Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
51. Jangan Menyerah


__ADS_3

Berada dalam perjalanan, Rapa berkali-kali menoleh ke arah samping dimana Cleona duduk manis dengan ponsel yang berada di telinga. Sejak lima menit lalu, gadis itu entah sedang berbicara dengan siapa, tapi mendengar yang di bahas mengenai pernikahan sudah pasti bahwa Alvin lah yang menjadi lawan bicaranya.


Rapa ingin sekali merebut benda pipih itu dan melemparnya keluar jendela mobil. Ia ingin berteriak di depan wajah cantik Cleona, mengatakan bahwa dirinya cemburu. Namun Rapa secepatnya sadar, dirinya mungkin tidak berhak cemburu mengingat tidak ada status di antara mereka. Sakitnya tidak punya hak itu begini ternyata, pantas saat SMP dulu Cleona sempat memusuhinya.


“Oke, Love you too.” Cleona mengakhiri obrolannya dengan Freya dan kembali memasukan ponselnya ke dalam sling bag putihnya.


Sekilas menoleh pada Rapa yang masih sibuk menyetir, sebelum kemudian kembali menatap jalanan di depannya. Ia tidak kuat lama-lama menatap laki-laki yang dirindukannya itu, bukan karena tidak ingin, hanya saja Cleona takut goyah dan membuat rencana ini menjadi hancur berantakan.


“Ekhem.” Deheman Cleona membuat laki-laki di sampingnya itu menoleh dan membuat mereka bertatapan untuk beberapa saat, sebelum kemudian sama-sama saling memalingkan muka.


“Abang apa kabar? Maaf karena semenjak pulang belum sempat ngehampirin,” kata Cleona tersenyum tipis.


“Kamu tahu sendiri abang gak pernah baik-baik aja tanpa kamu,” jawab Rapa menatap ke arah Cleona yang duduk di sampingnya.


Cleona meringis kecil begitu denyutan rasa bersalah melukai hatinya. Andai tidak dalam rencana mengerjai Rapa, mungkin saat ini ia sudah berhambur memeluk laki-laki tersayangnya itu.


“Udah sampai Queen,” ucap Rapa menyadarkan Cleona dari lamunannya.


Mengangguk kecil, Cleona turun dari mobil Rapa dan berjalan pelan menuju kantor WO yang kemarin sempat dirinya datangi bersama Alvin dan Freya, hanya saja urusan yang kemarin belum sepenuhnya selesai, maka dari itu hari ini Cleona kembali datang untuk berdiskusi mengenai tema apa yang akan diambil untuk acara pernikahan nanti.


Setelah melakukan basa-basi dengan Mbak Nina, selaku pemilik WO ini, keduanya langsung membicarakan perihal tujuan kedatangannya, sementara Rapa entah berada dimana, karena beberapa kali Cleona menoleh ke arah pintu, sosok itu tidak juga datang. Padahal ia berharap bahwa laki-laki itu berada di sampingnya, setidaknya latihan untuk mempersiapkan pernikahan mereka nanti.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian pintu terbuka tanpa lebih dulu di ketuk dan menampilkan wajah tampan Rapa yang tidak enak di lihat. Namun kedatangan pria itu setidaknya membuat Cleona menghela napas lega.


“Lo ngapain di sini, Rap?” tanya perempuan cantik yang duduk di depan Cleona.


“Nganter calon istri orang,” jawabnya seraya menunjuk Cleona dengan dagunya.


“Ck, calon istri orang lo anterin. Terus kapan lo mau bawa calon istri lo sendiri ke sini?” ledek Nina pada sahabat dari adiknya itu.


“Tadinya mau langsung gue ajak ke sini pas dia pulang, eh tahunya malah keduluan orang. Lo tahu gak Mbak sakitnya gue kayak apa? Berasa pengen mati, tapi gak mau bunuh diri,” ujar Rapa yang membuat Nina tertawa dan menggelengkan kepala, sementara Cleona meringis kecil. Namun tidak bisa di pungkiri bahwa hatinya menghangat, dan senyuman itu terukir walau sekuat tenaga Cleona sembunyikan.


Obrolan bersama Rapa di akhiri, dan si pemilik WO kembali fokus pada Cleona hingga dua jam kemudian diskusi mereka selesai dan Cleona serta Rapa pamit untuk pergi. Sejak tadi, Cleona hanya bisa mengulas senyum tipisnya setiap kali Rapa memberikan komentar tentang konsep yang di pilih sesuai keinginan Freya dan Alvin.


Rapa selalu saja mengatakan bahwa itu tidaklah bagus, terlalu norak dan banyak lagi komentar-komentar yang laki-laki itu berikan dengan nada dingin dan tidak sukanya, membuat Mbak Nina terkekeh geli dan mengingatkan Rapa bahwa ini bukan untuk pernikahannya. Sejak itu lah Rapa bungkam, tidak lagi ikut campur dan memilih untuk diam dengan wajah cemberut, yang membuat Cleona tidak tahan untuk tidak tersenyum geli. Rapanya menggemaskan jika sedang kesal dan cemburu, membuatnya rindu dan ingin memeluk laki-laki itu.


