
Begitu makan malam selesai di laksanakan, Rapa mencegah sang papi mertua untuk beranjak. Meskipun laki-laki itu sempat melayangkan tatapan tak suka dan protes, juga menepis tangannya, namun Rapa tidak ingin mengalah untuk kali ini. Rapa tak ingin hanya menunggu, karena yang ia ingin kan adalah segera berbaikan dengan mertuanya itu.
“Papi, please, beri abang kesempatan untuk bicara.” Mohon Rapa begitu tepisan kembali mertuanya layangkan.
“Malas gue bicara sama lo. Minggir!” tajam Leo berkata, seraya menarik tangannya dari genggaman menantunya itu hingga terlepas. Namun Rapa tidak juga menyerah, di kejarnya Leo hingga dapat kembali ia raih.
“Abang minta maaf, Pi. Janji abang gak akan pernah bawa Queen pergi.”
“Waktu sebelum nikah juga lo pernah janji …”
“Iya abang tahu, abang minta maaf.”
“Cih, maaf. Males gue maafin lo yang gak bisa nepatin janjinya. Minggir gue mau pergi!” Rapa tentu saja tidak membiarkan itu terjadi, dan beralih memeluk erat laki-laki tua itu dari belakang, agar tidak melarikan diri.
“Abang minta maaf untuk ucapan kemarin, Pi. Dan sekarang abang benar-benar janji gak akan bawa Queen pergi. Waktu itu abang berpikir untuk mandiri, makanya minta izin terlebih dulu sama papi, sama ayah juga. Abang belum beli tempatnya, apa lagi rumahnya waktu bicara kemarin, karena abang sama Queen memang pengen restu terlebih dulu dari kalian, terutama papi. Kalau papi memang gak setuju, abang gak akan pernah bawa Queen pergi, abang…”
“Bodo amat gue gak peduli. Lepasin gue, Rapa!”
“Gak! Abang gak akan pernah lepasih papi, sebelum papi maafin abang.”
“Lo gak usah nguji kesabaran gue deh, Rapa. Lepasin gue bilang!”
“Maafin abang dulu.”
“Gak…!”
“Lo gak beda jauh sama remaja yang lagi berantem sama pacarnya tahu gak, Le?!” Pandu yang sejak tadi menyaksikan anak serta besannya, mulai angkat suara. Jengah melihat sikap kekanakan sahabatnya itu. “Dan di sini lo jadi ceweknya, yang keras kepala. Masalah sepele aja lo besar-besarin. Cih, bocah.”
__ADS_1
“Diam lo, Pan! Lo gak ngerti rasanya jadi gue …”
“Emang, karena gue bukan lo,” santai Pandu manjawab. “Dan gue ogah jadi seperti lo yang kekanakkan” Lanjutnya, membuat Leo mendengus.
“Udah bang lepasin aja itu mertua kamu, bawa deh tuh Queen ke mana aja abang mau.” Pandu kini beralih pada anaknya, yang masih juga memeluk Leo, meskipun laki-laki tua itu sejak tadi berontak meminta di lepaskan.
“Tapi, Yah…”
“Udah lepas aja, dan bawa Queen pindah secepatnya,” potong Pandu cepat. Rahang Leo sudah benar-benar mengetat dan wajahnya pun memerah.
“Maksud lo apa, bicara begitu? Lo juga mau pisahin gue sama anak gue?!” marah Leo.
“Bukannya lo udah gak peduli?” masih dengan gayanya yang tenang, Pandu membalas ucapan Leo. “Bun, bantu Queen kemas barang-barangnya,” titah Pandu pada sang istri yang berada tak jauh di belakangnya bersama Cleona yang sudah menangis sesenggukan.
“Papi jahat! Papi udah gak sayang Queen lagi, nyebelin! Queen benci papi.” Cleona lari menaiki tangga di iringi air mata yang sulit di hentikan. Leo yang mendengar itu tentu saja merasakan sakit di hatinya, ia tidak bermaksud membuat anaknya menangis, tidak ingin juga sampai anaknya membencinya. Leo hanya ingin …
“Itu karena lo terlalu membesar-besarkan masalah kemarin.” Lyra ikut buka suara.
“Gue niatnya cuma becanda …”
Melepaskan pelukannya pada sang papi, Rapa kini mengubah ekspresi bersalahnya menjadi dingin. “O, jadi selama ini papi hanya pura-pura? Untuk apa? Agar abang merasa bersalah? Selamat papi berhasil, dan buat abang uring-uringan beberapa hari ini.” Senyum tipis dengan sorot kecewa Rapa berikan pada sang mertua, setelah itu melenggang pergi menjauh dari Leo yang menganga di tempatnya.
