
Cleona merasa kasihan melihat adiknya pulang saat hari sudah larut di tambah dengan raut lelah sang adik yang begitu ketara, membuat Cleona tidak tega membiarkan adiknya tinggal seorang diri di negara orang tanpa ada satu pun sanak saudara yang memperhatikan kesehatan serta makannya. Meskipun Laura adalah sosok yang mandiri, tapi jika pulang dalam keadaan lelah, jangankan untuk memasak, makan saja enggan dan memilih untuk langsung masuk kamar dan istirahat.
“Biar kakak suapin aja ya?”
Laura menggeleng. “Ella makan sendiri aja, Kak, masih sanggup kok.”
“Udah biar kakak suapin aja,”
Laura pada akhirnya mengalah dan membiarkan kakak cantiknya itu menyuapinya hingga makanan di piring tadas. Tidak lupa Cleona pun memberikan susu untuk adiknya minum, setalah itu, Laura membaringkan tubuhnya di kasur, tentu saja setelah mengucapkan kata terima kasih yang di akhiri dengan kecupan singkat di pipi sang kakak.
Menarik selimut untuk menutupi tubuh Laura hingga batas leher, Cleona kemudian memberikan kecupan di kening adik satu-satunya itu. “Tidur yang nyenyak, Priela. Kakak sayang kamu.” Setalah itu Cleona keluar dari kamar adiknya, dan membiarkan Laura untuk istirahat.
“Ella udah tidur?” tanya Rapa yang keluar dari kamarnya sehabis menidurkan kedua bocah kesayangannya itu. Hanya anggukan yang Cleona berikan sebelum kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan televisi. “Kamu kabarin Edrick kalau gitu, suruh kue-nya bawa sekarang aja, takutnya dia ketiduran.”
“Mana ada dia tidur jam segini, paling juga lagi kencan.” Cleona terkekeh pelan mengingat sahabat satunya itu, tapi tak urung menghubungi Edrick dan memintanya untuk segera datang mengingat jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, dan satu jam lagi Rapa harus pergi menjemput keluarganya di bandara.
“Istri,” panggil Rapa pelan, mengalihkan Cleona dari layar datar di depannya.
“Kemarin kamu sudah menceritakan semua yang kamu alami selama kita jauh. Kamu gak mau gitu dengar cerita abang?”
Cleona tersenyum kemudian menggelengkan kepala, dan memberikan satu kecupan singkat di bibir suami tampannya. “Gak perlu di ceritaiin, Queen gak mau kembali merasa menyesal juga sedih karena telah ninggalin abang. Sedikit cerita dari Ratu sudah buat Queen tahu bahwa abang tidak dalam keadaan baik-baik aja.”
“Kamu yakin? Gak penasaran apa abang dekat perempuan lain atau enggak?” Rapa masih tak ingin menyerah.
Lagi-lagi Cleona menggelengkan kepala, menolak suaminya bercerita. “Gak perlu, benar atau pun tidaknya abang memiliki perempuan lain saat kita berpisah, itu tidak akan bisa mengubah apapun lagi, karena kejelasan sudah Queen temukan, abang tetap memilih Queen dan abang tetap menjadi milik Queen. Lagi pula abang pernah bilang sendiri ‘kan, kalau abang sibuk nyari Queen kesana-sini? Jadi, sampai di situ aja Queen tahu bahwa tidak ada waktu untuk abang mengencani perempuan-perempuan yang berusaha menarik perhatian abang.”
“Gimana kalau abang bohong soal itu?”
__ADS_1
Kali ini Cleona malah tertawa, setelah itu kembali melayangkan kecupan kilat pada bibir suaminya yang ternyata tidak juga ingin menyerah. “Queen percaya bahwa abang tidak mungkin berbohong. Udah, itu aja cukup Queen yakini.”
Meraih istrinya ke dalam pelukan, Rapa menghujani Cleona dengan banyak kecupan di seluruh wajah perempuan cantik itu, tapi saat bibirnya berniat untuk mengajak perang bibir sang istri, bel apartement lebih dulu berbunyi, menggagalkan niatnya yang ingin sekali memadu kasih dengan sang istri tercinta.
Mendorong suaminya menjauh, Cleona kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah untuk membuka kan pintu, mempersilahkan Edrick yang membawa kota besar berisi kue untuk masuk dan bergabung bersama mereka, menonton siara televisi sambil mengobrol, sebelum Rapa bangkit dan meminjam kunci mobil Edrick untuk menjemput orang tuanya di bandara.
💗💗💗
Pukul 11:45 malam waktu Singapura, Rapa berhasil membawa anggota keluarganya menuju apartement. Yang semula di kira akan hanya ketiga orang tua yang datang, nyatanya Birma dan Clara pun ikut serta, beruntung mobil milik Edrick cukup untuk menampung mereka semua, jadi tidak harus susah-susah mencari taxi untuk mengangkut sisanya.
Cleona langsung berhambur memeluk papinya, kemudian sang bunda dan ayah terakhir memeluk Clara. Meskipun belum genap satu minggu tidak bertemu dengan mereka semua rasa rindu itu nyata Cleona rasakan.
“Kami juga rindu sayang, apa lagi sama si kembar. Beberapa hari ini bunda jadi sering ngelamun karena kesepian di tinggal kamu, Nathan juga Nathael …”
“Iya tahu, abang emang gak pernah masuk dalam daftar di rindukan oleh kalian. Fix abang marah!” dengus Rapa memisahkan diri duduk di sofa, sementara Edrick asyik melepas rindu dengan Leo.
