
“Lesu banget kamu Queen,” ucap Pandu begitu Cleona dan Rapa baru saja sampai di rumah.
“Namanya juga pengantin baru, Yah. Wajar kali kalau lesu.” Ujar Lyra menimpali, kedipan genit wanita itu berikan pada anak laki-lakinya.
“Di kurung berapa hari kamu sama buaya buntung ini Queen?” Leo yang baru saja bergabung duduk langsung melayangkan pertanyaan yang membuat Rapa mendengus kesal.
“Nanya-nanyanya boleh nanti aja gak? Queen lelah. Abang dua hari kemarin gak biarin Queen istitahat.” Kata Cleona dengan raut lelah yang tidak bisa di sembunyikan. Ketiga orang tuanya itu menoleh secara bersamaan pada Rapa yang menggaruk tengkuknya salah tingkah.
Pandu menepuk pundak anak laki-lakinya beberapa kali, kemudian mengacungkan dua jempolnya seraya tersenyum. “Ayah bangga, Bang. Bulan depan ganda putra harusnya udah berkembang. Lajutkan.”
Satu bantal sofa melayang mengenai wajah tampan Pandu yang tidak menyadari akan adanya sebuah serangan. Siapa lagi pelakunya jika bukan Leo.
“Anak gue butuh istrahat woy!” Leo mendelik. “Tapi gue request ganda campuran ya,” lanjutnya menaik turunkan alis menatap Rapa yang mencebik.
“Sama aja ternyata lo, Le!” dengus Lyra yang hanya di balas kekehan laki-laki tua kesepian itu.
Rapa yang tidak memiliki semangat untuk meladeni ketiga orang tuanya yang memang aneh itu memilih pergi membawa istrinya menuju kamar tanpa mengatakan apapun. Bisa bahaya memang jika di tanggapi. Yang ada nanti malah bercabang kemana-mana dan berakhir dengan istirahatnya yang tidak terlaksana. Rapa tidak tega melihat Cleona yang sudah beberapa kali menguap juga wajah lesu sang istri yang begitu ketara.
Tanpa mengganti pakaian terlebih dulu, Cleona dan Rapa sama-sama membaringkan tubuhnya di ranjang king size di kamar Rapa. Karena saking lelah dan ngantuk, tidak butuh waktu lama untuk keduanya terlelap masuk ke dalam alam mimpi.
__ADS_1
Tubuh Rapa dan Cleona yang saling berpelukan hingga tidak menyisakan jarak karena saking intimnya itu membuat Clara yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk, terkejut bukan main dan cepat-cepat menutup kembali pintu putih itu sambil memegang dadanya yang berdebar hebat.
“Mata gue ternodai, astaga! Gila emang mereka berdua, tidur aja sampe harus serapat itu. Gak sesak apa itu napas, apa lagi…” Clara menunduk menatap dadanya kemudian bergidig geli sebelum kemudian berlari menuju kamarnya sendiri.
“Mulai saat ini gue harus ketuk pintu dulu kayaknya kalau mau masuk kamar mereka. Bisa bahaya kalau langsung buka kayak tadi! Mending pemandangannya masih yang seperti itu, gimana kalau …” lagi Clara menggeleng dan memukul-mukul pelan kepalanya agar pikiran kotor itu segera enyah. Ia tidak ingin kepolosannya ternodai dengan hal-hal yang belum pantas dirinya pikirkan.
Tok… tok… tok…
Clara menoleh begitu sura ketukan di pintu kamarnya tersengar. Dan memunculkan sosok cantik sang bunda yang amat di sayanginya.
“Dek, ada Birma di bawah.”
“Ngapain dia ke sini?” Clara bertanya pada dirinya sendiri, tapi itu jelas mendapat teguran dari sang bunda yang sangat tidak menyukai jika anak-anaknya berlaku tak sopan, kecuali pada papi Leo, sang bunda akan membiarkannya. Aneh memang orang tua satu ini.
Membuka lemari pendingin, Clara mengetuk-ngetukan jari telunjuknya pada dagu, berpikir tentang minuman apa yang akan dirinya buat untuk menjamu tunangan tercintanya.
