Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
Bonus Chapter 2


__ADS_3

Di usia si kembar yang menginjak dua tahun ini membuat semua orang di rumah semakin kewalahan, termasuk Cleona yang tak jarang di buat migrain oleh keduanya. Sama seperti saat ini, rasanya Cleona sangat sulit hanya untuk memejamkan sejenak matanya yang sudah lelah.


Di jam tiga pagi, Cleona harus menemani anak-anaknya bermain, karena sejak satu jam yang lalu kedua bocah itu terbangun, mengganggu tidurnya. Sebenarnya bisa saja Cleona membangunkan Rapa untuk bergiliran menjaga mereka, tapi itu tidak tega Cleona lakukan mengingat siangnya sang suami harus bekerja.


Plak. Seolah tak mengizinkan ibunya terlelap, Nathan menaiki tubuh Cleona dan melayangkan tepukan tangan kecilnya di wajah sang mama, dan itu cukup keras, membuat Cleona kembali membuka mata dan menatap sayu anak-anaknya yang malah tertawa. Mereka benar-benar sama seperti ayahnya yang selalu minta perhatian, tidak rela sepertinya jika mendapati ia tertidur dan mengabaikan mereka.


“Mama ngantuk loh, Nak.” Ujar Cleona dengan lesu, akibat rasa kantuk yang mendera, tapi kedua anaknya itu seolah tak peduli dan asyik melanjutkan mainnya. Benar-benar menyebalkan, sama seperti papanya.


Menghela napasnya panjang, Cleona kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya, menghilangkan kantuk. Meninggalkan sejenak anak-anaknya setelah memastikan keamanan untuk kedua bocah itu.


Hanya sekedar lima menit, Cleona meninggalkan kedua anaknya. Namun begitu dirinya kembali, Nathan dan Nathael justru sudah terbaring di karpet tebal yang di penuhi dengan berbagai macam mainan. Tahu seperti ini, mungkin akan sejak tadi Cleona meninggalkan kedua buah hatinya.


“Giliran mama udah segar aja, kalian malah tidur.” Cleona membelai lembut pipi tembam anak-anaknya, lalu memberikan kecupan sayang, sebelum kemudian membawa satu per satu bocah itu untuk pindah ke box bayinya.


Berhubung rasa kantuk itu sudah menguap, Cleona memilih untuk memberaskan mainan-mainan anak-anaknya ke tempat seharusnya, tidak lupa juga membersihkan kamar itu agar tetap selalu aman untuk kedua bayinya. Saking fokusnya, Cleona sampai tidak sadar ada yang memperhatikannya di ambang pintu penghubung antara kamarnya dan kamar si kembar.


Rapa yang terbangun dari tidurnya karena kebelet, sedikit panik saat tidak mendapati sang istri di sebelahnya. Akhirnya begitu menyelesaikan urusannya di kamar mandi, ia langsung menghampiri kamar putranya dan siapa yang menyangka akan mendapati istri cantiknya di sana yang tengah berbenah.


“Kenapa gak tidur?” tanya Rapa begitu berada di belakang istrinya.


Terkejut, Cleona menoleh untuk sekedar memastikan bahwa yang bicara tersebut adalah suaminya. Cukup ngeri bukan jika sampai tidak ada sosok, sementara suara itu terdengar indranya. “Abang kok bangun?”

__ADS_1


Memeluk tubuh istrinya dari belakang, Rapa kemudian melayangkan satu kecupan singkat di pipi kiri wanita cantik kesayangannya itu. “Abang kebangun. Kamu kenapa gak tidur?” ulang Rapa yang belum mendapat jawaban atas pertanyaannya tadi.


“Si kembar ngajak main, jadi sekalian aja beresin kamarnya mereka. Kapan lagi 'kan kalau gak sekarang, nanti siang udah pasti akan berantakan lagi.” Cleona mengulas senyumnya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


“Biar abang temani kalau gitu,” ucap Rapa mengeratkan lingkaran tangannya di perut sang istri yang sudah kembali rata.


“Gak mau sekalian bantuin aja gitu?” menaikan sebelah alisnya, Cleona kembali menoleh sekilas pada suaminya itu.


