonton televisi hanya untuk sekedar menghilangkan kejenuhannya. Menyebalkan memang, di saat semua keluarganya berkumpul dan makan enak di ruang makan, Rapa malah memisahkan diri tanpa ada satu pun yang menemani. Menyedihkan.
“Bang, nih Queen udah potongin buah, di makan, ya,” Cleona datang dengan satu mangkuk besar berisi macam-macam buah yang sudah di kupas dan di potong-potong.
“Gak mau, bosan!” Rapa berbalik membelakangi Cleona yang kini duduk di bawah lantai samping sofa yang Rapa tiduri.
“Jangan gitu dong, abang kan belum makan apa-apa sejak pagi, nanti Queen sedih kalau abang sakit, baby-nya juga pasti sedih, emangnya abang tega?”
__ADS_1
Mendengar nada sedih istrinya, membuat Rapa tak tega. Mengubah posisinya jadi duduk, Rapa menatap sang istri bergantian dengan mangkuk berisi potongan buah yang berada di meja, kemudian menghela napasnya lemah. “Abang itu gak kenyang makan buah mulu, Queen. Pengen nasi goreng kambing, atau nasi bakar tuna, enak deh pastinya,” air liur Rapa sedikit menetes walau hanya membayangkan kedua makanan itu, yang entah kenapa begitu di inginkannya saat ini.
“Kalau gak abang muntahin lagi, Queen beliin sepuluh bungkus juga,” kata Cleona yang tentu saja kasihan melihat suaminya lesu seperti ini, karena tidak bisa memakan apapun yang di inginkannya.
“Abang, nih, Atu beliin es krim buat abang.” Clara yang baru saja datang beserta suami, memberikan kantong putih berisi bermacam-macam es krim juga buah untuk sang kakak tercinta. Namun makanan itu tidak sama sekali di sambut baik oleh si penerima. Bukan tidak menerimakan perhatian adik dan iparnya yang sudah berbaik hati, hanya saja Rapa sudah bosan dengan semua itu.
“Gue pengen nasi goreng kambing, Tu, bukan buah sama es krim mulu.”
“Yakin lo mau itu? Gak akan di muntahin lagi?” tanya Birma yang juga ikut prihatin dengan keadaan sang kakak ipar yang cukup menyedihkan dan lebih kurus dari sebelumnya itu. Meskipun memakan buah-buahan menyehatkan, tapi tetap saja nasi dan lauknya lebih mengenyangkan apa lagi bagi orang Indonesia, yang menjadikan nasi sebagai makanan pokok mereka.
“Gini deh, gue beliin nasi goreng kambingnya, nanti gue juga yang makan, lo bagian liatin aja, siapa tahu ikut kenyang. Gimana?” Birma menaik turunkan alisnya.
Bantal sofa yang semula di peluknya, Rapa lemparkan pada adik iparnya yang saat ini tengah teretawa seolah mengejek. Sialan memang. “Itu mah sama aja bohong, yang ada gue bukan kenyang malah makin ngeces!”
“Makanya, Bang jangan suka bi…”
__ADS_1
“Diam, gue udah bosan dengar kata-kata itu!” delik Rapa segera menghentikan ucapan Clara yang akan kembali menasehatinya untuk tidak berkata sembarangan.
“Abang yang sabar, ya, Queen yakin sebentar lagi masa ngidamnya akan berakhir dan abang bisa makan sepuasnya lagi. Sekarang abang makan dulu buahnya. Ingat, ada Queen dan baby yang masih membutuhkan tanggung jawab abang” Cleona kembali membujuk suaminya untuk makan, meskipun hanya buah, setidaknya ada sesuatu yang masuk ke dalam perut laki-laki itu.
“Baby cepat baikan dong, please, papa udah gak selera makan buah terus.” Pinta Rapa memelas pada perut bunci istrinya, sebelum kemudian menerima suapan dari sang istri dengan ogah-ogahan.
Clara dan Birma tertawa, kemudian memilih pergi menghampiri para orang tua, karena tidak tega juga terus-terusan menggoda Rapa yang tengah merana dan berada dalam kelabilan emosi akibat kehamilan sang istri yang sudah semakin membesar. Di tambah dengan perasaan yang entah bagaimana Clara rasakan saat ini setiap kali melihat perut buncit kakak iparnya. Seperti ada rasa iri meskipun tidak ketara.
Perasaan semua perempuan yang sudah berumah tangga mungkin akan sama seperti yang di alami Clara saat ini. Walau senyum terus terukir dan tawa selalu berderai, tetap saja kesedihan itu hinggap begitu melihat seseorang yang tengah mengandung. Apa lagi saat mertua atau siapapun menanyakan soal dirinya.
Perikahan mereka memang baru berjalan 6 bulan, tapi melihat Cleona yang hamil di usia pernikahannya yang mau menginjak dua bulan membuat Clara menjadi bahan perbincangan orang-orang termasuk eyang dari suaminya, yang sudah sangat berharap Clara hamil.
Tapi mau bagaimana lagi, berapa kali pun dirinya mengecek, hasilnya tetap negatif, dan alasan belum di percaya tuhan kerap kali Clara utarakan dengan senyum tulus yang selalu Clara paksakan agar siapapun tidak tahu bahwa ucapan yang selalu menanyakan kehamilannya melukai hati dan perasan Clara sebagai perempuan yang sudah menikah.
Itu alasan kenapa Clara lebih sering mengunjungi orang tuanya dan kadang enggan untuk kembali ke rumah orang tua Birma yang menjadi tempat tinggalnya semenjak menikah, karena di sini lah tempat ternyaman, yang mana keluarganya tidak pernah mempermasalahkan apapun mengenai dirinya. Namun melihat perut besar sang kakak ipar malah membuatnya semakin iri, dan membuat pikirannya semakin terbebani. Serba salah memang.
__ADS_1