“Rapa, gue beneran marah loh,” teriak Leo yang sama sekali tidak Rapa hiraukan, laki-laki itu terus melangkah, menaiki satu per satu undakan tangga tanpa berniat menoleh ke belakang, di mana sang papi mengerang frustasi dan memukul-mukul udara. Lyra yang masih berada di tempatnya tidak tahan ingin tertawa menyaksikan drama yang ada di dalam rumahnya ini.
“Arrgghh, Rapa sialan! Kenapa malah lo balik marah?! Kemarin gue cuma becanda, gue hanya mau ngasih lo pelajaran aja biar gak berani misahin gue dari Queen. Gue gak benar-benar marah, Rapa!”
“Percuma lo teriak-teriak sekarang, anak lo udah benci, mantu lo udah kecewa. Dan sekarang silahkan nikmatin kesendirian lo seperti beberapa hari lalu. Jangan lupa minggu depan Priela berangkat ke Singapura unt…”
__ADS_1
Belum selesai Pandu bicara, Leo sudah lebih dulu berlari menaiki tangga, mengikuti jejak Rapa yang sudah lebih dulu masuk ke kamarnya.
Brak. Suara pintu yang di buka dengan paksa mengejutkan Rapa dan Cleona, di susul oleh tangisan dari kamar si kembar, membuat Pandu dan Lyra bergegas naik untuk membawa kedua cucunya itu. Walau ini sudah dapat di tebak sejak awal, tapi tetap saja Lyra lupa untuk memindahkan kedua cucunya ke tempat yang lebih aman dari kekacauan yang di buat oleh Leo.
“Queen ngapain?” tanya Leo dengan panik saat melihat anaknya yang tengah mengemasi pakaian ke dalam koper.
“Papi gak liat Queen lagi kemas baju?” tatapan dingin yang Cleona berikan dapat dengan mudah Leo tangkap, karena sebagai ayah, ia jelas tahu setiap ekspresi anaknya.
Begitu, Cleona kembali memasukan pakaian-pakaian yang menumpuk di atas ranjang ke delam koper, Leo dengan cepat menghentikan itu dengan cara memeluk sang putri. “Jangan pergi, papi gak bisa hidup sendiri. Maafin papi yang udah keterlaluan sama suami kamu, maafin papi, Queen. Papi niatnya becanda, gak benar-benar marah sama, abang. Papi hanya ingin ngasih sedikit pelajaran agar dia gak bawa kamu pergi dari sisi papi. Please maafin papi!”
Rapa, Pandu dan Lyra serta si kembar yang ada di gendongan kedua paruh baya itu menyaksikan bagaimana Leo memohon pada putrinya, membuat ketiganya berusaha sekuat mungkin untuk menahan tawa agar tidak berderai saat itu juga. Semua ini memang sudah mereka rencanakan, dan siapa yang tahu bahwa akan berjalan dengan lancar, padahal awalnya Rapa tak yakin. Namun siapa sangka bahwa sang papi pada akhirnya masuk juga dalam jebakan mereka.
Kembali memasang wajah dingin, Rapa melangkah masuk ke dalam kamarnya. “Udah selesai Queen?”
“Dikit la…’’ Cleona menghentikan ucapannya begitu di rasa sang papi melepaskan pelukannya, kemudian terkejut saat papinya itu menubruk Rapa dan memeluknya.
Rapa yang juga terkejut, hampir terjatuh dari tempatnya berdiri jika saja tidak dengan segera menyeimbangkan tubuhnya. Lebih terkejut lagi karena kini pria tua yang menjadi mertuanya itu menangis sesenggukan sambil mengucapkan taka maaf berulang kali.
“Jangan bawa Queen pergi, Bang, please! Papi minta maaf karena udah keterlaluan. Jangan pisahkan papi sama Queen …”
“Istri, cepat masukin pakaiannya ya ke dalam koper, sebent.. "
“Abang jangan bawa Queen pergi!” teriak Leo masih dalam posisi yang sama.
“Dih, siapa juga yang mau bawa Queen pergi orang itu baju yang di kemas buat di sumbangin ke korban banjir. Sebentar lagi Pak RT mau ngambil barangnya."
Mendengar kenyataan itu, Leo dengan cepat melepaskan pelukannya dari Rapa, menyeka kasar air matanya dan menatap tajam pada menantunya itu yang kini tengah menyengir.
__ADS_1
“Sial. Lo semua ngerjain gue?!”