Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
147. Thanks and I Love You (END)


__ADS_3

Dengan menutup mata istrinya, Rapa menuntun wanita itu dengan perlahan turun dari mobil dan memasuki area yang sudah dirinya persiapkan untuk dinner malam ini yang sudah sebelumnya ia siapkan untuk Cleona dengan bantuan semua teman-temannya. Rapa ingin menjadikan malam ini begitu spesial dan menjadikan ini malam indah penuh kenangan.


“Setiap mau ngasih kejutan kenapa mata Queen selalu di tutup sih, Bang?” kesalnya, yang membuat Rapa terkekeh pelan.


“Kan abang udah bilang biar surprise.”


“Ya tapi kan gak harus tutup mata segala bang.”


“Diam ya sayang jangan ngomel terus, lagi pula ini kita udah sampai,” kata Rapa melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang istrinya untuk melepaskan ikatan penutup mata Cleona, lalu langsung memeluk wanita itu dari belakang, sementara Cleona mengagumi kecantikan taman yang di penuhi dengan bunga berwarna warni, dan terdapat satu meja dengan dua kursi yang berada di tengah-tengah lingkaran bunga indah itu.


Menatap ke langit, Cleona menutup mulutnya menggunakan telapak tangan, semakin takjub dengan langit gelap yang di penuhi dengan bintang-bintang. Cleona tidak tahu hiasan langit itu asli atau buatan, tapi mengingat bahwa mereka berada di tempat terbuka membuat Cleona yakin bahwa langit memang tengah bertabur bintang pada malam ini. Mungkinkah ini kebetulan? Atau Tuhan memang menyiapkan ini untuk mereka? Entahlah, yang jelas saat ini Cleona merasa menjadi wanita terbahagia di dunia.


Bukan hanya sampai sana saja kejutan yang di berikan suaminya itu, karena kini, taman yang semula hanya di hiasi bunga dan beberapa lampu taman, sekarang bertambah dengan menyalanya lampu-lampu kecil bertuliskan kata ‘Rapa ❤ Cleona’ dan di bawahnya terdapat kata ‘I Love You’. Tak bisa lagi mempertahankan air matanya untuk tetap tinggal, Cleona kini sudah terisak menyaksikan semua itu, di tambah dengan sang suami yang kini sudah beralih berlutut di depannya dengan buket mawar yang begitu indah, entah dari mana suaminya mendapatkan bunga tersebut, Cleona terlalu bahagia sampai tidak menyadari itu.


“Clona Queenisa, aku tahu sampai detik ini aku belum benar-benar bisa menjadi suami impian kamu, menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita. Namun, selama napas ini masih melekat, aku akan terus berusaha menjadi seperti apa yang kamu inginkan, aku aka terus berusahan menjadi seperti yang kamu harapkan, dan aku akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik demi kamu dan anak-anak,” Rapa menatap tepat pada manik mata istrinya, masih dalam posisi yang sama, berlutut di depan istrinya.


“Cleona Queenisa, maukah kamu menghabiskan sisa hidup ini bersamaku, membesarkan buah hati kita bersama dengan limpahan kasih sayang dan cinta?” anggukan cepat Cleona berikan, kemudian menerima buket bunga dari suaminya itu. Dan begitu Rapa kembali berdiri, langsung saja Cleona memeluk lelakinya dengan begitu erat, menumpahkan semua air mata bahagianya tanpa ada sedikit pun kata yang mampu keluar dari mulutnya untuk mengungkapkan rasa bahagianya yang tidak terkira ini.


Rapa mengurai pelukannya, menyeka air mata di wajah Cleona, kemudian meraih tangan wanita tercintanya itu untuk ia kecup. Dan perlahan, Rapa mendekatkan wajahnya pada sang istri. Sadar dengan apa yang akan di lakukan suaminya, Cleona dengan perlahan memejamkan matanya bertepatan dengan benda kenyal yang menyentuh bibirnya, kemudian lumatan lembut dapat dirinya rasakan.


Menjatuhkan buket bunga yang di pegangnya, Cleona melingkarkan tanganya di leher sang suami, semetara Rapa memeluk istrinya semakin erat, hingga tak ada lagi jarak di antara keduanya. Dan suara letusan kembang api menjadi latar malam yang indah ini.

__ADS_1


Begitu pasokan udara keduanya butuhkan, Rapa mengakhiri ciumannya, menggerakan ibu jarinya untuk menyeka sisa ciumannya, setelah itu mereka sama-sama duduk di hamparan rumput hijau untuk menyaksikan kembang api yang masih saling bersahutan. Membuat langit semakin indah, dan senyum Cleona semakin lebar terukir.


