
Queen ♥
1 minggu yang lalu
Bang, maafin Queen yang mungkin sudah mengecewakan abang.
Maaf sudah membuat abang marah dengan berakhir membenci Queen.
Tapi harus abang tahu bahwa apa yang abang tuduhkan, tidak lah benar.
Queen tidak pernah menghianati Abang.
Queen ♥
2 hari yang lalu
Mami udah pergi, Bang
Meninggalkan Queen untuk selamanya
Queen butuh abang,
Queen butuh pelukan abang
Queen butuh sandaran. Queen tidak sekuat itu untuk menerima kenyataan ini, Bang.
Apa boleh Queen meminta semua itu, di saat abang justru membenci Queen?
__ADS_1
Tapi bolehkah Queen egois, menginginkan abang berada di samping Queen saat ini?
Apa segitu besarnyakah kebencian abang, karena kesalahan Queen tempo hari?
Abang kenapa belum datang? Queen sadar, mungkin kesalahan Queen tidak mudah abang maafkan, tapi apa harus Mami juga menjadi pelampiasannya?
Untuk terakhir kalinya, Mami juga pasti mengharapkan kehadiran abang, setidaknya demi Mami, Abang datang mengantar kepergian Mami hingga peristirahtan terakhirnya.
Queen gak tega, Bang melihat Mami di timbun oleh tanah, Queen ingin ikut menemani Mami di dalam sana.
Rapa tidak menyangka bahwa kemarahannya tempo hari malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri, ia terlalu menutup mata atas rasa kecewanya terhadap penghianatan sang kekasih. Tapi bolehkah sekarang ia menyesal?
Pesan yang sejak beberapa hari Cleona kirimkan baru saja dirinya baca setelah dua hari kepergian Luna. Dan itu tentu saja tidak ia baca semua, karena saking banyaknya, di tambah ia benar-benar tidak sanggup, tangis penyesalan tidak hentinya mengalir, Rapa benar-benar merasa bodoh! Andai saat itu ponselnya tidak ia matikan dan ia bawa kemana-mana seperti biasanya, mungkin rasa sesal itu tidak akan terlalu dirinya rasakan.
Sekarang semua itu nyatanya percuma, penyesalannya tidak lagi berguna. Queennya bahkan tidak lagi menghiraukan keberadaannya.
Mungkin memang saat ini Rapa harus mengesampingkan egonya dan membiarkan Alvin berada di samping Cleona, memeluk gadisnya walau hati jelas tak rela. Tapi setidaknya itu lebih baik, Alvin bisa menenangkan kekasihnya yang tengah bersedih. Demi Queennya ia rela memendam sakit.
══════
Kepergian Luna sudah berlalu hampir satu bulan, tapi kesedihan itu masih nyata adanya. Leo yang biasa petakilan pun berubah jadi pendiam, menyibukan diri dengan pekerjaan atau melamun menatap foto sang istri, yang tanpa sadar air mata itu kembali metes membasahi pipi juga hati.
Rumah yang biasanya ramai dengan teriakan, canda dan tawa kini berubah menjadi sepi seperti tak berpenghuni. Cleona yang juga menjadi pendiam lebih sering mengurung diri di kamar, bahkan hingga saat ini gadis itu masih enggan hanya untuk pergi ke sekolah. Kesedihan itu jelas nampak dan begitu berat.
Berbeda dengan Leo dan Cleona, Laura yang masih kecil itu nyatanya bisa lebih tegar dan menerima kepergian sang mami dengan lapang dada. Bukan karena ia tak sedih kehilangan sosok mami yang telah melahirkan dan membesarkannya, tapi ia tahu bahwa maminya di surga sana tidak akan senang melihat kepergiaannya di tangisi.
Sejak dulu maminya memang selalu mendidiknya untuk menjadi anak yang tegar, anak yang kuat dan tidak mudah menyerah. Bisa di katakan, Luna dulu memintanya untuk lebih mandiri. Tentu saja ini membuat Laura merasa bahwa orang tuanya tidak adil, Cleona yang berusia lebih tua di biarkan bermanja sementara dirinya dituntut untuk dewasa di mana usinya bahkan masih jauh mencapai itu.
__ADS_1
Namun kini Laura paham, maminya tahu bahwa Cleona yang biasa di manja akan memberontak saat kasih sayang tak lagi di dapatkannya. Cleona yang kekanak-kanakkan itu tidak akan paham. Dan maminya tahu bahwa Laura berbeda. Maka, sejak Dokter memponis bahwa dirinya terserang penyakit Hypertrophic Cardiomyopathy yang tak lain adalah kelainan jantung, Luna sudah mulai mempersiapkannya, mempersiapkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada dirinya kelak.