Tangannya pertama kali meraih buah apel, lalu kembali meletakannya, kemudian jeruk, pisang, melon dan buah naga yang menghuni lemari pendingin dapurnya berakhir sama, yaitu kembali ketempatnya semula dan kembali penutup pintu kulkasnya sambil menatap sekeliling sebelum kemudian mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih dingin.
Cleona berjalan menuju ruang tamu, dimana orang-orang berada termasuk tamu yang bertandang di sore hari seperti ini. Clara meletakan nampan bulat yang di ambilnya kemudian mengambil gelas berisi air mineral dingin itu dan di letakannya di depan Birma.
__ADS_1
Ketiga orang tua itu menoleh, dengan kening yang sama-sama mengernyit. “Kamu lama di dapur cuma ngambil air putih doang, Tu?” tanya sang papi tak habis pikir.
“Tadi Atu kelamaan berpikir, Pi, antara bikin jus jeruk, melon, pisang, apel atau buah naga. Dan kerena pusing milihnya jadi deh Atu ambil air mineral aja. Lebih praktis.” Katanya dengan cengengesan yang membuat ketiga orang tuanya itu nyaris menjatuhkan rahang masing-masing, sementara Birma menggeleng takjub kemudian mengusak rambut calon istrinya itu dengan gemas.
“Polos sama bego emang beda tipis,” Leo mencibir.
“Gak beda jauh emang sama Emaknya dulu,” timpal Pandu, yang langsung mendapat cubitan pedas dari sang istri.
“Gitu-gitu juga lo kelepek-kelepek sama gue!” Lyra mencebikan bibirnya pada Pandu yang masih mengusap-usah lengannya yang terkena cubitan.
“Ikan kekeringan kali ah kelepek-kelepek.” Clara menyahuti. Lyra melayangkan tatapan tajam ke arah anaknya itu yang di abaikan Clara, yang saat ini sudah duduk menyandar di pundak tunangannya.
“Aku emang kelepek-kelepek banget sama kamu, Bun. Kalau enggak, mana mungkin ada Rapa sama Ratu.” Pandu meraih tubuh mungil istrinya ke dalam pelukan dan menghunani puncak kepala istrinya dengan kecupan-kecupan kecil
Menyaksikan adegan so romantis itu membuat Leo berlaku seolah-olah ingin muntal, meski dalam hati memaki kedua sahabatnya itu karena sudah berani mengumbar kemesraan di depannya yang tidak memiliki pasangan. Ah, andai Luna masih ada. Leo dengan cepat menggelengkan kepala, membuang semua perandaian itu yang selalu sukses membuat dadanya sesak
“Iya lah kalau lo kelepek-kelepeknya sama Amel yang hadir bukan Rapa tapi Dumel, alias Pandu-Amel.” Leo tertawa puas melihat wajah merah kedua sahabatnya itu.
Tatapan membunuh yang di miliki Pandu serta Lyra tidak membuat Leo berhenti tertawa apa lagi ketakutan, karena membahas masa lalu mereka selalu jadi senjata yang ampuh agar tidak lagi mengingat tentang sang istri yang sudah berada di samping Tuhan. Terkesan kekanakan dan egois memang, tapi salah kedua orang itu juga yang selalu mengumbar kemesraan di hadapannya yang jomblo ini.
__ADS_1
Clara yang menyaksikan keluarga anehnya yang selalu saling membuli itu hanya menggelengkan kepala. Ia memang sudah tahu bagaimana masa lalu kedua orang tuanya juga om dan tantenya. Jadi sudah tidak terkejut lagi jika ada yang mengungkit persoalan itu.
Dulu Clara memang sempat kecewa pada ayahnya, namun seiring berjalannya waktu Clara mulai paham dan tentu saja mengerti. Toh semua orang pasti memiliki masa lalu, apa lagi di usia remaja. Jadi, tidak ada yang salah dengan itu semua, karena jalan hidup masing-masing manusia sudah di tentukan oleh Tuhan. Jika pun itu pahit, tidak ada alasan untuk menolak atau menerima.