Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
57. Mau balikan apa enggak?


__ADS_3

“Lebih cape memendam rindu asal lo tahu!” ujar Clara tanpa menatap wajah tampan Birma di sampingnya. Bukan karena pemandangan di depan lebih menarik, tapi karena ia malu, dan tidak sanggup jika menatap langsung laki-laki itu.


“Ya, lo benar. Lebih lelah menahan rindu dari pada lari-lari keliling lapangan.” Birma mengangguk membenarkan. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman.


“Bir, balikan yuk,” kata Clara menoleh sekilas ke arah sampingnya, hanya beberapa detik sebelum kembali menatap ke arah depan. “Maaf mungkin gue terkesan egois dan gak tahu diri, karena dulu gue sendiri yang meminta putus, dan sekarang malah minta balikan. Tapi gue gak bisa bohongi diri gue sendiri bahwa hati ini memang masih milik lo. Setiap saat teringat akan lo dan masa-masa yang sudah kita lewati dulu membuat gue rindu akan kebersamaan kita. Birma, apa lo mau jadi pacar gue lagi?” tanya Clara yang saat ini menatap tepat di mata indah milik laki-laki yang selalu menjadi raja di hatinya.


“Ke mana aja lo selama ini?” pertanyaan yang di lontarkan Birma membuat Clara mengerutkan keningnya bingung. Tidak paham dengan yang di maksud laki-laki di depannya itu.


“Kenapa baru sekarang lo bilang seperti itu? Ke mana aja selama ini? Apa lo gak tahu setiap harinya gue nunggu lo menarik kata putus lo dulu? Gue mungkin bisa menerima alasan lo meminta pisah saat itu, tapi apa harus juga mengabaikan pesan dan telepon gue?” Birma berkata dengan sorot mata terluka, dan itu membuat Clara menundukan kepalanya, merasa bersalah.


Clara menyadari bahwa dulu dirinya terlalu egois. Namun salahkah jika sampai saat ini ia masih mengharapkan Birma? Salahkah dirinya, jika hati ini masih tertaut di hati laki-laki itu? Dan salahkan ia jika cintanya masih tertuju pada Birma yang sudah lancang membuat ia jatuh akan pesonanya?


“Maafin gue, Cla. Maaf karena gue gak bisa menerima ajakan lo ...”


Seketika mata yang semula memancarkan sebuah penyesalan, juga harapan kini berubah terluka dan kecewa. Clara tersenyum miris, sebelum kemudian menundukan kepalanya, sebab tidak tahan untuk memendam air mata yang sudah berlomba keluar, dan Clara yang memang tidak ingin menahannya. Bukan agar laki-laki itu mengasihaninya, tapi Clara memang tidak sanggup untuk berpura-pura tegar.


Ia tentu saja sadar, karena bagaimana pun memang dirinya yang dulu meninggalkan laki-laki itu jadi, wajar jika Birma merasa sakit hati bahkan benci padanya. Namun ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa penolakan yang di lontarkan Birma akan terasa semenyakit ini.


“Gak apa-apa kok, Bir, gue cukup sadar diri dengan keegoisan gue dulu. Mungkin ini yang di namakan penyesalan, hadir belakangan.” Clara tersenyum miris dan menyeka air matanya kasar, kemudian menatap Birma dengan senyum yang di paksakan setalah sebelumnya menarik dan membuang napas untuk meredakan tangisnya.


“Cla ...”


“Lain kali, kalau emang lo gak keberatan, jangan lupa kenalin gue sama perempuan yang udah memikat hati lo. Lo tenang aja, gue gak akan nyakitin dia kok, gue bukan pemeran antagonis dalam sebuah drama jadi, lo gak perlu khawatir.” Kata Clara yang lagi-laki memaksakan senyumnyanya.


Sejujurnya ia ingin marah pada laki-laki di depannya, karena sudah berani menolak gadis cantik sepertinya. Namun secepat mungkin Clara sadar bahwa semua ini di mulai dari kesalahannya, ia yang memutuskan hubungan mereka dulu, menyia-nyiakan Birma yang begitu tulus mencintainya.


“Gue gak mau menerima ajakan lo, karena gue yang ingin mengajak lo untuk balikan. Gue gak mau harga diri gue jatuh sebagai laki-laki, karena sejatinya laki-laki yang harus mengejar, bukan perempuan. Jadi, lo mau kan balikan sama gue?” tanya Birma dengan senyum memancar indah, setelah sejak tadi diam mendengarkan penuturan Clara yang sedikit membuatnya terkejut dan tidak menyangka bahwa perempuan itu benar-benar mengajaknya balikan.