Leo sendiri bahkan tidak Luna beri tahu sejak awal, alasannya karena ia tidak ingin membuat orang-orang terdekatnya bersedih terlalu lama, Luna tidak ingin membuat semua orang khawatir termasuk anak dan suaminya serta semua orang yang menyayanginya.
Kejujuran itu Luna berikan begitu dirinya merasa sudah tidak bisa bertahan, setidaknya pada Leo dan kedua orang tuanya. Sementara anak-anak tidak ia izinkan untuk tahu.
Bisa di bayangkan seterpukul apa Leo, yang selama ini tidak menyadari bahwa istrinya tidak baik-baik saja? Bisa di bayangkan bagaimana sedih dan marahnya Leo saat kejujuran tidak istrinya ucapkan? Menyinggung soal nyawa bukanlah sesuatu yang bisa siapapun anggap sepele. Leo ingin marah, tapi yang lebih di inginkannya adalah membuat istrinya sembuh dan bertahan hingga seratus tahun lagi. Namun siapapun tahu bahwa takdir tidak bisa di ubah, ketentuan-Nya sudah merupakan keputusan final, dan sebagai manusia hanya harus menerima meskipun kesiapan itu tak ada.
“Seharusnya kamu ajak aku, Lun. Bukankah kamu tahu bahwa aku tidak bisa hidup tanpa kamu?” Leo yang duduk di tepi ranjang berbicara pada foto Luna yang dirinya pegang.
Sementara Laura yang tengah berdiri menyaksikan kesedihan sang papi sudah meneteskan air matanya, di tambah dengan ucapan laki-laki tua itu yang benar-benar membuatnya marah.
“Apa aku harus mati juga, biar bisa kembali bersama-sama kamu? Melanjutkan cinta kita yang tidak pernah ingin aku akhiri.”
“Apa papi sadar dengan apa yang papi ucapkan barusan?!” bentak Laura menghampiri sang papi yang saat ini menoleh. Kemarahannya tidak lagi bisa ia simpan dengan ucapan yang terdengar egois itu. “Jika papi pergi menyusul Mami, lalu Priela sama siapa? Kak Queen bagaimana? Tidak kah papi sadar bagaimana nasib kami tanpa kalian?!”
Lyra, Clara dan Pandu yang berada di ruang tengah segera menghampiri begitu keributan terdengar. Cleona yang semula tidak peduli dan terlalu lelah melangkah pun akhirnya menghampiri dengan di papah Alvin, menerobos masuk ke dalam kamar Luna-Leo dan menyaksikan bagaimana marahnya Laura pada sang papi yang menatap penuh kesedihan.
“Bukan hanya papi yang sedih, bukan hanya Kak Queen yang kehilangan, Priela juga merasakan itu semua, tapi tidak kah kalian berpikir tersiksanya Mami di akhirat sana? Tidak kah papi berpikir bagaimana perihnya Mami melihat kalian menangisi kepergiannya?”
Cleona yang memang sudah menangis sejak tadi langsung berhambur memeluk adiknya. Tidak pernah menyangka bahwa Laura yang masih duduk di bangku SD itu justru sudah memiliki pemikiran hingga kesana, ia tidak menyangka adik yang sering kali membuatnya kesal itu bisa setegar ini. Menyembunyikan kesedihan itu seorang diri, tidak seperti dirinya yang hanya bisa menangis dan mengurung diri.
“Tidak kah papi sadar bahwa kami masih membutuhkanmu? Jika papi tidak bisa hidup tanpa mami, lalu apa menurut papi, Priela dan Kak Queen bisa hidup tanpa kalian?” Laura benar-benar menumpahkan semuanya, menumpahkan kesedihan dan kemarahannya. Bukan karena benci, melainkan rasa kesal akibat perasaannya yang tidak ikut di pikirkan.
“Maafin Papi, sayang, maaf karena Papi mengabaikan keberadaan kalian. Maafin Papi yang sudah egois. Maaf!” ujar Leo memeluk kedua anaknya dengan penuh penyesalan.
Apa yang di katakan anaknya memang benar, dirinya masih punya Cleona dan Laura yang butuh perhatiannya, butuh kasih sayang dan butuh sosok orang tua yang akan memastikan pertumbuhannya. Istrinya juga tidak akan senang jika sampai dia menelantarkan darah dagingnya, maka dari itu Leo harus kuat, ia harus terus bertahan demi anak-anaknya.
__ADS_1
“Aku janji akan menjaga anak-anak kita, Lun, membesarkannya dengan cinta dan kasih sayang seperti apa yang selalu kamu katakan. Pergilah dengan damai, aku ikhlas.”