Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
61. Gaun Pengantin


__ADS_3

Sesuai rencana semalam, pagi menjelang siang ini Rapa sudah duduk di ruang tamu rumah Leo untuk menunggu calon istrinya bersiap-siap. Hari ini dirinya dan Cleona sudah mengatur jadwal pertemuan dengan perancang gaun pengantin untuk pernikahan mereka nanti.


Tak lama, Cleona turun dari kamarnya, dan menghampiri Rapa yang tengah meneguk kopi yang laki-laki itu buat sendiri untuk menemani di kala menunggu. Rapa segera bangkit dari duduknya, melingkarkan tangannya di pinggang ramping Cleona, lalu melangkah keluar menuju mobilnya.


“Silahkan masuk Princess.” Rapa membukakan pintu mobil untuk calon istrinya, yang di sambut dengan senyum manis Cleona juga ucapan terima kasih. Perlakuan manis itu perlu, meski sederhana. Itu menurut Rapa yang memang begitu memuja sang tunangan.


Setelah memastikan Cleona mengenakan seatbelt-nya, Rapa langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah. Seperti biasa, perjalanan selalu di isi dengan obrolan ringan atau justru gombalan-gombalan Rapa yang selalu membuat Cleona seakan terbang, dan melayang di atas awan.


Laki-laki tampan itu selalu saja memberikan pujian juga mengutarakan perasaan cintanya, membuat Cleona tidak bisa untuk menyembunyikan wajah meronanya. Siapa coba yang tidak akan tersanjung dengan ucapan cinta dari seseorang yang berarti? Cleona dapat pastikan bahwa semua perempuan akan sama sepertinya.


“Abang selalu suka lihat wajah merah kamu,” kata Rapa mencubit gemas pipi Cleona.


“Ish, abang!” rengek Cleona kesal.


“Haha, I love you Queen.”


“Hari ini abang udah puluhan kali bilang itu, awas aja kalau udah nikah nanti malah cuek!” Cleona memberikan tatapan mengancamnya.


“Abang 'kan memang cinta kamu, Queen. Kalau perlu abang akan setiap detik mengucapkan itu, biar kamu yakin dan percaya bahwa abang benar-benar mencintai kamu.”


“Memangnya abang gak akan bosan?” Cleona menaikan sebelah alisnya.


“Selama ini abang gak pernah merasa bosan, dan abang memang tidak akan bosan untuk mencintai kamu.”


Cleona dapat melihat kesungguhan itu di mata indah Rapa, hatinya menghangat, dan bahagia tentu saja dirinya rasakan. Semoga cinta laki-laki di depannya itu tidak pernah surut untuknya hingga maut memisahkan, seperti cinta papinya yang di bawa pergi oleh sang mami yang pergi meninggalkan dunia lebih dulu.


Sesampainya di butik gaun pengantin, Cleona dan Rapa berjalan masuk bersamaan, yang langsung di sambut oleh pemilik butik yang memang sudah menunggu kedatangannya untuk mendiskusikan mengenai gaun pernikahan yang akan Cleona kenakan di acara resepsi nanti.


Mata Cleona berbinar melihat deretan gaun pengantin di tubuh manekin yang berdiri angkuh memanjakan matanya. Dan ketika si pemilik butik memintanya mencoba gaun yang di rekomndasikannya tentu saja Cleona dengan semangat mengangguk dan mengikuti salah satu karyawan butik tersebut menuju kamar ganti. Sementara Rapa menunggu di sofa yang tersedia.


“Bang gimana, bagus gak?” Cleona yang baru saja keluar dari kamar pas bertanya pada sang tunangan.

__ADS_1



Rapa menggelengkan kepalanya. “Terlalu terbuka Queen, abang gak suka milik abang dilihat orang lain.”


“Iya sih, Queen juga gak nyaman pakainya.” Cleona kembali masuk ke dalam kamar pas untuk mencoba gaun lainnya yang sudah di pilihkan pihak butik.


“Bang kalau yang ini gimana?” tanya Cleona memperlihatkan penampilannya dengan gaun kedua.



“Terlalu panjang bawahnya, Queen, kita nikah di pantai loh, nanti ribet.”


Cleona kembali masuk kamar ganti untuk mengganti dengan gaun ketiganya, padahal dirinya suka dengan gaun yang di pakainya saat ini, tapi apalah daya, calon suaminya memilih menikah di pinggir pantai dan gaun yang di kenakannya ini memang memiliki ekor yang panjang dan lebar.


