Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
88. Mulai Berlebihan


__ADS_3

Setelah lebih dulu membawa Laura yang pingsan ke dalam rumah, kini semua orang menoleh pada Cleona yang sejak tadi masih terdiam membisu sambil mengelus-ngelus perut datarnya, mencoba mencerna apa yang di katakan maminya beberapa menit yang lalu. Cleona ragu, tapi juga ada sedikit harapan yang singgah di hati.


“Besok kita cek ke rumah sakit,” kata sang bunda memecah keheningan.


Cleona menoleh, menatap sang bunda dengan tatapan yang sedikit ragu. “Apa mungkin Queen hamil?” tanya Cleona menunduk ke arah perutnya.


“Makanya besok kita pastikan ke rumah sakit biar gak penasaran,” Lyra mengusap lembut kepala menantu kesayangannya.


“Kalau hasilnya negatif gimana?”


“Itu berarti abang harus lebih berusaha lagi buat bikin kamu hamil, Queen. Tenang aja abang siap kok tiap malam,” Rapa mengedip-ngedipkan matanya genit. Dan ucapan yang terkesan vulgar itu sukses membuat Rapa di hujani dengan sentilan dan juga cubitan dari semua orang yang mengelilingi sofa di ruang tengah, menemani Laura yang masih juga belum sadarkan diri.


“Itu mah emang maunya lo,” cibir Leo yang menjadi orang lebih kejam melayangkan sentilan.


“Sirik aja deh papi, lagi pula kan nanti papi juga yang senang punya banyak cucu yang lucu-lucu, tampan dan cantik kayak abang sama Queen.”


“Gak usah ada yang mirip lo deh, Bang. Papi ngeri, soalnya setiap lihat muka lo, bawaannya suka pengen nyiksa. Kasian cucu gue nanti kalau mirip lo,”


“Jahatnya papi mertua,” cemberut Rapa yang terlihat jelas di buat-buat, membuat Leo bergidik jijik dan menjauh dari menantu sablengnya itu. Sementara yang lain tertawa, hingga bangunnya Laura mengalihkan semua orang di sana dan heboh menanyakan keadaan Laura saat ini. Namun remaja cantik itu malah justru langsung berhambur memeluk kakaknya dan mengucapkan selamat dengan riang juga melayangkan kecupan bertubi-tubi di perut sang kakak.

__ADS_1


Sebenarnya Cleona masih juga enggan percaya dengan apa yang di katakan mami juga adiknya mengenai seseorang yang telah telah hadir dalam perutnya, tentu saja Cleona bukan meragukan kelebihan spesial adiknya itu, hanya saja selama ini ia tidak merasakan gejala apapun yang mungkin biasa di alami ibu hamil.


Cleona takut semua itu hanya tebakan adiknya juga mendiang sang mami, dan setelah itu ia harus kecewa dengan pernyataan dokter karena hasil tes membuktikan bahwa dirinya tak hamil. Bukan hanya dirinya yang akan kecewa tapi juga semua keluarganya termasuk Rapa yang sudah begitu mendambakan kehamilannya.


🐣🐣🐣


Pukul 07.30 Cleona baru saja bangun dari tidur nyenyaknya, dan seperti biasa pemandangan yang dirinya lihat pertama kali adalah sosok tampan Rapa yang berbaring di sampingnya, hanya saja kali ini laki-laki itu sudah terlihat rapi dan wangi dengan wajah segar dan senyum merekah yang menular dengan sempurna pada Cleona.


Namun tak lama, senyum Cleona surut di gantikan dengan kernyitan heran begitu menyadari bahwa sang suami yang belum juga berangkat kerja, di tambah dengan dirinya yang sudah jelas bangun kesiangan. Cleona segera bangkit dari tidurnya dengan panik, menggelung rambutnya dan segera berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dan menggosok gigi.


Larangan Rapa yang memintanya untuk tidak berlari, Cleona abaikan sampai kemudian, Rapa masuk ke kamar mandi dan ikut berdiri di sampingnya, memeluk pinggangnya juga memberikan usapan pelan pada perutnya yang tertutupi gaun tidur berbahan lembut yang di kenakannya.


“Emang Queen beneran hamil ya, Bang?” tanya Cleona menatap sang suami dari balik cermin di depannya.


“Biar kita semua yakin, makanya hari ini abang sengaja cuti kerja untuk periksakan kandungan kamu ke dokter. Bahkan semua keluarga kita meliburkan diri demi mengantar kamu ke rumah sakit,” kata Rapa yang sukses membuat Cleona membulatkan mata dan refleks berbalik menghadap suaminya, tidak sadar bahwa mulutnya masih penuh dengan busa dari pasta gigi.


“Semua orang?” tanya Cleona tak percaya.


Rapa mengangguk, kemudian tangannya bergerak menyeka busa putih itu dari bibir istrinya tanpa rasa jijik sedikit pun, sementara Cleona terdiam membisu dengan apa yang di lakukan suaminya itu, begitu sadar, dengan cepat Cleona kembali berbalik dan segera berkumur, menyembunyikannya dari rasa malu yang membuat wajahnya kini memanas. Meskipun Rapa adalah suaminya dan mereka sudah hidup bersama sejak kecil, tetap saja barusan adalah hal yang menjijikan.

__ADS_1


“Maaf bang, Queen lupa kalau lagi gosok gigi,” ucapnya canggung.


“Gak apa-apa kok, sayang,” balas Rapa mengecup singkat pelipis istrinya. “Kamu mau mandi dulu apa kita langsung pergi ke rumah sakit aja?”


“Mandi dulu lah bang, mas iya Queen gak mandi, nanti kalau Queen bau abang gak mau dekat-dekat Queen lagi,”


“Mana bisa abang gak dekat kamu, pergi kerja aja bawaannya kangen kamu terus.”


“Bisa banget gombalnya,” cubitan kecil Cleona berikan pada perut suaminya. “Ya udah, Queen mandi dulu, abang keluar, ya?" kata Cleona mendorong Rapa keluar dan segera mengunci pintu kamar mandi agar laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya itu tidak bisa masuk dan mengacaukan mandinya seperti yang sudah-sudah.


Senyum Cleona terbit begitu keluar dari kamar mandi dan mendapati dress biru langit favoritenya sudah tergeletak di atas ranjang lengkap dengan dalaman, tas serta flat shoes yang serasi di kenakan olehnya. Kadang suaminya itu memang sepengertian ini. Dan Cleona selalu suka di saat suaminya ikut menyiapkan pakaian yang harus di kenakannya.


Begitu siap dengan tampilannya yang segar dan cantik, Cleona kemudian keluar dari kamarnya, menuruni satu persatu anak tangga, senyumnya terukir lebar begitu melihat suaminya yang dengan cepat berlari menghampirinya dan menggandeng tangannya untuk menuruni tangga bersamaan.


“Hati-hati, Yang.” Cleona menggelengkan kepala pelan dengan sikap berlebihan suaminya itu, tapi mau bagaimana lagi, keras kepalanya Rapa tidak jauh berbeda dengan ayah bundanya, membuat Cleona harus lebih mengerti dan banyak mengalah.


Tidak tahu bagaimana jadinya nanti jika hasil dokter menyatakan bahwa dirinya negatif. Cleona jelas tak sanggup menerima kenyataan itu, terlebih semua orang pasti sangat kecewa. Apa lagi Rapa yang sejak semalam sudah memperlakukannya sebagaimana putri raja.


“Tuhan, aku tidak ingin mengecewakan semua keluargaku.”

__ADS_1


__ADS_2