Pandu berjalan menuju kamar berisi kedua cucunya yang tengah tertidur, ia begitu rindu akan si kembar yang selama beberapa hari ini tidak bisa Pandu peluk dan ajak main. Walau pun Lyra melarang Pandu untuk tidak membangunkan kedua bocah itu, Pandu mana peduli, yang penting rindunya tersampaikan dan ia bisa bermain dengan kedua cucunya.
Sementara Lyra, Clara dan Cleona menghidangkan makanan di meja makan minimalis dapur apartemen yang tidak seberapa luasnya itu.
Begitu jam sudah menunjukan tepat di angka dua belas, Cleona segera menyalakan lilin yang sudah berdiri di tengah dan pinggir mengelilingi kue tersebut, setelah itu satu persatu dari mereka masuk sambil menyanyikan lagu ulang tahun, tidak lupa Rapa menyalakan musik di ponselnya di tambah dengan tangisan si kembar dalam gendongan Pandu dan Clara.
Kegaduhan itu membuat Laura terganggu dan bangun dari tidurnya, terkejut begitu mendapati anggota keluarganya berkumpul mengelilingi ranjangnya.
“Astaga, ini Ella gak mimpi kan?” tanya Laura pada dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk pipinya. Lyra yang berada paling dekat dengan anak bungsunya itu menahan tangan Laura agar berhenti menyakiti pipinya sendiri, setelah itu pelukan juga kecupan Lyra berikan. Tak lupa ucapan selamat turut Lyra layangkan beserta doa-doa terbaik untuk anak bungsu dari sahabatnya itu.
“Ella gak percaya bahwa ini nyata,” gumam Laura dengan tangis haru yang sudah membasahi pipinya.
__ADS_1
“Kebanyakan gaul sama setan sih, makanya gak bisa bedain mana yang nyata dan mana yang bukan.” Cibir Rapa yang kemudian di angguki Laura.
“Ini kan pertama kalinya Ella gak tahu bahwa kalian akan ngasih kejutan,”
“Iya biasanya kita semua gagal, gara-gara kamu udah tahu duluan.” Nada kesal dapat Laura dengar dari perkataan bundanya itu.
“Priela bangun, tiup lilinnya dulu,” titah Cleona yang masih setia memegangi kue di tangannya. Menurut, Laura kini berdiri di depan sang kakak dengan di kelilingi orang-orang tersayangnya.
“Tuhan terima kasih sudah memberikan keluarga yang begitu menyayangiku, keluarga hebat yang selalu ingin aku banggakan. Terima kasih Tuhan, dan tolong lindungi selalu orang-orang tersayang di sekelilingku.”
Setelah menggumamkan doa dalam hati, Laura kemudian meniup lilin hingga tidak ada satu pun yang menyala. Dan begitu matanya terbuka …
“Mami!” Laura berteriak dan langsung memeluk Cleona yang berada di depannya, nyaris saja kue yang di pegang Cleona terjatuh jika saja Leo tidak dengan cepat meraihnya. “Terima kasih sudah hadir, Mi. Ella bahagia.”
Semua orang yang berada di sana menatap heran Laura termasuk Cleona yang saat ini hanya berdiri mematung. Tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Laura yang tiba-tiba berhambur memeluknya dan memanggil dengan sebutan mami. Namun beberapa detik kemudian wajah yang semula terlihat kebingungan itu tiba-tiba menampilkan sosok cantik yang tengah tersenyum, sukses membuat Leo berhambur dan memeluk Cleona bergabung dengan putri bungsunya dan suara isakan tangis Leo dapat semuanya dengar, termasuk sosok Luna yang kali ini dapat terlihat oleh semua orang.
“Astaga Luna gue kangen,” gumam Lyra menutup mulutnya tidak percaya bahwa kini, setalah sekian lama kehilangan sahabatnya, Lyra dapat kembali melihat wanita cantik itu lagi.
“Titip anak-anakku, cucuku juga suamiku, Ra. Dan terima kasih sudah menjaga mereka semua, menyayangi dan melindungi mereka. Semoga kelak tuhan kembali mempertemukan kita di kehidupan selanjutnya.” Lyra yang tak bisa mengungkapkan rasa harunya hanya tersenyum dan mengangguk.
“Jangan bersedih, sayang. Meskipun kehidupan kita sudah berbeda, tapi kamu harus ingat bahwa aku masih tetap berada di hatimu,” ucap Luna menyeka sudut mata Leo yang berair. Kini Luna beralih pada Laura yang tengah menyeka air matanya, sekali lagi Luna membawa anaknya itu ke dalam pelukan. “Selamat ulang tahun putri mami. Raih lah cita-citamu dan berbahagia lah.”
Perlahan sosok cantik itu memudar di gantikan dengan wajah cengo Cleona, menatap anggota keluarganya yang berderai air mata. “Kalian kenapa pada nangis?” tanya Cleona yang kebingungan.
“KEPO!” teriak mereka bersamaan, sebelum kemudian meninggalkan Cleona seorang diri di dalam kamar itu.
“Kenapa gue disini? Perasaan tadi lagi nonton tv,” tanya Cleona pada dirinya sindiri. “Bukannya mau bikin kejutan ulang tahun Ella, ya, kok …” menatap sekeliling Cleona kemudian menggaruk kepalanya, merasa ling-lung. “Astaga, apa yang udah gue lewatin! Kenapa jadi mendadak amnesia gini?”
__ADS_1