Ekspresi wajah Cleona yang semula terlihat cerah, kini berubah dingin begitu mendengar perkataan Rapa. Entah kenapa kini dirinya tidak suka dengan Rapa yang menggunakan kata ‘lo-gue’.


Cleona memilih tidak menjawab, dan itu membuat Rapa mendesah berat. “Kesalahan gue terlalu besar ya, Queen? Tadinya gue mengira bahwa akan ada kesempatan kedua untuk gue memperbaiki kesalahan dulu, tapi ternyata... gue udah kalah, ya, Queen?” tanya Rapa dengan suara yang sarat akan keputus asaan.


“Bang...”


“Apa gue udah benar-benar gak ada dalam hati lo, Queen? Apa perasaan itu sudah terkubur dan tak bersisa?” lanjut Rapa memotong Cleona yang hendak mengeluarkan suara.

__ADS_1


Rapa menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Cleona, tidak berniat memasukan mobilnya ke sana karena ia masih ingin berbicara dengan perempuan cantik itu. Menatap wajah cantik mantan kekasihnya, Rapa tidak bisa menyembunyikan raut terlukanya, ia tidak bisa berpura-pura untuk bahagia dan ia tidak ingin berusaha untuk tegar. Rapa ingin Cleona tahu bahwa dirinya tidak baik-baik saja.


“Awalnya gue berpikir bahwa ini semua adalah mimpi buruk gue, tapi ternyata gue memang harus secepatnya sadar bahwa ini nyata adanya. Hati gue sakit, Queen. Gue pengen menyerah, mengubur cinta ini seperti apa yang lo lakuin. Melupakan lo tanpa rasa sakit yang gue rasain, tapi gue gak sanggup untuk melakukan itu. Gue terlalu mencintai lo.”


Cleona menunduk mendengar ucapan Rapa. Tak sanggup rasanya menyaksikan bagaimana terlukanya laki-laki itu, Cleona pun takut Rapa benar-benar menyerah dan meninggalkannya.


“Gue harus apa, Queen? Gue harus bagaimana tanpa lo?” Rapa yang sudah meneteskan air matanya itu terlihat begitu rapuh, membuat Cleona tak tega dan tanpa berpikir panjang ia berhambur memeluk laki-laki itu, menumpahkan air matanya seraya mengucapkan kata maaf berkali-kali, dan tangisnya semakin menjadi saat tangan Rapa membalas pelukannya tak kalah erat, bahkan beberapa kecupan ia rasakan di puncak kepalanya.


“Maafin Queen, Bang, maaf karena Queen mengecewakan Abang, maaf karena sudah menyakiti Abang, dan maaf karena Queen, Abang jadi seperti ini. Tolong ... tolong jangan pernah berhenti mencintai Queen, tolong jangan pernah menyerah dan meninggalkan Queen,” kata Cleona dengan air mata yang terus mengalir dan tatapan yang sarat akan permohonan.


Semua yang keluar dari mulut gadis itu tentu saja membuat Rapa bingung, tidak paham dengan apa yang sebenarnya di maksud Cleona yang memintanya untuk tidak menyerah.


“Apa Queen gak bahagia dengan pernikahan ini?” tanya Rapa ingin memastikan.


Cleona yang hendak akan menjawab, urung begitu mendengar dering ponselnya yang ternyata dari Clara. “Hallo,”


“Lagi ngapain di dalam mobil? Turun,Queen jangan sampai lo goyah. Ingat ini belum saatnya!” Clara memperingati di seberang sana, membuat Cleona menoleh ke arah Rapa yang menunggu jawabannya.


Tanpa mengatakan apa-apa pada Clara, Cleona kemudian mematikan sambungan telepon. Matanya tertuju pada wajah sendu Rapa, ia ingin mengaku, menyudahi semua siksaan ini. Namun ia tak bisa, karena bagaimana pun ini bukan lagi tentang rencananya dengan Clara melainkan orang tua mereka yang sudah campur tangan. Cleona tidak ingin membuat rencana orang tuanya berantakan, dan itu berarti Cleona terpaksa harus melanjutkannya dengan harapan Rapa masih mau bertahan.


“Queen mohon, Abang jangan menyerah. Tetap cintai Queen tanpa batas.” Cleona mengucapkan itu dengan tatapan serius yang terarah pada mata indah Rapa yang sayu, kemudian satu kecupan singkat pada pipi tirus Rapa, Cleona berikan sebelum turun dari mobil tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

__ADS_1


“Arrgghh, sial! Sebenarnya apa yang perempuan mau? Kenapa gue gak bisa memahami itu semua?” teriak frustasi Rapa, memukul-mukulkan kepalanya pada stir mobil beberapa kali.


"Queen, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan? memperminkanku?"


__ADS_2