Gaun ketiga Cleona kenakan, penampilannya cantik dan gaunnya pun indah, tidak terlalu panjang juga tidak terlalu terbuka. Cleona dengan anggunnya berjalan keluar dari kamar ganti dan berdiri di depan Rapa yang sibuk dengan ponselnya.


“Gimana, Bang cantik gak?” Cleona memutar tubuhnya, memperlihatkan penampilannya.



“Ish, abang tapi kan ini bagus. Tuh Queen jadi mirip putri-putri di negeri dongeng,” kata Cleona yang berputar sekali lagi.


“No, sayang. Ganti!” perintah Rapa tak ingin di bantah.


Cleona menghentakan kakinya masuk kembali ke ruang ganti. Kesal? Tentu saja, karena meskipun hanya berganti pakaian, tapi tetap saja Cleona merasakan lelah. Untuk gaun ke empat ini, Cleona begitu menyukainnya dan ia tidak akan peduli jika pun Rapa menolak dan memintanya berganti lagi. Masa bodo dengan pendapat laki-laki itu kali ini, ia cukup lelah dan perutnya sudah berdemo sejak tadi.


Dengan wajah cemberut dan malas, Cleona keluar dari kamar pas, kembali berdiri di hadapan Rapa yang saat ini ternyata sudah di temani sang bunda juga Clara. “Bun, cantik gak?” tanya Cleona pada calon mertuanya.



“Cantik banget,” Lyra mengacungkan dua jempolnya. “Udah Queen yang itu aja, Bunda suka,” ucap Lyra dengan mata berbinar, bangkit dari duduknya dan meminta Cleona untuk berputar. “Oke sip, cantik. Yang ini aja, Queen.”

__ADS_1


“Tapi abang ga...”


“Queen gak minta pendapat abang!” delik Cleona tajam.


“Kamu kan nikahnya sama abang, Queen,”


“Bodo amat! Queen kesal dari tadi abang bilang enggak terus. Di kira gak cape apa. Pokoknya Queen mau yang ini, titik!”


“Ya udah, Queen bayar aja sendiri,” kata Rapa mencebikan bibirnya.


“Oke, di kira Queen gak punya uang apa,” balasnya sengit.


“Ya udah sana bayar,” Rapa mengibas-ngibaskan tangannya.


“Queen bayar, tenang aja. Tapi jangan harap abang bisa jadi mempelai pria di pernikahan Queen!” ujarnya lalu berbalik masuk ke dalam ruang ganti dan menutup pintu bercat putih itu dengan sedikit di banting.


Bunyi ‘bedebum’ bukan hanya terdengar dari bantingan pintu tapi juga dari dalam hati Rapa yang terkejut mendengar ucapan terakhir calon istrinya. Dengan panik, Rapa melangkah cepat menuju kamar ganti dimana Cleona berada, niatnya ia ingin menyusul dan membujuk perempuan itu agar tidak lagi marah. Namun sayang, sang bunda menahannya dengan menjewer telinganya begitu sadis, membuat Rapa mengaduh kesakitan.


“Jangan berani-beraninya ngintip calon mantu bunda ganti pakaian, Bang!”


“Abang gak akan ngintip, Bun. Abang cuma mau bujuk Queen biar gak ngambek dan lengserin abang jadi pengantinnya nanti,” kata Rapa seraya meringis dan berusahan melepaskan jeweran sang bunda.


“Andai bunda punya anak laki satu lagi, gak akan ragu bunda gantiin kamu un...”


“Jangan berani-beraninya ya, Bun. Queen cuma milik Abang, dan selamanya hanya akan menjadi milik abang!” ancam Rapa memotong ucapan bundanya.


“Aaakh!” jerit Rapa begitu Lyra semakin mempelintirkan telinganya sebelum melepaskan. “Sakit !unda. Kalau telinga abang copot gimana coba!” rengek Rapa mengusap-usap telinganya yang panas.


“Ganti nanti sama kuping gajah!”


“Jahatnya Bunda Lyra,” Rapa mengerucutkan bibirnya, dan kemudian mendengus kecil. “Boleh gak sih gue ganti orang tua?” gumam pelan Rapa yang tentu saja masih dapat Lyra dengar dan langsung saja menimpuk punggung anak nakalnya itu.

__ADS_1


“Kayak ada yang mau aja jadiin kamu anak.” Lyra mencebikan bibirnya.


__ADS_2