Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
23. Berakhir Dengan Perdebatan


__ADS_3

Semalam ketika makan malam bersama seperti biasanya, Cleona tidak mendapati kekasihnya di meja makan, bahkan sampai dirinya pulang ketika jam sudah menunjukan pukul 21.00. Pesan yang sore dirinya kirimkan pun belum mendapat balasan, bahkan tanda di baca saja belum.


Cleona sampai ketiduran dan di pagi hari begitu mengecek ponselnya tidak ada satu pun pesan yang dikirimkan Rapa untuknya. Berangkat sekolah dirinya dan Clara malah justru di antar Papi Leo. Bertanya pada Clara pun, gadis itu sama tidak tahunya, Rapa pulang pukul berapa, karena sejak sarapan pun tidak mendapati laki-laki itu dan mobilnya sudah tidak ada di parkiran.


Ayah Pandu bilang bahwa Rapa sedang sibuk untuk pencalonannya menjadi ketua OSIS, tapi jelas Cleona bertanya dalam hati, apa memang akan sesibuk itu? Cleona tentu saja tidak tahu, karena dirinya belum pernah merasakan itu.


“Apa iya, gue harus ikutan OSIS juga biar tahu seberapa sibuknya? Apa iya, gue harus masuk OSIS agar bisa selalu bersama Rapa?” pemikiran itu timbul di hatinya dan dengan cepat Cleona kembali menggelengkan kepala, menepis keinginan sesaatnya itu.


Sampai di sekolah, tadinya Cleona berharap bisa bertemu dengan Rapa, tapi sayang sampai kembali pulang pun, ia tetap tidak bertemu dengan laki-laki tercintanya itu. Hari ini benar-benar membuat Cleona lesu, tidak semangat melakukan apa pun bahkan ketika teman-temannya mengajak berenang selepas pulang sekolah.


Sudah puluhan bahkan ratusan kali pesan dirinya kirimkan ke nomor kekasihnya, tapi tidak juga mendapat balasan, ketika di hubungi pun nomornya tidak aktif, membuat Cleona mendesah lelah.


Cleona bertopang dagu pada pagar pembatas luar kamarnya, menatap lurus ke arah depan berharap bahwa mobil Rapa akan segera melintas, tapi hingga jam menunjukan pukul 6 sore pun tidak juga datang, dan itu membuktikan bahwa Rapa belum juga pulang.


Tok.. tok… tok


“Queen, makan yuk, Bunda, Ayah dan yang lainnya udah nunggu.”


Suara Maminya dari balik pintu kamar terdengar, tapi itu tidak membuat Cleona beranjak dari duduknya, bolak-balik memperhatikan ponsel yang tak lepas dari tangannya.


“Queen gak mau makan, Mi!” teriak Cleona dari dalam kamar.


“Loh, kenapa?” suara itu masih terdengar dari balik pintu.

__ADS_1


“Abangnya gak ada, Queen gak mau makan. Pesan Queen juga gak Abang balas dari kemarin. Au ah, pokonya Queen mau mogok makan aja." Kembali Cleona berteriak, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Yakin mau mogok makan? Padahal tadi Mami bikin cumi goreng tepung, sa…”


“Oke, ayok makan,” kata Cleona segera keluar dari kamarnya, membuat Luna terkejut karena kedatangan anaknya yang tiba-tiba itu.


Tanpa menambahkan nasi, Cleona menyantap cumi goreng tepungnya. Bahkan gadis remaja itu tidak sama sekali menghiraukan semua orang yang berada di meja makan. Terlalu asik dengan makanan kesukaannya sampai lupa rasa kesalnya terhadap Rapa yang tidak juga memberinya kabar.


Luna hanya menggelengkan kepala melihat lehapnya Cleona makan cumi goreng tepungnya yang sengaja dirinya buat tadi sore, karena melihat wajah anaknya yang sejak pagi murung. Memang hanya makanan itu yang selalu menjadi andalan dirinya untuk membujuk anak gadis pertamanya yang lebih manja itu.


“Besok mau ikut ke rumah Nenek gak, Kak?” kata Leo ditengah aktivitas makannya.


“Ngapain?”


