
Sejak lima belas menit lalu, Rapa tak hentinya mengajak sang bayi yang masih bersemayam di perut istrinya mengobrol, menceritakan segala hal tentangnya, dari kecil hingga sekarang akan menjadi seorang ayah.
Cleona yang menyaksikan sesekali menanggapi, atau akan tertawa jika kekonyolan calon papa mulai terdengar , apalagi saat pria itu bertanya dan meminta anak dalam kandungan Cleona untuk menjawab. Jika di pikir Rapa sudah seperti orang gila, bicara sendiri. Namun tak menghilangkan kenyataan bahwa Cleona bahagia.
“Istri, bukannya kandungan kamu udah masuk usia 7 bulan?” Cleona mengangguk menjawab pertanyaan tiba-tiba suaminya itu. “Belum beli perlengkapan bayi kan?” lagi Cleona mengangguk, tangannya masih setia mengelus-elus rambut Rapa yang mulai memanjang. “Nanti sore kita ke mall, abang udah gak sabar, pengen beli tempat tidur si kembar.”
“Kata bunda bekas Ella masih bangus, pakai itu aja,”
“No! Untuk anak kita semuanya harus baru. Apaan bekas-bekas,” Rapa mendelik tak suka. “Di kira abang gak mampu beli apa!” dengusnya kesal.
Cleona yang berniat mengerjai suaminya itu pun tertawa puas, sampai sebuah tendangan di perutnya membuat Cleona meringis dan Rapa dengan cepat bangkit dengan raut wajah khawatir. Namun sayang saking tidak hati-hati, keningnya dan kening sang istri yang memang tengah sedikit menunduk berbenturan, dan ringisan semakin keras terdengar.
“Abang!!!”
“Maaf istri, abang gak sengaja,” ringisnya bersalah.
“Itu kepala apa batu sih, keras benget.” Cleona mengusap-usap keningnya yang benar-benar berdenyut nyeri, sampai air matanya menetes dan itu membuat Rapa semakin khawatir.
“Sakit ya?” tanya Rapa dengan ringisan khawatir dan ikut mengelus kening sang istri dan melayangkan kecupan singkat.
“Udah tahu pake nanya!” jawab Clara mendengus kesal.
“Maafin abang ya sayang,” tak hentinya Rapa menggucapkan kata maaf seraya terus membubuhkan kecupan di kening istrinya yang sedikit terdapat benjolan, Rapa jadi meringis sendiri, dan membayangkan bagaimana rasa sakitnya. Sekeras itu kah kepala gue?
__ADS_1
“Abang kompres pakai es batu, mau?” tawarnya. Dengan cepat Cleona menggeleng. “Biar sakitnya berkurang, istri.”
“Kompres pakai uang sepuluh juta boleh deh bang, pasti Queen langsung sembuh,” katanya cengengesan. Sementara Rapa, mendengus dan melayangkan jitakan di tempat yang sedikit benjol tersebut, membuat ringisan itu kembali dan kali ini Rapa seolah tak peduli keluar dari kamar, meninggalkan istrinya yang berteriak memanggil.
Tak tinggal diam, Cleona turun dari ranjangnya dan menyusul suaminya itu untuk meminta pertanggung jawaban. Meski langkahnya sedikit sulit akibat perut buncitnya, Cleona tidak menyerah untuk menemukan sang suami yang dengan teganya meninggalkan di saat pria itu sudah menyakitinya. Bukan kah itu keterlaluan?
“Kamu mau kemana, Queen?” Leo yang baru saja keluar dari dapur bertanya dengan kening berkerut melihat anaknya yang tengah celingukan.
“Cari abang,”
“Suami kamu di dapur lagi makan.”
“Ish, sialan emang dia mah, abis aniaya malah enak-enakan makan …”
“Sakit pi,” adu Cleona menyentuh keningnya yang memang sedikit berwarna kemerahan seraya sesenggukan yang di buat-buat.
“RAPA!!!” teriak Leo yang kemudian berjalan cepat kembali ke dapur. Cleona yang melihat kepergian sang papi, tertawa dan melangkah duduk di sofa ruang tengah menikmati cemilan yang tersedia dengan santai, mendengar keributan yang berasal dari dapur.