“Kamu suka?” tanya Rapa menoleh pada sang istri, menikmati wajah cantik itu seolah tak ada lagi hari esok.


“Suka banget!” seru Cleona dengan binar bahagia. “Terima kasih sudah menyiapkan semua ini untuk Queen." Menyandarkan kepalanya di dada bidang Rapa, Cleona tak hentinya mengucapkan terima kasih, sementara Rapa tidak berhenti mengecupi puncak kepala istrinya itu.


Begitu kembang api tak lagi terlihat muncul, Rapa bangkit dan mengulurkan tangan meminta istrinya untuk ikut berdiri, melangkah menuju meja yang sudah sejak tadi menungu untuk di duduki. Rapa menarik satu kursi untuk istrinya, setelah itu barulah Rapa duduk di kursi satunya berhadapan dengan wanita cantik yang sudah mencuri hatinya sejak kecil dulu.


Lilin yang semula mati, kini sudah Rapa nyalakan, dan hidangan yang sudah Rapa pesan mulai di antarkan oleh pelayan restoran di samping taman yang menjadi tempat dinner romantisnya bersama istri tercinta.


“Abang sejak kapan nyiapin ini semua?” sebelum menyuapkan makanannya, Cleona bertanya dengan rasa penasaran yang tak bisa di simpannya lagi, karena setahunya laki-laki itu belakangan ini sibuk di Bali dan baru pulang kemarin. Sedangkan sejak bangun dari tidur tidak sedikit pun suaminya itu melepaskannya.


“Istri, maaf karena dulu abang sempat mengecewakan kamu, menjadi laki-laki yang berengsek sampai begitu menyakiti dan membuat kamu sedih. Abang juga sangat ingin berterima kasih, karena kamu bersedia menjadi istri abang kini, menjadi ibu dari anak-anak abang, dan terima kasih telah menjaga hati kamu untuk abang hingga sekarang kita bisa bersatu menjadi keluarga yang tidak akan pernah abang sia-siakan. Terima kasih atas kebahagiaan yang telah kamu berikan selama ini, dan terima kasih sudah bersedia menghabiskan sisa hidup ini bersama abang. Cleona Queenisa thank for all and I love you.” Ucapan manis Rapa tersebut di akhiri dengan kecupan lembut di jemari tangan Cleona yang sejak awal Rapa berucap sudah meneteskan air mata harunya.


“I love you too Rapa Pratama Dhikra.”


Balasan singkat itu yang hanya bisa Cleona ucapkan di tengah derasnya air mata yang menganak sungai, membasahi pipinya. Jika ada kata lain yang lebih dari sekedar kata bahagia dan beruntung, maka Cleona akan dengan senang hati mengucapkan itu berkali-kali untuk menggambarkan perasaannya saat ini untuk laki-laki yang berada di depannya.


Cleona tidak pernah menyesal telah menjaga hatinya untuk sang kekasih hati, tidak pernah menyesal menjaga cintanya untuk laki-laki yang sejak kecil sudah memberinya perlindungan dan Cleona tidak pernah menyesal kembali pada Rapa walau sempat di hadapkan dengan kekecewaan.


“Perjalanan kita masih panjang, Queen, dan abang berharap hingga jantung ini tak lagi berdetak kita bisa sama-sama menjaga hati, menjaga cinta ini tetap tumbuh dan menjaga perasaan ini tetap utuh.”

__ADS_1


 


❄❄❄❄❄SELESAI❄❄❄❄❄


 


Akhirnya cerita ini tamat juga. huhu 😭 semoga kalian berkesan dengan kisah mereka, apa lagi untuk kalian yang mengikuti mereka sejak awal...


Dan maaf untuk kalian yang mungkin kurang puas dengan ceritanya. Maaf harus ku akhiri sampai di sini, semoga tidak membuat kalian kecewa, ya. 😊😊


Thanks for all 😊😊


Jangan lupa untuk cek profilku untuk tahu cerita-cerita yang lainnya, dan semoga berkenan menunggu karya-karyaku yang lain yang akan segera hadir.


See you guys 😉


Berhubung kisah Rapa sudah selesai, ini dia ku perkenalkan penggantinya ... kisah Clara dan Birma, Semoga suka 😊


jangan lupa jadikan favorite ya


__ADS_1


__ADS_2