“Abang bantu doa aja,” jawabnya, lalu terkekeh pelan begitu satu cubitan di tangannya Rapa rasakan. “Udah kamu lanjut aja, abang bantu doanya sambil peluk biar kamu makin semangat dan kerjaannya cepat selesai.”


“Yang ada Queen malah makin lambat kerjanya karena abang halangin. Udah deh mendingan abang tidur lagi aja, dari pada ganggu Queen.”


“Abang gak bisa tidur kalau di ranjangnya gak ada kamu.” Rapa menyusupkan wajahnya di ceruk leher Cleona yang selalu memberinya ketenangan dari wangi tubuh sang istri yang begitu Rapa sukai. Harumnya yang manis, selalu membuat Rapa betah berlama-lama menghirupnya, tidak peduli walau istrinya merinding kegelian.


“Itu fakta sayang, buktinya sekarang aja abang kebangun gara-gara kamu gak ada di samping abang.”


“Abang kebangun karena kebelet, bukan karena gak ada Queen. Kalau memang karena Queen, udah sejak satu jam lalu abang bangun.”


Rapa terkekeh mendengar nada kesal dari ucapan istrinya itu. Setelahnya ia memilih memejamkan mata dengan kepala yang ia sandarkan di pundak sempit Cleona. “Istri, kasih adik buat si kembar yuk?”


Bruk. Tubuh Rapa terjungkal ke belakang akibat dorongan kuat Cleona, dan jangan lupakan rasa sakit di tulang rusuknya akibat sikutan tajam tangan mungil sang istri. Namun ringisannya tidak sedikit pun membuat perempuan cantik itu merasa menyesal karena sudah menyakitinya.

__ADS_1


“Dikira bikin anak mudah apa!” dengus Cleona memberikan delikannya.


“Kan emang mudah, Queen, tinggal abang tidurin kamu dan tabur ben-- aw … aw, sakit istri.” Ringis Rapa yang sekali lagi mendapat cubitan pedas bertubu-tubi dari sitrinya.


“Makanya jangan mesum terus bicaranya.”


“Kalau abang gak mesum nanti siapa yang bikin kamu hamil coba?”


“Abang!” geram Cleona mendaratkan sepatu mungil milik anaknya untuk membungkam Rapa yang sepertinya tidak memiliki penyaring di mulutnya.


“Abang salah apa sih sayang?” polos Rapa bertanya. Dirinya sama sekali tidak tahu letak kesalahannya hingga membuat istrinya terlihat kesal seperti sekarang ini.


“Ucapannya di jaga please!”


“Apanya yang di jaga sih sayang, abang udah benar kok bicaranya, dan abang emang pengen bikin kamu hamil lagi. anak kita udah dua tahun loh, udah waktunya punya adik.”


“Meskipun begitu tapi rasa sakitnya melahirkan masih bisa Queen rasain loh, Bang. Tega memangnya abang lihat Queen kesakitan? Waktu itu aja abang sampai pingsan segala.” Cibir Cleona sekaligus mengingatkan kembali betapa lemahnya Rapa saat menemani dirinya melahirkan si kembar.


“Emang iya, abang pingsan?” tanya Rapa menaikan sebelah alisnya, seolah mengingat.


Entah itu benar-benar lupa atau memang sengaja pura-pura lupa, Cleona tidak tahu dan ia juga tidak ingin tahu. Yang jelas dirinya menolak untuk kembali hamil. Bukan kerena tidak ingin, tapi merawat anak manusia tidak lah semudah merawat anak kelinci dan kucing, mendidiknya pun tidak semudah mendidik anak anjing. Jadi, Cleona tidak ingin sampai nanti mengabaikan anak-anaknya yang sekarang, begitu dia kembali melahirkan kembali.

__ADS_1


Cleona ingin memberi kasih sayang dan perhatiannya pada si kembar untuk saat ini. Mungkin beberapa tahun lagi, ketika kedua anaknya mulai mengerti baru lah Cleona akan bersedia kembali mengandung. Untuk kapan itu waktunya, Cleona tidak bisa menetukan, yang jelas tidak dalam waktu dekat ini, semoga saja suami tampannya ini paham. Karena nyatanya mengandung dan melahirkan tidak lah se-sederhana itu.


__ADS_2