“Emang ke rumah Nenek harus ada alasannya?” terlihat kerutan di kening Leo, juga alisnya yang terangkat sebelah.


“Bang Rapa gak ngajak lo jalan, emang?”


Mendengar pertanyaan yang di lontarkan Clara barusan membuat mood Cleona yang semula membaik kembali buruk dengan secepat kilat.


“Boro-boro ngajak jalan, ngasih kabar aja enggak dari kemarin. Sebel gue! Bodo ah, benci gue sama dia, nyebelin. Ish, tuh kan gue malah jadi kesal sendiri. Lo sih malah nyebut-nyebut nama dia! Au ah, bete gue!”


Semua yang ada di meja makan melongo melihat tingkah ajaib Cleona yang seperti itu. Menatap kepergiannya dengan bingung juga geli, sampai suara berat Rapa terdengar, menyadarkan Leo, Luna, Lyra, Pandu, Clara dan Laura.

__ADS_1


“Kalian kenapa?” Rapa bertanya begitu melihat keluarganya yang aneh itu.


“Abang udah pulang? Ke mana aja, kok udah malam baru pulang? Lupa kalau kak Queen sering kambuh manjanya yang mendekati gila itu kalau urusannya menyangkut Abang? Kenapa gak ngasih kabar coba, kan gak akan sampai buat Kak Queen ngedumel gak jelas?”


Laura ngerocos begitu saja dengan lancarnya, yang membuat Rapa mengernyitkan kening, tidak paham. Semua yang ada di meja makan itu pun menoleh pada Laura yang menampilkan wajah polosnya, seolah tidak pernah mengatakan apa-apa, membuat yang lain gemas, juga takjub.


“Lo nanya gak bisa santai dikit, apa Dek?” Clara melayangkan sentilan kecil di pelipis Laura, membuat bocah 9 tahun itu meringis dan cemberut.


“Sini Bang, duduk, makan dulu,” kata Lyra sedikit menarik anak lelakinya untuk duduk.


Rapa hanya menurut, karena perutnya pun sejak tadi memang sudah berontak minta di isi. Wajah lelah Rapa membuat Leo urung untuk mengomeli remaja itu yang sudah membuat anak perawannya uring-uringan. Semua melanjutkan makan dalam kesunyian, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu di atas piring.


“Oh iya, Queen mana?” Rapa bertanya saat nasi di piringnya hendak habis. Leo yang semula menahan diri untuk tidak mengomel akhirnya mengeluarkan dengusannya dan memutar bola matanya malas.


“Apa iya gue harus nyesal udah jodohin anak gue sama lo, Rap?”


“Maksud, Papi?” bingung Rapa, kembali mengisi piringnya dengan nasi, ia benar-benar kelaparan saat ini.


“Au ah, ikut sebel gue jadinya sama lo, Rap. Gak beda jauh lo sama bapak lo, sama-sama sulit untuk peka!”


“Kenapa gue dibawa-bawa juga?” tanya Pandu yang tidak terima disalahkan.


“Ya, lo emang salah, kenapa gak pekanya lo turunin ke Rapa juga? Kasihan kan anak gadis gue jadinya merana!” dengus Leo memberikan tatapan tajam pada Pandu. “Lebih baik gue cari mantu yang lain deh.”

__ADS_1


Rapa menatap Papi dan Ayahnya bergantian, semakin bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya, sedangkan Luna dan Lyra hanya menggelengkan kepala, sudah biasa dengan hal sepert ini, Pandu dan Leo meskipun usianya sudah tua, tapi tetap saja sikap kekanakannya tidak pernah hilang, apa lagi jika sudah memperdebatkan soal anak-anak, sebagai istri hanya bisa tepuk jidat dan geleng kepala.


Kedua laki-laki tua itu hanya akan akur jika sudah dalam urusan pekerjaan, sedangkan urusan anak-anak maka mereka menjadi seperti musuh bebuyutan tidak pernah ada yang ingin mengalah. Semantara Clara dan Laura asik dengan makan mereka masing-masing, menghiraukan perdebatan kedua laki-laki tua itu. Meja makan yang semula sunyi berubah ramai dalam seketika.


__ADS_2