Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
50. Kutunggu Jandamu


__ADS_3

Niat awal kepulangan Cleona sebenarnya untuk kembali memperbaiki hubungan dengan pria itu. Namun siapa yang tahu bahwa calon adik iparnya malah mengusulkan untuk mengerjai pria kesayangannya.


Tadinya padahal Cleona sudah rindu untuk memeluk laki-laki itu, apa lagi saat tahu bahwa Rapa selama ini terus mencari keberadaannya dan galau atas kepergiannya, tapi gara-gara menyetujui usulan Clara, membuatnya terpaksa harus menunda rasa rindunya.


Mendengar Rapa menyanyikan lagu itu membuat perasaan Cleona berdenyut perih, apa lagi saat tatapan mereka bertemu. Pria itu seolah mengatakan bahwa dia amat terluka dan kecewa. Tadi sebenarnya Cleona ingin sekali berlari dan mengatakan pada Rapa bahwa semua ini adalah sandiwara, ia ingin mengatakan dan menyakinkan pria itu bahwa hanya dia yang mampu membuatnya bahagia. Namun Alvin menahannya dan Freya, calon istri Alvin mengingatkan akan rencana yang tengah mereka jalankan. Di tambah dengan peringatan Clara yang menyaksikan lewat video call yang dilakukan Freya yang duduk di meja depannya.


Cleona memang datang ke Cafe ini atas permintaan Clara, dan tentu saja dirinya tidak datang hanya berdua, melainkan bertiga, karena sebelumnya Alvin memang tengah berkencan dengan calon istrinya.


Awalnya Cleona merasa tidak enak, karena harus mengganggu mereka, tapi ketahuilah kedua orang itu justru malah paling bersemangat menariknya untuk duduk di sana. Apa lagi saat Rapa menaiki panggung.


Setelah melihat kepergian Rapa, Cleona pun mengajak pasangan unik itu untuk meninggalkan Cafe. Cleona sudah merasa tidak kuat, dan jika masih tetap bertahan di sana, ia tidak yakin untuk tetap tinggal diam dan melanjutkan rencana mereka. Dan disinilah sekarang dirinya berada, menangis di dalam mobil Alvin.


“Lo tahu, Cle, cowok lo itu sweet banget. Gue juga pengen yang kayak gitu, udah ganteng, setia, cintanya besar lagi. Gue ja...”


“Ekhemm!” Alvin berdehem cukup keras, menghentikan ucapan perempuan cantik itu yang sepertinya lupa bahwa dia sudah memiliki calon suami.


“Keselek Pak?” kata Freya terkekeh kecil. Tidak sama sekali merasa bersalah, dan itu membuat Alvin medelik kesal.


“Ck, untung gue cinta. Kalau enggak... gue lempar lo ke laut!”


“I love you too, sayang.” Balas Freya tidak nyambung, kalu mengedipkan sebelah matanya genit.


“Lo berdua bisa gak ngertiin gue saat ini, gue lagi galau ini,” kata Cleona di sisa-sisa tangisnya.


“Dih, yang galau juga lo, bukan gue.” Freya dan Alvin berkata bersamaan dan kemudian keduanya tertawa, membuat Cleona mendengus kesal.


Resiko menyatu dengan pasangan unik bin aneh seperti mereka memang cobaan berat. Cleona kadang merasa menyesal kenapa dulu memperkenalkan mereka berdua jika pada akhirnya malah ia sendiri yang menderita, karena tidak jarang pasangan itu mengumbar kemesraan di depannya. Mereka tidak pernah mengerti bahwa dirinya iri, apalagi saat berada di Singapura, tak jarang Cleona merengek dan memanggil-manggil nama Rapa untuk mengadu, yang selalu berakhir dengan ejekan kedua orang itu.

__ADS_1


Freya memang sahabatnya yang ia temui di Singapura lima tahun yang lalu. Gadis cantik kelahiran Indonesia itu memang sudah lama tinggal di Negara Singa bersama ayah dan ibunya yang memang bekerja di sana. Apartement mereka bersebelahan di tambah kampus tempat mereka menuntut ilmu memang sama meskipun beda jurusan.


Sejak awal mereka mengenal, Cleona bukanlah sosok yang terbuka. Ia tidak suka berbagi apa lagi soal perasaan. Namun berhubung Freya adalah anak psikologi, jadilah dia sedikit bisa mengetahui apa yang tengah di rasakan Cleona, dan membuat Cleona pada akhirnya mulai sedikit terbuka dan menceritakan keluh kesahnya, termasuk menceritakan Rapa dan kisah cintanya.


“Oh iya, Cle besok gue ada kerjaan, Freya juga harus balik Singapura dulu. Lo bisa 'kan urusin untuk nikahan kita dulu?”


“Besok minggu Kak, lo kerja apaan?”


“Ngerjain lo!" dengus Alvin, memutar bola matanya. "Gue benar-benar ada kerjaan Cleo sayang. Dan ini gak bisa di tinggal, please bantuin ya?” mohon Alvin.


