
“Hati-hati di jalan pulangnya, ya? Jangan lupa istirahat dan makan juga. Kakak tutup dulu telponnya, bye dedek Ella.”
“Jangan panggil dedek!”
Tut…
Cleona dengan cepat mematikan sambungan teleponnya tanpa menghiraukan teriakan protes Laura yang memang sejak dulu tidak pernah mau di panggil dengan sebutan dedek. Tahu bahwa adiknya sebentar lagi akan sampai, Cleona dengan cepat meminta sang suami serta Edrick untuk membawa anak-anaknya bersembunyi, sementara dirinya segera mematikan semua lampu di ruangan utama dan dapur, lalu menyembunyikan diri di dapur, lebih tepatnya di bawah meja makan.
Ceklek.
Suara tuas pintu terbuka membuat Cleona deg-degan, khawatir adiknya mengetahui keberadaannya dan berakhir dengan kegagalan mengejutkan adik semata wayangnya itu. Tak lama suara pintu kembali tertutup dapat Cleona dengar, di susul dengan lampu ruangan utama yang menyala, dan langkah kaki yang terdengar mendekat, menambah degup jantung Cleona yang semaking kencang.
“Kok bau masakan?” guman Laura begitu langkahnya sampai di dapur hendak menyalakan lampu. “Apa karena terlalu kangen masakan rumah, ya?” gumamnya lagi kemudian menekan saklar yang berada di dekat kulkas.
“Surprise!” teriak Cleona keluar dari persembunyiannya, bersamaan dengan cahaya lampu yang menerangi dapur minimalis itu.
“Astaga!” terkejut, Laura sampai mundur beberapa langkah ke belakang sambil memegangi dadanya. Baru kali ini ia merasakan benar-benar terkejut. “Ini beneran Kak Queen?” tanya Laura memastikan.
“Iya lah. Kamu pikir siapa emang?” Cleona menghampiri adik tercintanya itu, kemudian memeluknya dengan erat. Namun Laura malah memberikan cubitan di tangan Cleona cukup keras membuatnya menjerit dan segera melepaskan pelukannya.
“Hehe. Takutnya bukan benar-benar kak Queen.” Cengengesan Laura kemudian mengusap-usap tangan kakaknya yang semula ia cubit.
“Masa gak bisa bedain mana kakak kamu yang asli sama hantu, nyebelin!” dengus Cleona melangkah menuju sofa di ruang utama.
__ADS_1
“Ya maaf kak. Ella takut hanya halusinasi, karena terlalu rindu rumah.” Alibinya mengikuti sang kakak dan duduk di sampingnya, memeluk wanita cantik tersayangnya itu dari samping, dan menyandarkan kepalanya di pundak Cleona.
“Abang keluar sini, gak usah ngumpet lagi!” teriak Laura tepat di depan telinga Cleona, membuat wanita dua anak itu mendorong adiknya agar menjauh, lalu melayangkan jitakan di kening Laura, yang hanya cengengesan.
“Kok kamu tahu kalau abang ada di sini juga?” kening Cleona mengerut menatap adiknya.
“Karena gak mungkin kakak ke sini sendirian Ella tahu gimana suami kakak.”
Cleona mendengus pelan dan merutuki adiknya yang terlalu cerdas untuk di kerjai. Sementara Laura hanya terkekeh geli melihat kakaknya yang cemberut itu.
Tak lama, Rapa keluar bersama Nathael dalam pangkuannya, di susul oleh Edrick dan Nathan. Keberadaan si kembar dan kakak iparnya memang sudah dapat Laura tebak sebelumya, tapi tidak dengan keberadaan Edrick.
Berlari, Laura dengan gembira menghampiri laki-laki feminim itu, kemudian memeluknya dengan erat. “I miss you, brother.”
“Miss you tou, litlle sis.” Balas Edrick membalas pelukan Laura dengan satu tangannya yang menganggur, karena satu tangannya yang lain di gunakan untuk memangku Nathan.
Laura terkekeh geli mendengar nada kesal kakak iparnya, di tambah dengan wajah cemberut laki-laki dua anak itu. “Kangen abang juga,” kata Laura beralih memeluk Rapa, tak lupa kecupan singkat diberikannya pada pipi sang kakak ipar, juga pada bayi mungil dalam pangkuan laki-laki itu.
Cleona hanya tersenyum melihat pemandangan di depannya, dulu ia selalu cemburu melihat adiknya yang terlalu dekat dengan Rapa, main di kamar Rapa bahkan kecupan seperti itu sering terjadi pula. Tapi itu dulu karena sekarang, rasa cemburunya tidak lagi ada, mengingat betapa sayangnya Rapa pada Laura yang sudah di anggap seperti adiknya sendiri. Cleona justru bahagia, karena suaminya bisa sedekat itu dengan adiknya, bahkan dengan keluarganya. Dan tidak ada alasan pula untuk Cleona cemburu pada adiknyanya sendiri. Toh, Rapa sudah memilihnya, mencintainya dan menjadi ayah dari anaknya. Jadi, tidak ada yang perlu di cemburui, bukan?
Meja makan yang biasanya sepi karena hanya di isi oleh Laura sendiri, kini jadi ramai dan penuh dengan keberadaan ketiga orang itu di tambah dengan keberadaan kedua bocah menggemaskan yang di tidurkan di karpet agar tidak mengganggu makan mereka. Beruntung Cleona tak lupa membawakan mainan karet kesukaan anak-anaknya.