“Lo gue izinin nikahin anak gue bukan untuk di aniaya, Rapa sialan!”
“Abang gak aniaya Queen, papi, sumpah.”
“Lo pikir gue bisa lo ****-begoin. Itu kening anak gue sampe benjol gitu lo apain? Kecupin, apa lo jedotin?!”
__ADS_1
“Gak sengaja kejedot papi,” Rapa masih terus berlari, hingga ke ruang tengah di mana istrinya berada, tertawa melihat penderitaannya yang di kejar sang mertua dengan gagang sapu yang menjadi senjata pria tua itu. Sialan memang.
“Jidat yang benjolnya malah abang pukul lagi coba, Pi, sakitnya jadi nambah,” adu Cleona lagi. Membuat Rapa mendengus dan ingin sekali kembali menjedotkan kening istrinya jika saja ia tak sayang.
“Sialan emang lo Rap, gue aja selama ini belum pernah nyakitin anak gue. Lo selain berani buntingin, berani juga lo benjolin anak gue. Mau lo gue pecat jadi mantu?!”
“Gak apa-apa pih, yang penting abang gak di pecat jadi suami Queen aja.” Napas Rapa sudah tidak beraturan akibat cape yang di rasakannya. Namun sayang, pria tua kesayangannya itu belum juga menyerah mengejar sambil mengacungkan gagang sapu yang beberapa kali sempat mengenai punggungnya jika saja ia tidak gesit menghindar. Mertuanya itu benar-benar sesuatu, membuat Rapa ingin sekali mengurung sang papi di ruangan gelap penuh tikus, biar tahu rasa.
Cleona yang duduk di sofa sudah pusing sebenarnya melihat kedua laki-laki beda usia itu kejar-kejaran mengelilingi ruangan di rumah, tapi terlalu sayang untuk di hantikan.
“Loh-loh, ini ada apa main kejar kejaran gini?” Rapa dan Leo tak menghiraukan, sementara Cleona yang mendengar suara yang sudah lama tak di dengarnya itu dengan cepat menghentikan tawanya dan berbalik memastikan siapa yang datang.
“Kak Alvin!” antusias Cleona dan berdiri dari duduknya, menghampiri sang tamu yang sudah masuk tanpa di persilahkan. “Lo kapan datang?” lanjut Cleona bertanya begitu laki-laki tampan yang lama tak di lihatnya duduk bersama sang istri yang juga tengah mengandung.
“Dari lima menit lalu gue nunggu di luar, bunyiin bell tapi gak ada juga yang nyamperin, akhirnya masuk deh. Haus gue, Cle,”
“Sorry gue gak dengar, terlalu asik lihat suami sama papi main kejar-kejaran, kayak tom & jerry.” Cleona terkekeh geli.
“Kenapa emang mereka?” kini giliran Freya yang bertanya.
“Biasa lah, kak mereka emang paling suka main kejar-kejaran.” Jawab Cleona masih dengan kekehannya. “Kak Alvin haus kan? Ambil sendiri aja ya, sekalian cemilannya kakak ambil di lemari dekat kulkas.” Titah Cleona yang langsung mendapat dengusan dari laki-laki tampan itu, walau kemudian bangkit dan pergi.
“KEBAKARAN!!!” teriak Alvin begitu kencangnya sampai membuat Rapa dan Leo berhenti berkejaran dan langsung kompak menoleh para Alvin yang saat ini tertawa, berjalan ke dapur.
__ADS_1
“Sejak kapan dia datang?” Rapa bertanya, dan Leo menanggapi dengan kedikan bahu, sebelum kemudian melempar sapu yang sejak tadi di bawanya pada Rapa yang untung saja sigap menangkap sebelum benda itu mengenai kepalanya. Untung saja yang melakukan itu mertuanya sendiri, coba kalau orang lain, sudah dapat di pastikan bahwa Rapa akan kembali melemparkannya berkali-kali sampai kepala orang itu bertelur.