“Kak Eya pulangnya di tunda dulu aja kalau gitu, ya masa iya gue yang ngurusin!”


“Gak bisa, Cle, gue harus secepatnya urus-urus soal kepindahan gue. Setelah urusan di sana selesai baru deh semuanya gue ambil alih. Lagi pula lo udah tahu 'kan gimana konsep yang gue mau? Tinggal lo bicarain sama WO-nya, lagi pula ini juga untuk kelangsungan rencana kita, Cle.”


“Lo berdua yang mau nikah kenapa malah jadi gue yang repot sih?!” dengus Cleona melipat kedua tangannya di dada.


“Ya udah lah, gimana lagi, pasrah aja gue mah.” Cleona berucap dengan lesu.


“Terima kasih Cleo sayang, janji deh nanti gue beliin coklat Hershey sama merlion,” kata Freya menaik terunkan alisnya. Tahu bahwa Cleona memang tidak akan pernah berani menolak dua nama coklat itu.


“Awas aja lo kalau bohong! Gua gak akan segan-segan hancurin pernikahan lo!" ancam Cleona memberikan tatapan tajam pada perempuan cantik yang usianya lebih tua satu tahun darinya itu.


»«»«»«


Pukul delapan pagi, Cleona sudah siap untuk pergi. Mini dress berwarna biru elektrik yang di kenakannya begitu kontras di kulit putih mulusnya, apa lagi di padukan dengan hells setinggi 5 cm berwarna putih yang menghiasi kaki jenjangnya membuat penampilan Cleona pagi ini amat sempurna, meskipun terlihat sederhana.


Rapa yang kebetulan datang langsung terpesona akan sosok cantik Cleona yang baru saja turun dari tangga. Tidak menyangka bahwa bidadarinya kini semakin cantik dan terlihat dewasa.

__ADS_1


“Mingkem Rap, ingat dia bukan lagi milik kamu.” Lyra yang memang berada di samping anaknya menyikut tangan Rapa untuk menyadarkan putranya itu.


Dengusan kesal Rapa keluarkan dan langsung melangkah menuju ruang makan tanpa menghiraukan panggilan dari bundanya. Mood yang sejak kemarin buruk malah bertambah gara-gara di ingatkan akan statusnya.


Cleona dan Lyra menatap kepergian laki-laki itu dengan kening berkerut, sebelum kemudian berjalan bersama menuju ruang makan dimana Clara, Pandu Laura dan Leo serta Rapa sudah menunggu.


“Udah siap aja, Queen, Alvinnya juga belum kesini,” kata Leo begitu anak gadis pertamnya itu duduk di kursi sebelahnya.


“Kak Alvin ada kerjaan, Pi, jadi gak bisa nemenin.”


“Terus kamu berangkat sama siapa?”


“Sendiri,” jawab Cleona dengan lesu.


“Ya udah biar Bang Rapa yang temenin Queen, bunda gak tega biarin kamu pergi sendiri. Calon pengantin itu harus ada yang jagain."


Rapa yang mendengar namanya di sebutkan langsung menoleh dan memberikan tatapan protes pada sang bunda yang sama sekali tidak menghiraukannya, membuat Rapa kesal dan ingin sekali memaki wanita cantik kesayangannya itu andai saja tidak takut kena azab. Tidakkah bundanya paham akan perasaannya saat ini? Mungkin kalau dirinya yang menjadi mempelai prianya tentu saja Rapa tidak akan keberatan bahkan dirinya akan sangat bahagia, tapi jika keadaanya seperti ini, yang ada Rapa nekad membawa kabur Cleona dan menyembunyikan gadis itu untuk dirinya sendiri.


“Gak usah Bun, Queen biar pergi sendiri aja. Lagi pulang sepertinya Bang Rapa gak akan berse...”


“Siapa bilang? Ayok berangkat sekarang,” kata Rapa memotong cepat perkataan Cleona. Laki-laki itu bangkit lebih dulu, padahal nasi di piringnya masih tersisa banyak.


Semua orang yang berada di meja makan menoleh pada Rapa dan kemudian saling tatap sebelum kemudian melayangkan senyum penuh arti. Cleona sendiri mengangguk begitu mendapat kode dari ayahnya.


Sementara itu, Rapa justru merutuki dirinya sendiri karena telah dengan bodohnya menyetujui. Inginnya ia menarik kata-katanya kembali, tapi bibirnya seakan kelu, dan hatinya berbisik bahwa ini adalah kesempatan untuk dirinya berbicara dengan mantan terkasihnya.


Rapa ingin meminta penjelasan akan perasaan perempuan itu terhadapnya, agar ia bisa memutuskan langkah selanjutnya. Jika pun memang perasaan itu sudah tak lagi ada, Rapa sudah memikirkan jalan hidup untuk kedepannya, yang mungkin saja di dalamnya tidak lagi ada Cleona. Namun, andai masih ada setitik rasa untuknya, dapat di pastikan bahwa Rapa tak akan pernah menyerah untuk kembali merebut gadis itu dari pria mana pun, walau harus menunggu jandanya.

__ADS_1


__ADS_2