Melihat betapa lahapnya Laura makan, menerbitkan senyum di bibir Cleona. Tahu bahwa adiknya itu pasti sangat merindukan rumah dan makanan kesukaannya. Sebagai mahasiswa yang hanya tinggal seorang diri, Laura pasti tidak selalu sempat memasak dan makan-makanan yang bergizi mengingat bertapa sibuknya kuliah jurusan kedokteran.
__ADS_1
Dulu pun Cleona merasakan sendiri bagaimana sulit dan pusingnya menjadi seorang mahasiswi, yang terpaksa harus selalu meninggalkan adiknya yang saat itu baru masuk SMA. Beruntung Laura adalah adik yang mandiri dan dewasa melebihi usianya saat itu.
“Kelaparan banget kayaknya kamu, La?” Edrick menggeleng pelan melihat bagaimana cara Laura makan yang sedikit tak sabaran itu
“Aku belum makan dari pagi, kak Ed.” Jawab Laura begitu berhasil menelan makananya. "Jadwal kuliahku padat banget hari tadi.”
“Kenapa juga gak ngabarin kalau kuliah di sini? Aku kan bisa aja setiap hari ke sini dan masakin kamu kayak dulu.”
“Kak Ed, emang selalu yang terbaik," Laura mengangkat kedua ibu jari tangannya. "Tapi Ella gak mau ngerepotin kakak.” Mendengar jawaban itu membuat mata Edrick berkaca-kaca dan langsung berhambur memeluk Laura yang sudah dirinya anggap sebagai adiknya sendiri.
Melihat kedekatan adik ipar serta istrinya dengan laki-laki kemayu itu, entah kenapa Rapa sedikit merasakan cemburu. Namun tak urung ia pun bersyukur karena mereka menemukan seseorang yang tulus, meski pun memiliki kelainan seksual. Rapa tidak tahu harus bagaimana cara berterima kasih pada Edrick yang sudah menjaga istrinya beberapa tahun lalu, juga menjaga serta Laura.
Bukan hanya Edrick memang, tapi rasanya Rapa sulit untuk mengakui bahwa Alvin pun ikut andil dalam menjaga Cleona dan Laura dulu. Rapa tidak bisa menerima, sebab dirinya cemburu, Alvin bisa dengan mudah bertemu dengan Cleona, juga tahu keberadaan perempuan itu. Sedangkan dirinya justru malah mati-matian mencari hingga hampir putus asa.
Saat jam sudah menunjukan pulkul 10:15 waktu Singapura, Edrick memutuskan pulang setelah banyak mengobrol dan melepas rindu dengan Cleona juga Laura. Laki-laki berhati wanita itu pun berjanji untuk kembali esok hari. Tiga puluh menit kepulangan Edrick, Laura pun pamit ke kamarnya, mengingat besok harus kembali kuliah.
Kini hanya tinggal Rapa dan Cleona yang masih bertahan di sofa ruang utama yang merangkap sebagai ruang televisi. Duduk berdua dengan tangan Rapa yang merangkul pundak istrinya, dan Cleona yang menyandarkan kepala di dada bidang suami tercintanya itu.
“Istri, maafin abang ya, karena dulu tidak berada di samping kamu. Abang menyesal …”
Dengan cepat Cleona meletakan jari telunjuknya di bibir sang suami, agar laki-laki itu menghentikan ucapannya. “Yang lalu biarkan berlalu, karena yang terpenting adalah saat ini dan masa depan kita. Perpisahan kita dulu biarkan menjadi kenangan, untuk di ingat bahwa dulu kita pernah sama-sama berjuang untuk sampai di titik ini.”
Senyum Rapa terbit, dan pelukannya bertambah erat di tubuh mungil istrinya. “Terima kasih sayang. Terima kasih karena kamu tidak membenciku atas kesalahanku dulu,”
__ADS_1
“Dih, kata siapa Queen gak benci?" kata Cleona mendelik, seraya mendorong suaminya itu untuk sedikit melonggarkan pelukannya. "Queen pernah membenci abang saat di mana abang tidak menganggap rasa cemburu Queen, saat di mana abang memperlakukan Kak Mirna dengan begitu special, dan saat dimana abang tak ada di saat Queen kehilangan mami. Queen benci abang, tapi rasa cinta yang Queen miliki lebih besar, dari pada rasa benci Queen terhadap abang. Jangan pernah tinggalkan Queen, bang, karena jika itu benar-benar terjadi, Queen tidak tahu harus bagaimana melanjutkan hidup.”
“Abang gak akan pernah meninggalkan kamu, sayang. Apapun yang terjadi, abang akan selalu berada di samping kamu, memelukmu dan mencintaimu. Karena abang pun tidak akan pernah bisa hidup tanpa kamu. Terdengar seperti gombalan memang, tapi percayalah bahwa semua yang abang ucapkan itu tulus dari hati. Kamu, percaya kan?” anggukan cepat menjadi jawaban Cleona, sebelum keduanya saling mengutarakan cinta melalui perbuatan yang menjadikan malam pertama di Singapura itu menjadi malah panas yang menggairahkan.