__ADS_1


“Lo dapat dari mana teori itu?” kening Clara mengerut menatap pria di depannya. “Asal lo tahu, dalam cinta semua itu tidak berlaku. Siapa pun berhak mengejar, termasuk gue. Bukankah cinta itu harus di kejar dan di perjuangkan? Jadi, sah-sah aja dong kalau gue ngajak lo balikan lebih dulu?”


“Ya emang gak apa-apa, tapi di antara kita hanya gue yang boleh ngajak balik.”


“Loh, kenapa kayak gitu?” heran Clara.


“Karena gue cinta sama lo,” kata Birma dengan penegasan di setiap katanya.


“Apa bedanya? Gue juga cinta sama lo. Jadi, apa yang salah dari siapa yang lebih dulu ngajak balikan?”


“Ya gak ada yang salah, ta...”


“Terus kenapa lo gak mau terima ajakan gue?”


“Karena gue yang ingin ngajak lo balikan,”


“Loh kok gitu, lo bilang masih cinta!” kata Birma tak terima.


“Lo aja tadi nolak ajakan gue, padahal lo juga masih cinta. Masa gue gak boleh nolak ajakan lo?”


“Kalau kita sama-sama masih cinta kenapa harus sama-sama memberikan penolakan?” tanya Birma dengan kening berkerut.


“Salah lo sendiri kenapa tadi nolak gue,” Clara memutarkan bola matanya malas. Ia tidak ingin mengalah, karena bagaimana pun dirinya yang tadi bertekad ingin mengajak laki-laki itu balikan.


“Itu karena gue yang ingin nga...”


“Apa bedanya sama gue?” potong Clara cepat.

__ADS_1


“Ck, jadi ini kita jadi mau balikan apa enggak?” tanya Birma yang sudah mulai gemas dengan perdebatan konyol ini.


“Ya mau lah!” jawab Clara cepat dan tegas. Kemudian keduanya tertawa. “Udah lama kayaknya kita gak berdebat kayak gini,” kata Clara di tengah-tengah tawanya.


“Salah lo sendiri kenapa dulu mutusin gue,” Birma mencebikan bibirnya, lalu memberikan sentilan kecil di kening gadis itu.


“Iya gue salah,” ujar Clara menunduk sedih. “Tapi salah lo sendiri kenapa pergi jauh saat lulus dari SMA,” lanjutnya memberikan delikan tajam.


“Kenapa juga lo mutusin gue saat itu dan so-soan menghindar. Kalau enggak, mungkin bisa gue pertimbangkan untuk tetap kuliah di kampus yang sama.” Ujar Birma tak ingin kalah.


Berdebat bersama Clara memang menjadi kesukaannya, dan itu juga yang membuat Birma merindukan perempuan itu dan tidak bisa berpaling dari sosok cantik Clara yang sama-sama keras kepala dengannya. Bersama Clara apa saja bisa di perdebatkan, bahkan hal kecil sekali pun, tapi itu tentu saja tidak membuat hubungan mereka memburuk, melainkan semakin dekat dan harmonis, karena selalu mereka akhiri dengan tawa.


Cara setiap orang dalam pendekatan memang berbeda, dan beginilah cara dirinya dan Clara mendekatkan diri. Mungkin terkesan aneh, tapi Birma menyukainya.


“Ya udah iya gue yang salah,” pasrah Clara mengakui kesalahannya, meskipun dengan berat hati.


“Lo nyesel gak udah mutusin gue?” tanya Birma. Clara menjawab dengan gelengan. “Kenapa?” satu alis Birma terangkat bingung.


“Karena dengan itu gue tahu bagaimana perasaan gue yang sesungguhnya terhadap lo,” Clara tersenyum mengingat masa-masa itu. Dimana dirinya malah semakin galau dan dilema dengan keputusannya melepaskan laki-laki itu, di tambah dengan kepergian Birma yang tidak bisa hatinya terima.


“Dan perasaan lo sesungguhnya adalah?” Birma bertanya penasaran.


“Gue, mencintai lo. Dan gue gak bisa membohongi diri, bahwa memang cuma lo yang gue inginkan.” Birma dapat melihat dengan jelas kesungguhan di mata indah itu, dan tentu saja ia bahagia, terharu juga mendengar pengakuan Clara.


“Cla,” panggil Birma pelan, tatapannya lurus, menatap dalam netra coklat jernih itu.


“Hm,” jawab Clara membalas tatapan Birma.

__ADS_1


“Nikah, yuk.”


__ADS_2